"Gak usah sok baik sama gue. Ingat, lo tuh orang yang paling gue benci," sewot Niar saat berhadapan dengan bos sekaligus mantan saat SMA dulu. Takdir macam apa ini? mau resign sayang gaji dan fasilitas penunjang, bertahan juga harus menyiapkan mental bertemu dengan dia setiap hari.
"Gak usah jutek gitu. Nanti minta balikan," ledek Gesta yang memang senang sekali bisa bertemu dengan mantan pacar yang terpaksa putus, padahal masih sayang.
Akankah mereka akur dan bisa profesional? happy reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MARAH
Bisa ke ruangan saya! Gesta mengirim pesan pada Niar dengan amarah yang sangat ia tahan.
"Urusan kantor lebih banyak, Ges. Sudah 3 hari kamu gak masuk, aku juga gak bisa ambil keputusan. Fokus ke pekerjaan dulu napa, Ges!" Jaka paham, Gesta sedang marah. Tapi tanggung jawab dia sebagai pemimpin perusahaan juga banyak. Urusan pribadi hendaknya diselesaikan setelah pulang kantor.
"Lo bisa diam gak? Kalau lo gak bisa handle, biarkan saja nanti gue kerjakan sendiri!" Gesta meninggikan suara, dan dibalas seringai sinis oleh Jaka.
"Santai bro. Lo masih emosi dengar Niar lamaran? Ya elah, bukannya lo udah gak peduli sama dia ya?" sindir Jaka.
"Ngomong apa lo? Gue masih peduli, dan gue masih cinta sama dia. Gak usah ngomong aneh-aneh kalau lo gak tahu apa-apa!" makin emosi sepertinya saudara.
"Lah lo bilang masih peduli, masih cinta tapi sikap lo menjauhi dia tuh! Bukannya lo lebih memilih menghabiskan waktu lo bersama Angel dan Ken ya?"
"Gue bilang gak usah ngomong kalau lo gak tau apa-apa. Gue menganggap Angel adik, dan Ken keponakan gue. Niar aja yang dari dulu gak pernah tahu situasi gue, porsi gue sebagai kakak buat Angel. Berapa kali gue bilang, gue cinta sama Niar, tapi dia gak pernah menghargai gue. Gue juga ada lelahnya mengejar dia, seolah perhatian dan sikap gue gak pernah dianggap serius. Wajarlah kalau gue menghindar sejenak, dengan bermain dengan Ken apalagi anak sekecil itu tak punya ayah. Harusnya Niar empati pada kondisi Angel, bukan malah menerima lamaran dari pria lain!" omel Gesta, dan Jaka hanya menggelengkan kepala.
"Atur seplenger mungkin deh, Ges. Yang perlu dihargai emang lo dan Angel aja. Niar gak ounya hak untuk dihargaimi emang," Jaka sudah angkat tangan. Gesta masih saja menganggap tindakannya benar, mau sekeras apapun nasehat yang masuk akan ia tolak. Lebih baik keluar Jaka keluar dan menyelesaikan tugasnya saja.
Gesta tak konsentrasi sama sekali, Niar tak membaca bahkan tak membalas pesannya. Hatinya dongkol setengah mati, "Gak bisa dibiarkan!" Gesta keluar ruangan dan menuju ruangan Niar. Gadis itu sedang serius mengetik, Aji dan Meta saling pandang saat Gesta datang.
"Ponsel kamu rusak?" tanya Gesta to the poin dengan nada ketus. Meta dan Aji menahan nafas, sepertinya Gesta sangat marah namun Niar menanggapinya santai.
"Tidak, Pak. Bapak chat saya?" tanya Niar memasang wajah tembok dan memberikan jarak yang benar antara atasan dan anak buah.
"Gak usah pura-pura begitu. Kamu sengaja kan gak mau balas saya, karena kamu gak mau aku tanyain soal lamaran kamu!" Gesta menatap Niar tajam dengan wajah merah, dan rahang mengeras. Meta dan Aji melipir, memberikan ruang untuk Niar dan Gesta, mereka menebak bakalan ada adu mulut.
"Kenapa dengan lamaran saya?" si Niar juga seolah menantang Gesta. Ia memberikan batasan akan masalah privasinyam
"Kok bisa kamu sesantai ini, sedangkan kamu sudah mengambil keputusan yang menyakiti hati saya. Kamu tahu kan, sejak kita bertemu saya mengajak kamu balikan, aku terus mengejar kamu! Tapi kenapa kamu membalasnya dengan menerima lamaran pria lain. Di mana hati nurani kamu. Kamu tahu aku cinta kamu, aku sangat mengharap kita balikan. Mau kamu apa sih, Cay?"
"Pertama saya sudah mengatakan bahwa saya menolak balikan, sejak awal Pak Gesta mengajak balikan saya selalu menolak dan tidak memberikan janji apapun. Saya selalu berusaha bersikap profesional, agar Pak Gesta paham bahwa saya dan Pak Gesta hanya sebatas rekan kerja. Kedua, kalau memang cinta, kalau memang mau balikan, kenapa Pak Gesta mengulang hal yang sama seperti kita putus dulu."
"Kamu masih cemburu sama Angel?"
"Enggak. Saya sudah kebal dengan sikap Bapak pada Angel, cuma kenapa saya akhirnya memilih menerima lamaran lelaki lain karena sikap Bapak tidak mencerminkan keseriusan Bapak balikan sama saya. Sebelum Angel begitu getol mengejar, tapi saat Angel datang hilang begitu saja. Terus saya disuruh mengharap, mengemis, memaklumi sikap bapak. Bahkan saat SMA saja saya sudah tegas untuk putus sama Bapak, apalagi sekarang dengan usia yang lebih dewasa!"
"Kenapa sih kamu selalu membawa Angel dalam masalah kita berdua. Sudah berapa kali aku bilang aku menganggap dia adik. Cintaku ke kamu!"
"Sudah cukup deh, Pak. Percuma Bapak marah-marah sama saya, toh saya sudah milik orang dan sebulan lagi saya menikah. Tolong hormati dan tak perlu mengurus saya, karena saya juga tidak pernah mengusik Anda dan Angel!"
"Niar!" sentak Gesta tak terima. Pagi ini mendengar lamaran, menjelang siang malah mendengar fakta sebulan lagi dia akan menikah. Bisa-bisanya gadis ini mengobrak-abrik hati dan pikirannya.
"Bapak atau saya yang keluar dari ruangan ini?" tanya Niar sudah muak harus berhadapan dengan Gesta, dan masalah keduanya pun sama, Angel.
Rahang Gesta semakin mengeras, nafasnya memburu. Ia masih belum plong, tapi Niar sudah terlihat emosi. Tanpa berpamitan, Gesta langsung beranjak dan menutup pintu dengan keras. Niar memejamkan mata, menarik nafas dalam dan hembuskan.
"Ingat, ini ujian sebelum pernikahan!" ucap Niar menenangkan diri. Ia tidak menangis, toh rasa pada Gesta semakin terkikis. Hatinya mulai tenang saat Zaldy tiba-tiba chat.
Are you okay?
"Si paling peka!" ucap Niar kemudian membalas pesan sang calon. I am fine. Tenang aja.
Nanti aku jemput ya. Kita keluar buat beli cincin nikah. Custom soalnya.
Loh beda dengan cincin lamaran kemarin?
Beda dong. Cincin lamaran kemarin cuma kamu yang pakai. Sedangkan cincin nikah nanti aku juga mau pakai.
So sweet amat sih.
Biar istriku makin cinta. Udah cinta belum? H-28 hari loh.
Niar tertawa, aneh saja sampai dihitung. Cintaku hanya untuk suamiku nanti. Goda Niar.
Alhamdulillah, H-28 aku tagih.
"Ni!" panggil Meta. Barulah Niar beralih dari layar.
"Kenapa?" tanya Niar.
"Pak Gesta marah banget ya? Anak-anak pada taruhan." Sialan, tapi Niar tertawa juga. Karyawan kurang ajar, bosnya marah bukannya dihibur malah dibuat taruhan. Plenger.
'Kok bisa dibuat taruhan loh?"
"Taruhan kita kamu balikan atau kamu meneruskan lamaran, dan melihat wajah Pak Gesta semarah itu saat keluar, pasti kamu meneruskan lamaran kamu kan?" tanya Meta memastikan.
"Iya, Mbak. Kenapa harus dibatalkan? Aku udah mulai terbiasa gak tahu kabar Gesta, sejak Angel datang. Ternyata masa di SMA dan saat ini hampir sama. Ya kali aku masih mengharap dia, dengan mengulang kejadian yang sama. Gak sebodoh itu aku dalam urusan cinta."
Meta bertepuk tangan, "Bagus, dan gue dukung sepenuhnya sama lo. Mulai sekarang hati-hati, jangan sampai Pak Gesta nekad merusak hubungan kalian!"
"Kalau sampai itu terjadi, dia jahat banget sih!"
"Waspada saja, Ni. Orang yang obses mencintai akan melakukan banyak cara," Aji pun ikut memperingatkan, dan Niar mengangguk paham.
lanjotkan kak🤭
sama2 terbuka...
jadi nya enak...bisa nyari solusi bareng..
tapi niar harus kenal dulu siapa zaldy..
Biarin aja Gesta emg demennya ma cwe bekasan yg udh berbuntut.. Biar nyaho tuh gesta dapetin cewe sekenan 🤣
Btw ga pantes thor tu cwe dikasi nama angel, hrsnya devil aja 🤭
i
cowo kaya gini nih...sat set...
ngajakin nikah...bukan pacaran...apalagi balikan...