Han Ji-an rela dicap "mandul" dan dihina mertua demi menutupi aib suaminya, Kang Min-woo, yang tidak subur. Namun, ketulusannya dikhianati. Min-woo berselingkuh dengan sahabat sekaligus dokter kandungan Ji-an, memalsukan rekam medisnya, lalu mendepaknya tanpa sepeser uang pun.
Di titik hancur, Ji-an dinikahi Cha Jin-wook, CEO nomor satu di Korea. Tiga tahun berlalu, Ji-an membuktikan kebohongannya dengan melahirkan dua anak. Kini, ia kembali ke Seoul sebagai Nyonya Besar Cha Group yang elegan, siap menghancurkan karier, rumah tangga, dan harga diri orang-orang yang telah membuangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPILOG 3: Estafet Takhta dan Janji yang Genap
Malam itu, aula utama Grand Ballroom Shilla Hotel Seoul dihiasi oleh ribuan pendar lampu kristal dan rangkaian bunga lili putih yang melambangkan kemewahan murni. Seluruh kalangan elit, mulai dari pejabat pemerintahan hingga konglomerat papan atas Asia, berkumpul untuk menyaksikan pernikahan akbar Cha Hyun-woo—penerus takhta sah generasi ketiga Cha Group.
Hyun-woo, yang mengenakan setelan tuksedo hitam sempurna, berdiri di atas altar dengan tatapan mata elang yang sangat mirip dengan ayahnya saat muda. Di sampingnya, seorang wanita cantik dari latar belakang keluarga terhormat tersenyum dengan anggun.
Di barisan kursi keluarga terdepan, suasana tampak begitu khidmat. Namun, jika ada pasang mata yang jeli memperhatikan, pusat perhatian malam itu bukan hanya tertuju pada sepasang pengantin baru, melainkan pada dua sosok senior yang duduk berdampingan di kursi utama.
Cha Jin-wook, yang malam itu tampil sangat berwibawa dengan setelan formal beludru hitam, sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya dari jemari Han Ji-an. Ji-an tampil memukau dengan sanggul klasik dan gaun hanbok modern berwarna perak gading yang memancarkan aura keibuan yang sangat agung.
"Lihat anakmu, sayang. Dia benar-benar mirip denganmu saat pertama kali memimpin rapat pleno dulu," bisik Ji-an lirih, matanya berkaca-kaca menatap Hyun-woo yang sedang memasangkan cincin di jari istrinya.
Jin-wook tidak menatap ke arah altar. Sepasang mata elangnya yang kini tampak lebih teduh justru beralih sepenuhnya pada wajah Ji-an. Ia mengabaikan kilatan lampu kamera wartawan di sekitar mereka. Dengan gerakan yang sangat sopan namun sarat akan keintiman yang mendalam, Jin-wook menyandarkan tubuhnya sedikit, berbisik tepat di samping sanggul rambut Ji-an.
"Dia memiliki ketegasan dariku, Ji-an. Tapi dia memiliki kebijaksanaan dan kelembutan hatimu. Itulah alasan mengapa dia bisa berdiri di sana malam ini tanpa harus melewati badai berdarah seperti yang kita alami dulu," ucap Jin-wook parau.
Tangan besar sayangng hangat bergerak di balik lipatan kain hanbok Ji-an, menelusuri jemari lentik istrinya hingga ia menemukan cincin pernikahan mereka yang sudah melingkar di sana selama puluhan tahun. Ia meremasnya pelan, menyalurkan getaran kekuatan yang sama, membuktikan bahwa baginya, waktu sama sekali tidak mengurangi kadar gairah kepemilikan dan rasa cintanya pada wanita ini.
"Semua orang sedang melihat kita, sayang," tegur Ji-an dengan rona merah muda yang mendadak muncul di pipinya, merasa sedikit malu melihat beberapa kamera direksi lama mulai menangkap momen romantis mereka.
"Biarkan saja," balas Jin-wook mutlak, sebuah senyuman miring yang sangat seksi terukir di bibir tuanya yang tetap menawan. "Mereka harus tahu bahwa struktur perusahaan boleh berpindah tangan kepada Hyun-woo malam ini, tapi takhta tertinggi di hatiku tidak akan pernah mengalami restrukturisasi. Kau adalah satu-satunya Nyonya Besar dalam hidupku, dulu, sekarang, hingga napas terakhirku."
Ji-an tidak bisa menahan senyum bahagianya. Ia membalas genggaman tangan Jin-wook dengan erat, menyandarkan bahunya sedikit pada lengan kokoh suaminya saat lagu pengiring pengantin mulai menggema memenuhi aula.
Badai panjang telah lama usai, anak-anak telah menemukan pelabuhan mereka sendiri, namun di sudut barisan terdepan itu, kisah cinta antara sang penguasa korporasi dan nyonya besarnya tetap berjalan abadi, utuh, dan tidak berkurang barang sebutir debu pun oleh hantaman waktu.
TAMAT
...NOTE : Setiap perjalanan selalu memiliki batasnya, dan malam ini, takhta di Hannam-dong telah menemukan kedamaiannya yang abadi. Terima kasih yang tak terhingga untuk seluruh pembaca setia yang sudah menemani langkah Han Ji-an dan Cha Jin-wook dari titik terendah mereka hingga berhasil berdiri di puncak tertinggi kekaisaran....
...Tanpa dukungan, teori-teori hebat, dan kesabaran kalian di setiap episodenya, kisah ini tidak akan pernah menjadi sehidup dan seindah ini. Badai mereka telah usai, namun janji setia mereka akan selalu membekas....
...Sampai jumpa di mahakarya berikutnya yang tidak kalah tajam dan penuh emosi. Lembaran baru telah siap dibuka, dan saya harap, kalian masih menjadi orang pertama yang berada di sana untuk membacanya....
...Salam hangat,...
...Mayraa Ibnurafa✨️...
kutunggu kehadiran kaliam🤗✨️