Soren Ravensdale-seorang assassin yang tak pernah gagal menjalankan misinya kini harus menerima kenyataan pahit ketika sahabat yang ia percaya-Vera, justru mengkhianatinya. Bukan hanya itu, Vera juga terlibat dalam pembunuhan adik angkatnya, Ellian Sorrel dan ternyata semua telah direncanakan atas perintah langsung dari ketua mereka sendiri.
Janji bahwa keluarga para anggota akan aman ... ternyata hanyalah kebohongan.
Dengan luka tembak di perutnya, Soren memilih mengakhiri hidupnya dengan kepercayaannya yang hancur dan terjun ke dasar jurang. Namun bukannya mati, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis rapuh dengan wajah yang sangat mirip dengannya.
Yang kini statusnya adalah menjadi istri seorang Letnan Kolonel yang dingin dan penuh rahasia.
Dari seorang assassin menjadi seorang istri, apakah Soren benar-benar bisa berhenti dari dunia yang sudah menelan hidupnya atau justru kehidupan barunya hanya akan menyeretnya kembali ke lingkaran kejahatan yang lebih gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luo Aige, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang VIP
Lu sempat berhenti sejenak, seolah baru mengingat sesuatu yang terlewat. Tatapannya bergeser ke arah Kellan, lalu kembali ke William yang berdiri di dekat meja kerjanya tanpa perubahan sikap.
“Ah … ada satu laporan lagi, Tuan. Kami hampir melupakannya,” ucapnya dengan nada tetap terkendali. Ia tidak menunda dan langsung melanjutkan.
“Tentang tawanan perdagangan manusia yang sempat dilaporkan kabur. Kami berhasil menemukannya, tetapi belum berani mengambil tindakan tanpa perintah Anda.”
Ruangan itu tetap tenang. Tidak ada suara lain, selain napas yang tertahan sesaat. William hanya mengangguk singkat, gerakannya kecil, tanpa ekspresi berlebih. Ia tidak memberi komentar, tetapi jelas mendengar dan memahami laporan tersebut.
“Apa yang dia lakukan?” tanyanya kemudian. Suaranya datar, namun langsung ke intinya. Kellan yang berdiri di samping Bram mengambil alih penjelasan dengan sikap tetap rapi. “Dia tidak pergi jauh, Tuan. Masih berada di sekitar Grimhaven. Di salah satu pemukiman kecil, gang sempit. Tidak mencolok.”
Bram menambahkan tanpa memotong alur. “Pergerakannya tidak seperti orang yang sedang melarikan diri. Dia tetap di sana … seperti sedang menunggu seseorang.” Penjelasan itu membuat jeda singkat di antara mereka. William tidak langsung menanggapi. Tatapannya turun sesaat, lalu kembali terangkat perlahan, seolah sedang menyusun sesuatu di kepalanya.
“Sepertinya … yang dikatakan istriku memang benar,” ucapnya pelan. Nada suaranya tidak berubah, tetapi arah pikirannya jelas sudah terbentuk. Ia tidak berhenti di sana dan langsung melanjutkan.
“Kalian sudah mendapatkan informasi siapa orang yang dia tunggu?”
Bram dan Kellan saling menoleh sekilas sebelum akhirnya menggeleng hampir bersamaan. “Belum, Tuan,” jawab Bram lebih dulu. Ia kemudian melanjutkan dengan nada yang lebih hati-hati.
“Namun sepertinya dia memiliki janji besok. Saat ini dia terlihat sedang berkemas, seperti bersiap meninggalkan Grimhaven sebelum menemuinya.”
Kellan menambahkan tanpa memotong, “Kalau dia memang tidak menunggu siapapun, seharusnya dia sudah pergi sejak awal setelah kabur dari sel.” William kembali diam beberapa detik. Ia tidak menunjukkan perubahan ekspresi, tetapi jelas sedang mempertimbangkan sesuatu sebelum mengambil keputusan.
“Awasi semua pergerakannya,” ucapnya kemudian. Ia tidak memberi penjelasan tambahan dan langsung menutup perintah itu dengan kalimat berikutnya, “Besok malam … kita yang akan bergerak.”
Bram dan Kellan langsung menegakkan posisi mereka, sikap mereka kembali lebih siap dari sebelumnya. “Baik, Tuan.”
~oo0oo~
Malam itu rumah terasa lebih sepi dari biasanya. Udara dingin turun perlahan, menyapu halaman depan yang hanya diterangi lampu redup di sisi teras. William sudah berdiri di bawah sejak beberapa saat lalu, posisinya tegak dengan satu tangan masuk ke saku celana. Rombongan lain telah berangkat lebih dulu bersama Bram dan Kellan, meninggalkan tempat itu dalam keadaan sunyi.
Langkah kaki terdengar dari dalam.
Aveline muncul dari ujung tangga, turun perlahan dari anak tangga satu ke anak tangga, lainnya. Dress yang ia kenakan jatuh pas mengikuti bentuk tubuhnya, sederhana namun jelas bukan pilihan pakaian untuk operasi malam. Rambutnya terurai, bergerak pelan tertiup angin yang masuk dari sisi terbuka teras. Ia tidak berusaha merapikannya. Tatapannya lurus ke depan, langkahnya stabil, seolah tidak ada yang perlu dipikirkan selain berjalan ke bawah.
William awalnya tidak memperhatikan. Ia hanya berdiri dengan fokus yang masih tertinggal dari rencana di kepalanya. Namun saat langkah itu mendekat, ia akhirnya menoleh dan berhenti.
Tatapannya bergerak dari atas ke bawah tanpa tergesa. Tidak lama, tapi cukup untuk menangkap seluruh detail yang seharusnya tidak ada di situ. Ia tidak langsung berbicara. Hanya diam beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas pendek.
“Sepertinya … kau benar-benar tidak tahu tempat,” ucapnya datar. “Aku sudah menyiapkan pakaian operasi untukmu. Tapi justru kau memilih berpakaian seperti ini.”
Ia menatapnya lagi, lebih tajam.
“Kita akan menyergap, bukan tampil di ruang pesta.”
Aveline tersenyum miring, sudut bibirnya terangkat tipis tanpa benar-benar hangat. Gadis itu berhenti satu langkah dari bawah, masih berdiri di tangga terakhir.
“Pakaian operasi?” ulangnya pelan. “Tuan Kolonel, apa kau serius menyuruhku mengenakan pakaian laki-laki?”
William hampir tertawa, tetapi hanya berhenti di napas pendek yang keluar dari hidungnya.
“Bukankah kemarin kau mengenakan piyamaku?” balasnya tanpa mengubah nada.
“Itu dua hal yang berbeda.”
William mengangkat alis sedikit. “Berbeda di mana?”
Aveline turun satu langkah lagi, kini berdiri sejajar dengannya.
“Aku memakainya karena aku memilih,” jawabnya tenang. “Bukan karena diperintah.”
William menatapnya beberapa detik. Tidak ada bantahan langsung.
“Kalau kau menghambat, kau tidak ikut,” katanya singkat.
Aveline tidak menjawab. Ia hanya berbalik sedikit, melangkah melewati William menuju arah mobil tanpa ragu.
“Kalau aku menghambat,” ucapnya santai tanpa menoleh. “Kau tidak akan membawaku sejak awal.”
Langkahnya tidak melambat.
William diam sejenak, lalu akhirnya mengikuti dari belakang tanpa mengatakan apapun lagi.
Mesin mobil menyala dengan suara halus, hampir tidak terdengar jika dibandingkan dengan sunyinya malam. William langsung menjalankan kendaraan tanpa ragu. Tangannya memgang setir dengan mantap, sedangkan matanya fokus ke jalan di depan. Lampu jalan memantul di kaca depan, berganti satu per satu saat mobil melaju keluar dari area Silvercrest menuju arah pelabuhan. Semakin jauh dari kawasan elite, jalan mulai berubah. Aspal tidak lagi sehalus sebelumnya, bangunan di sisi kiri kanan terlihat lebih padat, dan cahaya lampu menjadi lebih redup serta tidak merata.
Udara malam di Grimhaven terasa berbeda. Lebih lembap, berat, dan bercampur dengan bau laut yang samar. Dari kejauhan, suara musik sudah mulai terdengar—ritme yang tidak teratur, dengan hiruk pikuk suara orang dan kendaraan. William tidak memperlambat mobilnya sampai benar-benar mendekati titik yang dimaksud. Di sepanjang jalan, beberapa orang terlihat berdiri di sudut-sudut gelap, sebagian hanya diam, sebagian lain berbicara dengan suara pelan. Tidak ada yang memperhatikan mobil itu secara khusus, dan itulah yang memang diinginkan.
Akhirnya mobil melambat dan berhenti di sisi jalan yang sedikit lebih gelap dari sekitarnya. Lampu club terlihat jelas dari kejauhan, memantul di genangan kecil aspal. Di sana, Bram dan Kellan sudah menunggu. Penampilan mereka berbeda dari biasanya—tidak memakai seragam, dan juga tidak ada tanda yang menunjukkan mereka bagian dari militer. Pakaian kedua pria itu tampak sederhana, cukup untuk menyatu dengan orang-orang di sekitar.
Pintu mobil terbuka. Aveline turun lebih dulu dengan langkah teratur. Begitu ia berdiri tegak di bawah cahaya lampu yang redup, Bram dan Kellan sempat terpaku. Tatapan mereka berhenti terlalu lama, jelas tidak siap melihatnya dalam keadaan seperti itu—dress yang ia kenakan tetap mencolok meski warnanya tidak terang, rambut terurai yang bergerak pelan tertiup angin malam.
Beberapa detik itu terasa jelas.
Lalu William turun dari sisi lain mobil.
Tatapannya langsung mengarah ke mereka.
Bram dan Kellan segera berpaling, seperti baru tersadar bahwa mereka sudah terlalu lama memperhatikan. Sikap mereka kembali seperti sebelumnya, meskipun ketegangan masih terlihat di wajah mereka.
“Tu–tuan.…” Bram membuka suara, nadanya sedikit tergesa. “Orangnya sudah masuk ke dalam. Dia memesan ruang VIP.”
William tidak menjawab. Ia langsung melangkah menuju pintu masuk club.
Tetapi kaki jenjangnya terhenti seketika, ketika Aveline tiba-tiba saja berdiri di depannya, berbuat untuk menahan William tanpa menyentuh.
“Biar aku saja yang mengurus.”
William menatapnya tajam. “Kau gila?”
Aveline tidak mundur sedikit pun. Ia justru menatap balik pemilik iris mata keabu-abuan. “Kalau kau masuk dengan pakaian seperti itu, semua orang di dalam akan langsung panik,” ucapnya tenang.
“Serahkan saja padaku. Bram dan Kellan.”
Nama keduanya disebut begitu saja. Bram dan Kellan refleks saling menoleh, jelas tidak nyaman dengan peran yang tiba-tiba diberikan pada mereka, tetapi tidak berani menolak.
William diam beberapa detik. Rahangnya sedikit mengeras. Ia menoleh sekilas ke arah pintu club, lalu kembali ke Aveline.
Akhirnya ia mengangguk tipis.
“Kalian berdua,” katanya tanpa menaikkan suara. “Jangan lepas dari dia.”
“Siap, Tuan.”
William tidak ikut masuk. Ia tetap di luar bersama beberapa orang yang sudah lebih dulu ditempatkan di sekitar area. Posisi mereka menyebar, tidak mencolok, tetapi cukup untuk menutup jalur keluar. Tidak ada perwira lain yang dilibatkan malam ini. Ia sengaja menahan informasi itu, mengingat kemungkinan adanya orang dalam seperti yang sebelumnya dikatakan Aveline.
Aveline berjalan lebih dulu menuju pintu masuk. Bram dan Kellan mengikuti di belakang, menjaga jarak yang tidak terlalu dekat. Begitu pintu terbuka, suasana langsung berubah. Lampu redup, suara musik keras, dan keramaian orang menutup segala sesuatu yang mencurigakan. Bau alkohol dan asap bercampur di udara.
Langkah Aveline tidak melambat.
Ia berjalan melewati kerumunan tanpa terlihat ragu, seolah tempat itu bukan sesuatu yang asing. Bram mendekat sedikit dari samping.
“Ciri-cirinya?” tanya Aveline tanpa menoleh.
Bram menurunkan suaranya. “Pria. Tinggi sedang. Pakaian biasa. Tidak mencolok. Dia masuk sendirian di ruang VIP.”
Kellan menambahkan dari sisi lain. “Dia sedikif berkumis dan tidak terlalu banyak bicara. Jalannya lurus ke arah sana, Nona.”
Aveline mengangguk kecil.
Mereka bergerak lebih dalam. Melewati meja-meja, orang-orang yang tertawa, pelayan yang hilir mudik membawa minuman. Semua terlihat normal di permukaan, tetapi terlalu banyak gerakan kecil yang bisa menyembunyikan sesuatu.
Di sisi bar, Aveline melambat.
Tangannya bergerak singkat, mengambil selembar kain tipis yang tergantung di dekat rak minuman—bagian dari dekorasi atau mungkin milik pelayan yang tidak memperhatikan. Tanpa berhenti berjalan, ia mengangkat kain itu dan menutup sebagian wajahnya. Gerakannya cepat, tidak menarik perhatian.
Langkahnya tetap stabil.
Bram dan Kellan masih mengikuti di belakang, menjaga posisi.
Beberapa langkah kemudian, kerumunan menjadi lebih padat. Orang-orang bergerak saling bersentuhan, suara musik semakin keras, pandangan menjadi terbatas.
Kellan menoleh ke depan.
Kosong.
Membuat pria tersebut berhenti mendadak.
“Nona?” Suaranya rendah tapi tegang.
Bram langsung berbalik. Matanya menyapu area sekitar dengan cepat.
“Apa kau melihatnya?”
Kellan menggeleng cepat. “Tidak. Dia tadi di depan.”
Bram menahan napas sejenak, lalu rahangnya mengeras.
“Gawat … Nona hilang.”
Keduanya tidak menunggu lebih lama. Mereka langsung bergerak, membelah kerumunan, memeriksa setiap sudut yang mungkin menjadi jalur keluar. Keramaian yang tadi tampak biasa kini terasa sempit dan mengganggu.
Aveline sudah tidak terlihat di mana pun. Jika William tahu, bagaimana keduanya menjelaskan?
.
Keramaian club menelan suara dan langkah tanpa ampun. Musik yang terlalu keras membuat percakapan di sekitar hanya terdengar sebagai gumaman putus-putus. Lampu redup berwarna hangat memantul di permukaan meja dan botol-botol kaca, menciptakan bayangan bergerak yang tidak pernah benar-benar diam. Di tengah arus orang yang terus bergerak, sosok Aveline sudah tidak lagi berada di jalur yang sama dengan Bram dan Kellan.
Aveline tidak berhenti sejak mengambil kain tipis itu.
Dengan sebagian wajah tertutup, langkahnya justru semakin terarah. Ia tidak lagi mengikuti arus, melainkan memotongnya. Bahunya menyenggol satu dua orang, tetapi tidak ada yang benar-benar memperhatikan. Di tempat seperti itu, sentuhan kecil bukan hal yang aneh. Tangannya sesekali menyentuh meja atau kursi di sisi jalannya, sekadar menjaga arah tanpa terlihat ragu.
Beberapa langkah kemudian, ia berbelok. Suasana langsung berubah.
Suara musik masih terdengar, tetapi tidak sekeras sebelumnya. Lorong itu lebih sempit, dengan pencahayaan yang lebih redup dan terfokus. Di sepanjang dinding, terdapat beberapa pintu tertutup dengan nomor kecil di sampingnya. Tidak ada keramaian di sana, hanya sesekali pelayan yang lewat dengan langkah cepat.
Aveline memperlambat kedua kakinya.
Matanya bergerak, mengamati setiap detail tanpa menolehkan kepala terlalu jelas. Cara berdirinya berubah sedikit—lebih santai dan ringan, seolah ia memang bagian dari tempat itu. Kain yang menutupi wajahnya ia turunkan perlahan, kini hanya tersisa di tangannya.
Saat itu ....
Satu pintu di ujung lorong terbuka.
Seorang pria keluar, bukan orang yang ia cari. Namun di belakangnya, dalam celah yang hanya terbuka sesaat, Aveline melihat sesuatu.
Seseorang masuk ke dalam.
Pria itu memakai topeng. Penampilannya biasa, tidak mencolok. Namun langkahnya … tenang, teratur, dan tanpa ragu. Cara ia masuk ke dalam ruangan itu tidak seperti tamu biasa.
Pintu tertutup kembali membuat Aveline berhenti.
Ia tidak langsung bergerak mendekat. Tatapannya tertahan pada pintu itu selama beberapa detik, memastikan apa yang baru saja ia lihat tidak keliru. Jaraknya tidak terlalu jauh, tetapi cukup untuk membuatnya tidak terlihat mencurigakan.
Ia menarik napas pelan.
Dress yang Aveline kenakan bergerak ringan saat ia menggeser berat tubuhnya ke satu sisi. Tanpa terburu-buru, ia melangkah ke arah meja kecil di dekat dinding, mengambil satu gelas kosong yang ditinggalkan tanpa penjaga. Gerakannya halus, seperti seseorang yang sudah terbiasa berada di tempat seperti itu.
Lalu kemudian ia berbalik.
Berjalan menuju pintu ruang VIP itu, tidak lagi sebagai seseorang yang datang sebagai mata-mata, tetapi sebagai bagian dari alur tempat tersebut. Posisi bahunya sedikit diturunkan, cara pandangnya tidak lagi terlalu tajam. Ia menyesuaikan diri dengan peran yang tidak perlu diucapkan—wanita yang seharusnya memang bisa berada di sana tanpa dipertanyakan.
Beberapa langkah sebelum mencapai pintu, seorang pelayan lewat di depannya.
Aveline berhenti sejenak, lalu menggeser tubuhnya sedikit, memberi jalan dengan gerakan yang cukup natural. Dalam satu momen singkat itu, ia menangkap arah gerak pelayan tersebut—dari dapur menuju lorong VIP.
Cukup. Aveline tidak perlu mengikuti pelayan itu lebih jauh. Dari arah langkahnya saja, ia sudah tahu jalur mana yang biasa dipakai orang-orang tempat itu untuk keluar masuk ruang VIP tanpa menarik perhatian tamu. Ia menurunkan gelas kosong di tangannya sedikit, lalu kembali berjalan menuju pintu dengan langkah yang tenang, seolah ia memang sedang menjalankan tugas kecil yang tidak perlu dipertanyakan.
Ketika sampai di depan pintu, gadis itu tidak langsung masuk. Jemarinya menyentuh gagang pintu, sementara telinganya menangkap suara percakapan rendah dari dalam. Tidak jelas seluruhnya, tetapi cukup untuk memastikan ada lebih dari dua orang di ruangan itu. Aveline menahan napas sebentar, lalu mendorong pintu perlahan.
Cahaya di dalam lebih redup daripada lorong. Ruangan itu tertutup rapat, hanya diterangi beberapa lampu kecil di dekat dinding dan meja. Bau alkohol yang lebih pekat memenuhi udara. Saat pintu terbuka, percakapan di dalam langsung terhenti, dan beberapa pasang mata berpaling ke arahnya.
Aveline tidak menunjukkan rasa terkejut. Ia masuk dengan gelas kosong di tangan, wajahnya tetap tenang, seperti wanita yang memang biasa keluar masuk ruangan tamu tanpa perlu menjelaskan siapa dirinya. Tatapannya bergerak sekilas, menangkap posisi pria tanpa topeng yang tadi dijelaskan Bram, lalu berhenti sepersekian detik pada sosok bertopeng yang duduk lebih jauh dari cahaya.
Pria bertopeng itu tidak bergerak.
Ia hanya menatap Aveline dari balik topengnya.
Dan yang membuat Aveline menajamkan perhatian bukan topeng itu, melainkan cara pria itu duduk dengan tegap.
Aveline tersenyum tipis.
Sepertinya malam ini tidak akan selesai secepat yang William kira.
.
.
.
Bersambung