NovelToon NovelToon
Pura-Pura Jadi Cewek

Pura-Pura Jadi Cewek

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Asmara / Orisinil / Komedi / Slice of Life
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rain (angg_rainy)

Willy Tjokro anak dari owner TV swasta nekad berubah wujud jadi perempuan. Targetnya mendekati Summer Lidya, gadis incaran sejak masa SMA yang menolaknya mentah-mentah karena phobia laki-laki.

Definisi jodoh nggak kemana, mereka ditakdirkan berkuliah di satu kampus dan jurusan yang sama. Hal yang menjadi celah bagi Willy mendekati Summer lagi.

Namun, kali ini berbeda, bukan sebagai pria, tapi bestie cewek jadi-jadian yang mengerti isi hati Summer.

Akankah penyamaran Willy berhasil?

Story by Instragram & Tiktok @penulis_rain

Cover Ilustrasi by ig @iyaa_laa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Willy terdiam cukup lama setelah kalimat itu keluar dari kepalanya sendiri. Tatapannya masih tertuju ke arah Summer yang sudah berjalan menjauh, tapi fokusnya tidak benar-benar di sana. Ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang terus mengusik pikirannya sejak beberapa detik lalu.

“Apa mungkin…” batinnya pelan, memikirkan kemungkinan yang muncul dalam pikirannya.

Tangannya tanpa sadar mengepal di atas paha. Jantungnya masih berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya saat kemungkinan sesuatu terjadi..

“Apa mungkin Summer mulai ngenalin gue?”

Pertanyaan itu muncul lagi. Kali ini lebih jelas dan lebih tajam dari sebelumnya.

Willy menelan ludah.

Bayangan kemarin langsung terputar begitu saja di kepalanya. Willa yang konyol dan salah tingkah karena panik. Willa yang ngomel tanpa jeda. Willa yang bahkan tidak sadar pakaiannya kacau.

Dan yang paling jelas… Willa yang membuat Summer tertawa lepas.

“Jangan-jangan…”

Willy mengernyit.

“Jangan-jangan dia sadar, kalau Willa itu gue?”

Pikirannya langsung melompat ke berbagai kemungkinan. Bagaimana kalau ada satu momen kecil yang lolos dari perhatiannya? Bagaimana kalau saat itu dia tidak sadar dan tanpa sengaja mengeluarkan suara aslinya?

Atau mungkin… cara tertawanya?

Deg.

Willy langsung menegakkan punggungnya.

“Anjir…” gumamnya pelan.

Namun detik berikutnya, ia langsung menggeleng cepat. Lebih keras dari sebelumnya.

“Gak. Gak mungkin,” batinnya tegas.

Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan pikirannya sendiri.

“Gue kemarin sadar penuh,” lanjutnya dalam hati.

“Gue tau gue lagi jadi Willa. Gue tau gue harus jaga diri.”

Ia mengingat lagi satu per satu kejadian kemarin. Dari awal sampai akhir. Dari saat ia panik keluar kamar, sampai akhirnya ia memilih masuk lagi karena malu setengah mati.

Semua itu terasa jelas dalam ingatannya. Kemarin sama sekali tidak ada yang aneh.

Tidak ada yang keluar dari batas yang sudah ia atur.

“Gue emang konyol, iya. Gue emang absurd. Tapi itu masih Willa,” gumamnya pelan.

Bahkan saat ia mulai kehilangan kontrol karena malu, ia masih ingat bagaimana ia tetap menjaga suara, tetap menjaga sikap.

Ia memang terlihat gila. Tapi itu gila yang masih aman.

“Dan dia ketawa,” lanjut Willy dalam hati. “Dia ketawa lepas. Kalau dia curiga… harusnya dia gak bakal setenang itu.”

Pikiran itu sedikit menenangkan.

Willy menghembuskan napas pelan. Bahunya yang tadi tegang mulai sedikit turun.

“Gue gak mungkin kebongkar cuma gara-gara itu,” lanjutnya lagi, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Di sampingnya, Gio yang sejak tadi memperhatikan perubahan ekspresi Willy akhirnya menghela napas kecil. Ia menyenggol lengan sahabatnya itu pelan.

“Oi.”

Willy menoleh.

“Apa?”

Gio menatapnya sekilas, lalu mengangkat alis.

“Lo kenape Supri? Gue liat-liat lonitu kaya orang yang takut gak kebagian MBg tahu gak.”

“Gak lucu, jupri. Gue lagi benran panik ini sekarang.”

“Panik karena yang kita lihat tadi soal Summer?”

“Iya.”

“Udah deh, gue rasa Lo terlalu kebanyakan mikir. Lagian kan, kata lo tadi, kemarin lo bisa kontrol semuanya dengan baik. Gak ada yang namanya lo kelepasan kan?” ujar Gio.

“Itu dia masalahnya, Jupri. Gue justru sekarang takut. Tatapan dia ke arah kita aja tadi kayak apa, belum kan barusan gue sempat ketawa ngakak juga. Makanya sekarnag gue ngerasa kalau si Summer nyadarin hal itu.”

“Si anjir. Apa lo kemarin ngakak juga kayak gitu?”

“Nah itu dia. Kemaren gue sempet ketawa ngakak, cuman gue nggak tahu apa tawa gue sama kayak barusan atau nggak.”

“Anjir, ini mah lo dalam bahaya. Bahaya kalau sampe Lo dipecat dari lingkaran temenannya si Summer.”

Willy meremas rambutnya frustasi, dengan sesekali menggigit bibirnya dengan gelisah. Ketakutannya tentang kemungkinan Summer yang tahu identitasnya, membuat Willy tidak bisa berpikir jernih.

Sementara Gio, ia menyandarkan punggungnya ke bangku, lalu menatap lurus ke depan.

“Udah, jangan galau gitu lah. Lagian belum tentu juga kan dia sadar soal itu. Dan gue rasa, dia cuma lihat ke sini doang deh kayaknya,” ucapnya santai. “Gue yakin, dia gak bakalan curiga soal apapun tentang lo yang ini. Lagian kan soal ketawa itu bukan sesuatu yang bisa di klaim hak cipta. Ketawa lo tadi sama Willa itu bisa aja sama, selebihnya dia bakalan mikir kalau itu kebetulan doang. ”

Kalimat itu terdengar ringan. Tapi cukup untuk membuat Willy diam beberapa detik.

Ia menatap Gio, mencoba membaca keseriusan di wajahnya.

“Yakin?” tanya Willy akhirnya.

Gio mengangguk tanpa ragu.

“Yakin. Kalau gak yakin, gue nggak bakalan ngomong kayak gitu ke lo. Kecuali yaaa, kalau Lo sendiri ngelakuin hal yang lebih dari itu kemaren. Bisa aja keyakinan gue itu hilang.”

Willy kembali menatap ke arah Summer, meski gadis itu sudah menghilang diujung koridor, lalu ia mengangguk kecil.

“Iya sih…” gumamnya.

Tapi beberapa detik kemudian, ia kembali bersuara. Kali ini lebih pelan.

“Tapi… kalau misalnya dia curiga gimana?”

Gio menoleh cepat.

“Lah? Emang penjelasan gue barusan gak masuk di otak mungil Lo?”

“Bukan gitu, gue cuma mau makesure otak gue aja dulu. Maksud gue…” Willy mengusap tengkuknya pelan. “Kalau misalnya… tanpa gue sadar, gue kemarin nunjukkin sesuatu yang gak biasa? Maksud gue selain ketawa gue yang barusan sama persis dengan kebiasaan gue.”

Gio menyipitkan mata.

“Contohnya? Jangan bilang kalau lo ngelakuin hal lain.”

“Ya…ini kan misalnya ya, Jupri. Misalkan, andai kata, seandainya… kemarin gue ngeluarin suara ganteng gue gitu. Atau gaya gue yang kayak cowok model cover boy kek, atau.. hmppp.”

Gio yang kesal dengan sikap Willy yang terus mengulang pertanyaan yang sama, dan justru sekarang mulai meleset ke arah narsis itu, memilih menyumpal mulut Willy dengan sisa sandwich yang ada dalam kotak plastik disampingnya.

“Nah kalau gini kan kuping gue aman, Supri,” ujar Gio santai, menepuk kedua tangannya.

“Anjir, sialan Lo Jupri. Gue lagi curhat ya, malah lo jejelin beginian.”

Gio mengedikkan bahu,”ya habisnya lo, sebenernha lo mau panik atau lo mau pamer siapa diri lo yang plenger itu, hah?”

“Gue gak plenger ya, gue waras.”

“Emang ada, orang waras yang suka sama cewek malah nyamar jadi cewek, tapi gak bisa mertahanin sikap dia yang musti jadi cewek?”

Willy hendak menjawab, tapi ia sendiri kehilangan kata untuk menyangkal Gio.

“Si anjir. Gitu ah lo mah cara mainnya. Ngungkit status gue Mulu ah, gini-gini kan gue berusaha buat yayang Umer.”

“Idih najis, alay lo Supri.”

“Heh Jupri, alay-alay gini gue punya tujuan jelas, yaitu cewek yang gue suka. Jomblo abadi ya mana paham.”

Mulut Gio terbuka, sedetik kemudian ia mendengus. “Ah gak seru lo mah ah, bawa-bawa status jomblo. Lagian kan jomblo tuh aman, daripada kayak Lo.”

Willy mencebikkan bibirnya, bahkan gerakkan bibirnya seperti mengejek Gio.

“Si kucrit malah ngeledekin gue,” protes Gio. “Udah, serius nih gue sekarang. Lo mau denger sukur, kagak yaudin.”

“Iye iye, gue denger. Apaan?”

“Dengerin gue baik-baik, yang gue bilang tadi soal kemungkinan itu cuma asumsi. Sekedar kemungkinan, atau sekedar perumpamaan aja. Biar lo waspada dan hati-hati, bukan buat lo panik.”

Willy mengerutkan kening.

“Dan soal tadi,” lanjut Gio. “Gue yakin, dia cuma lagi lewat. Tatapannya mungkin ke arah sini, tapi bukan berarti dia fokus ke lo.”

Willy masih diam.

Gio menghela napas, lalu menepuk bahu Willy pelan.

“Lo bisa buktiin pas dia pulang kampus nanti. Lo tes dia, apa sikap dia beda apa nggak, abis itu lo bisa simpulin sendiri nantinya.”

Willy terdiam mendengar ucapan Gio, sebelum akhirnya mengangguk pelan.

1
SANG
Lucu, lucu habis💪👍
hyungnimsoo
udahh Mer jgn jutek2 lg🤭
Fitri Pujianti
Ini mba Summer ga ada kpikiran balas dendam sma bapak kah tor
Yerim Naira
Duh mana bapaknya! udah bkin anak gadisnya trauma😒
Nurani Putri
😒 Untung ngga tinggal lg sma bapaknya
Sandriyanah
😒😒 bokapnya ngeselin bgt
SuryaNingsih
Hmm sedih bgt pasti jd summer, wajar aja dy jd tkt sma laki
Rosalina Ayyaee
Kayanya sumber ketakutan Summer dy anak broken home ya
Rain: Iyapp
total 1 replies
Wulandarry
alasan dia trauma krn bokapnya toh yg kdrt😒
ainnuriyati
Ya ampun galak bgt bapaknya Summer😒 ngeselin pantes aj mbak summernya trauma ama laki
Hardy Greez
Dia itu ada trauma krn ortunya
Hardy Greez
bisa ktawa lepas cuma dgn si willy eh willa
hyungnimsoo
iya Summer trbukq nya sma Willa ya🤣
Fitri Pujianti
hmm berkaitan sma,apa ya😒 kluarga?
Yerim Naira
Haduhh smg cpt ilang traumanya summer ya
Nurani Putri
Kasian ya hidupnya mba summer ini prnuh cobaan bgt udh ma tmen nya jadi2an
SuryaNingsih
Ini pasti si Summer tu ada trauma gitu brkaitan dgn masalalu
Rosalina Ayyaee
setakut kah itu, ksian jdnya liat summer ini
Wulandarry
Ini Summer tu cuma pendiem tp krn muka nya jutek jd pada salah arti ya?🤣
ainnuriyati
knapa ya😒 apa dy prnah di pukul wktu petir?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!