NovelToon NovelToon
Secret Marriage

Secret Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

Bagi dunia luar, Reihan Arta Wiguna adalah sosok "Ice King" di lantai bursa—dingin, tak tersentuh, dan selalu kalkulatif. Namun, di balik kemewahan hidupnya, ia terikat oleh janji konyol kakeknya puluhan tahun silam. Ia dipaksa menikahi Laluna Wijaya, seorang gadis yang ia anggap hanya sebagai "beban" tambahan dalam hidupnya yang sudah sibuk.
Laluna sendiri tidak punya pilihan. Menikah dengan Reihan adalah satu-satunya cara untuk melindungi apa yang tersisa dari nama baik keluarganya. Mereka sepakat pada satu aturan main: Pernikahan ini harus menjadi rahasia. Tidak ada cinta, tidak ada kemesraan di depan publik, dan tidak ada campur tangan dalam urusan pribadi masing-masing.
Namun, tinggal di bawah satu atap perlahan meruntuhkan tembok yang dibangun Reihan. Laluna bukan sekadar gadis penurut yang ia bayangkan; ia adalah api yang hangat di tengah musim dingin Reihan. Saat satu per satu rahasia keluarga dan pengkhianatan bisnis mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: PAGI YANG MANIS DAN RENCANA YANG MATANG

Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah ventilasi paviliun, menyinari sisa-sisa "perang" semalam yang masih membekas di lantai kayu.

Aroma ragi yang mengembang dan karamel hangat mulai memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang jauh lebih tenang dibandingkan deru helikopter kemarin.

Laluna mengerjapkan mata, merasakan beban hangat di pinggangnya. Ia menoleh dan menemukan Reihan masih terlelap, wajahnya tampak sepuluh tahun lebih muda saat tidak sedang mengernyitkan dahi memikirkan saham.

Rambutnya yang biasanya klimis kini berantakan dan Laluna menahan tawa masih ada sedikit sisa tepung di ujung telinganya.

"Selamat pagi, Tuan Pencuci Piring," bisik Laluna sambil mencolek pipi Reihan.

Reihan melenguh, matanya terbuka perlahan. Ia tidak langsung bangun, melainkan menarik Laluna lebih dekat hingga tidak ada jarak di antara mereka.

"Lima menit lagi, Luna. Ini adalah tidur ternyenyakku dalam dua puluh tahun."

"Tidak bisa. Oven sudah panas, dan donat-donat itu tidak akan menggoreng dirinya sendiri," sahut Laluna ceria.

Satu jam kemudian, dapur paviliun itu berubah menjadi lini produksi yang efisien.

Reihan, yang kini sudah mandi dan berganti pakaian santai, terlihat sangat serius memantau suhu minyak.

"Luna, apakah 180°C sudah cukup? Aku sudah menghitung viskositas minyaknya berdasarkan suhu ruang," tanya Reihan dengan nada bicara seperti sedang mempresentasikan laporan keuangan.

Laluna tertawa sambil menata adonan. "Reihan, pakai instingmu, bukan kalkulator. Masukkan sedikit potongan adonan; kalau dia langsung naik dan berbuih cantik, artinya siap."

Reihan mencobanya, dan saat potongan adonan itu menari di dalam minyak, matanya berbinar seperti anak kecil yang baru menemukan mainan baru.

"Berhasil! Dia naik, Luna!"

Di tengah keintiman itu, pintu paviliun diketuk dengan sopan. Dimas masuk membawa

tumpukan map dan secara mengejutkan sebuah kotak susu cokelat kesukaannya.

"Selamat pagi, pasangan paling 'bertepung' di Bogor," sapa Dimas datar.

"Tuan Adrian sudah bangun. Dia sedang berada di balkon utama, mencoba menjelaskan pada polisi kenapa dia membawa tentara bayaran untuk 'silaturahmi' keluarga."

Reihan menghela napas, meletakkan spatula.

"Bagaimana keadaannya?"

"Dia tampak menyesal, atau mungkin hanya pusing karena vas bunga Nyonya," jawab Dimas.

"Dia ingin bicara dengan Anda sebelum berangkat ke Jakarta untuk memberikan keterangan."

Laluna memegang tangan Reihan.

"Pergilah. Selesaikan urusan saudaramu. Aku akan menyelesaikan donat ini. Oh, dan bawa satu kotak untuk Adrian. Orang yang sedang patah hati karena ambisinya butuh asupan gula."

Di balkon utama, Reihan menemukan Adrian sedang menatap kebun teh. Tidak ada lagi aura sombong atau benci. Hanya ada kelelahan.

"Maaf soal kemarin," ucap Adrian tanpa menoleh.

"Baskoro meyakinkanku bahwa kau adalah monster yang memakan hak ibuku."

Reihan berdiri di sampingnya, menyodorkan kotak donat hangat.

"Ibu Laluna bilang ini obat paling ampuh untuk sakit kepala akibat vas bunga."

Adrian mengambil satu, menggigitnya, dan terdiam. "Enak sekali. Pantas saja kau rela mempertaruhkan perusahaan untuknya."

"Aku tidak mempertaruhkan perusahaan untuknya, Adrian. Dia adalah perusahaanku. Dia adalah tujuanku," sahut Reihan tegas.

"Baskoro sudah diamankan. Aegis juga mundur setelah pengacara internasional kita mengirimkan somasi. Sekarang, pertanyaannya adalah... apa rencanamu?"

Adrian menelan donatnya.

"Aku akan kembali ke London. Tapi kali ini, aku ingin membawa nama Arta Wiguna sebagai keluarga, bukan sebagai beban. Dan mungkin... aku butuh modal untuk membuka toko roti di sana. Sepertinya pangsa pasar donat kentang cukup menjanjikan di Inggris."

Reihan tersenyum, senyum tulus yang jarang ia perlihatkan.

"Kakek sudah menyiapkan dana untukmu. Dan kalau soal resep... kau harus bernegosiasi dengan 'Nyonya Besar' di bawah."

Setelah urusan dengan Adrian selesai, Reihan kembali ke paviliun. Ia menemukan Laluna sedang duduk di lantai teras, memandangi langit yang cerah sambil menikmati donat lavender buatannya.

Reihan duduk di belakangnya, memeluk Laluna dan menyandarkan dagunya di bahu istrinya.

"Adrian akan pergi. Semuanya sudah selesai, Luna."

"Benar-benar selesai?" tanya Laluna pelan.

"Ya. Tidak ada lagi kontrak, tidak ada lagi musuh di balik selimut. Hanya ada kita,"

Reihan mencium pelipis Laluna.

"Besok kita kembali ke Jakarta. Aku punya kejutan untukmu."

"Kejutan apa?"

"Ruko SCBD sudah mulai diperbaiki. Dan kali ini, aku menambahkan satu ruangan khusus di atasnya."

Laluna menoleh. "Ruang apa?"

"Ruang tidur. Jadi kalau kita sedang malas pulang ke apartemen yang terlalu besar itu, kita bisa menginap di sana. Hanya kita, aroma roti, dan mungkin... sedikit tepung di lantai," bisik Reihan nakal.

Laluna tertawa, menarik leher Reihan untuk sebuah ciuman yang manis, semanis gula halus yang menghiasi donat di tangan mereka. Badai mungkin telah berlalu, namun perjalanan "Khay Bakery" dan cinta mereka baru saja memasuki babak yang paling sempurna.

1
Rini Hasmira
keren thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!