Reality Bender – Sang Penguasa Kehampaan
"Di dunia di mana cahaya matahari adalah hukum, mampukah ketiadaan menjadi penyelamat?"
Dikhianati oleh kekaisaran yang ia bela dan diburu oleh takdir yang haus darah, Fang Han terbangun dengan kutukan yang mustahil: Inti Kehampaan. Kekuatan ini tidak hanya menghapus musuhnya, tetapi perlahan mengikis ingatan, emosi, dan kemanusiaannya sendiri. Setiap langkah menuju puncak kekuasaan adalah langkah menuju kegelapan abadi di mana ia terancam melupakan wajah orang-orang yang ia cintai.
Dari pelarian maut di Puncak Kun-Lun hingga menjadi tawanan di Benteng Obsidian yang mengerikan, Fang Han harus memilih: menjadi senjata pemusnah massal bagi musuhnya, atau menguasai Pedang Shatter-Fate untuk memutus rantai takdir dunia.
Ikuti perjalanan epik penuh pengorbanan, pengkhianatan politik, dan cinta yang melampaui dimensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGHIANAT SERAKAH
Debu dan serpihan batu terbang ke segala arah. Dua sosok muncul dari balik kabut debu tersebut. Satu sosok mengenakan jubah hijau yang compang-camping dengan wajah yang penuh amarah—Mu Chen. Dan satu sosok lagi, seorang pemuda berambut putih dengan pedang tulang raksasa di punggungnya, memancarkan aura dingin yang membuat udara di sekitar lapangan membeku—Fang Han.
"AYAAAAAAHHHHH!" raung Mu Chen saat melihat ayahnya tergeletak tak berdaya.
Bara Dendam
Mu Chen melesat melewati pasukan musuh. Beberapa murid Sekte Racun Langit mencoba menghalangi jalannya dengan melemparkan bubuk racun hijau, namun sebelum racun itu menyentuh Mu Chen, sebuah tebasan cahaya abu-abu membelah udara, menghapus racun tersebut hingga menjadi hampa.
Fang Han berjalan tenang di belakang Mu Chen. Setiap langkahnya menciptakan retakan di lantai batu. Matanya yang abu-abu menatap Mu Rong dengan tatapan yang bisa membuat nyali iblis sekalipun menciut.
"Siapa kau, bocah rambut putih?! Beraninya kau mencampuri urusan internal Klan Mu!" teriak Mu Rong, meskipun ia bisa merasakan jantungnya berdetak tidak beraturan melihat aura Fang Han.
Fang Han tidak berhenti berjalan. "Urusan internal? Yang kulihat hanyalah seekor anjing yang sedang mencoba menggigit tangan tuannya. Aku adalah Fang Han, dan siapa pun yang membuat saudaraku menangis, harus membayar dengan nyawanya."
Mu Rong mendengus sombong. "Sombong sekali! Pasukan Sekte Racun, bunuh bocah ini! Jangan sisakan satu tulang pun!"
Puluhan murid Sekte Racun Langit merangsek maju. Mereka melepaskan teknik "Hujan Jarum Tulang", ribuan jarum beracun melesat ke arah Fang Han. Namun, Fang Han bahkan tidak menghunus pedangnya. Ia hanya mengangkat tangan kirinya ke depan.
Ribuan jarum itu tiba-tiba berhenti di udara, seolah-olah menabrak dinding transparan. Dengan satu jentikan jari Fang Han, jarum-jarum itu berbalik arah dan melesat kembali ke arah pengirimnya dengan kecepatan dua kali lipat.
Jleb! Jleb! Jleb!
Teriakan histeris memenuhi lapangan. Para murid Sekte Racun itu tewas oleh senjata mereka sendiri, tubuh mereka membiru dan membengkak dalam hitungan detik akibat racun mereka yang sangat mematikan.
Mu Chen kini sudah berada di samping ayahnya, memeluk tubuh lemah Mu Tian. Ia segera mengeluarkan sebutir pil emas—pil yang ia simpan sebagai kartu as terakhirnya—dan memasukkannya ke mulut ayahnya.
"Ayah! Bertahanlah! Aku kembali... aku membawa obat yang paling mujarab!" ucap Mu Chen dengan air mata yang menetes deras.
Mu Tian membuka matanya sedikit, menatap putranya dengan bangga. "Chen-er... kau kembali... Tapi lari nak... adikku... dia sudah gila... dia membawa tetua dari Sekte Racun..."
Mu Chen menggelengkan kepala dengan mantap. "Tidak, Ayah. Aku tidak akan lari lagi. Aku membawa seorang teman yang sanggup meratakan gunung. Lihatlah dia."
Mu Tian menoleh ke arah Fang Han yang kini berdiri tepat di depan Mu Rong. Jarak mereka hanya terpaut lima meter. Mu Rong tampak gemetar, ia merogoh sebuah suling hitam dari balik jubahnya dan meniupnya dengan nada yang sumbang.
Tiba-tiba, dari balik bayangan bangunan, muncul sesosok pria tua dengan kulit yang keriput dan berwarna hijau tua. Dialah Tetua Naga Hijau dari Sekte Racun Langit, seorang praktisi tingkat Pembentukan Inti tahap akhir.
"Jadi ini bocah yang berani mengacaukan rencana kami?" ucap Tetua Naga Hijau dengan suara yang mendesis seperti ular. "Aura kehampaanmu menarik, tapi di depan racun jiwaku, kau hanyalah daging yang menunggu untuk membusuk."
Fang Han akhirnya menarik Sunya Long dari punggungnya. Bilah pedang tulang putih itu mengeluarkan suara berdenging yang haus akan darah. "Banyak bicara. Aku sedang terburu-buru untuk pulang dan meminum sup jagung paman paman."
"Kau meremehkanku?!" raung Tetua Naga Hijau. Ia melepaskan teknik terlarangnya: "Napas Naga Berbisa". Gas hijau pekat yang sanggup melarutkan baja keluar dari mulutnya, menelan seluruh area tempat Fang Han berdiri.
Gas itu begitu pekat hingga pandangan semua orang terhalang. Mu Rong tertawa gembira. "Hahaha! Mati kau! Tidak ada yang bisa selamat dari gas korosif Tetua Naga Hijau!"
Namun, tawa Mu Rong terhenti seketika. Dari dalam gumpalan gas hijau itu, muncul sebuah pusaran abu-abu yang menghisap seluruh racun tersebut ke dalam satu titik pusat. Fang Han berdiri di sana, sama sekali tidak terluka, dengan pedang Sunya Long yang kini berpendar biru gelap.
"Hanya segini?" tanya Fang Han dingin.
"Bagaimana mungkin?! Racunku seharusnya bisa menghancurkan organ dalammu hanya dengan sekali hirup!" teriak Tetua Naga Hijau dengan wajah penuh ketakutan.
Fang Han melesat maju. Kecepatannya tidak bisa diikuti oleh mata manusia. Ia muncul tepat di depan Tetua Naga Hijau dan mengayunkan pedangnya secara vertikal.
"Sunya Long: Tebasan Ketiadaan." Bisik Fang Han
SLAAASSHHH!
Tebasan itu tidak mengeluarkan darah. Sebaliknya, saat bilah pedang mengenai bahu Tetua Naga Hijau, bagian tubuh itu seketika terurai menjadi abu. Tebasan itu terus merambat ke bawah, menghapus keberadaan sang tetua seolah-olah dia hanyalah gambar yang dihapus dari kertas.
TIDAAAKKK! JANGAN! AMPUN—"
Suara Tetua Naga Hijau hilang saat seluruh tubuhnya lenyap, hanya menyisakan jubah hijaunya yang jatuh ke tanah tanpa isi. Seorang praktisi hebat tingkat Pembentukan Inti telah dihapus dari dunia ini dalam satu gerakan tunggal.
Mu Rong yang melihat pelindungnya tewas seketika langsung jatuh berlutut. Ia mencoba merangkak mundur, kencing di celana karena ketakutan yang luar biasa. "Mu Chen! Mu Chen! Aku pamanmu! Aku khilaf! Ampuni aku! Aku akan mengembalikan semua aset klan!"
Mu Chen berdiri perlahan, matanya yang tadi penuh air mata kini berubah menjadi sedingin es. Ia melangkah mendekati pamannya yang sedang merengek.
"Paman? Seorang paman tidak akan membiarkan ayahnya sekarat. Seorang paman tidak akan membantai saudaranya sendiri demi sebuah kitab. Kau bukan lagi bagian dari Klan Mu," ucap Mu Chen dengan nada yang datar namun mematikan.
Mu Chen menoleh ke arah Fang Han. "Han-er... bolehkah aku yang mengakhirinya? Aku ingin membersihkan kotoran ini dari garis keturunan keluargaku."
Fang Han menyarungkan kembali pedangnya dan mundur satu langkah. "Lakukanlah. Dia adalah sampahmu, bukan sampahku."
Mu Chen mengeluarkan sebotol cairan berwarna hitam pekat. "Ini adalah racun 'Penghancur Sumsum' yang kau beli dari Sekte Racun, Paman. Kau bilang kau ingin melihat bagaimana rasanya jika racun ini bekerja pada manusia. Sekarang, nikmatilah hasil karyamu sendiri."
Mu Chen menuangkan cairan itu ke mulut Mu Rong yang sedang berteriak. Dalam hitungan detik, Mu Rong meronta-ronta di tanah. Tulang-tulangnya mulai melunak dan mencair dari dalam, namun ia tetap sadar untuk merasakan setiap detik penderitaannya. Itu adalah hukuman yang setimpal bagi seorang pengkhianat.
Setelah badai berakhir, suasana di Klan Mu menjadi hening. Para murid yang selamat mulai bangkit dan bersorak melihat pemimpin mereka selamat dan pengkhianat telah dihukum.
Mu Tian, yang mulai pulih berkat pil dari Mu Chen, berjalan mendekati Fang Han dengan bantuan tongkat. Ia membungkuk hormat kepada pemuda berambut putih itu. "Tuan muda Fang Han... Klan Mu berhutang nyawa padamu. Tanpa bantuanmu, klan kami pasti sudah musnah hari ini."
Fang Han membalas penghormatan itu dengan sopan. "Ketua Mu, jangan sebut aku tuan muda. Aku hanyalah sahabat putra Anda. Dia telah menyelamatkan nyawa pamanku, maka sudah sewajarnya aku melakukan hal yang sama untuk keluarganya."
Mu Chen merangkul pundak Fang Han, senyumnya kini kembali meskipun wajahnya masih terlihat lelah. "Han-er... terima kasih. Aku benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau tidak ikut bersamaku."
Fang Han tersenyum tipis. "Sudahlah. Sekarang setelah klanmu aman, kita harus segera kembali ke Desa Qinghe. Aku tidak ingin Paman Zhou menghabiskan sup jagungnya sendirian."
Mu Chen tertawa, tawa yang lepas setelah beban berat terangkat dari pundaknya. "Tentu! Tapi sebelum itu kita harus istirahat dulu, besok aku akan mengambil beberapa obat terbaik dari gudang klan untuk pemulihanmu dan Paman Zhou.
Keesokan harinya Fang Han dan Mu Chen berdiri di atas reruntuhan gerbang Klan Mu, menatap matahari terbit yang membawa harapan baru. Meskipun jalan di depan mereka masih penuh dengan bayang-bayang musuh lama dan baru, mereka tahu bahwa selama mereka berdiri bersama, tidak ada gunung yang terlalu tinggi untuk didaki, dan tidak ada musuh yang terlalu kuat untuk dihapuskan.
"Ayo pulang, Han-er," ucap Mu Chen.
"Ayo pulang, saudaraku," balas Fang Han.