NovelToon NovelToon
ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Cinta Seiring Waktu / Romansa pedesaan
Popularitas:114.4k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Intan Rasyid sudah terikat pertunangan, tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan, tetapi hubungan dari hasil perjodohan itu tak lantas dapat menggeser sebuah nama terukir dalam sanubari selama sepuluh tahun lamanya. Intan mencintai dalam diam pria telah berpunya.

Sampai sosok pria sangat jauh dari kriterianya tiba-tiba hadir, membawa warna baru bagi kehidupan monoton, berhasil menjungkirbalikkan dunianya.

Hal yang semula ia kira sempurna ternyata memiliki banyak kekurangan, membuatnya gamang antara dua pilihan – memutuskan pertunangan yang berarti melibatkan dua keluarga besar, atau mempertimbangkan kegigihan pria tak mengenal lelah mengejar cintanya.

Pada akhirnya, siapa yang akan dipilih oleh Intan, sang tunangan atau malah pria teramat menyebalkan, menurutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesempatan : 23

Intan menurunkan kedua tangan yang singgah di lengan atasnya, menatap datar pada manik jernih. “Bagaimana caranya kau hendak membereskan masalah ini?”

Sejenak Kamal terpaku, hampir tidak mempercayai intonasi rendah tak memiliki emosi. “Aku berencana mendamaikan Lanira dengan suaminya.”

Bibir terlihat pucat itu naik ke atas membentuk senyum mengejek, ia mundur sampai punggungnya menempel pada pintu tertutup.

“Kalau kau memang benar-benar berniat membuat pasangan labil itu kembali bersama, seharusnya Lanira tak sampai menginap disini. Kenyataannya, dia malah betah, merasa dilindungi, diperhatikan, dan disayangi, sampai lupa tengah berada di hunian pria belum menikah.”

Kalimat sarkas Intan Rasyid memukul telak sang tunangan sampai langsung terdiam, tak bisa membela diri.

Helaan napas kedua insan terdengar saling bersahutan. Mereka sama-sama terdiam sambil saling pandang dengan sorot mata berbeda.

“Nuha, boleh aku tanya sesuatu?” suaranya terdengar lelah.

Anggukan pelan memberikan kesempatan bagi Intan untuk pertama kalinya membahas hal sensitif bagi mereka. “Selama dua tahun ini, rasamu kepadaku apa tak lebih dari sekadar sahabat, calon istri wajib dilindungi tapi enggan dicintai?”

“Aku menyayangimu, Intan. Tidakkah itu cukup?” tanyanya balik, bergeming seraya menatap meminta dimengerti.

“Sayang dan cinta itu beda jauh, Nuha. Siapa saja bisa kita sayangi, tapi tidak dengan cinta. Aku paham kalau hati tak bisa dipaksakan, lantas bagaimana dengan kita kedepannya nanti bila kau enggan mengusahakan rasa sakral itu, Nuha?”

“Kenapa baru sekarang kau tanyakan, mengapa tak sedari awal saat kita memutuskan bertunangan? Bukankah dulu kau pernah mengatakan – yang terpenting kita sepaham, saling menghormati, dan mengusahakan terciptanya keluarga harmonis seperti orang tua kita?” ia kembali mengingatkan obrolan dua tahun lalu.

“Betul, betul sangat aku pernah ucap macam itu, dan jangan lupa kalau kau juga balas dengan kata-kata … Ayo kita coba, perlahan-lahan belajar menumbuhkan rasa agar ketika telah menikah dan memiliki seorang putra maupun putri, mereka akan berterima kasih karena terlahir dari keluarga bahagia. Masih ingatkah?”

“Maaf, maaf ….” serunya pelan, Kamal merasa bersalah, sejenak lupa kalau dia dan Intan nyaris serupa. Sama-sama pernah berujar ingin berjuang agar hubungan mereka berhasil, saling melengkapi.

Intan mendongak menatap plafon berwarna putih tulang. ‘Aku harus apa? Rasanya hubungan ini tak lagi sehat. Ku kira sempurna, sebab keluarga kami sangat merestui serta mendukung. Namun sekarang, mengapa terlihat penuh kecacatan serta banyak kurangnya?’

Dengan kesadaran penuh, pikiran mulai jernih, Intan berdiri tegak, memandang lekat pria masih enggan memutus adegan saling tatap. “Hubungi Fatan sekarang juga! Itupun bila kau mau diberi kesempatan, dan benar-benar ingin memperbaiki kesalahan yang bagiku bukanlah masalah sepele."

Tanpa berbalik, Intan menurunkan handle dan membuka daun pintu, dia melangkah tanpa ragu. Sebelum keluar, menyempatkan berseru. “Malam ini, semua hal yang bagimu cuma persoalan biasa, harus selesai! Tak ada esok dan lain kali.”

Sesudahnya Intan keluar, melangkah pasti menuju ruang tengah. Dia berhenti kala mendapati Lanira, Rania memandang takut.

“Kak ….” Takut-takut Lanira mendekat, raut wajahnya pias, pelupuk mata berkaca-kaca. “Maaf, karena aku, kakak dan bang Kamal jadi berselisih paham.”

Rania juga merasa bersalah, dia hampiri calon kakak iparnya. “Maaf, Kak. Seharusnya aku tak kekanakan dengan memaksa Abang singgah dulu di restoran.”

“Sejak kapan kau disini, Lanira?” Intan mengabaikan permintaan maaf itu, ia tatap serius wajah cantik adik sepupunya.

“Baru dua hari, Kak,” cicitnya lirih.

“Dua hari kau bilang baru? Apa harus menunggu seminggu, sebulan, atau bila perlu setahun baru kau sadar atas tindakan tak pikir panjang ini, Lanira?”

"Buk_kan macam itu maksudku, Kak.” Gesturnya gelisah, kalimatnya tergagap. Ia menunduk, tak bernyali bersitatap. “Aku cuma mau menenangkan diri, sebab bang Fatan berbohong _”

“Aku tak berminat mengulik praha rumah tanggamu. Seharusnya cukup didalam rumah masalah itu mengendap, jangan sampai tersebar keluar hunian. Kalaupun dirasa tidak bisa menyelesaikan secara pribadi, lalu butuh seorang mediator netral, bukan tunanganku sosok tepat itu,” selanya seraya menekankan kata kepemilikan.

"Aku tak mau merepotkan ibuk, bapak, takut membuat mereka khawatir _”

"Kau hanya ingin lari dari masalah dengan menambah masalah baru. Tindakan ceroboh ini bisa mencoreng nama keluarga, merendahkan harga dirimu sendiri sebagai seorang wanita berstatus istri,” bukan dia tak kasihan, tapi apa yang dikatakannya adalah fakta.

“Kak, janganlah berlebihan! Lanira cuma mau menenangkan diri, lagipula ada aku disini. Dia tak berduaan dengan bang Kamal,” Rania berniat membela sahabatnya.

Intan memalingkan wajah, menatap gadis berstatus mahasiswi tingkat akhir. “Semoga saja kelak kau tak mengalami apa yang aku rasakan kini. Statusku jelas tunangan abangmu, tapi pada kenyataannya cuma seperti formalitas semata.”

Rania terdiam, ingin membantah tapi lidahnya keluh, berakhir menunduk.

Malas berdebat, dan lagipula dia tak lagi memiliki daya, Intan melangkah ke sudut ruangan, menarik tangkai telepon rumah, memesan taksi online.

“Intan, biar aku antar, ya?” Kamal menawarkan diri, tapi cuma ditanggapi lirikan sekilas.

Pakaian lembab, jejak air mata di pipi, kulit dingin, rona wajah pias, tak membuat Intan tinggal di hunian calon suaminya, dia melewati tiga orang berdiri bagaikan patung, lalu memilih pergi. Melangkah dalam diam, derap kakinya meninggalkan jejak lembab pada lantai.

Intan menunggu taksi pesanannya di garasi rumah yang masih terbuka lebar.

Seorang satpam menghampiri, menanyai keadaannya, dan Intan meminta tolong bukakan pintu gerbang supaya memudahkan dirinya keluar nanti.

Kamal masih ingin berbicara, didekatinya wanita bergeming dengan pandangan lurus pada jalan perumahan elit.

“Aku tak butuh kata-kata penghiburan! Cukup kau buktikan apa yang kuinginkan dan kau iyakan tadi.”

Bertepatan dengan itu, sebuah mobil berhenti ditepi jalan. Intan berlari kecil dibawah rintik gerimis, sama sekali tidak menoleh ke belakang, menyempatkan waktu mengucapkan terima kasih kepada penjaga hunian Nugraha.

Begitu sudah duduk di jok penumpang, Intan mengucapkan arah tujuannya kepada sopir.

Mobil pun berlalu, dan Kamal masih bergeming, pandangannya kosong menyimpan rasa sesal serta sesuatu mengganjal dalam hati.

"Bang, kak Intan betulan marah, ya? Baru kali ini aku tengok dia macam tadi. Apa aku sudah sangat keterlaluan, memaksa Abang mendahulukan keinginanku daripada bergegas menjemput dia?" suara Rania seperti bisikan, diapun didera rasa bersalah.

Kamal berbalik, memandang lekat wajah sendu adiknya, lalu beralih menatap wanita yang diam-diam dia cinta.

"Lanira, kau kemasi barang-barangmu. Aku berniat menghubungi Fatan. Sudah waktunya kalian berbicara dari hati ke hati. Jika kau ragu, butuh pendampingan – aku dan Rania akan mendampingimu sewaktu dia menjelaskan dan kau ingin menanyakan apa saja kepadanya."

Tubuh Lanira kaku, buliran bening mengalir, dia menggeleng lemah. "Aku belum mau pulang, kesalahan bang Fatan kali ini teramat fatal. Tolong jangan suruh dia datang, Bang. Kalau memang aku tak boleh menginap disini, malam ini juga diriku akan pergi cari hotel ataupun kosan."

"Bisakah kau jelaskan kesalahannya apa? Biar kita mudah mencari jalan tengahnya. Lanira, tak ada biduk rumah tangga yang tidak di uji, bukankah kapan hari kau pernah bilang bahagia bersuamikan dia ...?"

.

.

Bersambung.

1
Aprisya
yeeeesssss akhirnya ayah tua dan ibu nirma tau kebejatan kamaludin
putri
menunggu jam 23 😄🤭🤭🤭
hasatsk
makanya Nuha, kalau bertindak itu dipikir dulu jangan di butakan oleh cinta pertama.. kalau kelakuanmu sudah di ketahui 2 keluarga besar bagaimana sikap kamu..... apalagi kamu menyembunyikan istri orang....
neni nuraeni
udah tan kamu ma si Angga aja biar happy,,, lnjut lah pnsrn ini thor😁😁
Wanita Aries
wahhhh bakal meledakk nihhhh..

aku mewekkkk part ini😭😭😭😭😭
gak tega intan disakitin
Wanita Aries
ihhh gemasnyaaa akuu
★·ᴄᴀsᴘᴇʀ·★
kak cublik ku kirim 30 kopi semangat nulis si gendeng Kamal /Panic//Panic//Panic//Scream//Scream/
Wanita Aries
hikksss nyesekkkk bgt 😭
Wanita Aries
eng ing eng bener2 ka si kamal gak bs dipegang janjinya
Wanita Aries
hilihh gk prcaya aku ma nuha
Lia Sakking
sabar sabar ..tunggu besok kita lanjut 🤣
Nathania Eryn
bagus sih semua keluarga tahu biar Kamal SM lanira sekalian dinikahkan🤭panas hatiku intan diperlakukan bgitu
Nuryanto Yanto
duh deg deg kan gimana ya kelanjutannya
Cublik: /Heart/
total 1 replies
Betri Betmawati
pasti Anggara itu udh kyk jelangkung aja dia
moon
kok Lanira panggil Intan kakak?
apa tidak terbalik?
secara Lanira putrinya Wahyuni, kakak dari ibunya Intan (Mutia)
Cublik: Mereka menyesuaikan umur, Kak. soalnya lebih tua Intan 3 tahun.
Nggak mau mengikuti lewat garis keturunan 😁
total 1 replies
Pudji Widy
ayah cepetdat
Watiningsih
tak menyangka lanira punya sikap licik begitu, kalau Kamal punya sikap tak patut wajar karena gen dari ayah kandungnya yg jahat, tapi lanira... tidak menyangka. Kamal & lanira bersiaplah kamu menghadapi keluarga besar Nugraha & sidiq
Elie Noerhasanah Iskandar
crazy up thor🤭🙏
Marbie Dwi Arista: atau masih nyangkut belum Muncul 🤭
total 3 replies
saqa_ghaliza
blm pernah seemosi ini baca novel... 👍👍👍
Cublik: Terima kasih, Kak 🥰
total 1 replies
sutiasih kasih
lanjut lgi k cublik....
serasa kurang mlu tiap baca 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!