Hidup yang dijalaninya mungkin impian semua orang, tapi nyatanya bagi Ziano terasa membosankan. Hal itu membawanya pergi tanpa tujuan, berharap bisa hidup seperti orang lain. Alih-alih bahagia, dunianya malah jungkir balik terjungkal bahkan guling-guling karena bertemu Ara, gadis yang membuat hidupnya berubah total.
"Gue nggak mau makan beginian, bisa mati." Graziano Argantara Rahardian.
"Ya udah kalo gitu Aa mati aja, tinggal makan kok ribet." Elara Seraphi Nareswari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian
"Makan, jangan banyak pikiran! ntar lo sakit." Ziano mendorong mangkuk berisi cilok cinta yang sama dengan makanan yang mereka beli tempo hari. Itu pun hasil dibelikan oleh Yudi karena baik Ara maupun Ziano tidak diperbolehkan meninggalkan rumah sampai mereka menikah.
Hasil musyawarah tadi mereka akan tetap menikah besok sore dengan pertimbangan Ziano mau menghubungi keluarganya terlebih dulu. Meskipun seorang lelaki bisa menikah tanpa wali, tapi Ziano tak mau jika keluarganya tidak dilibatkan. Setelah menuai perdebatan, akhirnya para tokoh setuju memberi waktu sampai besok sore. Dengan kesepakatan jika sampai maghrib keluarga Ziano tak datang mereka tetap harus dinikahkan.
Ara hanya melirik sekilas mangkok berisi cilok itu kemudian menatap kosong ke depan. Saat ini mereka sedang duduk di teras rumah.
"Makan, Ra."
"Aku nggak pengen makan, A."
"Dari pagi lo belum makan, lo bisa sakit. Nyokap gue pernah bilang, apa pun yang terjadi utamain makan." ucap Ziano, "jangan dipikirin, jalanin aja. Ini kalo lo nggak mau makan ntar gue abisin nih." ledeknya sambil menyendok satu cilok.
Ara melirik malas, "abisin aja semuanya buat Aa."
Ziano menghela nafas panjang, meletakan lagi cilok Ara. Jujur, sesantai apa pun sikapnya bukan berati dia nggak mikir. Bahkan memikirkan cara mengabari keluarganya saja dia masih bingung. Tapi apa yang sudah diucapkan tak mungkin ditarik lagi bukan. Lagi pula prinsipnya, jalani saja takdir yang ada.
"Katanya mau diabisin?"
"Nggak, itu jatah lo. Makan, Ra."
Ara tersenyum miris, "aku nggak pengen makan, A. Masa depan aku udah ancur."
Ziano tertawa.
"Malah ketawa sih! Seneng yah liat masa depan aku ancur." Ara mulai terisak lagi.
"Stop!" Ziano mengusap mata Ara sebelum berlinang air mata, "gue udah cape liat lo nangis mulu dari semalem."
"Lo kira cuma hidup lo yang ancur apa? gue juga kali." lanjutnya dengan santai.
"Makanya mending nanti malem Aa kabur aja biar kita nggak jadi nikah. Aa masih punya waktu kok buat mundur, lagian aku juga belum pengen nikah."
"Lo kira gue udah pengen nikah apa?"
"Ya makanya Aa kabur aja, ntar aku kasih uang buat ongkos deh." Ara memberi usul, "lagian Aa kan bukan asli orang sini, jadi tinggal pergi semua selesai."
"Nggak! gue nggak mau ngelakuin itu." Ziano termenung sebentar, dulu ia sangat ingin pergi dari sana, kini saat jalan itu sudah ada ia malah tak ingin.
"Manusia itu yang dipegang omongannya, Ra!"
"Apa yang udah gue ucapin harus gue tanggung jawabin."
Ara menunduk. "Padahal Aa bisa pergi."
"Bisa. Tapi nggak mau."
"Kenapa?"
Ziano mengambil satu cilok lalu menggigitnya pelan. Karena masuk angin, rasa pedas yang biasanya enak malah terasa aneh di lidahnya. "Gue capek kabur."
Ara menoleh.
"Kemarin gue kabur dari rumah. Hari ini masa gue harus kabur lagi? Gue juga punya harga diri."
Ara menggigit bibirnya. "Tapi aku takut..."
Suara itu pelan sekali. Benar-benar pelan. "Aku baru lulus."
"Bahkan ijazah aja aku belum pegang, A. Masih banyak yang pengen aku lakuin. Pengen kuliah, pengen ngelola warung Abah supaya makin maju dan banyak cabang. Pokoknya aku pengen bahagiain abah sama ambu, tapi sekarang semuanya ancur, aku malah bikin abah sama ambu malu."
Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh lagi. "Aku belum siap jadi istri siapa-siapa."
Kali ini Ziano tidak menghentikan tangisan Ara. Ia membiarkan gadis itu menangis beberapa detik. Baru kemudian mengambil tisu di meja. "Nih."
Ara menerimanya.
"Lo tau nggak?" tanya Ziano.
"Apa, A?"
"Gue juga sama kayak lo. Gue belum siap."
Ara mengangkat wajahnya, menatap Ziano penuh tanya. Berharap pemuda itu memilih kabur karena belum siap.
"Gue bahkan nggak pernah kepikiran nikah umur segini. Gue aja masih bingung ini hidup mau dibawa kemana? gabut banget. Makanya gue kabur dari rumah, nyangsang di desa lo. Eh malah kayak gini, apa nggak si al namanya?"
Ara yang masih menangis malah sedikit tertawa. "Lah terus kenapa Aa santai banget?"
"Soalnya panik nggak bikin masalah selesai."
Jawaban itu membuat Ara diam.
Ziano menatap langit yang mulai berubah jingga. "Dulu gue pikir hidup itu bisa gue atur. Selama ini hidup gue selalu monoton, selalu dijalurnya. Mau pergi ya pergi. Mau pulang ya pulang. Mau nolak ya nolak, ternyata enggak. kadang hidup nyeret kita ke tempat yang bahkan nggak pernah kita pikirin."
Ara ikut memandang langit. "terus kalo besok beneran nikah gimana A?"
Ziano terdiam cukup lama. "ya tinggal nikah aja." jawabnya kemudian dengan santai.
Ara memukul pelan lengan Ziano. "A Ano!"
"Iya serius. Gue nggak ngerti cara jadi suami."
Ara mengusap matanya yang masih sembab. Suasana hening beberapa saat. Hanya terdengar suara jangkrik dari kebun belakang.
"A..."
"Hm?"
"Kalau keluarga Aa nggak datang..."
Ziano tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap cilok di mangkuk yang mulai dingin. "Mereka pasti datang kalo gue kasih tau. Sampe detik ini pun mama pasti masih ngerengek minta nyariin gue."
"Mereka kira-kira bakal ngerestuin kita nikah nggak A?"
"Nggak tau, mau ngomongnya juga gue bingung ini. Pokoknya ini urusan gue, lo makan aja terus tidur."
Ara menggeser mangkuk cilok ke tengah. Ziano langsung menggambil sesendok dan menyodorkannya pada Ara, "Mau disuapin calon suami?" ledeknya.
Ara menepis sendok Ziano, "Bercanda mulu ih Aa! aku lagi serius ini. Dari tadi muter-muter selalu balik lagi ke cilok. Kalo Aa lapar yah Aa aja yang makan."
"Gini yah A, gimana kalo kita bikin perjanjian aja deh. Pait-paitnya kalo kita jadi nikah kita pura-pura aja, gimana?"
Ziano menoyor kening Ara hingga gadis itu mengaduh.
"Sakit tau A!"
"Lo kira nikah mainan apa? pake mau pura-pura segala!"
"Terus Aa mau kita nikah beneran?"
"Emang ada nikah mainan, Ra? Gue nggak mau." tolak Razia.
"Ya maksudnya nggak kayak suami istri beneran gitu, A. Aa Mau kita rumah tangga beneran? emang Aa cinta sama aku?"
"Nggak." jawab Ziano cepat.
Ara mengangguk, "nah itu! cinta juga nggak gimana bisa jadi suami istri." sela Ara.
"Gue belum selesai ngomong, Ra. Sekarang gue nggak cinta sama lo, nggak tau deh kedepannya. Karena jalannya udah kayak gini, mungkin emang lo jodoh gue."
"Apaan sih malah nggak jelas jawabnya."
"Kita jalanin aja. Kita sama-sama belajar."
CK! Ara berdecak lirih, "dikiranya rumah tangga itu sekolah kali pake belajar."
"Gue juga nggak tau, Ra. Tapi bukannya hidup ini tuh belajar yang nggak ada hentinya? bahkan setiap pengalaman juga bagian dari pelajaran. Gue pernah denger Opa waktu nyeramahin mama yang ribut sama papa. Katanya, rumah tangga itu sekolah yang nggak ada lulusnya, artinya seumur hidup."
"Pokoknya kita jalanin dulu aja, gue usahain jadi suami yang baik buat lo. Nggak ngebatasin apa yang lo mau selama itu baik." jelasnya panjang lebar.
"Tapi aku belum siap nikah, A. Aku nggak bisa masak."
"Tinggal beli. Restoran juga banyak." jawab Ziano simple.
"Ih kayak punya uang aja." cibir Ara, "aku juga nggak bisa nyuci baju, nggak bisa ngurus rumah." lanjutnya.
"Ada pembantu, tenang aja. Lo tuh mau jadi istri gue Ra, bukan mau jadi asisten rumah tangga yang harus bisa segalanya."
"Ntar lo juga bakal punya ipar yang usianya sama kayak lo." lanjutnya sambil membayangkan reaksi Raizel jika tau ia akan menikah, dan itu membuat Ziano reflek tertawa.
Ara menggelengkan kepala melihat sikap Ziano, "A Ano pasti udah oleng parah sampe ngarang bebas, sekarang malah ketawa sendiri." batinnya.
dah lama banget itu kata² gak aku denger semenjak tinggal di kota🤭
jadi rindu kampung halaman🥹
dan bagaimana juga reaksi Raizel , yang tahu kakaknya mau nikah sama cewek seumuran dia karena kena gerebek 🤭😅😅😅 . bakalan seru abis nih ...
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍 😍 😍