Kira berasal dari masa depan tiba tiba terlempar ke zaman kerajaan. Yang berawal dari tidak punya apa apa, sampai memiliki semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizzzz......, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Ketiga orang itu menggertakkan gigi. Kalau mereka sampai terseret masalah ini, mereka pasti akan menghabisi Budi ketika di dalam penjara.
Melihat reaksi ketiga orang ini, Budi bergidik ngeri.
"Aku berjanji! Tapi, kamu juga harus berjanji padaku. Selama aku menjadi tahanan, kamu harus melindungi harta keluargaku."
Begitu kepala keluarga mereka roboh, maka semua anggota keluarga pasti akan membagi semua harta keluarga mereka.
Kira mengangkat alisnya dan berkata,
"Kalau begitu, kamu harus memberiku 50.000 rupiah setiap tahun!"
Budi membalas sambil menggertakkan gigi,
"Baiklah! Aku setuju!"
Di samping, Jamal menunjukkan tampang serakah. Setelah sibuk seharian, orang yang paling diuntungkan malah kira.
Kira berbalik dan berkata,
"Tuan Jamal, tugas ini kuserahkan padamu."
"Terima kasih, Tuan Kira!" ucap Jamal sambil membungkukkan badan.
Tatapan Budi tampak tidak rela. Padahal, ini adalah uangnya. Namun, Jamal bahkan tidak meliriknya sama sekali.
Pecundang ini benar-benar tahu bagaimana memanfaatkan orang dan banyak cara licik. Budi harus memperingatkan semua anggota keluarganya untuk jangan pernah berurusan dengan orang ini.
Mereka semua pergi ke pengadilan daerah, sementara Kira, Gandi, Liam, dan Teja tetap tinggal di luar kantor pengadilan daerah.
Bruk!
Gandi bersujud dengan mata berkaca-kaca.
"Tuan Kira, padahal kami bertiga telah merampok rumahmu. Tapi, kamu malah memperlakukan kami sebaik ini, kami sangat malu. Aku berutang nyawa padamu. Kalau kamu butuh bantuan, silahkan utus orang untuk memberi tahu kami."
Liam dan Teja mendengarkan ucapannya dengan ketakutan. Apakah orang ini bersedia mengorbankan nyawanya demi Kira?
"Sebagai lelaki sejati, kamu tidak pantas bersujud pada siapa pun selain orang tuamu."
Kira membantu Gandi berdiri sambil berkata,
"Aku tidak mau nyawamu. Ke depannya, hiduplah dengan baik. Jangan lagi melakukan hal-hal seperti itu. Kalau kamu tidak mau menetap lagi di rumahmu, datanglah untuk mencari ku. Aku akan memberikan pekerjaan padamu."
"Baik!" seru Gandi sambil berlinang air mata.
Liam dan Teja juga bersujud dan berkata,
"Tuan Kira, kami juga ingin mengikuti mu!"
Kira mengedipkan matanya, lalu berkata,
"Kalian harus pikirkan baik-baik. Aku telah menyinggung orang Keluarga Silali. Kalau kalian ikut denganku, kalian mungkin akan menghadapi bencana besar ke depannya!"
Mengingat kejadian tadi, Liam dan Teja sontak terperanjat.
"Hahaha!"
Kira tertawa terbahak-bahak melihat reaksi kedua orang itu.
Banyak sekali orang yang ingin mendekat ketika senang, tetapi hanya beberapa orang yang rela menanggung kesusahan bersamamu.
Bruk!
Gandi kembali berlutut,
"Tidak peduli siapa pun yang Tuan singgung, aku rela melakukan apa pun demi Tuan Kira!"
Kira menepuk-nepuk pundaknya dan memapahnya,
"Aku percaya padamu."
Liam dan Teja tertegun melihat adegan ini, mereka merasa seolah-olah kehilangan sesuatu.
Tidak berselang lama, sekelompok orang baru saja keluar dari kantor pengadilan daerah dengan bersemangat.
Danu, Doddy, dan Tony sangat antusias melihat pemimpin kabupaten mengadili kasus. Jamal juga sangat bersemangat karena pemimpin kabupaten memujinya telah menegakkan hukum dengan adil dan tegas.
Di sisi lain, jabatan Budi dicopot dan dihukum kerja paksa selama 3 tahun karena bersekongkol dengan perampok. Kedua komplotan dan pencuri lainnya juga ditahan dan dikirim ke perbatasan.
Hari semakin gelap, gerbang kota juga telah ditutup. Sekelompok orang ini harus menginap di dalam kabupaten.
Kira mengeluarkan 10.000 rupiah sambil berkata,
"Tuan Jamal, terima kasih atas kerja kerasmu."
"Mana bisa aku menerima uang ini!"
Meski mulutnya berkata demikian, gerakan tubuhnya malah berkata lain. Jamal menerima uang itu dan langsung menyimpannya ke dalam saku.
Empat pemanah dan delapan pasukan lainnya melihat dengan iri, Entah berapa banyak uang yang akan dibagikan Jamal kepada mereka.
Kemudian, Kira mengeluarkan 10.000 rupiah lagi dan berucap,
"Tony, Danu, kamu bawa Tuan Jamal dan Gandi pergi menginap. Jangan lupa untuk membelikan mereka makan malam yang layak."
Tony melambaikan tangannya,
"Kak Kira, uangku sudah kembali. Kamu tidak perlu memberiku uang lagi."
"Uangmu itu adalah untuk membangun rumah dan menikah. Jangan suka keluar untuk bersenang-senang lagi di malam hari!"
Setelah memberikan uangnya dan berpesan kepada mereka, kira pergi membawa Doddy.
Jamal bertanya karena penasaran,
"Danu, Tony, apa kalian tahu, Kira mau pergi ke mana?"
Danu dan Tony menggeleng.
Kira hanya menyuruh mereka untuk pulang terlebih dahulu, dan dirinya akan tinggal di kabupaten selama beberapa hari.
Jamal mengelus dagunya sambil berkata,
"Jangan-jangan, Kira diam-diam mau pergi ke tempat hiburan?"
Padahal, setelah mendapat uang, Jamal baru ingin pergi ke tempat hiburan untuk berfoya-foya. Namun, dia takut akan bertemu dengan Kira di sana.
"Tempat hiburan?" seru para pria itu dengan napas memburu.
Mereka selalu mendengar bahwa gadis-gadis di tempat hiburan sangat cantik dan wangi. Membayangkannya saja, wajah Danu dan Tony menjadi merah merona. Selama hidup, mereka masih belum pernah menyentuh wanita mana pun!
Gandi menjadi gelisah,
"Tuan Jamal, jangan bicara sembarangan. Mana mungkin orang baik seperti Tuan Kira pergi ke tempat seperti itu?"
Jamal tertawa sinis,
"Kamu tidak mengerti apa-apa! Pria manapun itu, semuanya pasti menyukai tempat hiburan. Itu tidak ada hubungannya dengan karakter seseorang. Kamu akan mengerti setelah mencobanya sekali."
......................
Di Kediaman Keluarga Silali.
Prang!
Terdengar suara pecahan gelas di lantai.
Kepala Keluarga Silali, Darius Silali, menunjuk Mahendra dan berteriak marah,
"Anak sialan! Wanita itu sudah menikah 3 tahun, tapi kamu masih saja bersekongkol dengan orang untuk merebutnya! Lebih parahnya lagi, kamu bahkan dipermalukan di depan umum! Harga diri Keluarga Silali sudah hancur gara-gara kamu!"
Namun, Mahendra tersenyum sambil bergumam,
"Ayah, aku juga bukannya tidak pernah bertemu wanita lain. Mana mungkin aku merusak masa depanku hanya demi seorang wanita yang sudah bersuami! Kali ini, aku berusaha merebut Wulan adalah demi masa depan Keluarga Silali!"
Darius memicingkan matanya sambil berkata,
"Boris akan bangkit lagi di dalam istana."
Boris Sunardi adalah Kepala Keluarga Sunardi, sekaligus ayah Wulan.
Keluarga Silali dan Sunardi adalah teman dekat selama bertahun tahun, sampai ketika Keluarga Sunardi mengalami kesulitan.
"Pengamatan Ayah memang jeli!"
Mahendra mengangguk sambil tersenyum tipis,
"Baru-baru ini, ada surat dari istana. Paman Boris telah menjadi teman dekat dengan beberapa tokoh terkemuka di istana, dan sekarang telah menjabat sebagai Menteri Kiri. Kaisar mendukung adu kekuasaan antara Menteri Kiri dan Menteri Kanan, yang menunjukkan kemungkinan pergantian kekuasaan."
"Kalau Menteri Kiri berhasil mengalahkan Menteri Kanan, Paman Boris pasti akan naik pangkat. Kalau aku menjadi menantu Keluarga Sunardi, status Keluarga Silali juga akan ikut naik. Kita akan menjadi keluarga terhormat, bahkan keluarga terkemuka!"
"Tapi, apakah informasi ini akurat?"
Darius berjalan ke sana kemari dengan tangan di belakang punggungnya,
"Boris telah mengalami banyak pasang surut dalam kariernya selama bertahun-tahun. Dia tidak pernah memegang kekuasaan selama lebih dari 3 tahun. Berapa lama dia bisa bertahan kali ini? Kalau sampai dijatuhkan hukuman pembantaian oleh Kaisar, Keluarga Silali juga akan ikut hancur."
Mahendra menunjukkan wajah penuh ambisi ketika berkata,
"Ayah, keberuntungan tidak akan muncul kalau kita tidak berani mengambil risiko. Kalau Ayah ingin memimpin Keluarga Silali menjadi keluarga terhormat dan terkemuka, kita harus berani mengambil risiko."
Darius menghela napas dan berkata,
"Keluarga Sunardi telah mengalami kesulitan berulang kali dan Keluarga Silali sudah menjauh dengan mereka, ikatan persahabatan di antara kedua keluarga ini sudah habis terkikis."
Darius kemudian menatap anaknya dan kembali berucap,
"Kalau kamu berhasil mendapatkan Wulan, Keluarga Sunardi pasti tidak akan menolakmu karena mereka sangat peduli terhadap Wulan. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah, apakah Wulan akan setuju kalau kamu menghabisi orang itu? Kalau Wulan benar-benar ingin pulang, sedari awal Keluarga Sunardi pasti sudah menjemputnya."
Mahendra menjawab,
"Saat itu, dia memang tidak mau pulang. Tapi, sekarang dia pasti sudah berubah pikiran!"
"oh?" Darius sangat penasaran.
Mahendra bergumam,
"Aku sudah mencari tahu, orang itu sering menyiksanya. Wulan selalu menangis setiap hari, jadi mana mungkin Wulan tidak ingin lepas dari kondisi menyedihkan seperti ini? Lagi pula, kalau orang itu sudah tidak ada, Wulan pasti tetap akan menerimaku. Kami sudah berteman sejak kecil, dia pasti tidak akan menolakku."
"Baiklah, laksanakan saja sesuai rencanamu."
Darius menambahkan,
"Kamu adalah keturunan Keluarga Silali yang berbakat, jadi kamu harus pandai menjaga reputasi mu. Lain kali, jangan lakukan hal yang bisa merusak reputasi mu lagi, orang di keluarga ini akan membantumu membereskannya."
Selama tiga hari berturut-turut, pintu Toko Besi Keluarga Salim tertutup rapat. Dari dalam, terdengar suara pukulan keras, ledakan, dan suara tungku yang menderu. Namun, tak ada seorang pun yang tahu apa yang sedang berlangsung di dalam sana.