LONG WAIT
Sabiru, mahasiswi IT polos, terpaksa bertransformasi menjadi hacker jenius demi menyelamatkan Allbiru, kakak angkat yang ia cintai namun diculik oleh Rio Pratama, musuh lama yang mendendam selama 22 tahun.
Di tengah pelarian dan perang siber melawan konspirasi "Proyek Genesis", Sabiru mengguncang dunia ketika menemukan fakta mengejutkan: "Bibi Malia" yang mengasuhnya ternyata adalah ibu kandungnya sendiri! Statusnya sebagai anak angkat keluarga Sky hanyalah kebohongan suci untuk melindunginya dari masa lalu kelam.
Kini, dengan identitas asli terungkap dan waktu yang menipis, Sabiru harus memilih: tetap menjadi korban atau memimpin serangan balik untuk membebaskan ibunya, menyelamatkan Allbiru, dan mengakhiri dendam masa lalu selamanya.
Cinta terlarang yang ternyata halal. Penantian panjang yang berakhir dengan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Pengakuan Di Tengah Hujan & Serangan Balik
Hujan di kawasan Puncak Bogor belum juga reda, seolah langit enggan membiarkan jejak kaki mereka kering. Aldo Sky dan Sabiru Naverlla Azzura berlari tertatih-tatih menembus semak belukar lebat, paru-paru mereka terbakar oleh udara dingin dan bau lumpur. Di belakang mereka, suara sirine mobil polisi—yang entah siapa yang memanggilnya—terdengar samar-samar bercampur dengan teriakan anak buah Rio yang frustrasi karena gagal meledakkan bom.
Mereka tidak bisa kembali ke jalan raya. Mereka tidak bisa pulang. Dan Safe House bawah tanah di Jakarta Utara sudah hangus secara digital, mungkin bahkan sudah dikuasai musuh.
"Ayah... aku nggak kuat..." napas Sabiru tersengal, kakinya hampir tergelincir di atas akar pohon yang licin. Laptop di dalam tas tahan airnya terasa semakin berat.
Aldo berhenti sejenak, menoleh ke arah sebuah bangunan kayu tua yang nyaris tak terlihat, tertutup lumut dan akar beringin raksasa. Itu adalah pos penjaga hutan peninggalan zaman Belanda yang sudah lama ditinggalkan, tempat persembunyian terakhir yang hanya diketahui Aldo dari peta lama warisan Arisendra.
"Di sana, Sabi," bisik Aldo, menunjuk gubuk reyot itu. "Itu 'Titik Nol'. Arisendra pernah bilang, jika semua pintu tertutup, kembalilah ke alam. Dia menyembunyikan satu backup server mini dan pasokan darurat di sini. Cepat!"
Dengan sisa tenaga, mereka mendobrak pintu kayu yang rapuh itu dan masuk. Bau apek, debu, dan kayu lapuk langsung menyambut. Namun, begitu Aldo menekan batu bata tertentu di dekat perapian tua, sebuah panel dinding bergeser otomatis, mengungkapkan ruangan kecil tersembunyi di balik dinding palsu.
Di dalamnya, tidak ada kemewahan. Hanya ada satu meja kayu kasar, beberapa kursi lipat, generator listrik kecil yang masih berisi bahan bakar, dan satu unit komputer stand-alone yang terhubung ke antena satelit portabel tersembunyi di atap. Cahaya hijau redup dari layar monitor menjadi satu-satunya penerangan di kegelapan itu.
Sabiru ambruk ke kursi, tubuhnya menggigil kedinginan. Aldo segera menyalakan generator. Dengungan halus mesin memecah kesunyian hutan.
"Kita aman untuk sementara," kata Aldo sambil mengunci pintu panel dari dalam. Ia berbalik, menatap putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan: campuran bangga, sedih, dan ketakutan yang mendalam. "Rio mungkin butuh waktu beberapa jam untuk melacak sinyal satelit primitif ini. Kita punya waktu."
Sabiru membuka laptopnya, jarinya masih gemetar saat mengetik perintah enkripsi lapisan ganda. "Berapa lama, Yah? Sejam? Dua jam? Kita nggak bisa lari selamanya. Kak Allbiru masih di tangan mereka. Dan Bibi Malia... astaga, semoga Bibi Malia selamat."
Mendengar nama itu, wajah Aldo berubah kelabu. Ia berjalan mendekat, lalu berlutut di hadapan Sabiru, menyamakan tinggi pandangannya dengan sang anak. Tangan besarnya memegang kedua bahu Sabiru erat-erat.
"Sabiru, dengarkan Ayah," suara Aldo parau, penuh getaran emosional yang selama ini ia pendam. "Ada hal yang harus kamu tahu malam ini. Hal yang tidak bisa lagi kita sembunyikan, karena nyawa kita bertaruh padanya."
Sabiru menatap mata ayah tirinya bingung. "Apa maksud Ayah? Soal motif Rio? Aku sudah tahu dia dendam pada Ayah Arisendra soal proyek Genesis."
"Bukan cuma itu," potong Aldo tegas. Matanya berkaca-kaca. "Rio tidak membencimu hanya karena kau anak Arisendra. Dia membencimu karena kau adalah bukti hidup dari cinta antara Arisendra dan seseorang yang sangat dia obsesi. Seseorang yang dia pikir seharusnya menjadi miliknya."
Jantung Sabiru berdegup kencang. Ada firasat aneh yang menjalar di seluruh tubuhnya. "Siapa, Yah? Siapa yang dimaksud?"
Aldo menarik napas panjang, seolah mengumpulkan keberanian untuk meruntuhkan tembok rahasia setinggi langit yang telah ia jaga selama 22 tahun.
"Sabiru... kau bukan anak angkat biasa. Dan Malia... dia bukan sekadar pengasuh setia keluarga kita." Aldo menahan isak tangisnya. "Malia adalah istri sah Arisendra di mata hati mereka. Dan kau... kau adalah anak kandung mereka berdua. Darah daging yang lahir dari cinta Arisendra dan Malia."
Dunia seakan berhenti berputar bagi Sabiru.
Kalimat itu menghantamnya lebih keras daripada ledakan bom mana pun. Matanya membelalak ngeri, napasnya tercekat. Bayangan wajah Malia yang selalu protektif, yang selalu menangis histeris saat mendengar namanya disebut, yang selalu memandangnya dengan tatapan rindu yang tertahan... semuanya tiba-tiba masuk akal.
"Bibi Malia... adalah Ibu kandungku?" bisik Sabiru, suaranya hampir tak terdengar. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Selama ini... dia melihat anaknya sendiri tumbuh besar di depannya, tapi dia tidak boleh memelukku sebagai ibu? Dia harus memanggilku 'Nona Sabiru'?"
"Ya," jawab Aldo, air matanya kini jatuh deras. "Kami berjanji pada Arisendra sebelum dia meninggal. Jika identitasmu terbongkar, Rio akan membunuhmu seketika. Satu-satunya cara menjagamu tetap hidup adalah dengan membuat seluruh dunia, termasuk dirimu sendiri, percaya bahwa kau hanyalah anak yatim piatu yang kami kasihan. Malia... dia rela hatinya hancur setiap hari melihatmu memanggilnya 'Bibi', asalkan kau tetap bernapas."
Sabiru menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangis pecah dari dada gadis itu. Tangis yang tertahan selama 19 tahun. Rasa sakit, rindu, marah, dan cinta bercampur menjadi satu ledakan emosi yang dahsyat. Ia teringat bagaimana Malia selalu menyimpan foto lama Arisendra, bagaimana Malia selalu memasak makanan favoritnya tanpa diminta, bagaimana Malia selalu menjadi orang pertama yang panik saat ia terluka.
"Ibu..." isak Sabiru lirih. "Ibu... kenapa nggak bilang Kenapa biarkan aku merasa yatim piatu sendirian?"
"Karena cinta, Nak," ucap Aldo lembut, memeluk Sabiru erat. "Cinta seorang ibu yang rela kehilangan haknya demi keselamatan anaknya."
Tangis Sabiru perlahan mereda. Perlahan, rasa sakit itu berubah menjadi sesuatu yang lebih tajam, lebih fokus. Ia menghapus air matanya, menatap Aldo dengan sorot mata yang jernih dan penuh tekad. Tidak ada lagi kebingungan. Hanya ada kejelasan tujuan.
"Cukup," kata Sabiru tenang, namun suaranya memancarkan kekuatan yang tak terbantahkan. "Rio telah menghancurkan hidup Ibu. Dia membunuh Ayah Arisendra. Dia menculik Kak Allbiru. Dan dia memaksa Ibu menderita selama 22 tahun. Aku tidak akan membiarkan ini berlanjut."
Sabiru berbalik menghadap komputer tua di meja itu. Jarinya menari cepat di atas keyboard, membangunkan sistem yang sudah lama tidur. Layar menyala terang, menampilkan peta jaringan keuangan global yang rumit.
"Ayah bilang kita harus memutus pendanaan operasinya, kan?" tanya Sabiru, fokus sepenuhnya pada layar. "Mari kita lakukan. Malam ini juga."
Aldo bangkit, berdiri di samping putrinya. Ia mengambil pistolnya, memeriksa magazen, dan meletakkannya di meja siap digunakan. "Apa rencanamu, Nak?"
"Aku akan menyusup ke offshore account milik Rio di Singapura dan Cayman Islands," jelas Sabiru, matanya memindai barisan kode dengan kecepatan menakjubkan. "Sistem keamanannya canggih, tapi aku menemukan celah di protokol warisan Arisendra yang tidak pernah diubah Rio karena dia terlalu sombong. Dia pikir tidak ada orang lain yang tahu kunci induknya selain dia."
Sabiru tersenyum tipis, senyum penuh keyakinan. "Dia lupa. Ada satu orang lain yang memiliki akses genetik ke kunci itu. Aku."
Dengan satu ketukan tombol Enter, Sabiru meluncurkan virus buatan Arisendra yang telah ia modifikasi.
ACCESS GRANTED. INITIATING FUNDS REDISTRIBUTION.
Di layar, angka-angka miliaran rupiah mulai bergerak keluar dari rekening-rekening rahasia Rio, dialihkan ke berbagai yayasan amal palsu yang dibuat Sabiru dalam hitungan detik, lalu dibekukan.
"Satu per satu, Yah," gumam Sabiru. "Aku akan menghabisinya sampai dia tidak punya uang untuk membayar satu pun anak buahnya. Sampai dia sendirian, miskin, dan ketakutan, persis seperti yang dia lakukan pada Ibu dan Ayah Arisendra."
Tiba-tiba, ponsel satelit di meja berdering. Nomor tidak dikenal.
Aldo mengangkatnya dengan hati-hati, menekan tombol speaker.
"Aldo Sky," suara serak terdengar dari seberang. Itu suara Rio Pratama. Napasnya terdengar berat, penuh amarah yang tertahan. "Kau pikir kau bisa lolos dariku? Kau pikir kau bisa bersembunyi di lubang tikus manapun?"
Rio tertawa pendek, suara yang mengerikan. "Aku tahu kau sedang bersama Sabiru. Dan aku tahu kau akhirnya memberitahunya tentang Malia. Bagus. Itu akan membuat perpisahan kalian nanti jauh lebih menyakitkan."
"Rio," potong Aldo dingin. "Uangmu sudah habis. Anak buahmu akan meninggalkanmu sebentar lagi. Menyerahlah sebelum kami datang menjemputmu dan menyelamatkan Allbiru."
"Uang bisa dicari lagi, Aldo," desis Rio. "Tapi nyawa? Nyawa tidak bisa diganti. Allbiru masih di tanganku. Dan sekarang, aku tahu di mana Malia berada. Dia mencoba menyusul kalian ke Bogor, tapi dia terlalu lambat. Anak buahku sudah menangkapnya sepuluh menit yang lalu di gerbang hutan."
Dada Sabiru sesak, tapi ia tidak menangis lagi. Tangannya justru semakin cepat mengetik, melacak sinyal panggilan Rio.
"APA?! Lepaskan Ibu!" seru Sabiru tajam, suaranya stabil meski hatinya hancur. "Atau aku akan menghancurkan seluruh aset digitalmu sampai kau tidak punya apa-apa lagi!"
"Oh, Sabiru..." Rio tertawa puas. "Ibumu akan baik-baik saja... selama kalian menyerahkan diri. Bawa diri kalian ke koordinat yang akan kukirim. Sendirian. Tanpa polisi. Tanpa trik hacking. Jika dalam satu jam kalian tidak muncul... maka Malia akan menyusul Arisendra di alam baka. Dan Allbiru akan menyusulnya."
Klik. Sambungan terputus.
Ruangan hening seketika. Hanya suara hujan di luar yang terdengar makin deras.
Sabiru menatap layar komputer, wajahnya datar namun matanya menyala berbahaya. Jejak lokasi panggilan Rio sudah muncul di peta digitalnya.
"Dia punya Ibu," bisik Sabiru.
Aldo meletakkan tangan di kepala Sabiru, mengelus rambut anaknya lembut. "Kita tidak punya pilihan, Sabi. Kita harus pergi ke koordinat itu."
"Tidak," kata Sabiru tiba-tiba, menoleh tajam. "Kita tidak akan pergi untuk menyerah. Kita akan pergi untuk menyelesaikan ini."
Sabiru mengetik sesuatu dengan cepat, mengirimkan pesan terenkripsi ke satu nomor yang ia hafal di luar kepala: nomor Dinda dan Rara, teman-teman kampusnya, "The Trinity".
"Mereka pikir kita sendirian," gumam Sabiru, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis yang cerdas. "Mereka lupa, aku tidak lagi sendirian. Aku punya Ayah. Aku punya Ibu yang akan kubebaskan. Dan aku punya tim yang siap membantuku."
Sabiru berdiri, mengenakan jaket lusuhnya, dan mengambil pistol cadangan dari tangan Aldo dengan gerakan mantap.
"Ayo, Yah. Waktu kita tinggal 59 menit. Mari kita akhiri permainan ini."
Mereka berdua melangkah keluar dari gubuk tua itu, menembus hujan deras, menuju koordinat yang ditentukan Rio. Namun, di mata Sabiru, tidak ada ketakutan. Yang ada hanyalah fokus murni seorang strategi ulung yang siap mengeksekusi rencana penyelamatan terbesar dalam hidupnya.
Malam ini, warisan Arisendra akan berbicara. Bukan dengan sumpah kosong, tapi dengan aksi nyata.