NovelToon NovelToon
TAK ADA JALAN KEMBALI

TAK ADA JALAN KEMBALI

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Masalah Pertumbuhan / Kebangkitan pecundang / Selingkuh / Anak Lelaki/Pria Miskin / Balas Dendam
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Riko Permana, demi gadis yang dicintainya, rela meninggalkan cita-cita menjadi seorang polisi. Melepas beasiswa yang diberikan negara. Ia mundur, sengaja mengalah. Sengaja membiarkan nilainya menjadi buruk demi memuluskan jalan calon kakak iparnya.

Profesor pembimbing kecewa dan ia merasa bersalah. Hanya satu yg membuat ia bahagia: bisa menikah dengan wanita yang sangat dicintainya.

Akan tetapi, apa yang terjadi kemudian? Dirumah mertua ia diperlakukan layaknya budak, dihina dan dipermalukan. Istri yang dicintai tidak membela malah ikut merendahkan.

Puncaknya adalah ketika ia mengetahui bahwa sang istri berselingkuh secara terang-terangan di hadapannya.

Pria yang menertawakan kebodohannya sendiri. Istri yang selama satu tahun pernikahan tidak mau disentuh, kenapa dia tidak sadar sama sekali?

"Cukup sudah! Seluruh cintaku sudah habis. Aku akan tunjukkan pada semua, aku bukan orang yang bisa mereka hina begitu saja. Mereka yang telah menghinaku, akan bertekuk lutut di hadapanku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

05. Bertemu Camer

.

.

Beberapa hari setelah pengumuman itu, Laras dengan hati terpaksa membawa Riko untuk diperkenalkan dengan kedua orang tuanya. Ia tak mau membuat Riko curiga kalau dia hanya dimanfaatkan.

"Ayo, Sayang! Mama dan Papa sudah menunggu. Aku akan memperkenalkanmu secara resmi sebagai calon menantu mereka," ucap Laras dengan wajah yang dibuat se-riang mungkin, meskipun sebenarnya malas.

Riko yang mendengar ucapan Laras begitu gembira. Ia pun mengangguk, lalu mengikuti langkah Laras menuju sebuah mobil mewah yang terparkir tak jauh dari sana. Akhirnya momen yang ia tunggu datang juga. Momen di mana ia akan berhadapan dengan keluarga Laras, yang selama ini hanya ia kenal dari cerita-cerita Laras yang terkadang membuatnya kagum, namun lebih sering membuatnya merasa minder.

Perjalanan menuju rumah Laras terasa begitu mendebarkan. Riko berusaha menenangkan diri, namun jantungnya terus berdebar tak karuan. Keluarga Laras adalah orang-orang penting, orang-orang yang terbiasa hidup dalam kemewahan dan kekuasaan. Dan kini ia akan menjadi bagian dari keluarga itu.

Mobil berhenti di depan sebuah rumah mewah yang sangat besar dan megah. Riko tertegun melihat bangunan itu. Ia belum pernah melihat rumah sebesar dan semewah ini sebelumnya. Rumah kontrakan yang ia tinggali bersama ibunya terasa begitu kecil dan sederhana dibandingkan dengan rumah Laras.

"Ayo, Sayang! Jangan gugup begitu," bisik Laras, menggenggam erat tangan Riko . "Mereka pasti akan menyukaimu."

Riko mencoba tersenyum, namun senyumnya terasa kaku dan dipaksakan. Ia mengikuti Laras masuk ke dalam rumah.

Ruang tamu rumah itu sangat luas dan mewah. Perabotan yang ada di dalamnya terbuat dari bahan-bahan berkualitas tinggi dan ditata dengan sangat rapi. Riko merasa seperti berada di museum.

Di ruang tamu, sudah ada dua orang yang menunggu. Seorang pria paruh baya yang tampak berwibawa dengan setelan jas mahal, dan seorang wanita paruh baya yang anggun dengan gaun mewah dan perhiasan yang berkilauan. Riko tahu, mereka adalah Papa dan Mama Laras. Bagas tidak ada di sana. Laras bilang kalau Bagas harus tinggal di asrama polisi untuk sementara.

"Mama, Papa, ini Riko . Dia adalah..." Laras menggantungkan kalimatnya, menatap Riko dengan senyum penuh arti. "...calon suami Laras."

Riko mengangguk dan memberikan senyum hormat. "Selamat siang, Om, Tante," ucapnya sopan.

Papa Laras, yang bernama Heri Darmawan, menatap dingin ke arah Riko. "Selamat siang," jawabnya dengan suara yang datar.

“Iya, Om." Riko mengangguk dan menundukkan sedikit kepalanya sebagai bentuk sopan santun.

Sementara itu, Ratna, mamanya Laras, hanya memandang Riko dengan tatapan dingin dan meremehkan. Ia hanya mengangguk singkat.

"Jadi, kamu teman Laras yang katanya gagal tes polisi kemarin?" Ratna bersuara, nadanya sinis dan merendahkan. Matanya menelisik penampilan Riko dari atas sampai bawah. “Dari penampilan kamu saja terlihat jelas kalau berasal dari keluarga miskin," hinanya

Riko terkejut mendengar perkataan Ratna. Ia tidak menyangka bahwa Mama Laras akan menghina dirinya seperti itu di hari pertama pertemuan mereka.

"Iya, Tante," jawab Riko dengan suara yang berusaha ia buat setenang mungkin. "Saya memang gagal. Tapi…"

Ratna mendengus sinis. "Sudah miskin, bodoh pula! Dan orang bodoh seperti kamu, Berani-beraninya mendekati putriku. Apa kamu berkhayal jadi menantu orang kaya yang bisa menikmati harta tanpa bekerja?”

Riko menelan ludah. Ia merasa sangat terhina dengan perkataan Ratna. Ia ingin membalas, namun dengan cepat Laras menggenggam tangannya dan menatap sambil menggelengkan kepala.

"Sudah, Mama! Jangan bicara seperti itu,” potong Laras. Walaupun miskin tapi Riko sangat baik padaku. Dia mencintaiku dengan tulus," ucap Laras demi menenangkan hati Riko.

"Cinta? Cinta itu tidak bisa membeli apa-apa, Laras! Kamu pikir cinta saja cukup untuk modal hidup? Kamu beli skincare butuh uang, bukan cinta," balas Ratna dengan nada yang tinggi.

"Harusnya kamu cari pacar itu yang seperti kakakmu, Bagas! Lihat! Dia sudah menjadi polisi sekarang! Dia akan memiliki karir yang cemerlang dan bisa membanggakan keluarga kita!”

Ratna menyebut nama Bagas penuh kebanggaan, seolah Riko tak lebih dari debu dibandingkan putranya yang kini mengenakan seragam kebanggaan korps Bhayangkara. "Bagas akan menjadi polisi yang hebat. Dia akan membawa nama baik keluarga kita."

Riko hanya bisa mengepalkan tangannya erat-erat di sisi tubuhnya, menahan amarah yang mulai membakar dadanya. Hinaan demi hinaan yang dilontarkan Ratna terasa seperti cambuk yang menyayat kulitnya. Rahangnya mengeras dengan wajah memerah karena amarah. Ia bertanya-tanya dalam hati, apakah Laras tidak memberitahukan keluarganya tentang pengorbanannya?

Heri, yang sedari tadi hanya diam, akhirnya angkat bicara. "Sudah, Ratna. Jangan berlebihan," tegurnya dengan nada yang datar. “Riko masih bisa mengulang seleksi tahun depan jika mau.”

Ratna mendengus sinis. "Mama tidak mau Laras menikah dengan pemuda miskin yang tidak punya masa depan."

Laras, yang sedari tadi hanya diam menyaksikan Mamanya menghina Riko , akhirnya angkat bicara. "Mama, cukup! Jangan bicara seperti itu lagi!" serunya dengan nada yang marah. "Riko adalah calon suamiku. Aku tidak mau Mama menghinanya seperti ini."

Ratna menatap Laras dengan tatapan tajam. "Calon suami? Kamu yakin dia pantas menjadi suamimu? Lihatlah dirimu, Laras. Kamu cantik, pintar, dan berasal dari keluarga terhormat. Mengapa kamu memilih pemuda miskin yang tidak punya apa-apa?"

"Karena aku mencintainya, Mama!" jawab Laras dengan tegas. "Aku tidak peduli dengan kekayaannya atau statusnya. Aku hanya peduli dengan hatinya."

Riko menatap ke arah Laras. Tak apa calon ibu mertuanya tidak menyukainya, yang penting Laras berdiri di sisinya.

Ratna menggelengkan kepalanya dengan nada sinis. "Kamu masih muda dan bodoh, Laras. Kamu belum tahu apa artinya hidup yang sebenarnya. Suatu saat nanti, kamu akan menyesali keputusanmu ini."

"Aku tidak akan menyesal, Mama," jawab Laras dengan mantap. "Aku yakin Riko akan membahagiakanku."

Rahang Ratna mengeras, mata wanita itu melotot tajam. "Sejak kapan kamu menjadi keras kepala dan berani membantah kata-kata Mama? Kamu itu seorang foto model terkenal. Apa tidak bisa mencari pacar yang sesama model? Setidaknya yang bisa dipamerkan di depan keluarga besar!”

Laras menatap ke arah mamanya sambil meraih tangan Riko dan menggenggamnya erat. “Keputusanku sudah bulat. Dengan atau tanpa restu Mama, aku akan menikah dengan Riko!”

Hati Riko bergetar mendengarnya. Kini ia tak menyesal meskipun ia kehilangan mimpinya.

Laras menatap ke arah Riko dan berkata, "Ayo, Sayang. Aku akan mengantarmu pulang karena setelah ini aku harus pergi ke agency!”

Riko mengangguk dan tersenyum. Mereka berdua segera keluar dari rumah mewah itu, bahkan Riko tak menyadari dirinya sama sekali tak dipersilakan duduk.

Sesampai di dekat mobilnya Laras, Riko menghentikan langkahnya dan menggenggam dua tangan Laras, lalu menciumnya penuh kasih sayang.

"Terima kasih, ya, Sayang. Aku bersyukur memiliki kekasih yang sangat mencintaiku,” ucapnya.

"Kamu ngomong apa, sih? Tentu saja aku mencintaimu. Ya sudah ayo aku antar. Soalnya aku juga buru-buru," ucap Laras sambil membuka pintu mobil. Namun, Riko menutup kembali pintu mobil sebelum Laras masuk.

“Kalau kamu buru-buru, aku bisa pulang sendiri," ucap Riko.

Binggo!

Ini lah yang diharapkan Laras. Riko yang selalu merasa tak enak hati jika harus merepotkan. Hanya butuh sedikit kata-kata manis dan Riko akan terbuai.

“Tapi, Sayang? Kan aku yang bawa kamu ke sini, tadi?" Laras menunjukkan raut bersalah.

“Apa, sih. Ya gak papa. Pokoknya aku pulang sendiri naik taksi saja," ucap Riko tak mau dibantah.

“Beneran gak papa?" tanya Laras yang sejatinya ingin Riko cepat pergi.

“Iya," jawab Riko yakin. “Ya sudah aku pergi, ya?"

“Ya sudah, kalo gitu aku mau masuk buat siap-siap," sahut Laras sambil melambaikan tangan kecil. Riko pun segera berjalan keluar dari halaman luas rumah keluarga Darmawan. Senyum bahagia tersungging di bibir pemuda tampan itu.

Laras menghela nafas lega setelah bayangan Riko tak lagi terlihat. Gadis itu segera berlari masuk ke dalam rumah, lalu menuju pantry dan mencuci tangan di wastafel, seolah ingin menghilangkan bakteri yang menempel. Tak peduli dengan mamanya yang menatap dengan kening berkerut dan mata menyipit.

*

*

*

Selamat tahun baru untuk kalian semua. Semoga di tahun 2026 ini kita semua mendapati segala sesuatu yang lebih baik dari tahun kemarin.

Dan,,,, tentang Riko. Ini genre Male Lead ya. Jadi, untuk sementara Riko memang dibuat buta. Kalian boleh menghujat kebodohan Riko sesuka hati. Tapi Mama mohon jangan berhenti membaca, supaya cerita ini berumur panjang. Jangan khawatir, akan ada saatnya Riko bangkit dan membalas semuanya.

Oke gaessa … lope yu all 😘😘😘

1
Cindy
lanjut
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
gak tahunya perhiasannya KW🤭
Aidil Kenzie Zie
Aldo mana Aldo
Yana Phung
sepertinya berlian pemberian aldo juga palsu
aduh.. kalo sampai terjadi apes berkali-kali si laras
ditambah emaknya model itu lagi
mungkin emaknya aja yg dijual 😅😅😅
ora
Yakin bisa di jual kan, Ras😁😁
ora
Kamu juga usaha dong, jangan nyuruh aja bisanya...
Tini Uje
jangan2 palsu lagi kan prhiasan nya 😅😅
Masha 235: ho oh...kalo palsu, kasian.....rugi berkalikali🤭
total 1 replies
Dew666
💎💎💎💎
Masha 235
andaikan hukum di negeri ini sperti cerita ini,,,,alangkah senangnya hati ini....
Cindy
lanjut
Piet Mayong
daripada hotel mending cari kontrakan donk Bu Ratna yg terhormat
🤭😁😁😁😄
Patrick Khan
guna nya aldo apa sih😅😅😅
Tini Uje
yg kata nya horang kaya pacar nya larass kmnaa atuhh..bantuin tuh ayang mbeb kamu aldo 😅😅
Ayudya
lanjut kak
juwita
si aldo kmn laras bknya pacar km🤣🤣
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
anda
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
sorry, gak nerima barang bekas
Gadis misterius
Lnjutkan riko memang harus begitu .....jngn smpai lengah dan tertipu dngn laras lg cukup 1 x
Ayudya
seperti bom waktu yg kapan aja meledak itu lah amarah riko🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Ayudya
lah Laras kok ga tau malu banget mau minta balikan ma Riko mimpi kali kamu laras
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!