NovelToon NovelToon
Kebangkitan Meridian Naga

Kebangkitan Meridian Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ichsan Ramadhan

Di tengah kemegahan Klan Naga Api, Ren hanyalah aib dan sampah masyarakat. Dilahirkan dengan meridian yang tertutup rapat, ia dianggap tidak memiliki bakat sama sekali. Hinaan, pukulan, dan pengkhianatan menjadi makanan sehari-harinya, hingga akhirnya ia diusir dengan kejam dari klannya sendiri, dibiarkan mati di alam liar.

Namun, takdir memiliki rencana lain. Di ambang kematian, darah nenek moyang yang terpendam di dalam tubuhnya akhirnya berdenyut. Meridian yang dianggap cacat itu ternyata adalah Ruang Suci Naga, tempat bersemayamnya kekuatan purba yang telah tertidur ribuan tahun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Di Ujung Tanduk Hidup Sebagai Pengemis

Tiga bulan telah berlalu sejak gerbang besi Klan Naga Api tertutup rapat di hadapannya. Tiga bulan yang terasa seperti tiga abad penyiksaan bagi tubuh dan jiwa Ren.

Dunia luar ternyata jauh lebih kejam daripada hinaan yang dilontarkan kerabatnya. Jika di dalam klan ia masih memiliki atap dan makanan walau sedikit, kini ia harus bertarung dengan alam dan manusia demi sesuap nasi.

Malam itu, hujan turun sangat lebat, disertai angin kencang yang menusuk tulang. Ren bersembunyi di bawah jembatan batu yang rusak di pinggiran Kota Naga. Tubuhnya menggigil hebat, pakaiannya compang-camping dan penuh lumpur. Rambutnya panjang, kusut, dan kotor, menutupi sebagian wajahnya yang kini tirus dan pucat pasi.

Di tangannya, ia memegang sebuah mangkuk kayu retak yang sudah kosong melompong. Seharian ia mengemis di pasar, namun apa daya, orang-orang lebih suka memberi kepada anjing liar daripada kepada anak laki-laki yang terlihat lesu dan "sakit-sakitan" sepertinya.

Glok... glok...

Suara perutnya berbunyi nyaring, memekakkan telinga di tengah kesunyian malam. Rasanya seperti ada tangan yang meremas-remas isi perutnya dari dalam. Lapar. Sangat lapar. Ia sudah tidak ingat kapan terakhir kali makan makanan yang layak. Hanya akar-akaran, buah liar yang belum matang, atau sisa makanan yang dibuang di tempat sampah yang menjadi santapannya.

"Aku... tidak boleh menyerah..." bisiknya pelan, suaranya serak karena jarang digunakan dan kurang cairan. "Ayah... Kakek... aku harus bertahan."

Namun tubuhnya tidak berbohong. Kakinya terasa berat seperti timah, kepalanya pusing melayang. Energi? Ia bahkan tidak bisa merasakan sedikit pun energi spiritual di udara. Meridiannya yang "cacat" itu tetap diam, seolah mati. Suara misterius yang terdengar saat ia diusir pun tak kunjung terdengar lagi, membuatnya mulai berpikir itu hanya halusinasi akibat keputusasaan.

 

Keesokan harinya, matahari bersinar terik. Ren berjalan tertatih-tatih menuju alun-alun kota. Ia harus mendapatkan makanan, atau hari ini bisa jadi hari terakhir hidupnya.

Ia duduk di sudut jalan, menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengulurkan mangkuk kayunya dengan tangan gemetar.

"Tolong... beri aku sedikit makanan... atau uang receh..." suaranya hampir tak terdengar.

Orang-orang berlalu lalang. Pedagang berteriak menawarkan dagangan. Aroma daging panggang dan nasi hangat mengepul ke udara, menyiksa indra penciuman Ren hingga air mata hampir keluar.

"Heh! Minggir kau kotor!"

Sebuah sepatu kulit mengkilap menendang mangkuk kayu di depannya hingga terlempar jauh. Mangkuk itu berguling dan pecah berkeping-keping di tengah jalan.

Ren mendongak perlahan. Di hadapannya berdiri dua pemuda berpakaian bagus, murid dari sekte kecil di kota itu. Wajah mereka penuh rasa jijik.

"Maaf..." Ren berusaha tetap sopan, meski hatinya hancur. "Aku hanya meminta sedikit..."

"Sedikit apa? Penyakit? Kau lihat orang lewat sini ingin tenang, bukan melihat sampah seperti kau!" hardik pemuda yang lebih tinggi.

Temannya tertawa, lalu mengambil sepotong roti dari sakunya. Ia meremas-remas roti itu hingga hancur menjadi remah-remah, lalu menaburkannya ke tanah tepat di depan wajah Ren.

"Nah, makanlah. Seperti babi. Makan dari lantai!" ejeknya.

Wajah Ren memerah padam. Bukan karena malu, tapi karena amarah yang tertahan. Darah Naga di tubuhnya mendidih. Ia ingin bangkit, ingin memukul wajah mereka yang sombong itu. Tapi... ia melihat tangannya sendiri. Lemah. Tidak memiliki kekuatan apa-apa. Jika ia melawan, ia yang akan babak belur bahkan mungkin dibunuh.

"Kenapa diam? Makanlah! Hahaha!"

Pemuda itu menginjak remah-remah roti itu dengan sepatunya, menghancurkannya bercampur debu.

Pada saat itu, harga diri Ren terinjak-injak lebih rendah dari debu. Air mata akhirnya jatuh lagi, tapi kali ini ia tidak menyeka nya. Ia membiarkannya mengalir membasahi pipi yang kotor.

"Kalian... akan menyesal..." bisik Ren dengan suara yang hampir tak terdengar.

"Apa katamu?!" Pemuda itu siap menampar Ren.

"Cukup!"

Tiba-tiba sebuah suara lembut namun berwibawa membelah keributan itu. Semua orang menoleh. Seorang pria paruh baya berpakaian sederhana namun bersih, pemilik warung makan di dekat situ, maju membawa semangkuk besar bubur hangat.

"Kasihanilah anak itu. Dia masih kecil. Kalian punya kekuatan bukan untuk menindas yang lemah, tapi untuk melindungi," kata pria itu dengan tenang.

Dua pemuda itu mendengus kesal. "Dasar orang aneh. Ayo pergi, tidak asik." Mereka pun pergi meninggalkan tempat.

Pria itu berjongkok, meletakkan mangkuk bubur itu di tanah dengan lembut di hadapan Ren.

"Makanlah, Nak. Panas-panas. Jangan pedulikan mereka. Hidup memang keras, tapi selama masih ada napas, masih ada harapan."

Ren menatap pria itu. Mata pria itu tidak penuh jijik, melainkan penuh kasih sayang dan pengertian.

"Tapi... aku tidak punya uang..." Ren terbata-bata.

"Untuk ini, tidak perlu bayar. Silakan."

Ren tidak perlu disuruh dua kali. Dengan tangan gemetar, ia mengambil mangkuk itu dan menyuapkannya dengan lahap. Panasnya bubur itu mengalir ke kerongkongan, menghangatkan tubuhnya yang beku. Rasanya... lebih enak daripada hidangan termahal di Klan Naga Api.

 

Malam harinya, kembali di bawah jembatan yang sama. Perutnya sudah terisi, tapi rasa dingin dan sepi kembali menyergap.

Ren duduk bersandar di dinding batu, memeluk lututnya. Ia mengeluarkan sebuah benda kecil dari balik pakaiannya yang robek. Itu adalah sebuah liontin batu giok hitam, satu-satunya peninggalan ibunda kandungnya yang tersisa. Benda itu yang menyelamatkannya dari rasa putus asa total.

"Ayah... Ibu..." Ren berbicara pada bayangan dirinya sendiri. "Hari ini aku dihina. Aku diminta makan dari lantai seperti hewan. Rasanya... rasanya ingin mati saja."

Suara itu kembali muncul di benaknya, kali ini lebih jelas, namun terdengar sedikit bosan dan dingin.

Hidup itu menyedihkan ya, bocah?

Ren tersentak. "Kau... kau masih ada? Aku pikir kau sudah pergi."

Pergi kemana? Aku terikat pada jiwamu. Bodoh. Kau menangis hanya karena hal sepele seperti itu? Mereka menginjak harga dirimu, dan kau hanya bisa duduk diam menangis?

"Apa yang bisa kulakukan?!" Ren membalas dalam hati, suaranya penuh frustrasi. "Aku lemah! Meridianku rusak! Aku tidak bisa berkultivasi! Aku tidak punya apa-apa!"

Hah! Dasar otak udang. Meridianmu rusak? Mereka tidak tahu apa-apa. Meridianmu itu bukan pipa air biasa, itu adalah ruang angkasa yang luas! Energi biasa memang tidak bisa menampungnya, tapi kau butuh bahan bakar yang berbeda.

"Apa yang harus kulakukan? Ajari aku! Aku mau jadi kuat! Aku mau balas dendam! Aku mau membuat mereka semua menunduk!" Ren berteriak dalam pikirannya.

Tenang... tenang... Nafsu membunuhmu mulai terasa enak. Tapi sebelum itu, kau harus bertahan hidup. Kau pikir menjadi penguasa itu mudah? Mulailah dari nol. Bahkan gunung tertinggi pun dibangun dari butiran tanah.

Suara itu berubah menjadi lebih serius, penuh wibawa kuno.

Dengarkan baik-baik. Tutup matamu. Lupakan rasa lapar. Lupakan rasa dingin. Fokuskan pikiranmu ke pusat dantianmu. Jangan cari energi yang halus di udara... carilah energi yang kasar... energi yang ada di dalam tanah, di dalam batu, di dalam darahmu sendiri!

Ren memejamkan mata, mencoba mengikuti instruksi suara itu. Ia mencoba merasakan sesuatu yang berbeda.

Benar... rasakan getaran bumi. Mereka menyebutmu sampah? Bagus. Biarkan mereka berpikir begitu. Sembunyi di dalam lumpur, makan sampah, biarkan semua orang meremehkanmu. Itu adalah latihan terbaik.

Tapi ingat janjimu hari ini...

Ren merasakan sebuah kehangatan aneh mulai muncul di perutnya. Kecil, seperti sebutir bara api.

Suatu hari nanti, kau akan meledak. Kau akan membakar seluruh langit dengan kemarahanmu. Dan saat itu terjadi... tidak ada satu pun makhluk di dunia ini yang berani menatap mata langsung.

Bara api itu semakin hangat, menyebar ke seluruh pembuluh darah yang kaku. Rasa sakit di tubuhnya perlahan berkurang.

Ren membuka matanya. Kini tidak ada lagi air mata di sana. Yang tersisa hanyalah ketegasan yang dingin dan gelap.

"Mulai besok..." Ren berbicara pada dirinya sendiri, "Aku tidak akan lagi meminta-minta. Aku akan mengambil apa yang menjadi hakku. Dunia ini kejam? Baiklah... aku akan menjadi lebih kejam dari dunia ini!"

Malam itu, di bawah jembatan yang kumuh, lahir bukan lagi seorang anak manja yang terbuang, melainkan benih dari iblis yang akan mengguncang tatanan dunia.

1
Jade Meamoure
😍😍😍
Jade Meamoure
novel yg bagus...moga kedepannya anda tetap berkarya
Jade Meamoure
kisah percintaan d balut kultivasi tp aq salut Krn tk ada adegan yg vulgar hanya d novel anda lho Thor 👍👍👍 sukses n sehat selalu
Didit Nur
terlalu sombong dan terlalu pamer kekuatan
Didit Nur
MC nya terlalu sombong dan terlalu pamer kekuatan, biasanya air beriak tanda tak dalam. harusnya seperti laut yg tenang Namum memiliki ombak yg ganas
Cahya Laela Tsaniya
kata keren kayaknya kurang pas 🙏🏾🙏🏾🙏🏾mungkin kata luar biasa sedikit cocok.
.🙏🏾🙏🏾🙏🏾 maafkan saya sedikit sok tau🤭
Cahya Laela Tsaniya
terdengar aneh kata Mbak 🙏🏾🙏🏾,mungkin kata Mbak diganti Nona ,biar enak didengar🤭
Cahya Laela Tsaniya
semangat Thor 💪💪💪
Cahya Laela Tsaniya
Kayaknya ada yg terlewat / tidak terbaca ya🤔🤔🤔🤔??? Tingkatan kultivasi apa saja Thor??
Cahya Laela Tsaniya
semangat Thor 💪💪💪!!!!
T28J
semangat thor✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!