Hati Naomi hancur saat suaminya Zayn, tega menceraikannya karena dirinya melahirkan bayi sumbing. Padahal Zayn dan keluarganya adalah keluarga dokter, mereka harusnya lebih mengerti dari orang lain.
Setelah pulih dari pasca persalinan, Naomi diusir dari keluarga Hartanto. Ia mengurus bayinya yang sumbing sendirian. Naomi bekerja banting tulang demi kebutuhan anaknya. Seiring berjalannya waktu, bayi Naomi yang diberi nama Davin itu terus tumbuh, ia bahkan mendapatkan operasi yang membuatnya bisa tumbuh seperti anak normal lain. Bibir Davin tak lagi sumbing, dia bahkan terbilang punya wajah tampan. Selain itu Davin juga menjadi anak yang sangat jenius! Mendapat banyak prestasi dan selalu membuat Naomi bangga. Saat itulah Zayn tiba-tiba kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35 - Aku Baik Saja
Makanan mahal tersaji rapi di depan meja mereka. Steak hangat, wine, lilin kecil, dan suasana romantis restoran rooftop yang biasanya membuat pasangan lain nyaman. Tapi Zayn sama sekali tidak menikmati apa pun.
Sejak tadi matanya terus tanpa sadar bergerak ke arah meja Naomi dan Junie.
Naomi tertawa lagi. Perempuan itu bahkan sampai sedikit membungkuk sambil menutup mulut karena terlalu geli mendengar sesuatu dari Junie. Junie menatap Naomi dengan tatapan yang sangat jelas bagi sesama pria. Tatapan penuh ketertarikan.
Rahang Zayn kembali mengeras.
“Kalau terus diliatin begitu, makanannya bisa dingin.” Suara Anggun membuat Zayn langsung menarik pandangannya cepat.
“Aku nggak ngelihatin.”
“Oh ya?” Anggun tersenyum tipis sambil menyeruput wine. “Terus kenapa dari tadi garpumu nggak pindah-pindah?”
Zayn baru sadar steak di piringnya bahkan hampir tidak berkurang. Entah kenapa malam ini menelan makanan saja terasa sulit.
Pikirannya terlalu penuh. Naomi terlihat cantik malam ini. Tidak seperti Naomi yang dia kenal dulu saat pernikahan mereka perlahan hancur.
“Aku jadi penasaran,” kata Anggun santai sambil memainkan ujung gelasnya. “Apa dulu kamu juga pernah bikin Naomi ketawa kayak gitu?”
Zayn langsung menatap tajam. “Cukup ya.”
Anggun malah terkekeh kecil. “Sensitif banget.”
“Aku datang buat memperbaiki hubungan kita, bukan buat dengerin kamu ngomongin mantan istriku terus.”
“Lah siapa suruh mantan istrimu duduk secantik itu di depan mata?”
“ANGGUN!”
Beberapa pengunjung sampai sempat melirik karena nada suara Zayn mulai meninggi.
Anggun hanya mengangkat bahu malas. Namun diam-diam dia menikmati melihat suaminya kehilangan kontrol seperti ini. Karena biasanya Zayn selalu terlalu tenang, dingin, dan sulit ditebak.
Sementara di meja lain, Naomi mulai menyelesaikan makan malamnya.
“Udah kenyang?” tanya Junie sambil tersenyum kecil.
Naomi mengangguk pelan. “Kenyang.”
“Dessert?”
Naomi langsung tertawa kecil. “Perutku bukan kantong ajaib.”
Junie pura-pura menghela napas kecewa. “Sayang sekali.”
Naomi tersenyum lagi. Jujur saja, malam ini jauh lebih menyenangkan dari yang dia bayangkan. Bahkan meski sempat terganggu oleh kehadiran Zayn, perlahan Naomi mulai bisa menikmati waktunya lagi. Itu membuatnya sadar satu hal. Dulu saat masih menikah dengan Zayn, dirinya terlalu sering tegang. Terlalu sering takut salah bicara. Terlalu sering berusaha menjadi istri sempurna. Sementara malam ini dia bisa tertawa tanpa beban.
“Pulang?” tanya Junie lembut.
Naomi mengangguk kecil. Mereka pun berdiri bersamaan.
Dari meja seberang, mata Zayn langsung bergerak cepat begitu melihat Naomi bangkit dari kursinya. Dadanya langsung menegang lagi.
Junie mengambil tas Naomi secara refleks sebelum mereka berjalan keluar bersama. Gerakan kecil sederhana, tapi cukup membuat emosi Zayn naik lagi.
Naomi dan Junie berjalan melewati meja mereka. Semakin dekat. Sampai akhirnya Zayn berdiri spontan dari kursinya.
“Hey, Naomi.”
Suasana di sekitar meja mendadak terasa hening sepersekian detik.
Naomi jelas mendengarnya. Sangat jelas. Namun langkah perempuan itu sama sekali tidak berhenti. Bahkan Naomi tidak menoleh sedikit pun. Dia terus berjalan lurus di samping Junie seolah suara Zayn hanyalah suara asing di restoran itu.
Junie sempat melirik sekilas ke arah Zayn. Tatapannya datar, tenang, tapi cukup tajam sebelum akhirnya ikut berjalan pergi bersama Naomi.
Itu benar-benar menghantam ego Zayn. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Naomi mengabaikannya seperti itu. Zayn berdiri mematung sambil mengepalkan tangan di samping tubuhnya.
Sementara Anggun yang melihat semuanya justru langsung tertawa keras.
“HAHAHA!”
Beberapa orang langsung menoleh.
“Ya ampun…” Anggun sampai menutup mulut sambil masih tertawa. “Dia bener-bener cuekin kamu!”
“Anggun, cukup.”
“Parah banget!” lanjutnya sambil tertawa tak percaya. “Mantan istrimu udah nggak anggap kamu ada!”
Zayn menggertakkan rahang keras. “DIAM!”
Namun Anggun malah makin terhibur.
“Astaga…” katanya sambil menghapus sudut mata karena terlalu tertawa. “Mukamu lucu banget sekarang.”
Saat itulah kesabaran Zayn benar-benar putus.
PLAK!
Suara tamparan itu terdengar cukup keras di tengah restoran. Semua orang langsung terdiam.
Anggun membeku di kursinya. Wajahnya perlahan menoleh ke samping akibat tamparan itu. Rambutnya sedikit berantakan. Matanya melebar penuh syok.
Begitu juga Zayn. Napasnya langsung tercekat sendiri beberapa detik setelah tangannya mendarat di pipi istrinya. Dia sendiri seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lakukan.
“Anggun…”
Suara Zayn langsung berubah pelan.
Namun Anggun masih diam. Matanya perlahan kembali menatap Zayn. Kali ini bukan penuh ejekan lagi. Tapi penuh keterkejutan dan kemarahan.
“Kamu…” suaranya bergetar kecil. “Nampar aku?”
Zayn langsung menyesal seketika.
“Aku nggak sengaja—”
“JANGAN SENTUH AKU!”
Anggun langsung berdiri kasar saat Zayn refleks mencoba meraih tangannya.
Beberapa pengunjung mulai berbisik-bisik sekarang. Pelayan bahkan tampak bingung harus mendekat atau tidak.
Wajah Anggun memerah menahan malu dan marah. “Selama ini…” katanya lirih namun tajam. “Aku pikir kamu cuma dingin.”
Zayn terdiam.
“Ternyata kamu bisa kasar juga.”
“Anggun, dengar dulu—”
“Buat apa?!”
Mata perempuan itu mulai berkaca-kaca karena emosi.
“Gara-gara mantan istri kamu?!”
“Bukan karena Naomi!”
“Tapi kamu marah karena dia nggak peduli sama kamu kan?!”
Zayn langsung membeku. Dia tidak bisa membantah.
Anggun tertawa hambar penuh luka. “Lucu banget.”
Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, dia langsung mengambil tasnya dan berjalan cepat keluar restoran.
“ANGGUN!”
Zayn buru-buru mengejar. Namun perempuan itu sudah masuk lift lebih dulu. Saat Zayn sampai di lobby bawah, mobil Anggun bahkan sudah melaju keluar meninggalkan restoran.
Zayn berdiri diam beberapa detik di depan pintu lobby sambil mengusap wajah frustrasi kasar. Semua jadi kacau. Hubungannya dengan Anggun. Dia mulai sadar bahwa kemarahannya tadi bukan murni karena Anggun menertawakannya. Tapi karena Naomi benar-benar terlihat tidak peduli lagi padanya.
“Permisi, Pak.”
Zayn menoleh kesal.
Seorang pelayan berdiri canggung sambil membawa map hitam. “Maaf… bill restorannya belum dibayar.”
Zayn langsung memejamkan mata frustrasi. Malam sempurna. Benar-benar sempurna.
Sementara itu, jauh dari restoran, Naomi dan Junie sudah berada di dalam mobil. Lampu kota bergerak perlahan di balik jendela sepanjang perjalanan pulang.
Suasana di dalam mobil jauh lebih tenang sekarang. Naomi menatap keluar jendela sambil diam cukup lama.
Junie melirik sekilas. “Kamu kepikiran?”
Naomi tersadar lalu menggeleng kecil. “Enggak.”
Bohong, tentu saja dia kepikiran. Melihat Zayn lagi setelah sekian lama ternyata tetap meninggalkan rasa aneh di dada. Bukan cinta. Bukan juga rindu. Lebih seperti luka lama yang tiba-tiba disentuh lagi.
“Aku tadi sengaja nggak nengok,” katanya tiba-tiba pelan.
Junie tersenyum kecil samar. “Aku tahu.”
Naomi menunduk kecil sambil memainkan jemarinya.
“Kalau dulu…” suaranya lirih. “Aku pasti langsung panik.”
Junie diam mendengarkan.
“Tapi sekarang aku cuma…” Naomi berhenti sebentar. “Capek.”
Junie menggenggam setir lebih erat sedikit.
Naomi lalu tertawa kecil hambar. “Aneh ya. Dulu aku pikir hidupku dan Davin bakal hancur tanpa dia."
“Tapi?”
Naomi perlahan menoleh ke arah Junie.
“Ternyata aku baik-baik aja.”