Lin Tian, seorang pemuda dari kasta terendah Sekte Awan Hijau, harus menelan kepahitan takdir saat Dantiannya dihancurkan tanpa ampun demi melindungi adik perempuan satu-satunya. Alih-alih mendapat keadilan, sang adik dirampas oleh petinggi sekte yang serakah, sementara Lin Tian dibuang ke tambang beracun di Lembah Kematian untuk membusuk sebagai manusia cacat.
Namun, di kedalaman keputusasaan, Lin Tian menolak untuk menyerah pada nasib. Ketika langit menutup jalan kultivasi ortodoks baginya, ia memilih untuk membelah langit itu sendiri. Diasingkan bersama kerangka para pendekar masa lalu, ia menemukan Seni Pedang Sembilan Kematian—sebuah warisan kuno dan terlarang yang tidak membutuhkan Dantian.Tanpa lautan Qi, ia menjadikan daging dan tulangnya sebagai wadah pedang. Menempuh jalur yang dipenuhi siksaan berdarah dan rasa sakit yang melampaui batas manusia, Lin Tian perlahan menempa dirinya menjadi senjata paling mematikan di bawah langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Suaka di Balik Belantara dan Taring Besi
Angin malam berdesir buas saat tiga sosok meluncur turun dari langit seperti meteor yang kehabisan daya, menembus tajuk pohon-pohon raksasa di Hutan Belantara Selatan.
BRAAAK! CRASH!
Dahan-dahan sebesar pilar kuil patah berserakan saat tubuh Lin Tian menghantam bumi. Untuk melindungi Lin Xue dan Lin Chen, ia memutar posisinya di udara, membiarkan punggung perunggunya menjadi bantalan pendaratan yang membajak tanah hutan hingga menciptakan parit sepanjang belasan meter.
Debu dan dedaunan kering beterbangan. Keheningan hutan belantara yang mencekam seketika terpecah.
"Kak Tian!" Lin Chen terbatuk-batuk, merangkak keluar dari tumpukan dahan patah. Meski terguncang hebat, ia tidak terluka berkat perlindungan Lin Tian. Di pelukannya, Lin Xue perlahan membuka mata, napasnya masih lemah namun rona wajahnya mulai membaik.
Lin Tian bangkit berdiri dari kawah dangkal yang ia ciptakan. Ia tidak mengerang, meski napasnya sedikit berat. Lengan kanannya—tangan yang ia gunakan untuk meninju sihir Inti Emas milik Zhao Tiangang—kini terkulai, berlumuran darah segar. Kulit perunggunya robek memperlihatkan otot yang terkoyak, dan ada suara retakan halus setiap kali ia menggerakkan jarinya.
"Kakak... tanganmu..." Lin Xue menangis melihat darah yang terus menetes dari jari-jari kakaknya, menodai tanah berlumut.
"Hanya luka daging," jawab Lin Tian datar. Ia menggertakkan gigi, lalu dengan tangan kirinya, ia memegang lengan kanannya dan menyentakkannya dengan keras.
KRAK!
Tulang lengannya yang bergeser kembali ke posisi semula. Lin Tian sama sekali tidak berteriak, seolah rasa sakit itu bukan milik tubuhnya. Bagi seseorang yang telah melewati siksaan Baja Pembelah Urat, patah tulang biasa terasa seperti gigitan semut.
"Kita tidak bisa diam di sini," kata Lin Tian sambil menyeka darah dari sudut bibirnya. "Ledakan tadi dan bau darahku akan menarik perhatian binatang buas spiritual. Chen, bantu Xue-er berjalan. Ikuti aku."
Hutan Belantara Selatan adalah wilayah terlarang bagi kultivator di bawah tahap Pembangunan Pondasi. Pohon-pohon purba menjulang setinggi ratusan meter, menghalangi cahaya bulan dan menyisakan kegelapan pekat yang dipenuhi mata-mata buas mengintai dari balik kabut beracun.
Namun malam ini, binatang buas tingkat rendah yang biasanya agresif memilih bersembunyi. Niat Pedang (Sword Intent) pembunuh yang memancar dari tulang-tulang Lin Tian membuat insting bertahan hidup mereka menjerit ketakutan. Mereka merasa sedang dilewati oleh pedang dewa yang haus darah, bukan manusia luka.
Setelah berjalan cepat selama setengah jam, mereka menemukan sebuah gua batu yang tersembunyi di balik akar pohon beringin raksasa. Gua itu kering dan cukup dalam.
Satu-satunya masalah adalah gua itu sudah memiliki penghuni: seekor Beruang Sisik Besi berukuran sebesar kereta kuda. Binatang spiritual tingkat 3 (setara kultivator Pengumpulan Qi tingkat 8) itu mengaum marah, memperlihatkan taringnya yang berlumuran liur, siap mencabik penyusup.
Lin Tian tidak berhenti melangkah. Ia menatap beruang itu dengan tatapan kosong.
"Minggir," desis Lin Tian.
Beruang Sisik Besi itu menerkam, mengangkat cakar depannya yang bisa membelah batu besar. Namun, sebelum cakar itu turun, Lin Tian melesat ke depan. Ia menggunakan tangan kirinya yang utuh, mengepalkan tinju, dan menghantam tepat di antara kedua mata beruang raksasa itu.
DUMMM!
Tengkorak tebal berlapis sisik besi itu retak. Gelombang kejut dari pukulan fisik murni Lin Tian menembus hingga ke otak si beruang. Binatang raksasa itu bahkan tidak sempat mengerang sebelum tubuh besarnya ambruk ke tanah, mati seketika.
Lin Chen menelan ludah melihat pemandangan itu. Sekali lagi, kakak sepupunya membuktikan bahwa ia adalah monster sejati.
"Seret bangkainya ke sudut. Dagingnya cukup untuk perbekalan kita minggu ini," perintah Lin Tian. Ia kemudian duduk bersila di bagian gua yang paling bersih, sementara Lin Chen bergegas mengumpulkan ranting kering untuk membuat api unggun kecil.
Setelah api menyala, memberikan kehangatan yang sangat dibutuhkan oleh tubuh Lin Xue yang kedinginan, suasana gua menjadi sedikit tenang. Lin Xue beringsut mendekati Lin Tian, memeluk lengan kiri kakaknya dengan erat seolah takut pemuda itu akan menghilang jika ia melepaskannya.
"Kak... kau tidak akan meninggalkanku lagi, kan?" bisik Lin Xue.
Lin Tian mengusap rambut adiknya dengan lembut. Mata sedingin es yang baru saja membantai puluhan elit sekte kini mencair, memancarkan kehangatan seorang kakak. "Tidak akan, Xue-er. Mulai sekarang, siapa pun yang ingin menyentuhmu harus melangkahi mayatku terlebih dahulu."
Lin Chen duduk di seberang api unggun, menatap lengan kanan Lin Tian yang masih mengerikan untuk dilihat. "Kak Tian, tekanan dari Pemimpin Sekte tadi... itu adalah Inti Emas. Bagaimana kita bisa bertahan dari monster seperti itu di masa depan?"
Lin Tian menunduk, menatap lengan kanannya. Anehnya, alih-alih membusuk atau melemah akibat sisa-sisa energi spiritual Zhao Tiangang yang menyusup ke lukanya, lengan Lin Tian justru berdesir pelan.
Seni Pedang Sembilan Kematian di dalam tubuhnya bekerja secara otomatis. Niat Pedang yang ganas di sumsum tulangnya bereaksi terhadap sisa-sisa Qi Inti Emas tersebut layaknya hiu mencium darah. Energi Niat Pedang itu mulai mengunyah dan menelan hukum tingkat rendah dari Inti Emas, menggunakannya sebagai bahan bakar untuk mempercepat penyembuhan otot dan tulangnya.
Bentrokan dengan Inti Emas ini justru memperkuat fondasi fisikku. Ini adalah jalan menuju tahap ketiga: Tulang Pedang Sejati (True Sword Bone), batin Lin Tian, sebuah pencerahan muncul di benaknya.
"Kita tidak akan diam menunggu dia datang," jawab Lin Tian akhirnya, menatap lurus ke arah Lin Chen. "Sekte Awan Hijau hanya hegemoni di wilayah pinggiran yang sempit ini. Zhao Tiangang tidak akan berani meninggalkan sektenya terlalu lama setelah kehilangan seluruh Tetua utamanya, atau sekte musuh akan menghancurkannya. Ini adalah kesempatan kita."
"Kesempatan untuk apa, Kak?" tanya Lin Xue pelan.
"Untuk menyeberangi Hutan Belantara Selatan dan menuju Benua Tengah (Central Continent)," kata Lin Tian, matanya menerawang ke arah api yang menari.
Benua Tengah adalah jantung dunia kultivasi. Tempat di mana Tanah Suci (Holy Lands) berdiri kokoh, tempat di mana jenius sejati lahir, dan tempat di mana tahap Inti Emas hanyalah awal dari perjalanan yang sebenarnya.
"Xue-er, Tubuh Roh Es milikmu adalah bakat yang luar biasa, namun tanpa metode kultivasi ortodoks tingkat tinggi, energi Yin di dalam tubuhmu akan membekukan organ-organmu sendiri saat kau bertambah dewasa," jelas Lin Tian. "Di Benua Tengah, ada sekte-sekte besar dan akademi yang mempraktikkan hukum es murni. Aku akan mencarikan guru terbaik untukmu di sana."
"Lalu bagaimana dengan Kak Tian?" Lin Chen menyela.
"Aku memiliki jalanku sendiri," ucap Lin Tian, menggenggam tinjunya. "Seni Pedang Sembilan Kematian membutuhkan penempaan ekstrem. Di Hutan Belantara ini, tersembunyi sebuah reruntuhan kuno yang sering disebut Alam Rahasia Lembah Musim Gugur. Dulu, sekte mengirim elitnya ke sana, tetapi banyak yang tidak pernah kembali. Konon, tempat itu adalah medan perang kuno peninggalan para pendekar pedang manusia ribuan tahun lalu."
Lin Tian mengingat ukiran kerangka Gu Chen di tambang. Sang Senior menyebutkan bahwa jika penerusnya membutuhkan pencerahan pedang sejati, ia harus mencari tanah yang direndam oleh darah sejuta pedang. Lembah Musim Gugur adalah tempat yang paling mendekati deskripsi tersebut di wilayah ini. Di sana, ia berharap bisa menemukan Biji Teratai Pedang untuk memperkuat inti ketiadaannya.
Tiba-tiba, telinga Lin Tian bergerak. Insting tempurnya yang tajam menangkap suara samar dari kejauhan hutan di luar gua. Bukan suara binatang buas, melainkan suara dentingan logam yang beradu dan kilatan cahaya spiritual.
Seseorang sedang bertarung tidak jauh dari tempat persembunyian mereka.
"Matikan apinya," desis Lin Tian. Tangannya seketika meraih pedang panjang patah yang tadi ia simpan di punggungnya.
Lin Chen segera menendang tanah ke atas api unggun, memadamkannya dan menenggelamkan gua ke dalam kegelapan pekat.
"Tetap di sini. Jangan bersuara," perintah Lin Tian pelan. "Aku akan memeriksa ke luar. Jika ada kultivator yang melarikan diri ke arah gua ini, aku akan membunuh mereka sebelum mereka melihat kalian."
Dengan langkah tanpa suara bak hantu malam, Lin Tian menyelusup keluar dari gua, menyatu dengan bayangan pepohonan raksasa.