NovelToon NovelToon
Cahaya Cinta

Cahaya Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Saidah_noor

Dihari ulang tahun pernikahannya yang ke 3 tahun, Cahaya harus terkejut melihat perselingkuhan Fery dengan wanita lain yang masih satu rekan kerja dengan suaminya.
Karena patah hatinya ia mengajak sahabatnya untuk minum dan menginap dihotel, namun sahabatnya tak bisa menemaninya karena adiknya tak ada yang menemani dirumah.
Kejadian tak terduga dihotel ia tak sengaja bertemu pria asing yang dalam keadaan sakit, karena berpikir itu adalah suaminya yang mengejarnya akhirnya ia mengajaknya bermalam dalam keadaan mabuk.
Namun saat pagi menjelang, Cahaya baru sadar bahwa yang tidur bersamanya itu bukanlah suaminya tapi pria yang terkenal berkuasa dan galak dikantornya.
apa yang harus cahaya lakukan?
kabur kah?? atau ...???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saidah_noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenapa aku cacat?

Malam harinya ...

Cahaya pulang sendirian dengan sengaja pura-pura lembur, karena tak ingin ada yang tahu bahwa ia akan pulang bersama bosnya. Setelah malam pun tiba, barulah ia pulang. Baru juga keluar, ia sudah ditunggu didepan kantor oleh Rayyan.

Ia masuk ke dalam mobilnya, ia sempat menengok sekitar untuk mengetahui keadaan. Bagaimana pun yang nganter pulang itu bosnya, masa iya ia harus terang-terangan pulang bareng bos.

Ntar malah dituduh selingkuh, begitu lah pikiran Cahaya.

"Pak, lain kali gak usah nungguin. Saya bisa pulang sendiri, kok," ucap Cahaya protes.

"Aku takut kamu lupa alamat rumah atau kabur begitu saja, itu namanya gak bertanggung jawab," balas Rayyan tanpa menoleh, tangannya bergerak mengemudikan kendaraan hitam yang biasa ia pakai.

"Aku gak kayak gitu, aku cuma gak enak aja. Takut ketahuan teman kantor," ujar Wanita itu beralasan.

"Lagian kita bisa berangkat dan pulang secara pisah, gak perlu barengan terus," lanjut Cahaya memanyunkan bibirnya.

Rayyan mendadak mengerem, membuat Cahaya hampir kejedot. wanita itu mengaduh merasakan badannya yang lelah itu hampir patah. Sedangkan Rayyan hanya diam menatap kosong jalanan sunyi yang mereka lewati.

"Kamu gak suka jalan bareng aku, iya?" tanya Rayyan tiba-tiba dan menatap Cahaya dengan mata tajam.

Cahaya terplanga mendengarnya dan melirik sejenak. "Bukan begitu, maksud saya tuh–"

"Kamu benci sama aku, iya?" sela Rayyan kembali bertanya seakan menggertaknya.

"A-aku suka bapak ko, iya," jawab Cahaya tergagap dan tersenyum paksa, suka pun terpaksa.

"Kalau begitu kenapa gak mau berangkat dan pulang bersama, toh kita tinggal bareng juga," sebal Rayyan, tangga dan kakinya kembali bergerak melajukan mobil.

"Bukan gitu, maksudnya aku tuh ...." Cahaya bingung mau ngomong apa, ia pun menghentikan perkataannya karena merasa percuma dan serba salah.

"Gak nyaman kalau orang kantor tahu," ucap Cahaya dalam hati.

Cahaya diam dengan mata melirik ke arah kemudi, seketika sorot lampu jalanan menerpa wajah Rayyan. Ia menyidik wajah itu dari sisi dan entah mengapa ia merasa bosnya itu ganteng juga. Hidungnya yang mancung, pipinya yang pipit dan rahangnya yang tegas, seolah menggambarkan sosok pria yang gagah dan gentle.

Bibirnya tersungging, seakan melihat sosok pangeran impiannya dari wajah Rayyan. Tanpa sadar dalam hati ia memuji, namun seketika ia menyadari diri.

Siapa dirinya?

Dia cuma seorang wanita cacat yang tengah bercerai, tidur dengan Rayyan pada malam itu sudah cukup untuk merasakan kehangatan seorang pria tampan. Namun tetap saja, penyakit kesepiannya tak bisa diobati.

Ia tinggal sendiri dan sebatang kara.

Saat sampai dirumah megah itu, ia tak lain dari asisten Rayyan yang hanya menemani dan membantu mengatur kehidupan lelaki itu dirumah. Hanya dirumah, karena dikantor sudah ada pak Chandra yang sudah menemaninya selama beberapa tahun.

Cahaya terdiam, ia langsung ke kamarnya dengan langkah yang pelan. Pikirannya melayang pada nasibnya yang buruk, suaminya yang berlatar dari keluarga biasa saja tak menyukainya apalagi bosnya.

Ia masuk dan menutup pintu kamarnya, lalu menyandarkan punggungnya dipintu. Matanya menatap sekitar kamar yang ditumpanginya, luas dan mewah tak sebanding dengannya.

Ia menghela nafas lelah dalam keheningan. Hatinya bertanya, kapan ia bisa hidup bahagia?

Adakah pria yang menyukainya apa adanya didunia ini?

Sehingga ia bisa memiliki keluarga yang ramai dan penuh tawa.

"Kayaknya cuma mimpi," gumam Cahaya tersenyum miris.

Ting

Notifikasi ponselnya yang berbunyi bertanda ada pesan masuk. Ia merogoh tasnya dan mengambil ponselnya, kemudian ia buka pesan tersebut.

Saldo 2,4 miliar masuk ke rekeningnya, lalu ia buka pesan lainnya yang ia tahu siapa pengirimnya.

"Nona Lynn, uang penjualan lukisan anda sudah saya kirim."

"Saya mengingatkan anda soal pameran lukisan minggu depan, apa anda akan hadir?"

Cahaya mengetikkan sesuatu dan memberitahukan bahwa ia tak bisa hadir.

Ting

"Minggu depan, maestro terkenal akan hadir. Anda sungguh akan melewatinya?"

"Aku sudah pernah bilang aku tak ingin muncul didepan publik. Apa kamu lupa tentang syaratku?" ucap Cahaya bernada geram, lalu mengirimnya sebagai pesan suara.

Ting

"Baiklah, nona Lynn. Maaf, saya mengganggu istirahat anda."

Cahaya tak membalasnya lagi stelah membaca pesan terakhir, ia memilih menyudahinya dan mengabaikannya.

Ia berjalan ke arah cermin, menatap wajahnya lalu menepikan rambutnya pada daun telinga kiri. Disana ada alat bantu yang membuatnya bisa mendengar suara dunia. Seketika itu ia menyadari diri, betapa cacatnya dirinya.

"Cantik sih, tapi tuli." ucapan temannya yang mencemoohnya saat kuliah dulu, mereka tertawa dan menjauhinya.

"Hei, tuli! Apa kau tak dengar? Minggir!"

"Dasar wanita tuli!"

Cahaya melepas alat itu, kemudian badannya luruh dan ia menangis. Sakit sekali mengingat ejekan-ejekan itu, ia tak bisa melupakan kalimat keji itu apalagi perkataan Fery—suaminya yang sebentar lagi jadi mantan.

"Menikah denganmu adalah aib bagiku." ucapan Fery yang kini terngiang kembali.

Tangis Cahaya pecah dalam kesunyian malam, ia sendirian tak ada yang menenangkannya dan tak ada yang menamninya. Tangisnya kian deras, namun karena ia takut ada yang mendengar ia menutupnya dengan jemari kanannya. Mendekam dirinya sendiri agar tak ada yang tahu kalau ia tengah menangis.

Namun

Sebuah tangan memeluknya, Cahaya terdiam. Ia menoleh pada pemilik raga itu, ternyata ia adalah tuan Rayyan. Pria yang dikenal dingin dan galak itu, pria yang ditakuti oleh seantero kantor dan rekan bisnisnya karena kecerdasannya.

Tapi ia disukai oleh banyak wanita, dipuja karena ketampanannya dan kekayaannya. Dia seperti pangeran yang datang untuk menenangkannya dari kesedihan hati.

"Kamu kenapa?" tanya Rayyan.

Cahaya tak bisa mendengarnya, tapi ia bisa membaca gerakan bibir lelaki itu.

"Tidak apa-apa," jawab Cahaya lalu mengahpus air matanya dengan cepat, karena tak ingin dilihat oleh pria didepannya.

"Kalau begitu kenapa menangis?" tanya Rayyan lagi bernada kesal saking gregetnya.

"Aku bilang, aku gak apa-apa," jawab wanita itu kukuh tak ingin bercerita.

"Cahaya!" teriak Rayyan mencengkeram bahu wanita itu, dan menatapnya dengan tajam.

Cahaya diam, namun sedetik kemudian ia menangis tak bisa lagi menahan dirinya.

"Kenapa dunia begitu kejam padaku? Aku sudah kehilangan orang tuaku, kenapa Tuhan mengambil indera pendengaranku hingga aku menjadi cacat. KENAPA!" jawab Cahaya yang menangis kian deras.

Rayyan terdiam, bukan tak mengerti tapi ia tahu sakitnya dicemooh. Ia menarik wanita itu ke dalam pelukannya, menemaninya menangis dan mengusap punggungnya dengan pelan.

Ia tak ingin berbicara apapun, karena baginya untuk saat ini Cahaya butuh ketenangan. Dunia mungkin meninggalkannya, tapi Rayyan berjanji akan menemaninya.

Ia menemaninya sampai wanita itu terlelap, ia menatapnya dengan sayu dan menyelimutinya sampai dada.

"Cahaya, kamu tidak cacat. Merekalah yang cacat hatinya, sampai mereka tak bisa melihat kalau kamu adalah Cahaya yang indah," ucap Rayyan.

Rayyan keluar dari kamar Cahaya, diluar pintu ia sudah disambut oleh beberapa asisten kepala dan lainnya.

"Tuan, bagaimana dengan kuenya?" tanya Asisten kepala rumah tangganya.

Kue bolu yang sudah ia pesan dan ia minta dihias dengan bunga semirip blue eyes, membeku diatas tangan pelayannya.

"Dia sudah tidur, simpan saja," jawab Rayyan menatap kue tersebut.

1
falea sezi
🤣🤣 mertua toxic
🌀 SãñõõR 💞
yap ntar ceritanya jadi membingungkan.
partini
saling terhubung suami selingkuh dengan wanita yg pernah di sukai lelaki yg tidur dengan cahaya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!