Kupikir setelah Dev sadar dari koma, dia sudah berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengekangku.
Namun justru, perubahan sikapnya menjadi lebih gila...
"Kita akan menikah hari ini."
"Aku tidak mau!"
"Jika kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga."
NB: Season 2 dari Obsession
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
POV: Devandra
Aku menoleh ketika seseorang memanggil nama istriku, suara itu terlalu ku kenal.
Kenapa pria itu berani datang ke rumah ini lagi? Dan kenapa dia bersama seseorang?
"Hai Nara."
Dia langsung menyapa Nara, kemudian kembali padaku.
"Sorry gue datang gak bilang dulu, tapi gue gak sendirian kok. Yang lain masih ada di luar."
Aku mengernyit bingung.
Tiba-tiba dari arah pintu, beberapa orang datang, menyapa dengan antusias.
"Devandra."
"Si kutu buku."
"Lo apa kabar?"
"Gila, temen kita beneran sukses."
Leon datang membawa beberapa teman masa SMA tanpa memberitahuku lebih dulu. Jujur saja, itu sedikit membuatku kesal. Rumah ini bukan tempat nongkrong dadakan. Setidaknya beri kabar dulu, kan?
Tapi anehnya, di balik rasa kesal itu, ada sesuatu yang perlahan membuat perasaanku justru sedikit lebih tenang.
“Oh iya, gue sekalian mau kenalin pacar gue.”
Seketika pandanganku tertuju pada perempuan yang sejak tadi berdiri di sampingnya. Perempuan yang ia gandeng itu, pacarnya? Sejak kapan?
Dadaku terasa sedikit aneh mendadak. Lalu bagaimana dengan Nara? Apa dia benar-benar menyerah?
Hening sejenak memenuhi kepalaku sebelum akhirnya aku mengembuskan napas pelan. Baguslah, kalau memang begitu, setidaknya sekarang tidak ada lagi yang mengganggu Nara.
"Hai, aku Tasya" perempuan itu mengulurkan tangannya pada Nara.
Aku bisa melihat perubahan di wajah Nara, seolah dia sedikit terkejut. Tapi justru itu membuatku senang.
“Oh iya,” kataku sambil melirik ke arah Nara. “Gue juga mau kenalin istri gue nih.”
Beberapa dari mereka langsung terlihat terkejut. Wajar saja, sebagian besar bahkan belum tahu soal pernikahanku.
“Wah, lo parah sih, Dev,” celetuk salah satu dari mereka sambil tertawa.
“Nikah nggak kasih tahu temen.”
“Diam-diam langsung sah aja,” timpal yang lain.
Seseorang menepuk pundakku pelan. “Devandra ternyata pinter juga cari bini.”
Beberapa orang ikut menggoda, membuat suasana menjadi lebih ramai. Aku hanya terkekeh kecil, sesekali menjawab candaan mereka sambil mencuri pandang ke arah Nara. Setelah obrolan basa-basi terasa cukup, aku akhirnya berdiri dari dudukku.
“Gue izin bentar, mau bersihin diri dulu,” kataku sambil melirik jam di tangan. Tanpa menunggu jawaban panjang, aku melangkah menuju lantai atas.
Meninggalkan Nara di bawah, bersama Leon. Anehnya, kali ini aku tidak merasa terlalu tidak nyaman seperti biasanya. Leon sudah punya pacar, kan? Jadi seharusnya tidak ada lagi alasan bagiku untuk berpikir macam-macam.
Seharusnya.
...***...
POV: Nara
"Oh iya, gue sekalian mau kenalin pacar gue."
"Hai, aku Tasya."
Perempuan itu mengulurkan tangannya padaku, bukannya aku menjabat tangan itu malah tubuhku diam mematung menatap tangannya.
"Nara," lamunanku dikagetkan oleh Leon.
"Oh... iya, aku Nara." Tangan itu akhirnya ku jabat.
Saat Dev meminta izin untuk naik ke lantai atas, aku hanya duduk diam memperhatikan suasana di ruang tengah. Teman-temannya sedang sibuk bercanda satu sama lain. Tawa mereka terdengar hangat, sesekali diselingi ledekan khas teman lama yang sudah terlalu mengenal satu sama lain.
Begitu juga dengan Leon, dia terlihat tertawa lepas bersama mereka. Bahkan tanpa sekalipun melirik ke arahku. Aneh, entah kenapa, tiba-tiba ada sesuatu yang terasa tidak nyaman di dadaku. Sakit kecil yang datang begitu saja. Padahal tadi aku baik-baik saja. Apalagi saat bersalaman dengan perempuan itu, tanganku sampai terasa sedikit gemetar.
Apa karena aku lapar? Tidak! Ini jelas bukan hal sesederhana rasa lapar. Rasanya lebih seperti sesuatu yang tiba-tiba menusuk dari dalam.
Kenapa? Kenapa harus datang sekarang? Setelah sekian lama menghilang, dia kembali begitu saja lalu membawa seseorang yang katanya pacar?
Kepalaku mulai terasa penuh oleh pikiran yang bahkan tidak ingin kupikirkan, menyebalkan. Dan yang lebih menyebalkan lagi kenapa aku malah peduli?
Gila! Ternyata dia sama gilanya dengan Dev.
Aku akhirnya memilih pergi ke arah kolam di samping ruang santai. Aku menjatuhkan tubuh ke kursi di tepi kolam, membakar rokok yang ku selipkan di bibirku, tarikan panjang pertama seolah membuat kepalaku sedikit tenang.
Setelah hari yang absurd ini, rasanya aku hanya ingin beberapa menit tanpa manusia, tanpa drama, tanpa kejutan yang membuat isi dada terasa seperti diperas. Karena rupanya orang-orang di sekitarku punya hobi muncul membawa kekacauan. Sungguh bakat sosial yang mengagumkan.
Aku memejamkan mata sesaat. Sedikit demi sedikit, udara sore membantu pikiranku terasa lebih tenang. Walaupun tetap saja, isi kepala ini keras kepala luar biasa. Apa di rumah ini cuma aku yang masih waras? Atau jangan-jangan aku sama gilanya? Karena tetap bertahan di lingkungan yang perlahan terasa semakin melelahkan ini.
Tiba-tiba Leon tampak mendekat ke arahku, mau apa dia?
"Nara, kamu baik kan?" Leon duduk di kursi yang berada di sampingku.
"Kenapa baru tanya sekarang?" jawabku sinis.
"Aku minta maaf, aku hanya berusaha mencuri kesempatan."
"Jangan pedulikan aku, lihat tuh pacar kamu! Malah ditinggal sama cowok-cowok lain di sana."
Leon menghela nafas panjang. "Nara, aku pernah bilang kan sama kamu waktu itu, kalau aku akan memperbaiki semuanya."
Aku mengernyit heran, menatapnya sedikit lama. Akhirnya aku paham kalimatnya.
"Dengan mencari pacar?" nada suaraku sedikit meninggi.
"Mau bagaimana lagi? Cuma itu satu-satunya cara supaya Dev nggak kasih jarak lagi ke kita."
Jadi, semua itu hanya sandiwara? Lalu perempuan itu?
"Sorry Leon, tapi ini nggak masuk akal." kataku frustasi.
"Hei... hei, dengerin aku dulu." Tangannya terangkat ingin menyentuh wajahku, namun tiba-tiba dia menurunkan kembali tangannya.
"Aku cuma manfaatin Tasya, biar Dev terlihat percaya kalau aku udah nggak ngejar kamu lagi."
"Kamu jahat."
"Iya aku tahu, aku jahat. Itu karna aku masih berusaha mempertahankan perasaanku."
"Kamu pikir aku bisa percaya gitu aja, pacar bohongan?" Aku tertawa sinis, "nggak ada yang namanya pacar bohongan!"
Aku berdiri meninggalkan Leon setelah mengatakan itu di depan wajahnya. Saat aku ingin menarik nafas sambil menatap ke atas, aku melihat Dev sedang berdiri di balkon kamarnya. Ternyata sedari tadi dia memperhatikan kami.
Aku bergegas kembali ke dalam, memilih berada di kamarku daripada harus menyaksikan sandiwara cinta bohongan.
Aku menjatuhkan tubuh ke atas ranjang dengan kasar. Dadaku masih terasa aneh, tidak nyaman. Seperti ada sesuatu yang mengganjal dan menolak pergi.
Sial. Kenapa malah jadi begini?
Aku menatap langit-langit kamar cukup lama, mencoba mencerna sesuatu yang sejak tadi terus berputar di kepalaku. Pura-pura pacaran? Jujur saja, konsep itu bahkan sulit dipahami oleh otakku.
Maksudku, bagaimana bisa? Kalau semuanya cuma pura-pura, lalu pegangan tangan juga pura-pura?
Pelukan?
Perhatian kecil?
Cara menatap satu sama lain?
Bahkan perasaan?
Jangan-jangan ciuman juga pura-pura?
Aku langsung mengerjap cepat.
Hah?! Memangnya ada orang yang mau ciuman cuma demi akting? Apa mereka tidak merasa aneh? Tidak merasa deg-degan? Tidak merasa sesuatu?
Sial! Orang gila macam apa yang melakukan hal seperti itu? Atau jangan-jangan, yang mulai gila justru aku karena terlalu banyak memikirkannya.
Daripada pusing memikirkannya, aku meraih buku yang belum sempat ku baca tadi.
"Awan Jingga Di Balik Kebisuan"
Aku membacanya dengan perlahan, berharap pikiran yang berisik di kepalaku mereda. Aku sudah membaca hingga bab tiga.
Aku mengernyit. Novel ini tentang perempuan bisu yang jatuh cinta. Anehnya, aku justru terus membalik halaman. Bagaimana seseorang yang bahkan tak bisa mengucapkan perasaannya, bisa membuat orang lain bertahan di sisinya?
Buku ini membuatku penasaran, tapi sayangnya mataku tidak mampu membaca lebih banyak. Lebih baik aku tidur dan berharap ketika aku bangun, ternyata dunia yang kutinggali saat ini hanyalah sebuah mimpi.
Saat akhirnya aku kembali membuka mata, aku tidak lagi melihat cahaya sore yang menyorot kamar seperti tadi. Lampu kamarku justru menyala terang. Tanganku ku jatuhkan kasar ke arah samping, tapi kenapa rasanya mengenai seseorang.
"Dev." aku melihatnya tengah berbaring menatapku, dia hanya tersenyum.
"Sejak kapan kamu di sini?"
"Sejak kamu masih tidur dengan pulas," katanya lirih.
"Mereka udah pulang?"
"Udah dari dua jam yang lalu."
"Arghh... ternyata aku ketiduran cukup lama," kataku kesal.
Aku menoleh Dev lagi, "kamu ngapain di sini?"
Bukannya menjawab tangannya malah mengelus perlahan lenganku, membuat bulu kudukku berdiri tiba-tiba.
"Kita sudah lama libur," katanya tiba-tiba.
Libur?
"Kita kan sudah lulus sekolah sejak bertahun-tahun lalu."
Dia malah tertawa kecil, "sayangnya kamu belum lulus sekolah seks."
Sontak aku langsung menepis tangannya, "nonton film dewasa aja! biasanya kan begitu."
"Apa?" wajahnya terlihat terkejut.