NovelToon NovelToon
Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Katsumi

Kelanjutan Dari Novel Pangeran Sampah Yang Menyembunyikan Kemampuannya.

Di dunia yang terpecah oleh kebencian antar ras, perdamaian hanyalah mimpi yang dianggap mustahil.

Ferisu—mantan pangeran yang diremehkan—kini bangkit sebagai Raja Kerajaan Asterism. Sebuah kerajaan baru yang berani menentang hukum dunia dengan satu gagasan gila: kesetaraan bagi semua ras.

Manusia, elf, beastmen, dwarf, dan ras lainnya hidup di bawah satu panji yang sama.

Namun dunia tidak tinggal diam. Ancaman datang dari segala arah. Pengkhianatan mengintai dari dalam. Dan perang besar yang pernah menghancurkan peradaban perlahan kembali menunjukkan tanda-tandanya.

Mampukah Ferisu mempertahankan mimpinya?
Ataukah Asterism akan menjadi percikan yang membakar dunia dalam perang yang lebih dahsyat?

Sebuah kisah tentang ambisi, persatuan, dan perjuangan melawan takdir dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5 : Kejanggalan Yang Tertutup Rapi

Pagi menyelimuti bekas ibu kota Zenobia dengan cahaya pucat.

Kabut tipis masih menggantung rendah di jalanan batu ketika sebuah kereta kuda berhenti di halaman istana. Suara tapak kuda terdengar teratur, nyaris menenangkan—kontras dengan perasaan yang tertinggal di antara mereka yang akan berpisah.

Licia berdiri lebih dulu di depan kereta, rapi seperti biasa. Gaun sederhananya bergoyang tertiup angin pagi, sementara wajahnya tetap dihiasi senyum lembut yang menenangkan.

Di sisi lain, Erica sudah setengah masuk ke dalam kereta, satu kakinya masih menapak di tanah, ekspresinya jelas tidak puas.

“Awas aja kalau kalian mesra-mesraan terus waktu nggak ada kami,” celetuk Erica sambil menoleh tajam ke arah Ferisu dan Noa. “Kalau aku dengar laporan aneh-aneh, aku bakal balik ke sini lebih cepat dari jadwal.”

“Erica…” Licia menegurnya pelan, tapi senyum di wajahnya justru mengandung sedikit geli. “Kau bicara seolah Ferisu-sama anak kecil.”

“Justru karena bukan anak kecil!” Erica mendengus. “Makanya harus diawasi.”

Ferisu hanya menghela napas pendek. “Aku bisa mendengarmu, tahu.”

“Itu memang tujuannya,” balas Erica cepat.

Licia lalu berbalik ke arah Ferisu, tatapannya lembut, hangat—namun juga penuh kekhawatiran yang ia sembunyikan dengan rapi.

“Ferisu-sama,” katanya pelan. “Jangan lupa istirahat. Pembangunan bisa menunggu, tapi tubuhmu tidak.”

Kemudian pandangannya beralih pada Noa.

“Noa,” lanjutnya dengan nada yang sama lembutnya, “tolong jaga Ferisu-sama selama kami pergi.”

Noa mengangguk mantap. “Yah, serahkan padaku.”

Namun ia tidak berhenti di situ.

Tanpa peringatan, Noa melangkah mendekat, lalu memeluk Ferisu dari depan. Wajahnya menempel di dada Ferisu, kedua lengannya melingkar dengan sikap yang jelas… posesif.

“Aku akan menjaganya dengan baik,” ucap Noa ringan, disertai senyum kecil yang jarang ia tunjukkan.

Ferisu terdiam sepersekian detik, lalu menghela napas pasrah.

Erica membeku.

“Apa—” urat di dahi Erica berdenyut. “Hei! Lepasin dia!”

Ia benar-benar hampir melompat keluar dari kereta jika saja Licia tidak sigap menahan lengannya.

“Erica, tenang,” kata Licia lembut, meski senyum kecilnya kini mengandung sedikit… tantangan. “Kita memang yang pergi, bukan mereka.”

Erica menggertakkan gigi. “Ini nggak adil…”

“Dunia memang tidak pernah adil,” balas Licia pelan—lalu berbisik, “itulah kenapa kita harus percaya.”

Kereta kuda akhirnya bergerak meninggalkan halaman istana.

Erica masih melambaikan tangan dengan ekspresi kesal, sementara Licia menatap Ferisu dan Noa sampai kereta menghilang di balik gerbang.

Setelah itu, halaman kembali sunyi.

Ferisu menatap ke arah jalan kosong itu sejenak, lalu menurunkan pandangannya ke Noa yang masih memeluknya.

“Noa...” katanya pelan.

Noa mendongak. “Hm?”

“Kau bisa melepasku sekarang.”

“Oh.” Noa tersenyum kecil, lalu mundur satu langkah. “Maaf. Kebiasaan.”

Ferisu menggeleng tipis. “Tak apa.”

Namun saat mereka berbalik masuk ke istana, Ferisu merasakan sesuatu yang aneh.

Bukan dari Noa.

Bukan dari Erica atau Licia.

Melainkan dari udara itu sendiri.

.

.

.

Siang hari, laporan demi laporan tiba di meja Ferisu.

Tidak ada yang tampak salah.

Keributan kecil di wilayah timur—sudah diselesaikan oleh Duke Albrecht.

Distribusi makanan—lancar.

Pembangunan ulang—sesuai jadwal.

Semuanya… terlalu rapi.

Noa berdiri di sisi meja, membaca ulang laporan yang sama untuk ketiga kalinya.

“Ferisu-sama,” katanya akhirnya. “Menurutmu… tidak aneh?”

Ferisu menyandarkan punggung di kursinya. “Kau juga merasakannya.”

Noa mengangguk pelan. “Tidak ada satu pun laporan yang benar-benar bermasalah. Tapi justru itu yang membuatku tidak nyaman.”

Ferisu menatap peta wilayah Zenobia.

Wilayah Duke Albrecht—tenang.

Terlalu tenang.

“Keributan ada,” lanjut Noa. “Tapi selalu kecil. Selalu berhenti sebelum membesar. Dan selalu… ditangani oleh orang yang sama.”

Ferisu menyipitkan mata.

“Albrecht,” ucapnya pelan.

Noa mengangguk. “Ia terlihat seperti bangsawan teladan. Patuh, cepat bertindak, dan—”

“—selalu berada di tempat yang tepat,” sambung Ferisu.

Keheningan menggantung.

Noa mengepalkan tangannya perlahan. “Jika dia memang setia, ini kabar baik. Tapi jika tidak…”

Ferisu menutup mata sejenak.

“Musuh yang berisik mudah dikenali,” katanya pelan.

“Yang berbahaya adalah yang membuat kita merasa aman.”

Di luar jendela, kota tampak berjalan seperti biasa. Manusia dan beastman bekerja berdampingan. Anak-anak berlarian. Pedagang membuka lapak.

Tak ada api.

Tak ada teriakan.

Namun jauh di bawah permukaan itu, sesuatu sedang bergerak—perlahan, sabar, dan tertutup sangat rapi.

Dan Ferisu tahu…

Ketika ia akhirnya terlihat, itu berarti sudah terlambat.

“Noa.”

Suara Ferisu terdengar lebih rendah dari biasanya.

Noa berdiri di depan meja kerja, kedua tangannya mengepal ringan di sisi tubuhnya. Tatapannya lurus, serius—jauh dari sikap lembut dan tenang yang biasa ia perlihatkan.

“Aku ingin menyelidiki wilayah Duke Albrecht,” ucap Noa tegas. “Secara langsung.”

Ferisu mengangkat pandangan dari peta. Alisnya berkerut tipis.

“Itu terlalu berisiko,” jawabnya tanpa ragu. “Wilayah itu luas, dan Albrecht bukan bangsawan biasa.”

“Aku tahu,” sahut Noa cepat. “Justru karena itu.”

Keheningan menyelinap di antara mereka.

Ferisu berdiri perlahan. “Noa. Kau bukan penyusup. Kau juga bukan mata-mata.”

“Aku bisa belajar,” balas Noa, nadanya tetap terkendali, tapi ada sesuatu di sana—keras kepala. “Aku tidak ingin hanya menunggu sampai sesuatu terjadi.”

Ferisu menatapnya lama.

Noa jarang seperti ini, pikirnya.

Ia selalu tenang. Selalu patuh. Selalu menempatkan dirinya setelah orang lain.

Namun kali ini… ada kegelisahan yang tak mau ia pendam.

“Jika ingin menyelidiki,” kata Ferisu akhirnya, suaranya tegas namun tidak meninggi, “kita serahkan saja pada ahlinya.”

Noa mengerjap. “Tapi—”

“Tidak,” potong Ferisu. “Aku tidak akan mempertaruhkanmu. Bukan demi kecurigaan yang belum bisa kita buktikan.”

Noa menunduk pelan. Rahangnya mengeras, tapi ia tidak membantah lagi.

“Baik...” ucapnya akhirnya. Namun nada suaranya mengandung sesuatu yang belum sepenuhnya padam.

Ferisu merasakannya.

Dan itu membuat dadanya terasa sedikit sesak.

Tepat saat itu—

Pintu ruang kerja terbuka dengan suara keras.

“Ferisu-sama~!”

Suara riang, manja, dan sama sekali tidak mengenal kata waktu yang tepat menggema di ruangan.

Ferisu bahkan belum sempat bereaksi ketika sesosok gadis kecil berambut perak berlari masuk. Rambut panjangnya berkilau tertimpa cahaya, mata biru cerahnya menyala penuh kegembiraan. Gaun berenda putihnya berkibar ringan, baret putih di kepalanya hampir terlepas karena gerakan itu.

“Aku kangen~!”

Eliza melompat tanpa peringatan.

Ferisu reflek menangkapnya sebelum keduanya terjatuh, tubuh kecil itu langsung menempel erat di dadanya.

“Eliza…” Ferisu menghela napas, setengah pasrah. “Kau datang tanpa memberi tahu.”

“Karena kejutan itu penting,” jawab Eliza ceria, mendongak dengan senyum lebar. “Dan karena aku rindu.”

Ia memeluk Ferisu lebih erat, pipinya menempel nyaman.

Noa menatap pemandangan itu sejenak.

Lalu menghela napas pelan.

“Eliza,” ucap Noa datar. “Kau akan membuat Ferisu -sama jatuh.”

“Enggak kok~ aku ringan,” balas Eliza cepat, tanpa berniat melepaskan Ferisu sedikit pun.

Ferisu hanya bisa menutup mata sejenak.

Noa, yang sudah terlalu sering menyaksikan pemandangan seperti ini, memilih diam. Ia melangkah mundur satu langkah, memberi ruang—dan menyimpan kegelisahannya sendiri jauh di dalam.

Namun jauh di lubuk hatinya, satu tekad mulai mengeras.

Jika Ferisu tidak mengizinkannya pergi… maka ia akan menemukan cara lain.

Di luar istana, angin sore bertiup pelan.

Dan di kejauhan, rencana yang disusun dengan rapi terus bergerak—tanpa perlu terburu-buru.

Eliza masih menggantung di pelukan Ferisu ketika suasana ruangan kembali tenang.

Ferisu menurunkannya perlahan.

“Eliza,” panggilnya lembut, namun nada suaranya berubah—lebih serius.

Eliza memiringkan kepala. “Hm?”

“Aku punya tugas untukmu.”

Noa yang tadi hendak mundur, refleks mengangkat wajah.

“Tugas?” ulang Eliza, matanya berbinar. “Serius? Bukan cuma disuruh istirahat dan jangan bikin ribut?”

Ferisu menghela napas kecil. “Serius.”

Ia berjalan kembali ke meja, membuka peta Zenobia dan menunjuk wilayah timur.

“Duke Albrecht.”

Senyum Eliza memudar, digantikan ketertarikan.

“Oh… si bangsawan wangi tapi matanya dingin itu?”

Noa sedikit terkejut dengan deskripsi itu, tapi tidak membantah.

“Aku ingin kau menyelidikinya,” lanjut Ferisu. “Diam-diam. Amati pergerakannya. Siapa yang datang dan pergi. Apa yang ia sembunyikan.”

Eliza berkedip.

“Kenapa aku?”

Noa langsung menoleh pada Ferisu.

Ferisu menjawab tanpa ragu. “Karena kau yang paling cocok.”

Ia menatap Eliza lurus.

“Kau manusia setengah roh. Keberadaanmu sulit dilacak. Dan…” sudut bibirnya terangkat tipis, “kau lebih kuat dibanding semua kesatria Asterism.”

Eliza tersenyum lebar, bangga.

“Ya kan~ aku memang hebat.”

Noa terdiam. Ia tahu itu benar. Dalam pertarungan langsung, Eliza mungkin bahkan melampaui dirinya.

Namun Eliza tiba-tiba bertanya dengan nada polos—begitu polos sampai terdengar tajam.

“Kalau begitu,” katanya sambil memiringkan kepala, “kenapa tidak langsung maju saja? Tangkap dia. Selesai.”

Ia menatap Ferisu tanpa beban.

“Lagi pula kamu yang ngeratain semua pasukan Zenobia waktu perang.”

Ruangan hening.

Noa menegang sedikit.

Ferisu tidak langsung menjawab.

Ia hanya menggeleng pelan.

Matanya—yang biasanya tenang—menjadi jauh lebih dalam.

“Ini bukan lagi perang,” ucapnya akhirnya.

Suaranya lembut. Tidak marah. Tidak keras.

“Tidak perlu ada pertumpahan darah sia-sia.”

Ia menatap peta sejenak sebelum melanjutkan.

“Jika aku bergerak tanpa bukti, itu akan menjadi alasan bagi para bangsawan lain untuk menganggap Asterism tiran.”

Noa perlahan memahami.

“Dan jika kita salah menuduh…” gumamnya.

“Maka kepercayaan yang sedang kita bangun akan runtuh,” lanjut Ferisu.

Ia kembali menatap Eliza.

“Cukup selidiki saja. Temukan barang bukti. Jika memang tidak ada apa-apa, maka kecurigaan kita berakhir di situ.”

Eliza terdiam beberapa detik.

Lalu tersenyum kecil.

“Kamu berubah ya,” katanya ringan. “Dulu kamu langsung maju paling depan.”

Ferisu tidak membalas dengan senyum.

Eliza melangkah mundur satu langkah.

“Baiklah~ kalau begitu aku pergi main sebentar.”

“Kita tidak sedang bermain,” Noa menyela pelan.

Eliza menjulurkan lidah sedikit. “Tenang saja. Aku tahu.”

Matanya berubah—sesaat.

Biru cerah itu berkilat tipis, seperti cahaya dari dunia lain.

“Aku akan pulang dengan sesuatu yang menarik.”

Dan dalam satu kedipan—keberadaannya menghilang.

Bukan berlari.

Bukan berjalan.

Ia lenyap seperti bayangan yang ditarik oleh cahaya.

Noa menatap ruang kosong tempat Eliza berdiri tadi.

“Dia benar-benar… berbeda,” gumamnya.

Ferisu mengangguk pelan.

“Ya.”

Namun jauh di dalam hatinya—ada kegelisahan yang tak bisa ia hilangkan.

Karena jika Eliza yang ia kirim… itu berarti ia sendiri sudah bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.

Dan di wilayah timur Zenobia—seseorang mungkin sudah mulai merasakan bahwa ia sedang diawasi.

1
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
Scorpio bs evolusi? hmm...gw gk Tau apapun ttg evolusi scorpio
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
ah! jd kekuatan kna segel...tpi reliza sebut serangga... pasti dewa dewi ya? yare2 🙄
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
kli ini kalajengki ya? bner2 deh...
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
hmph 🙄....elf jg sama ternyata
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya: iya Thor
total 2 replies
Frando Wijaya
elf td....blg manusia pembawa mslh...tpi kenyataan elf jg sama aja
Frando Wijaya
ekhem! next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
awal Dr konflik? gw punya firasat yg sgt buruk
Luthfi Afifzaidan
lanjutkan
Luthfi Afifzaidan
up
Luthfi Afifzaidan
lg
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
boneka Bru? atau robot Bru??
Frando Wijaya
mata 1 raksasa itu apa sih???
K_P
😓
angin kelana
visual keren👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!