Pernikahan yang Ayra perjuangkan selama bertahun-tahun ternyata hanyalah kebohongan yang dibungkus cinta.
Dia begitu mencintai Arga, suaminya. Pria itu terlihat sempurna dimatanya—dewasa, perhatian, dan selalu mampu membuat Ayra merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Hingga suatu hari, semuanya hancur dalam sekejap.
Ayra menemukan fakta menyakitkan yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh Arga. Suaminya ternyata memiliki wanita lain dibelakangnya. Bukan orang asing… melainkan sekretaris pribadinya sendiri.
Yang lebih menghancurkan, hubungan terlarang itu telah melahirkan seorang anak laki-laki.
Anak yang selama ini Ayra rawat sepenuh hati. Anak yang dia peluk setiap malam. Anak yang dia anggap sebagai pelipur lara karena rumah tangganya belum juga dikaruniai buah hati.
Namun nyatanya… putra kecil itu adalah darah daging suaminya bersama wanita simpanannya.
Hati Ayra runtuh seketika. Semua kasih sayang, pengorbanan, bahkan cintanya terasa dipermainkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34 ~ Nama Wanita Lain
Shella membelai pipi Arga dengan gerakan lembut dan penuh harap. Sudah terlalu lama ia memimpikan momen ini, saat di mana Arga menyentuhnya dengan gairah, bukan sekadar sikap dingin atau kewajiban semata. Sebagai wanita biasa, hasrat itu juga membara di dirinya, apalagi akhir-akhir ini jarak di antara mereka terasa semakin renggang akibat berbagai masalah. Kini, akhirnya mimpi itu menjadi nyata.
"Aku juga menginginkanmu, Mas..." gumamnya pelan, suara mendayu lembut di telinga Arga.
Tanpa kata tambahan, Arga langsung membalikkan tubuh Shella. Dalam sekejap wanita itu sudah terbaring terlentang di atas kasur empuk, sementara tubuh kekar Arga kini menindih dan mengurungnya sepenuhnya. Shella merentangkan tangan, jemarinya menyusuri leher kokoh itu, menariknya makin dekat.
Arga langsung menyerang dengan ciuman yang buas dan penuh tuntutan, seolah hendak melampiaskan seluruh rindu, marah, dan rasa bersalah yang menumpuk di dada. Keduanya kini larut dalam dunia mereka masing-masing. Shella menikmati kemenangannya yang sudah lama ia rencanakan, sementara Arga meyakini sepenuhnya bahwa wanita yang ada di pelukannya adalah Ayra, satu-satunya wanita yang dicintainya.
Ciuman bernafsu itu perlahan turun menyusuri lekukan leher jenjang Shella, meninggalkan jejak basah yang membuat wanita itu merinding nikmat. Salah satu tangan besar Arga bergerak turun, meremas lembut namun penuh tenaga gundukan lunak yang masih tertutup kain sutra tipis yang Shella kenakan.
"Ahh..." desahan panjang lolos dari bibir Shella. Suaranya terdengar merayu, mendorong gairah Arga semakin tinggi.
Dengan gerakan kasar namun cekatan, Arga merobek sedikit dan membuka ikatan pakaian itu. Seketika kedua bukit sintal itu terekspos sepenuhnya. Arga melahapnya dengan rakus, menyedot dan memainkan puncaknya hingga Shella mengerang tak karuan, kepalanya terhantuk ke bantal menahan rasa nikmat yang memuncak.
"Emh, Mas... ahh... lebih kencang lagi..." racau Shella di sela napasnya yang memburu.
Tangan wanita itu pun tak tinggal diam. Jemarinya terulur menyusuri pinggang dan turun ke bawah, meremas perlahan benda keras yang kini menonjol kaku di balik kain celana Arga. Sentuhan itu tepat sasaran, memicu ledakan gairah yang hampir membuat akal sehat Arga lenyap sepenuhnya. Pria itu mendengus berat, matanya makin kabur, pikirannya makin terperangkap dalam ilusi bahwa ia sedang menyatukan diri dengan istrinya yang sah.
"Aakh... Sayang," gumam Arga parau, suara desahan samar di antara hembusan napasnya yang panas.
Senyuman kemenangan kembali terlukis di sudut bibirnya yang basah. Dia pikir panggilan ungkapan kasih sayang itu yang ditujukan untuknya malam ini.
Arga tak lagi menahan diri. Ia meluruhkan sisa penghalang di tubuh Shella, bersiap untuk menancapkan diri dan menyatukan dua tubuh itu dalam satu denyutan nafsu yang membara, menutup malam itu dengan dosa besar yang sama.
Arga mulai mengayunkan pinggangnya dengan ritme yang kian cepat dan dalam. Setiap hujaman membuat tubuh Shella terangkat mengikuti gerakan, tersentak-sentak tak beraturan di atas kasur empuk itu.
Peluh keringat membasahi kulit keduanya, bercampur menjadi satu, menciptakan suasana panas yang melingkupi seluruh ruangan. Waktu seolah berhenti berputar bagi Arga. Dia tak peduli lagi berapa lama kebersamaan ini berlangsung. Ia hanya terus menancapkan gairahnya semakin dalam, meluapkan segala rindu dan rasa bersalah yang selama ini tertahan, hingga Shella di bawahnya terus meracau tak karuan tenggelam dalam kenikmatan yang diberikannya.
"Eughh... akh... Mas... lebih cepat lagi!" seru Shella dengan napas memburu, kakinya melingkar erat di pinggang Arga untuk mempererat ikatan di antara mereka.
Permintaan itu segera dituruti. Gerakan Arga makin mengamuk, kencang dan cepat seolah hendak menghancurkan segala batas yang ada. Hingga akhirnya, di puncak kenikmatan yang memuncak, tubuh Arga menegang kaku. Dengan satu hujaman paling dalam dan kuat, cairan hangat itu menyembur deras, membanjiri rahim Shella sepenuhnya. Di detik yang sama, tenggorokan Arga mengeluarkan erangan panjang yang bergema, mengumandangkan nama wanita yang selalu ada di hatinya.
"Aarghhh... Ayra... aku sangat mencintaimu!"
Deg!
Dunia serasa diam seketika bagi Shella. Seluruh saraf kenikmatan yang baru saja menyelimutinya lenyap seketika berganti rasa dingin yang menusuk tulang. Tubuhnya membeku, matanya membelalak menatap langit-langit kamar yang remang. Jantungnya serasa berhenti berdetak sesaat.
Di saat momen paling intim, saat Arga menanamkan seluruh dirinya ke dalam tubuhnya, ternyata wanita yang dipeluk, dicium, dan dicintainya itu bukanlah dirinya. Di benak, di hati, dan dalam mimpi Arga, wanita yang kini sedang dibuai oleh kenikmatan itu tetaplah Ayra. Wanita yang sudah pergi, yang dibencinya, namun tetap menjadi satu-satunya pemilik hati Arga.
Genggaman tangan Shella di punggung Arga perlahan mengendur. Senyum yang tadi terukir penuh kemenangan kini mati kaku di bibirnya. Rasa bahagia yang ia bayangkan seketika berubah menjadi penghinaan paling kejam. Segala rencananya, segala usahanya, dan momen intim ini ternyata hanyalah pelarian semata bagi Arga untuk membayangkan sedang bersama istri pertamanya.
••
••
Sementara itu, di lorong rumah sakit yang masih hening, lampu merah yang menyala terang di atas pintu ruang operasi perlahan padam. Cahaya itu berganti menjadi lampu putih redup, tanda bahwa proses penyelamatan nyawa telah tuntas dilalui.
Pintu terbuka perlahan. Dokter yang memimpin tim penanganan melangkah keluar, membuka tali masker yang menutupi separuh wajahnya. Di sana, Oma Gloria, Bima, dan Tristan masih menunggu dengan gelisah, mata mereka tak lepas mengawasi setiap pergerakan dari balik pintu itu. Begitu melihat dokter muncul, Oma Gloria segera bangkit berdiri dengan langkah tergesa, disusul Tristan yang ikut mendekat.
"Bagaimana keadaannya, Dokter? Apakah cucuku selamat?" tanya Oma dengan suara bergetar, matanya berkaca-kaca menanti jawaban.
"Operasi berjalan dengan lancar," jawab dokter itu lembut sambil tersenyum melegakan. "Pendarahan hebat yang sempat mengancam nyawanya sudah berhasil kami hentikan. Kami juga sudah membersihkan sisa jaringan dan memastikan tidak ada infeksi yang tertinggal di dalam rahimnya. Kehilangan darah memang cukup banyak, jadi kami sudah melakukan transfusi untuk mengganti cairan tubuhnya agar kondisinya perlahan membaik."
Dokter itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan penjelasan.
"Satu hal yang perlu Ibu dan keluarga pahami, tindakan pengangkatan janin ini membuat kondisi fisik dan emosional Nyonya Ayra akan sangat lemah beberapa hari ke depan. Ia butuh istirahat total, tidak boleh lelah, dan harus dijaga dari guncangan perasaan apa pun. Secara medis, kemampuan rahimnya masih baik dan belum rusak permanen, jadi peluang untuk hamil lagi di masa depan masih ada, asal dirawat dan dijaga betul-betul nanti. Namun untuk saat ini, pemulihan kekuatan tubuhlah yang menjadi prioritas utama."
"Syukurlah... Terima kasih banyak, Dokter. Terima kasih sudah menyelamatkan nyawa cucuku," gumam Oma Gloria sambil mengusap air mata bahagia, rasa beban berat yang menindih dadanya sejak tadi perlahan terangkat.
"Kalau boleh tahu, kapan kami bisa menjenguknya?" tanya Tristan yang sedari tadi diam menyimak, suaranya terdengar cemas namun lega.
"Sebentar lagi tim perawat akan memindahkan pasien ke ruang VVIP atas. Di sana lingkungannya lebih tenang, steril, dan jauh dari keramaian sehingga proses pemulihannya bisa berjalan lebih cepat," jelas dokter itu terperinci.
"Kalau begitu terima kasih banyak, Dokter," ucap Tristan tulus saat dokter melangkah pergi.
"Sama-sama, semoga pemulihannya berjalan lancar," jawab dokter itu sambil tersenyum tipis, lalu menutup pintu ruang rawat rapat di belakangnya.
Begitu dokter pergi pandangan Tristan tidak sengaja jatuh menatap pantulan dirinya samar di kaca jendela. Kemeja putih yang ia kenakan kini tercoreng noda merah, noda darah Ayra yang menempel luas di lengan dan bagian depan pakaiannya.
Ia kembali menoleh ke arah Oma Gloria yang kembali duduk bersama Bima.
"Oma, maaf... sepertinya saya harus pulang sekarang untuk membersihkan diri dan berganti pakaian," ucap Tristan pelan. "Jika nanti Ayra sudah sadar dan kondisinya lebih baik, bolehkah saya kembali kemari untuk menjenguknya?"
Oma Gloria mengangkat wajah perlahan. "Tentu saja boleh, Nak. Kamu bisa menjenguknya kapanpun. Terima kasih banyak... sungguh, Oma tau apa yang akan terjadi pada Ayra jika tidak ada kamu."
Tristan tersenyum tipis. "Sama-sama Oma. Kalau begitu saya permisi."
"Iya, hati-hati di jalan, Nak," sahut Oma Gloria lembut.
Tristan membungkuk sopan, lalu berjalan meninggalkan ruang operasi tersebut sebelum Ayra sempat dipindahkan.
tapi sekarang sudah terlambat.. hanya menunggu kehancuran kalian semua😏😏