Menceritakan tentang Novita gadis berumur 27 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan besar PT Kencana samudra jaya. perusahaan yang sangat bagus untuk memperbaiki kehidupannya. Namun semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya saat mantannya dulu muncul sebagai direktur di perusahaan. Andra yang dulu dia kenal sebagai Arya muncul kembali. Dia berusaha keras menghindar dari masa lalunya namun masa lalunya justru datang kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33
Siang itu suasana ruang makan karyawan cukup ramai seperti biasanya. Meja panjang di sudut ruangan sudah dipenuhi beberapa pegawai yang sedang menikmati waktu istirahat mereka. Aroma makanan dari berbagai kotak bekal bercampur dengan suara obrolan ringan yang membuat suasana terasa hidup.
Bu Rika datang bersama Novita, Risa, Yanti, dan Bu Dewi. Mereka memang sering makan siang bersama karena divisi mereka tidak terlalu besar dan sudah cukup akrab satu sama lain. Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Sejak tadi Bu Rika beberapa kali melirik ke arah Novita dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
Novita yang menyadari tatapan itu akhirnya merasa sedikit tidak nyaman.
"Bu Rika... kenapa dari tadi melihat saya seperti itu?" tanya Novita sambil membuka kotak makan siangnya.
Bu Rika tidak langsung menjawab. Ia menaruh tasnya di kursi lalu duduk dengan perlahan sebelum akhirnya menatap Novita dengan serius.
"Novita, tadi pagi saya melihat sesuatu di ruang Pak Andra," katanya pelan.
Risa dan Yanti langsung menoleh dengan cepat.
"Apa maksudnya, Bu?" tanya Yanti penasaran.
Bu Rika menghela napas kecil sebelum melanjutkan.
"Saya melihat Novita sedang menyuapi Pak Andra buah semangka."
Kalimat itu membuat meja mereka mendadak sunyi.
Risa sampai berhenti membuka bungkus makanannya. Yanti bahkan menatap Novita seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil.
"Menyuapi... Pak Andra?" ulang Risa pelan.
Novita terlihat bingung melihat reaksi mereka.
"Iya... memang kenapa?" jawabnya polos.
Reaksi itu justru membuat ketiganya semakin merinding.
Bu Dewi yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara.
"Novita, Pak Andra itu bukan tipe orang yang suka disentuh orang lain. Bahkan kadang kalau makanannya tersentuh tangan orang lain saja dia bisa marah."
Novita berkedip beberapa kali.
"Oh... begitu ya?" katanya ringan.
Risa langsung meletakkan sendoknya.
"Bukan begitu ya! Itu sangat aneh!" serunya pelan agar tidak menarik perhatian orang lain.
Bu Rika kembali menatap Novita dengan serius.
"Saya ingin tahu satu hal. Apa Pak Andra menyuruhmu melakukan sesuatu yang membuatmu kesulitan lagi?"
Novita menggeleng cepat.
"Tidak, Bu. Pak Andra cuma sedang sibuk bekerja waktu itu."
"Lalu?" tanya Bu Rika.
"Buah yang saya bawa ada di meja beliau. Tapi beliau tidak sempat memakannya. Jadi saya membantu menyuapinya supaya beliau tetap bisa makan sambil bekerja."
Jawaban itu membuat Risa dan Yanti saling berpandangan.
"Tunggu dulu..." kata Risa pelan. "Maksudmu kamu benar‑benar menyuapinya?"
"Iya."
"Seperti ibu menyuapi anak kecil?"
Novita mengangguk tanpa merasa ada yang aneh.
Reaksi itu membuat Yanti merinding.
"Ya ampun..." gumamnya.
Bu Rika memijat pelipisnya pelan.
"Novita, Pak Andra itu orang yang sangat menjaga jarak dengan siapa pun. Bahkan dengan keluarganya sendiri dia tidak pernah mau berbagi makanan."
"Benarkah?" tanya Novita sedikit terkejut.
"Sangat benar," jawab Bu Dewi.
Risa yang sejak tadi memikirkan sesuatu tiba‑tiba mencondongkan tubuh ke depan.
"Saya mau tanya sesuatu yang penting," katanya serius.
Semua orang menatapnya.
"Waktu kalian makan buah itu... kalian pakai tusuk gigi yang sama atau tidak?"
Pertanyaan itu membuat suasana hening selama beberapa detik.
Novita menjawab dengan santai.
"Pakai yang sama."
"APA?!" Risa hampir berteriak.
Beberapa pegawai di meja lain sampai menoleh sebentar.
Risa segera menutup mulutnya lalu menurunkan suaranya.
"Kamu serius?"
"Iya. Di kotak buah yang saya bawa cuma ada satu tusuk gigi," jawab Novita.
"Kenapa tidak ambil dari meja kami?" tanya Yanti cepat.
"Saya mau mengambil tusuk gigi dari bekas kalian, tapi Pak Andra melarang," kata Novita.
Kini yang terdiam justru Bu Rika.
Wajahnya benar‑benar menunjukkan kebingungan.
"Tunggu..." katanya pelan. "Pak Andra yang melarangmu mengambil tusuk gigi lain?"
"Iya."
"Artinya kalian benar‑benar makan semangka dari satu kotak... dengan satu tusuk gigi... secara bergantian?"
Novita mengangguk lagi.
Risa langsung menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan ekspresi tidak percaya.
"Ini gila..." gumamnya.
Bu Dewi terlihat jauh lebih khawatir.
"Novita, kamu yakin tidak dipaksa?" tanyanya lembut.
"Tidak, Bu."
"Dia tidak mengancammu kalau menolak?"
"Tidak sama sekali."
"Lalu kenapa kamu melakukannya?"
Novita berpikir sebentar sebelum menjawab.
"Karena beliau atasan saya."
Jawaban itu terdengar sangat sederhana.
Namun justru itulah yang membuat mereka semakin tidak mengerti.
Bu Rika menghela napas panjang.
"Novita, saya sudah bekerja di perusahaan ini lebih dari sepuluh tahun," katanya pelan. "Saya tahu betul seperti apa Pak Andra."
Risa langsung menimpali.
"Dia dijuluki pangeran tiran di kantor ini."
Yanti mengangguk setuju.
"Dingin, kejam, perfeksionis, dan tidak pernah peduli pada siapa pun."
Bu Dewi menambahkan dengan nada hati‑hati.
"Sejujurnya saya cukup khawatir denganmu."
Novita tampak semakin bingung.
"Kenapa khawatir?"
"Karena biasanya kalau Pak Andra memberi perhatian khusus pada seseorang, itu jarang berakhir baik," jawab Bu Dewi.
Ucapan itu membuat Novita terdiam.
Namun sebelum suasana menjadi terlalu serius, Risa tiba‑tiba tersenyum nakal.
"Atau..." katanya sambil mengangkat alis.
Semua orang menoleh padanya.
"Atau apa?" tanya Yanti.
Risa menunjuk Novita.
"Mungkin saja Pak Andra jatuh cinta pada Novita."
"RISA!" Yanti langsung menegurnya.
Namun Risa tetap terlihat santai.
"Kenapa? Itu kemungkinan yang masuk akal."
"Masuk akal dari mana?" kata Yanti.
"Lihat saja Novita," jawab Risa sambil tersenyum. "Cantik, ramah, dan setiap hari ada saja pegawai pria dari divisi lain yang mencoba berkenalan dengannya."
Novita langsung memerah.
"Risa, jangan bicara aneh‑aneh."
"Saya serius," lanjut Risa. "Coba pikirkan. Pak Andra yang biasanya tidak mau berbagi makanan dengan siapa pun... sekarang malah makan satu kotak buah denganmu. Bahkan memakai tusuk gigi yang sama."
Yanti kembali merinding.
"Kalau itu benar..." gumamnya.
Bu Rika menatap Novita dengan tatapan penuh pertimbangan.
"Novita," katanya perlahan. "Apakah sebelumnya kamu pernah bertemu Pak Andra?"
"Tidak pernah, Bu."
"Tidak pernah sama sekali?"
"Iya. Saya bahkan baru tahu wajah beliau setelah mulai bekerja di sini."
"Sudah berapa lama kamu bekerja di perusahaan ini?"
"Baru satu bulan."
Jawaban itu membuat Bu Rika kembali terdiam.
Satu bulan.
Waktu yang terlalu singkat untuk menjelaskan perubahan sikap seseorang seperti Andra.
Bu Dewi menatap Novita dengan rasa khawatir yang masih tersisa.
"Kalau ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman, kamu harus bilang pada kami," katanya lembut.
Novita tersenyum kecil.
"Tenang saja, Bu. Saya baik‑baik saja."
Namun di dalam hati masing‑masing orang di meja itu, satu pertanyaan yang sama terus muncul.
Apa sebenarnya yang terjadi antara Novita dan Andra?
Dan mengapa pria yang dikenal paling dingin di perusahaan itu tiba‑tiba bersikap sangat berbeda hanya kepada satu orang pegawai baru?
Tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki jawabannya.
Kecuali mungkin Andra sendiri.