NovelToon NovelToon
Nikah Kontrak; Istri Cegil Si Direktur Dingin

Nikah Kontrak; Istri Cegil Si Direktur Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Aksarasastra

Premis:
Demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang hampir bangkrut, Alya Prameswari terpaksa menerima perjodohan dengan Adrian Wijaya, seorang Direktur muda yang dingin dan terkenal tidak menyukai wanita “cegil”. Namun pernikahan mereka hanyalah kontrak.
Alya yang sebenarnya cukup tenang justru berpura-pura menjadi istri paling menyebalkan agar Adrian segera menceraikannya.
Sayangnya rencananya gagal. Semakin Alya bersikap cegil, Adrian justru semakin sabar dan mulai melindunginya.
Ketika akting Alya berubah menjadi perasaan yang nyata, ia harus memilih: terus berpura-pura… atau mengakui bahwa ia tidak lagi ingin pernikahan kontrak itu berakhir.
Saksikan Terus Cerita ini, update setiap hari 💚

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Aksarasastra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Pernikahan.

“Alya, kamu yakin ini jam yang benar?”

Suara itu terdengar pelan, tetapi cukup untuk membuat jantung Alya berdetak lebih cepat. Ia berdiri di depan cermin besar ruang rias, jemarinya sedikit gemetar saat menyentuh ujung gaun pengantin yang membungkus tubuhnya dengan sempurna. Gaun itu jatuh elegan dari leher hingga ke bawah, persis seperti yang ia pilih tempo hari, tertutup, klasik, dan anggun seperti wanita Eropa dalam lukisan lama. Riasannya lembut, tidak berlebihan, namun justru membuat wajahnya terlihat lebih dewasa dari biasanya. Jika hari ini berjalan normal, semua orang pasti akan berkata ia adalah pengantin yang sempurna.

Namun jam di dinding menunjukkan pukul 08.30.

Dan Adrian belum datang.

Alya menatap pantulan dirinya di cermin lebih lama dari yang seharusnya. Di luar ruangan, suara tamu mulai terdengar samar, bercampur dengan alunan musik yang sudah disiapkan sejak pagi. Segalanya berjalan sesuai jadwal dekorasi, katering, fotografer, bahkan MC sudah siap di posisi masing-masing.

Hanya satu yang belum ada. Satu orang yang seharusnya berdiri di sampingnya.

Pengantin pria.

Ibunya masuk ke ruang rias dengan langkah cepat, wajahnya berusaha terlihat tenang meski matanya menyimpan kecemasan.

“Alya, Mama Adrian sudah datang,” katanya pelan sambil merapikan sedikit kerudung di kepala Alya. “Mereka bilang Adrian masih di jalan.”

Alya mengangguk kecil, meskipun dadanya terasa semakin sesak.

“Masih di jalan?” ulangnya pelan, seolah kalimat itu bisa terdengar lebih masuk akal jika diucapkan dua kali. Ia mencoba tersenyum, tetapi senyum itu terasa kaku dan asing di wajahnya sendiri.

Di luar, suara bisik-bisik mulai terdengar lebih jelas. Beberapa tamu tampaknya mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Jam terus berjalan, dan setiap detik terasa seperti jarum yang menusuk pelan di kepalanya.

Pukul 08.45.

Alya akhirnya keluar dari ruang rias, ditemani ibunya. Ruangan utama sudah dipenuhi tamu dengan pakaian formal yang rapi dan mahal. Lampu kristal berkilauan di atas, memantulkan cahaya ke seluruh ruangan seperti hujan bintang. Dekorasi bunga putih dan emas yang ia pilih terlihat sangat indah, hampir seperti mimpi.

Namun suasana di dalamnya…

Tidak lagi terasa seperti pernikahan.

Melainkan seperti panggung yang menunggu sesuatu yang tidak kunjung datang.

Ayahnya berdiri di dekat altar, berbicara dengan beberapa orang dengan wajah tegang. Begitu melihat Alya, ia langsung menghampiri, berusaha tersenyum meski jelas tidak berhasil sepenuhnya.

“Alya,” katanya pelan, “tenang saja. Pasti ada alasan.”

Alya mengangguk, meski pikirannya mulai berlari ke arah yang tidak terkendali. Ia mencoba fokus pada napasnya sendiri, mencoba mengingat hal-hal kecil yang biasanya menenangkannya. Namun justru yang muncul di kepalanya adalah bayangan-bayangan aneh yang semakin liar.

Bagaimana kalau Adrian kabur?

Bagaimana kalau dia tiba-tiba sadar bahwa menikah dengannya adalah kesalahan besar?

Bagaimana kalau setelah ini keluarganya benar-benar bangkrut, rumah disita, dan ia harus tinggal di taman kota dengan rumah dari kardus?

Alya menelan ludah.

Ia bahkan sempat membayangkan dirinya duduk di bawah jembatan, memegang papan bertuliskan “Mantan calon istri direktur, terima sumbangan.”

“Ya ampun…” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.

Ponselnya yang ia pegang sejak tadi tiba-tiba bergetar.

Satu notifikasi masuk.

Instagram.

Alya melirik layar itu tanpa benar-benar berharap apa-apa. Mungkin hanya ucapan selamat dari teman, atau pesan random yang tidak penting. Namun matanya langsung berhenti ketika melihat tulisan kecil di atasnya.

Message Request — Anonymous

Entah kenapa, jantungnya langsung berdetak lebih cepat.

Alya membuka pesan itu.

Dan dunia seakan berhenti.

Sebuah foto memenuhi layar ponselnya.

Adrian.

Dan seorang wanita.

Seraphina Claudine.

Dalam foto itu, Seraphina memeluk Adrian dengan sangat dekat, tubuhnya condong ke depan, wajahnya hampir menyentuh bahu Adrian. Namun yang membuat napas Alya tertahan bukan pelukan itu.

Melainkan…

Cara Adrian membalasnya.

Tangannya berada di punggung Seraphina.

Bukan sekadar membalas sopan.

Melainkan pelukan yang dalam.

Nyaman.

Seolah itu adalah tempat yang seharusnya.

Tangan Alya mulai bergetar.

Bukan karena cemburu.

Bukan karena marah.

Melainkan karena satu hal yang jauh lebih sederhana.

Waktu.

Beberapa menit lagi mereka akan menikah.

Dan pria itu…

Tidak ada di sini.

Ibunya yang berdiri di samping langsung menyadari perubahan ekspresi Alya.

“Kamu kenapa?” tanyanya pelan.

Alya tidak langsung menjawab.

Ia hanya menunjukkan layar ponselnya.

Ibunya membeku.

Beberapa detik ruangan di sekitar mereka terasa semakin jauh.

Suara tamu berubah menjadi dengungan samar yang tidak jelas.

Mama Adrian tiba-tiba muncul di dekat mereka, wajahnya terlihat tenang namun matanya tajam mengamati situasi. “Apa yang terjadi?” tanyanya dengan suara rendah.

Ibunya Alya menyerahkan ponsel itu.

Wanita itu membaca pesan tersebut, lalu menarik napas pelan. Tidak ada kepanikan di wajahnya, hanya sesuatu yang lebih dingin dan terkontrol.

“Ini tidak masuk akal,” katanya pelan. “Adrian tidak akan melakukan ini.”

Alya menatapnya.

“Kalau tidak, kenapa dia belum datang?”

Tidak ada yang menjawab.

Alya menunduk.

Tangannya mencengkeram gaun pengantinnya sendiri.

“Ayah…” suaranya pelan, hampir seperti bisikan.

Bima langsung mendekat.

“Iya, Sayangnya Ayah?”

Alya menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Walaupun ini pernikahannya hanya kontrak…” ia berhenti sebentar, menelan sesuatu di tenggorokannya, “kenapa Alya harus dipermalukan seperti ini?”

Suasana di sekitar mereka mendadak terasa lebih sunyi.

Ayahnya tidak langsung menjawab.

Hanya menatap Alya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

Sementara di sudut ruangan, beberapa tamu mulai berbisik lebih jelas.

“Pengantin prianya belum datang ya?”

“Ada apa ini?”

“Apa batal?”

Kata-kata itu seperti jarum kecil yang menusuk dari berbagai arah.

Alya mencoba menahan napasnya.

Ia membuka kontak Adrian di ponselnya.

Menekan tombol panggil.

Namun yang terdengar hanya suara mesin.

Nomor yang Anda tuju tidak aktif.

Alya membeku.

Sekali lagi ia mencoba.

Hasilnya sama.

Pikirannya langsung berlari lebih jauh.

Lebih liar.

Lebih tidak masuk akal.

“Ini pasti awal dari kehidupan miskin,” gumamnya pelan.

Ibunya menoleh bingung.

“Alya?”

Namun Alya sudah tenggelam dalam pikirannya sendiri.

“Setelah ini rumah kita disita… terus aku tinggal di taman kota… bikin rumah dari kardus… terus kalau hujan aku pindah ke kolong jembatan…”

Ia mengangkat wajah dengan ekspresi serius yang sangat tidak sesuai dengan situasi.

“Terus aku jualan cilok buat bertahan hidup…”

Ibunya menatapnya tidak percaya.

“Alya!”

Namun gadis itu justru mengangguk sendiri.

“Iya… cilok… bulat seperti kehidupan…”

Di tengah kekacauan itu, entah kenapa, pikirannya tetap saja menemukan jalan untuk menjadi absurd.

Dan di saat semua orang tegang…

Alya berdiri di sana.

Dengan gaun pengantin yang elegan.

Dengan mata yang hampir menangis.

Dan dengan bayangan masa depan yang anehnya… penuh cilok dan kardus.

1
Aphing Zora
suka ceritanya bagus. lanjut Thor 👍
Aksara_Sastra: uwwu, maacii. Dukung terus yaaak, biar bisa update tiap hari dan crazy up. wopyuuu 💚
total 1 replies
April Mei
kerennnnnnnn
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Aksara_Sastra: Dukung terus yaaa, 💚
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!