Enam tahun menunggu suami pulang dari Korea, Nandin percaya semua pengorbanannya akan terbayar. Ia membesarkan dua anak kembar seorang diri, bekerja siang malam demi menyambung hidup, sementara suaminya tak pernah mengirim nafkah sedikit pun.
Namun kepulangan suaminya justru membawa surat perceraian.
Pengkhianatan itu menghancurkan hidup Nandin hingga ia kehilangan kewarasannya dan harus menjalani rehabilitasi di sebuah pondok di Jawa Timur. Terpisah dari kedua putri yang sangat dicintainya, Nandin berjuang bangkit dari luka yang nyaris merenggut hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PINTU YANG DIKUNCI
Ada kalanya jarak bukanlah masalah terbesar.
Karena jarak masih bisa ditempuh.
Masih bisa dilalui.
Masih bisa dipendekkan.
Yang paling menyakitkan justru ketika ada orang yang sengaja mengunci pintu pertemuan.
Padahal di balik pintu itu ada seorang ibu yang menangis setiap malam.
Dan ada dua anak kecil yang diam-diam merindukannya.
"Namanya siapa?"
Pak Kiai Abdul Manaf bertanya pelan.
Perempuan yang duduk di hadapannya tampak menggenggam kedua tangan erat-erat.
Matanya sembab.
Namun kali ini bukan karena kehilangan arah.
Bukan karena linglung.
Bukan karena lupa.
Melainkan karena ingatan yang mulai kembali.
Nandin mengangkat wajah perlahan.
Bibirnya bergetar.
"Shella."
Air matanya jatuh.
"Sherly."
Suara itu begitu pelan.
Namun bagi Pak Kiai, itu terdengar lebih indah daripada apa pun.
Karena selama tiga tahun.
Nama itu hilang.
Terkubur di balik trauma.
Terkunci di dalam luka.
Dan hari ini akhirnya kembali.
"Kamu ingat mereka?"
tanya Pak Kiai.
Nandin memejamkan mata.
Potongan-potongan gambar kembali muncul.
Dua anak kecil.
Tawa.
Pelukan.
Tangisan.
Suara yang memanggil mama.
Namun semuanya masih samar.
Seperti menonton film yang rusak.
Kadang muncul.
Kadang hilang.
"Aku..."
Nandin menangis lagi.
"Aku kangen mereka."
Kalimat itu membuat Bu Hesti yang berada di dekat pintu ikut mengusap mata.
Karena untuk pertama kalinya.
Mereka melihat Nandin bukan sebagai pasien.
Tetapi sebagai seorang ibu.
Hari itu juga.
Pak Kiai menelepon Bu Rini.
Perempuan paruh baya itu datang ke pondok keesokan harinya.
Begitu melihat Nandin.
Air mata langsung memenuhi matanya.
Karena perempuan yang dulu selalu menatap kosong kini mulai bisa berbicara normal lebih lama.
"Nak."
Bu Rini memegang tangan Nandin.
Nandin langsung menangis.
"Bu..."
"Aku punya anak ya?"
Pertanyaan itu seperti pisau yang menusuk perlahan.
Bu Rini menggigit bibir.
Lalu mengangguk.
"Iya."
"Dua."
Tangis Nandin pecah.
Dan pagi itu.
Untuk pertama kalinya selama tiga tahun.
Ia menangis bukan karena bingung.
Tetapi karena mengingat.
Sementara itu.
Ratusan kilometer dari pondok rehabilitasi.
Kehidupan di rumah Bu Sri mulai berubah.
Perubahannya tidak besar.
Belum.
Masih kecil.
Masih halus.
Namun cukup membuat Seline tidak nyaman.
Awalnya dari telepon.
Wisnu semakin jarang menghubungi rumah.
Kalau dulu hampir setiap malam.
Sekarang seminggu sekali.
Kadang dua minggu sekali.
Bahkan saat menelepon.
Percakapan mereka semakin singkat.
"Aku sibuk."
"Aku capek."
"Ada kerjaan."
Kalimat yang sama.
Berulang.
Terus berulang.
Sampai akhirnya terdengar seperti alasan.
Malam itu.
Seline sedang duduk di ruang tamu.
Raka sudah tidur.
Shella dan Sherly juga sudah masuk kamar.
Bu Sri sedang menonton televisi.
Sedangkan Seline memegang ponselnya.
Menunggu pesan dari Wisnu.
Namun yang muncul justru sesuatu yang lain.
Sebuah notifikasi media sosial.
Foto baru.
Diunggah oleh teman kerja Wisnu.
Awalnya ia tidak curiga.
Sampai matanya berhenti pada satu gambar.
Wisnu.
Sedang berdiri bersama beberapa rekan kerja.
Dan di sampingnya ada seorang perempuan.
Muda.
Cantik.
Tersenyum sangat dekat.
Terlalu dekat.
Seline mencoba mengabaikannya.
Mungkin hanya teman kerja.
Mungkin tidak ada apa-apa.
Mungkin ia terlalu sensitif.
Namun perasaannya mulai tidak tenang.
Sangat tidak tenang.
Karena dulu.
Semua juga berawal dari "mungkin tidak ada apa-apa."
Di pondok rehabilitasi.
Bu Rini sedang berbicara dengan Pak Kiai.
"Kiai."
"Iya."
"Kalau Nandin bertemu anak-anaknya..."
Bu Rini tidak melanjutkan kalimatnya.
Namun Pak Kiai memahami.
"Saya yakin itu akan membantu."
"Benarkah?"
Pak Kiai mengangguk.
"Karena luka terbesar dia ada di sana."
"Luka seorang ibu."
Bu Rini langsung pulang dengan harapan besar.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.
Ia merasa ada jalan.
Ada kesempatan.
Ada harapan.
Mungkin Shella dan Sherly bisa bertemu ibunya.
Mungkin Nandin bisa lebih cepat pulih.
Mungkin semuanya bisa membaik.
Keesokan harinya.
Bu Rini datang ke rumah Bu Sri.
Membawa beberapa buah tangan agar tidak terlihat mencurigakan.
Begitu sampai.
Ia melihat Shella dan Sherly sedang bermain di teras.
Kedua anak itu langsung berlari menghampirinya.
"Bu Rini!"
"Iya sayang."
Bu Rini memeluk mereka erat.
Dan saat itulah hatinya semakin hancur.
Karena wajah mereka sangat mirip Nandin.
Terutama mata mereka.
"Nek."
kata Shella tiba-tiba.
"Hm?"
Bu Rini tersenyum.
"Kapan Mama pulang?"
Pertanyaan itu membuat dadanya sesak.
Karena bahkan setelah tiga tahun.
Anak-anak ini masih menunggu.
Masih berharap.
Masih percaya.
Tak lama kemudian Bu Sri keluar.
Wajahnya langsung berubah saat melihat Bu Rini.
"Ada apa?"
Nada suaranya datar.
"Aku mau bicara."
kata Bu Rini.
Mereka duduk di ruang tamu.
Suasana langsung terasa tegang.
"Ada apa?"
ulang Bu Sri.
Bu Rini menarik napas panjang.
"Nandin mulai membaik."
Bu Sri tidak terlihat terkejut.
"Oh."
Jawaban itu dingin.
Terlalu dingin.
"Dia mulai ingat anak-anaknya."
lanjut Bu Rini.
"Kiai bilang kalau Shella dan Sherly bertemu dia, kemungkinan proses penyembuhannya lebih cepat."
Sunyi.
Beberapa detik.
Lalu Bu Sri menjawab.
"Gak bisa."
Bu Rini membeku.
"Gak bisa?"
"Iya."
"Kenapa?"
Bu Sri menyandarkan tubuh.
"Anak-anak sudah nyaman di sini."
"Dia ibu mereka."
"Dia juga orang yang pernah sakit."
jawab Bu Sri cepat.
"Kalau nanti kambuh lagi bagaimana?"
Bu Rini mengepalkan tangan.
"Bu."
"Dia sakit karena apa?"
"Kita semua tahu penyebabnya."
Bu Sri langsung memalingkan wajah.
Karena untuk pertama kalinya.
Ada seseorang yang berani mengatakan itu secara terang-terangan.
"Aku cuma mau anak-anak bertemu ibunya."
kata Bu Rini.
"Gak."
jawab Bu Sri tegas.
"Pokoknya gak."
Percakapan berakhir.
Dan harapan yang tadi sempat tumbuh langsung runtuh lagi.
Namun yang paling menyakitkan.
Shella dan Sherly mendengar sebagian percakapan itu.
Meski tidak memahami semuanya.
Mereka mendengar satu kata.
Ibu.
Malam harinya.
Saat semua orang tidur.
Shella berbisik kepada Sherly.
"Kamu dengar tadi?"
Sherly mengangguk.
"Mama?"
"Iya."
"Mama ada ya?"
Mata Sherly langsung berbinar.
"Berarti Mama masih hidup?"
Shella terdiam.
Lalu mengangguk pelan.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.
Harapan muncul dalam hati mereka.
Harapan yang mungkin suatu hari akan mengubah segalanya.
Sementara itu.
Seline masih menatap foto yang dilihatnya tadi siang.
Foto Wisnu bersama perempuan asing itu.
Semakin lama diperhatikan.
Semakin tidak nyaman rasanya.
Karena ada sesuatu yang aneh.
Sangat aneh.
Dan intuisi seorang perempuan jarang sekali salah.
Apalagi perempuan yang pernah merebut suami orang lain.
Karena tidak ada orang yang lebih paham tanda-tanda perselingkuhan selain seseorang yang pernah menjadi selingkuhan itu sendiri.
Dan untuk pertama kalinya.
Seline mulai takut.
Takut kalau sejarah sedang berputar.
Takut kalau karma sedang berjalan pelan ke arahnya.
Dan takut kalau suatu hari nanti.
Ia akan berdiri tepat di tempat yang dulu pernah ditempati Nandin.
baru awal udah bikin ngilu di hati ya..
semangat trs, yah..
🥰🥰🥰