Mikayla Rasyida Rayn atau Mika adalah sosok gadis yang ceria dan pecicilan seperti Onty-nya dulu. Dia adalah pengamat yang handal dan analisanya selalu tetap. Kelihatannya saja dia sangat pecicilan dan ucapannya ceplas-ceplos, tapi dia sangat genius.
Namun di balik wajahnya yang ceria dan menyebalkan, dia mengikuti jejak dari Opa buyutnya. Bahkan dia jauh lebih mengerikan dibandingkan Opa buyut dan Uncle-nya. Semua itu dikarenakan sesuatu yang membuatnya trauma.
Season Baru untuk cerita Mika dari (Anak Genius Milik Sang Milliarder)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ribut Terus
"Oma Chiara..." seru Mika yang langsung berlari ke arah Chiara.
Jangan lari-lari Mika, Callie.
Omanya Callie,
Omanya Mika,
Callie ya,
Ndak ulus plastik Mika ini,
Mika dan Callie berlari masuk dari halaman rumah ke teras saat melihat ada Chiara. Ralia dan Chiara berniat pergi ke rumah seseorang. Namun mereka malah kedatangan Mika dan Callie yang berebut ingin mendekati Chiara terlebih dahulu. Ralia yang melihat kedua sepupunya itu hanya bisa menghela nafasnya lelah. Rasanya sangat menyebalkan saat harus bertemu dua sepupunya yang sangat berisik dan ribut terus.
Tentu saja yang pertama kali sampai pada Chiara adalah Mika. Apalagi saat melihat Callie yang berlari tapi keberatan badan. Kakinya juga pendek dengan tas ransel kecil di punggungnya. Nafas Callie langsung terengah-engah saat mencapai Chiara. Mika sudah memeluk Chiara dengan erat membuat Callie menatapnya sinis. Seharusnya Callie yang terlebih dahulu sampai, bukan Mika.
"Minggil. Jangan peluk Omanya Callie. Oma Chiala nanti banyak kumannya kalau dipeluk plastik Mika," Tampaknya Callie kesal karena tak bisa memeluk Chiara lebih dulu. Tangan gembul Callie menarik celana Mika dengan kencang agar sepupunya itu minggir.
"Ini Omanya Mika ya. Oma kali mambu itu Ibunya Om untung," ucap Mika membuat Callie memberengut sebal.
"Itu Nenek bukan Oma," seru Callie tak terima.
"Sama aja, kali mambu." seru Mika yang tetap tidak melepaskan pelukannya dari Chiara. Bahkan sedari tadi Mika menjulurkan lidahnya ke arah Callie, meledek sepupunya yang tak bisa menyingkirkan dirinya.
"Bisa nggak kalian berdua itu diam, ha?" seru Ralia yang kesal dengan kelakuan kedua sepupunya.
Ndak,
Nggak,
Seruan Mika dan Callie secara bersamaan menjawab pertanyaan Ralia itu membuat Chiara tertawa. Sangat lucu sekali jika ketiganya sedang bersama. Mika dan Callie yang cerewet, berbeda dengan Ralia. Gadis itu sangat mirip dengan Ronand yang tidak suka kebisingan. Bahkan Susan yang notabene adalah istri Ronand pun sering dibuat pusing. Kini dia harus dikelilingi oleh dua orang yang mempunyai sifat kaku.
"Sudah... Sudah..."
"Kalian ke sini cuma berdua?" tanya Chiara saat melihat hanya sopir saja yang keluar dari mobil.
"Iya. Mika ada perlu sama Oma Chiara tapi si kali mambu malah ikut," ucap Mika mengadukan ulah Callie.
"Nggak mau jauh dia sama Mika," lanjutnya meledek Callie.
Hahaha...
"Dulu kamu juga begitu, nggak bisa jauh dari Mamanya Callie. Sekarang gantian, Callie tak bisa jauh dari kamu." Chiara tertawa melihat wajah lesu dan pasrah dari Mika. Memang benar ucapan Chiara, mungkin ini hukumannya karena dulu selalu mengikuti Rachel.
"Siapa bilang Callie ndak bisa jauh dali plastik Mika, Oma cantik? Callie bisa lho. Olang ini datang ke lumah kalena lindu sama Oma cantik kok," seru Callie membela diri.
"Eh... Kali mambu, tadi nggak gitu ya ngomongnya saat pamit sama Emakmu."
Mika berkacak pinggang di depan Callie yang bersembunyi dengan pembelaannya. Padahal tadi Callie minta ijin pada Rachel untuk ikut Mika karena tak bisa jauh darinya. Namun sekarang malah bilang bisa jauh darinya dan rindu dengan Chiara. Sangat plin plan sekali itu Callie, membuat Mika sangat kesal. Sedangkan Ralia, dia memilih pergi menuju mobil yang hendak dipakainya.
Tadi kan hanya belcanda dan dlama saja bial Mama Achel kasih ijin,
Cieee...
Plastik Mika kemakan dlamanya Callie,
Ayo, Oma. Kita harus segera pergi. Tinggalkan dua kurcaci cerewet itu di rumah. Pusing ini Ralia,
Jangan tinggal-tinggal Callie yang kalem ini, Kak lalia. Plastik Mika saja yang ditinggal,
Heh... Awas ya kamu, kali mambu.
Hahaha...
Sini kejal Calli, plastik Mika,
Astaga...
***
"Kita mau kemana sih?" tanya Callie dengan raut wajah bingungnya.
"Ndak ada yang mau belhenti di pinggil jalan buat beli jajan?" lanjutnya.
Celotehan Callie itu sama sekali tak digubris oleh Mika dan Ralia. Sedangkan Chiara, duduk di samping kemudi yang sedang dikemudikan oleh sopir. Chiara mengarahkan pada alamat yang akan mereka tuju. Sedangkan Ralia harus mengalah untuk duduk bersama dua sepupu cerewetnya itu. Callie yang duduk di pinggir, menempelkan wajahnya pada kaca mobil sambil melihat jajanan di pinggir jalan.
"Nggak ada, kali mambu. Kita lagi ada urusan penting. Nggak ada kita mampir-mampir," ucap Mika memberikan peringatan agar Callie tak macam-macam. Jangan sampai Callie nanti merengek ingin beli makanan.
"Pelut juga ulusan penting, plastik Mika. Coba bayangkan kalau kita lapal, telus pingsan. Nanti masuk lumah sakit lepot lho," seru Callie dengan raut wajah seriusnya.
Puk... Puk...
"Ini isi perutmu itu banyak sekali cadangan makanan. Sampai besok juga nggak akan bikin kamu kelaparan. Emang kamunya aja yang suka makan," ucap Mika sambil menepuk perut bulat Callie.
"Ini isinya ail ya, ndak ada makanannya."
Callie tentu saja mengelak kalau isi perutnya ini adalah makanan. Ia tetap ingin jajan cemilan di pinggir jalan. Chiara yang mendengar itu memilih diam daripada Callie merengek padanya. Biarkan saja Mika dan Ralia yang mengurus Callie. Keduanya memang suka jajan, tapi akan menolak jika sedang menghadapi hal darurat seperti ini. Apalagi sampai harus turun dan jajan, pasti Callie akan sangat lama.
"Kalian berdua mending diam. Pusing kali Ralia," seru Ralia menegur keduanya yang berdebat.
"Nda..."
"Harus bisa. Kalian pilih diam atau Ralia turunkan di jalan sini? Pulang saja sana sendiri. Menyebalkan," sela Ralia begitu kesal dengan sepupunya itu.
"Salahnya plastik Mika nih, dimalahi kan kita sama Kak lalia." ucap Callie sambil melirik sinis ke arah Mika.
"Tulunkan saja itu si plastik Mika di lel keleta api. Bial ditablak," lanjutnya.
"Salahin aja aku terus. Emang bocil menyebalkan, playing victim." ucap Mika balik menyalahkan Callie.
Di...
Iya, kami diam.
Sebelum Ralia menegur keduanya lagi, mereka pun langsung menyela ucapan gadis itu. Keduanya diam dengan kegiatannya masing-masing. Callie yang masih meratapi pedagang jajanan di pinggir jalan. Sedangkan Mika, menatap Ralia dengan tatapan serius. Bahkan Mika melihat ke arah layar laptop yang tengah dipangku oleh Ralia. Mika memang tak mengetahui akan kemana mereka. Namun melihat gerak-geriknya, Mika sepertinya tahu kalau tujuannya adalah mencari informasi tentang kematian Mama Martha.
"Ralia, kita mau ke tempat temannya Oma Chiara ya?" tebak Mika tiba-tiba membuat Ralia mengalihkan pandangannya.
Kalau sudah tahu, jangan banyak tanya dan bicara.
Iya, Nyai Ralia.
Kita harus segera menyelesaikan masalah ini. Jangan sampai kita memelihara ular di dalam keluarga,
Pelasaan di rumah Opa udah ada ulal. Itu mau dibuang semua ulalnya? Lugi dong, mending jual aja. Nanti uangnya buat beli jajan,
Kali mambu...
Hehehe...
Sabal... Malah-malah mulu pelasaan,
lanjuttttt💪😄
lanjutttt thor💪😄