Mati karena peluru lalu jiwa bertransmigrasi ke dalam raga seorang yang ternyata adalah seorang figuran tanpa nama yang miskin. Anin pun bertekad untuk merubah takdir nya memanfaatkan wajah polos raga barunya ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anak rapuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chp 4
Mansion Maheswari
Makan malam di isi oleh suara Larasati seperti biasanya namun lebih semangat karena kehadiran Ara. Gadis berbalut kostum kucing itu duduk dengan tenang sambil memakan makanan nya. Larasati juga tak henti-hentinya menaruh beberapa potong daging atau kentang ke piring Ara yang membuat Pramudita menegurnya.
"Sayang Ara nanti akan kekenyangan kalau makan sebanyak itu, lagipula dokter sudah bilang kan kalau Ara harus makan secukupnya dengan teratur untuk menghindari asam lambung."Tegur Pramudita
Larasati tertawa. "Maafkan mama ya sayang, karna terlalu bersemangat." Ara menggeleng. "Ara suka kok di perhatiin mama, sukaaa bangettt!"
Lagi-lagi Larasati tertawa. Mencubit pelan kedua pipi tirus Ara, Larasati kembali menaruh satu potong daging. "Ini yang terakhir, setelah itu Ara baru minum obat." ucap nya.
"Lo mau caper kan sama keluarga gue?!" tuduh Silviana kepada Ara yang sedang menonton televisi. Larasati sedang mencuci piring bersama dengan pelayan. Sedangkan Pramudita berada di ruang kerjanya. Seperti nya pria itu benar-benar sibuk.
"Enggak kok.." jawab Ara dengan berkaca-kaca.
"Halah ngaku aja lo!" sentak Silviana yang membuat Ara mengeluarkan air mata buaya nya. Sembari menggeleng seperti orang yang ketakutan Ara menggeser tubuhnya tapi karena tersandung karpet ia jatuh.
"Astaga Ara!" seru Larasati yang baru datang. Wanita itu mengangkat Ara sambil menatap tajam Silviana.
"Ada apa Larasati?" tanya Pramudita yang baru datang. la terkejut mendengar suara istrinya yang memanggil nama Ara. Dengan cepat ia ke ruang tengah.
"Ara jatuh di dorong Silviana." jawab Larasati. Silviana tentu saja kaget, "Enggak! Aku enggak ada dorong dia ma!"
Ara yang menangis pura-pura memeluk leher Larasati. "I-ini salah aku bukan salah kak Silviana." lirih nya. "Ta-tadi aku jatuh kesandung." sambung nya.
Pramudita mengambil alih Ara dan membawanya keluar di ikuti oleh Larasati. Silviana menatap kepergian kedua orangtuanya sambil menggigit bibir menahan tangis. Kenapa jadi seperti ini?
Di kamar Pramudita dan Larasati. Ara di baringkan di tengah-tengah ranjang, kedua orang dewasa itu mengapit Ara.
"Tidur ya," ujar Larasati. Tangan wanita itu menepuk-nepuk lembut pantat Ara. Pramudita juga mencoba menidurkan Ara dengan mengusap kepala nya.
"Ara pulang aja ya.."ucap Elara
Usapan Pramudita terhenti. "Apa?" tanya pria itu tajam.
tubuh Ara agar menghadap nya. "Ar-Ara mau pulang.." Pramudita menarik "Jangan pernah katakan itu lagi Ara atau kaki mu akan papa patah kan!"
Mendengar tangisan Ara semakin kencang, Larasati memukul kepala suaminya. "Kamu ini apa-apaan sih, Ara jadi takut!"
"Ssttt.. Ara kan sudah jadi anak mama sama papa jadi harus tinggal di sini selama nya." Wanita itu memeluk dan menciumi pipi Ara.
"Tapi... Ta-tapi kak Silviana.."ucap Elara terbata bata
"Kak Silviana biar papa yang mengurus nya. Sekarang lebih baik Ara tidur karena besok Ara akan ikut ke kantor papa."
Pramudita menghapus jejak air mata Ara. Dirinya juga mencium pipi anak angkatnya itu. Ara yang di peluk memejamkan mata. Hatinya berbunga-bunga, tidak masalah kalau ia belum meluluhkan hati para tokoh lain. Karena masih ada waktu.
Perusahaan Maheswari
Ara memainkan game offline yang ia install di I-pad milik Pramudita. Sudah sejam dia duduk di ruangan Pramudita sendirian karena pria itu sedang meeting. Karena sudah tidak tahan dengan rasa bosan, Ara keluar dari ruangan itu.
"Kak Arsen?" panggil Elara
Arsen menoleh ke arah seseorang yang memanggil namanya, ternyata itu adalah Ara adik angkat Silviana. Ara berjalan dengan agak cepat tapi karena tersandung kaki nya sendiri ia jatuh. Arsen dengan cepat meraih
tubuh Ara.
"Ma-makasih kak." cicit Ara, gugup.
Arsen berdehem, dengan cepat ia melepaskan rengkuhan tangannya dari pinggang Ara.
"Lain kali hati-hati." kata Arsen.
"Kak Arsen ngapain di kantor papa?"tanya Elara
Arsen sebenarnya ingin langsung pergi namun melihat wajah polos Ara, ia mengurungkan niatnya. "Rapat nya belum selesai, mau jalan-jalan?" tawar Arsen. Ara tentu saja mengangguk dengan cepat.
"Kak Arsen ikut rapat juga? Tapi pakai seragam emang boleh?" ucap Elara
Mereka sekarang berada di taman yang masih ada di area perkantoran.
Lebih tepatnya taman buatan, ada juga danau kecil buatan yang di tumbuhi teratai.
"Mengantarkan berkas yang ketinggalan." jawab Arsen
Ara mengangguk-angguk tanda mengerti. "Kak Arsen rasanya sekolah itu gimana?"
Arsen beralih menatap wajah Ara masih berekspresi polos seakan tak memiliki dosa. "Lo gak pernah sekolah?"
Ekspresi polos itu berubah menjadi sendu. "Ara gak pernah rasain sekolah soalnya Ara gak punya uang"
Seketika Arsen merasa menyesal karena menanyakan itu. Ia mengangkat tangannya mengusap dahi Ara. "Mau sekolah gak?"
"Hah?" Ara menatap Arsen dengan bingung. "Ara mau sekolah gak? Gimana kalau sekolah di tempat.... kakak?" tanya Arsen ragu. Entah kenapa Arsen merasa senang saat dirinya di panggil Elara.
"Ara!"
"Papa!" Ara langsung menubruk tubuh Pramudita. Memeluk erat pria itu. Sambil tersenyum namun cemberut kemudian.
"Papa lama banget!" rajuk Ara. Pramudita terkekeh kecil tapi berekspresi datar saat melihat ke arah Arsen di sana.
"Ayah mu sudah pulang tuan muda Mahendra." datar Pramudita. Mengusir keberadaan pemuda itu. Arsen tersenyum miring. Pramudita tak pernah segalak ini saat ia dekat dengan Silviana. "Kalau begitu saya izin undur diri tuan Maheswari. Ah, Ara katanya ingin merasakan sekolah."
Pramudita menyembunyikan wajah Ara di dadanya saat Arsen melewati dirinya. Ara kemudian mendongak. "Bolehkan pa, Ara sekolah?"
Pramudita mana tahan kalau Ara mengeluarkan tatapan memohon seperti anak kucing ini. "Boleh, tapi Ara homeschooling dulu untuk mengejar ketinggalan kelas nya ya."
Ara mengangguk-angguk. "Oke!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambunggggggggggg
semangat buat auto ya 💪💪💪