NovelToon NovelToon
GAURI, PENGANTIN PILIHAN DEVAN

GAURI, PENGANTIN PILIHAN DEVAN

Status: tamat
Genre:Dokter / Anak Yatim Piatu / Teen School/College / Romantis / Cintamanis / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 5
Nama Author: Mae_jer

Devan kaget saat tiba-tiba seseorang masuk seenaknya ke dalam mobilnya, bahkan dengan berani duduk di pangkuannya. Ia bertekad untuk mengusir gadis itu, tapi... gadis itu tampak tidak normal. Lebih parah lagi, ciuman pertamanya malah di ambil oleh gadis aneh itu.

"Aku akan menikahi Gauri."

~ Devan Valtor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu lagi

Gauri asyik berlari-larian di taman bunga sekolah besar tersebut. Ares sesekali bermain dengan gadis itu, namun hanya beberapa menit karena setelah itu Gauri lebih suka bermain sendiri. Kadang tertawa, kadang menangis dan kalau tidak sengaja jatuh, dia akan teriak-teriak marah. Kalau sudah begitu, Ares pun susah membujuknya. Hanya kakaknya yang bisa.

"Gauri, larinya jangan kenceng-kenceng nanti kamu jatoh." Ares berseru dari tempat dia duduk. Walaupun dia tahu Gauri tidak akan mendengarkan apa katanya, Ares tetap memberi gadis itu peringatan.

"Ares sini deh! Sini cepet!" seruan Gauri membuat Ares berdiri dan berjalan ke arah gadis itu.

"Lihat! Semutnya banyak banget, mereka berbaris. Ares tahu nggak kenapa mereka berbaris?"

Lagi. Untuk yang kesekian kalinya Ares harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut gadis usia delapan belas tahun itu, namun pikirannya yang seperti anak umur enam tahun.

Ares menghela napas pendek, lalu menunduk untuk melihat sekumpulan semut yang sedang berbaris di depan Gauri. Gadis itu jongkok dengan mata berbinar, tangannya menunjuk semut-semut itu dengan antusias, seperti menemukan sebuah keajaiban.

"Mereka berbaris karena sedang mencari makanan," jawab Ares sambil berusaha bersikap sabar.

"Makanan? Tapi di sini kan nggak ada makanan. Kenapa mereka jalan-jalan aja kayak orang lagi piknik?" Gauri memiringkan kepalanya, seolah mencoba memahami penjelasan Ares.

Ares ingin tertawa kecil, tapi dia menahan diri.

"Semut itu punya indra penciuman yang kuat. Mereka pasti lagi cari sisa-sisa makanan di sekitar sini. Kalau satu semut nemu, dia kasih tahu yang lain, makanya mereka jalan berbaris."

"Ohhh …" Gauri mengangguk pelan, lalu mendekatkan wajahnya ke barisan semut itu.

"Berarti kalau Gauri kasih mereka makanan, mereka bakal seneng dong?"

Sebelum Ares sempat menjawab, Gauri sudah berlari ke arah ke arah kebun sekolah. Ia melihat sesuatu yang lain, yang membuat perhatiannya ke semut-semut itu teralih. Larinya sangat cepat hingga Ares harus mengejarnya.

"Gauri, jangan lari kayak gitu, nanti ja ..."

Belum sempat Ares menyelesaikan kalimatnya, Gauri sudah jatuh, untuk tidak langsung jatoh ke tanah. Gadis itu menabrak seseorang, jatuh ke pelukan orang tersebut.

Devan.

Ya, orang itu adalah Devan. Ia baru saja tiba dan berjalan-jalan mengitari sekolah tersebut sebelum masuk ke kelas untuk mulai mengajar. Devan refleks menahan tubuh Gauri agar tidak jatuh membentur tanah. Lengan kokohnya otomatis menahan pinggang gadis itu, sementara Gauri membulatkan mata, tampak kaget tapi sama sekali tidak menangis.

Justru sebaliknya, dia tersenyum lebar. Dia mengenali Devan.

"Eh! Kakak ganteng yang kemaren!" serunya senang, tanpa rasa malu sedikit pun. Ia malah memeluk tubuh Devan kencang.

Devan pun langsung mengenali gadis itu. Ia menutup matanya dalam-dalam, sial sekali. Dua hari ini dia dipertemukan dengan gadis yang sama, yang berani mencuri ciuman pertamanya dengan cara yang brutal.

Devan mendorong tubuh gadis itu kuat, tapi pelukan gadis itu lebih kuat lagi menempel padanya. Ares makin dekat, berhenti di depan mereka. Ia sempat heran melihat Gauri tiba-tiba menempel pada orang asing, biasanya gadis itu anti orang asing.

"Gauri," karena fokusnya hanya pada Gauri, ia tidak sempat memperhatikan siapa laki-laki yang di peluk oleh gadis itu.

Begitu tatapannya bertemu dengan Devan, Ares langsung mengenalinya. Devan juga.

"Bang Devan?" Ares cukup kaget.

Ia kenal Devan karena Devan sahabat abangnya. Tapi setahunya pria itu ada di luar negeri. Sudah lama.

"Kau kenal dia?" Devan masih berusaha mendorong tubuh Gauri menjauh darinya.

Perhatian Ares kembali ke Gauri. Ia maju lebih dekat untuk menarik gadis itu.

"Gauri, lepasin. Kamu nggak boleh meluk orang sembarangan." ucap Ares lembut.

"Kakak ini wangi banget! Wangi susu!"

Ares mendesah pelan.

"Ayo sini, lepasin dulu ya." Ares terus berusaha menarik tubuh Gauri menjauh dari Devan.

"Ih, nggak mau. Mau peluk kakak ini!" Gauri mulai kesal.

"Kamu nggak boleh gitu, manis. Ayo sini sama Ares dulu," bujuk Ares sekali lagi, tetap dengan suara lembut yang biasa ia gunakan untuk menenangkan Gauri. Namun kali ini, Gauri mengeratkan pelukannya makin kuat, wajahnya menempel di dada Devan seolah itu tempat paling aman di dunia.

Devan hampir putus asa. Karena kesal dan menahan amarah yang akan meledak.

"Gauri," kata Ares lagi dengan suara pelan tapi tegas,

"Lepasin dulu, ya. Kakak ini kesakitan ..."

Gauri menegang. Ia melepaskan pelukan itu perlahan dan menatap Devan dengan mata besar yang tiba-tiba berkaca-kaca. Tipe reaksi yang sering muncul kalau ia merasa bersalah, bahkan kalau kesalahannya kecil sekalipun.

"Sa… sakit?" suaranya gemetar.

"Gauri nyakitin kakak ganteng?"

Ares langsung bergerak cepat, memegang kedua bahu Gauri agar gadis itu tidak langsung menangis histeris seperti biasanya.

"Nggak, Gauri. Kakak itu cuma kaget," ujar Ares cepat, menenangkannya.

"Kamu nggak nyakitin siapa-siapa."

Devan menghela napas dalam, mengusap tengkuknya. Sepertinya gadis itu otaknya memang bermasalah. Lihat cara Ares memperlakukannya. Okey, akan dia maklumi, hari ini saja.

"Bang, maaf ya." ucap Ares. Dia cukup segan pada Devan. Walau beringas dan terkenal berandalan di sekolah, masih ada orang-orang yang dia segani dan hargai.

Devan mengangguk singkat. Ketika ia hendak bicara, dua orang guru datang menghampiri. Kepala sekolah dan kesiswaan.

"Pak Devan, ternyata bapak di sini. Kami cariin dari tadi loh. Kepala sekolah bilang anda sudah sampai di sekolah." kata wakil kepala sekolah, perempuan. Namanya Nonce.

Nonce mendekat dengan senyum ramah, tapi matanya sedikit membesar saat melihat Gauri berdiri terlalu dekat dengan Devan, bahkan masih memegangi ujung kemeja pria itu. Ares buru-buruh menarik tangan Gauri ke belakang tubuhnya, membuat gadis itu merengut kecil.

Devan tersenyum tipis ke bu Nonce dan guru laki-laki yang datang bersamanya.

"Ares, kamu kenapa masih di luar? Udah bel masuk dari lima menit yang lalu!" kata si guru kesiswaan, pak Krisna.

Ares hanya berdiri santai sedikit tidak senang dengan guru itu karena suara kerasnya membuat Gauri takut. Gadis itu cepat-cepat bersembunyi di belakang Ares.

"Ares, om itu galak bangeet .." bisik Gauri, suaranya bergetar.

"Udah-udah, pak Krisna. Ares, kamu anterin dia dulu, kemudian balik masuk kelas. Pak Devan, mari ikut saya. Saya tunjukkan kelas mengajar pertama anda." kata bu Nonce.

Devan mengangguk, sebelum pergi, ia menoleh sekilas ke gadis yang bersembunyi di belakang Ares lalu meneruskan langkahnya mengikuti bu Nonce dan pak Krisna.

Ares mendengus keras. Kalau tidak mengingat teguran keras tantenya, ia sudah mengacau di sekolah ini. Banyak guru yang terlalu berpikiran negatif padanya. Karena itu dia sering melakukan apa yang guru-guru itu tuduhkan.

"Ares, Gauri capek. Mau tidur."

Ares membalikkan badannya. Ia tersenyum lembut.

"Kalo gitu Ares anterin Gauri pulang ya."

Gauri mengangguk persis kayak anak kecil.

1
tutut wahyuningsih
👍👍👍👍
irma hidayat
rasain lu gino kamu lengah padahal udah gunain akal akalanmu agar devan ikut
irma hidayat
pede banget kamu diana bilang ga cocok, mau nya kamu ya yg cocok
irma hidayat
cerita nya bagus,semangat berkarya thor
irma hidayat
kena juga tuh di akalin gino
irma hidayat
diana jangan marah kamu sedang menuai hasil dari perbuatanmu
irma hidayat
pelampiasan cemburu tuh s diana,ares kena
Qaisaa Nazarudin
Padahal yah dengan kejadian berlaku dan setelah kecelakaan itu, Sesiapa juga bisa MENEBAK apa yg sebenarnya terjadi,Setelah kejadian itu dengan Tiba2 Ibnu langsung berkuasa dan hidup mewah,Siapa juga akan mikir apa yg sudah terjadi..Lha ini malah PASRAH gitu aja,Aneh...
Qaisaa Nazarudin
Padahal diawal Agam mengenalkan Siapa Gauri ke Gino dan Devan, Perasaan ku Agam menyebut nama Tunangannya Gretta,Kok bisa berubah jadi Iriana..🤔🤔🤔
Qaisaa Nazarudin
Move on Agam,Kamu juga berhak bahagia, Orang yg meninggal Roh akan nyangkut selagi orang yg dia Sayang belum mengikhlaskan dia PERGI, Jadi DIA belum bisa TENANG diatas sana..
Qaisaa Nazarudin
Aku takut aja ada yg merakam perbuatan mereka,Ia sih sekolah ini milik Gauri,tapi gak ada CONTOH YG BAIK,Apalagi Devan yang notabene nya SEORANG PENDIDIK,Tidak mencerminkan jiwa seorang pendidik,Kalah dengan Nafsu..🤦🤦
Qaisaa Nazarudin
Devan..Devan kan sudah di peringatin juga sama tante Victoria dirumah saat dimeja makan,Kenapa dilakukan juga ckk..
Qaisaa Nazarudin
Hareudang... Akhirnya Jebol juga Gauri,Tahan nafas aku baca bab ini 🤭🤭🤭
Qaisaa Nazarudin
Nah akhirnya Gauri SEMBUH sendiri, Semoga Gauri gak lupa kalo Devan itu SUAMINYA ya..
Qaisaa Nazarudin
Semoga setelah mimpi ini Gauri SEMBUH ya..🤲🤲🤲 Gak sabar aku nunggu Gauri sembuh..
Qaisaa Nazarudin
kok IRINA??Bukan GRETTA ya nama kakak nya?? 🤔🤔
Qaisaa Nazarudin
Aku takut nya ntar Gauri cerita ke orang lain apa yang sudah Devan lakukan ke dia..😂😂🤭🤭
Qaisaa Nazarudin
Itu mah buah Terong bukan anggur ya Gauri 🤣🤣🤣😜😜
Qaisaa Nazarudin
Padahal aku udah takut banget kalau Keluarga Devan gak setuju dan gak restuin karena keadaan Gauri yg sakit.. Alhamdulillah ternyata diluar Ekspektasi aku..
Qaisaa Nazarudin
Alhamdulillah tdk ada DRAMA tdk restu dan memandang RENDAH dan MENGHINA Gauri dari sang kakek..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!