NovelToon NovelToon
Kontrak Nikah Boss Dody : Demi Nafas Nonik

Kontrak Nikah Boss Dody : Demi Nafas Nonik

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Alya Senja

Demi nafas Nonik, Santi OB miskin rela jual harga diri.
Demi warisan triliunan Opa Darwis, Dody CEO dingin butuh istri kontrak.

Satu tanda tangan di UGD, satu cap jempol Nonik yg sekarat.
Kontrak nikah 250 juta resmi dibuat.

Dia istri di atas kertas. Dia suami yg membeku.
Di antara mereka ada Nonik, bocah 5 tahun yang nyawanya jadi taruhan.

Bisakah hati sedingin es Dody luluh oleh tangis Santi?
Sementara Wati sang HRD dan Wandy sang tunangan siap menikam dari belakang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAGAS MUNCUL

“Ha … ha … ha …”

Pak Sukma tertawa, tapi tawanya terdengar kosong.

Dia berusaha menutupi ketakutannya sendiri.

Dua orang muka seram di belakangnya ikut tertawa, suara mereka kasar dan tidak enak didengar.

“Dody … Dody ….”

Kata pak Sukma dengan nada mengejek.

Dia sengaja merendahkan Dody di depan semua orang.

“Kau ini tidak dianggap opamu sendiri!”

Sambungnya lagi, suaranya makin meremehkan.

“Kau terbuang dari keluargamu sendiri!”

Dody menggeram. Tangannya menggenggam erat sampai buku-buku jarinya memutih.

“Lalu kau boleh bertindak seenakmu sendiri pada karyawanku!”

Kata Dody keras, menahan amarah yang hampir meledak.

“Karyawanmu!”

Kata pak Sukma mengejek, mulutnya miring penuh hinaan.

“Itu bukan karyawanmu! Kau saja tak punya pekerjaan!”

Dody semakin mengepalkan tangannya. Dadanya naik turun menahan emosi. Perkataan pak Sukma itu menusuk tepat dihatinya.

Ita menjadi tenang. Tubuhnya yang sedari tadi gemetar mulai reda.

Mimpi apa dia hingga bisa memeluk pak Dody sedekat ini? Hangatnya lengan itu membuat ketakutan yang mencekiknya perlahan menghilang.

“Bukan kau yang tentukan!”

Teriak Dody memecah keheningan.

Matanya menyala penuh amarah.

“Ha … ha … ha …”

Pak Sukma tertawa sumbang.

Suaranya terdengar dipaksakan. Hatinya sebenarnya ragu dengan perkataannya sendiri. Dia tidak menyangka Dody akan bereaksi segalak ini.

Tapi sudah terlanjur masuk air, sekalian basah saja. Gengsi seorang pak Sukma tidak boleh jatuh di depan orang upahannya. Dia memberi isyarat pelan pada dua orang di belakangnya untuk mendekat. Matanya tidak berkedip menatap Dody.

“Bereskan dia!”

Perintahnya dingin, tanpa emosi.

Dua orang itu mengangguk singkat. Langkah mereka berat tapi pasti, maju ke depan. Bayangan mereka menutupi cahaya lampu yang redup, membuat suasana makin mencekam

Dody merasakan itu. Perlahan dia melepaskan pelukan Ita.

“Kau kebelakangku!”

Suara Dody rendah namun tegas.

“Jangan takut! Apapun yang terjadi, jangan keluar dari belakangku.”

Tandasnya lagi, seolah ingin menanamkan keberanian itu ke dalam hati Ita.

Ita hanya mengangguk. Tangannya mencengkeram ujung baju Dody erat-erat.

Dua orang muka seram itu tertawa bersama.

“Baiknya kau nurut saja! Tak usah menolak!”

Kata dua orang itu sambil mengitari Dody pelan, seperti serigala yang mengepung mangsa.

Dody tidak bergerak. Matanya tajam mengawasi setiap gerakan mereka. Dia sudah belajar bela diri dari Ritonga dan beberapa orang lain di negara A. berbagai aliran bela diri dikuasainya. Karena itu, dia tidak gentar menghadapi dua orang ini.

Tanpa aba-aba, keduanya menerjang bersamaan. Dody bergerak cepat. Tubuhnya meliuk ke samping, menghindari serangan pertama dengan mulus. Kecepatannya membuat dua orang itu terperangah.

“Kau … menghindar!”

Salah satu dari mereka berteriak tidak percaya.

Belum sempat Dody menjawab, orang satunya tiba-tiba menyerang dari belakang. Serangannya mengarah ke punggung. Tapi Dody sudah mendengarnya. Dia memutar badan dan meloloskan diri dengan langkah kecil ke samping. Hantaman itu hanya mengenai udara.

Dody dengan cepat meloloskan diri dari hantaman itu.

“Kau menyerah saja!”

Bentak orang muka seram satunya, kesal karena serangannya meleset terus.

“Iya menyerah! Jalan terbaik buatmu!”

Sambung temannya sambil mengepalkan tangan besarnya.

“Dua lawan satu. Mustahil kau menang.”

“Nih kenalkan. Bang Rawi, jagoan dari Siwahan!”

Orang itu menepuk dadanya bangga.

“Dan aku, bang Tarwi jagoan dari … eh … darimana ya?”

Bang Tarwi menggaruk kepala, bingung sendiri.

“Heh, bukankah kau dari Timba?”

Tanya bang Rawi sambil nyengir

“Ah, ya! Aku bang Tarwi jagoan dari Timba!”

Kata bang Tarwi penuh percaya diri, dadanya dibusungkan seolah barusan menang turnamen nasional.

Dody hanya diam di tempat. Dia memandangi dua orang di depannya dengan alis naik sebelah. Penampilan mereka memang menyeramkan dengan kaos robek dan bandana merah, tapi cara mereka berdiri saja sudah terlihat canggung. Jelas sekali, dua orang itu hanya berlagak.

“Ayuk Rawi kita tangkap orang ini!”

Seru Tarwi sambil menunjuk Dody dengan jari gemetar.

Entah gemetar karena semangat atau karena gugup.

Kata Tarwi itu diucapkan dengan nada penuh kebanggaan, seolah dia baru saja menemukan alasan untuk memuji dirinya sendiri.

Tanpa menunggu jawaban, keduanya langsung memperagakan gerakan-gerakan seperti silat. Tangan mereka menebas udara kosong, kaki mereka menginjak tanah dengan keras, tapi kuda-kudanya lebih mirip orang mau jatuh.

“Eit! Lihat baik-baik! Ini jurus Kera Putih dari Gunung R!”

Teriak bang Rawi sambil melompat-lompat aneh. Kedua tangannya dicakar-cakarkan ke udara.

Teriak bang Rawi.

“Dan ini jurus Ular Hitam dari Gua Siluman!”

Timbal bang Tarwi.

Dia merayap di tanah sambil mendesis pelan, “Ssshhh … ssshhh …”

Dody menahan tawanya mati-matian. Pundaknya bergetar.

Jagoan apaan gerakannya amburadul begitu? Begitu saja mau dibanggakan?

Pikirnya dalam hati. Kalau bukan karena situasi genting, mungkin dia sudah tertawa terbahak-bahak.

“Heh! Jangan berlagak! Cepet bereskan dia!”

Teriak pak Sukma memecah suasana. Wajahnya merah padam, urat di lehernya menonjol. Dia jelas kesal melihat dua orang upahan yang dia bayar mahal hanya pamer gerakan konyol.

“Aku bayar kalian bukan untuk berbangga diri! Aku bayar kalian untuk menangkapnya, bukan menari di depannya!”

Sekali lagi pak Sukma berteriak, suaranya menggelegar.

Tarwi dan Rawi langsung menghentikan aksinya. Keduanya saling pandang, wajah mereka berubah canggung. Kepercayaan diri yang tadi menggebu-gebu sekarang luntur kayak cat kehujanan.

“Untuk kerja! Mana hasil kerjanya!”

Mata pak Sukma melotot seperti ikan koki mata balon. Urat di dahinya hampir mau putus.

Ita yang berdiri di belakang menahan tawanya. Bahunya bergetar hebat, dia menekap mulutnya erat-erat biar tidak ketahuan. Pemandangan dua jagoan abal-abal dimarahi kayak anak kecil itu terlalu lucu.

“Baik boss! Sekarang kami serius!”

Kata kedua orang itu bersamaan, suaranya tinggi karena gugup.

Tarwi buru-buru maju selangkah, tangannya mengepal. Rawi ikut pasang kuda-kuda, walau lututnya masih gemetar.

Tapi sebelum mereka sempat bergerak, suara langkah kaki berat terdengar.

Kali ini lebih dekat.

Tok. Tok. Tok.

Setiap langkahnya membuat debu di tanah bergetar.

Dody mengangkat wajahnya perlahan. Dadanya berdebar bukan karena takut. Ada perasaan familiar. Sangat dekat. Orang yang dikenalnya pada masa lalu.

Pak Sukma juga terdiam. Amarah di wajahnya berubah jadi waspada.

“Siapa …?”

Gumannya pelan.

Bayangan tinggi itu akhirnya muncul di ujung cahaya lampu jalan. Posturnya besar, wajahnya tertutup topi dan di tangannya … ada sesuatu yang mengkilat.

Dody membeku. Dadanya sesak. Bukan karena takut. Tapi dia kenal orang itu lebih dari siapa pun.

“Bagas …”

Gumannya pelan, hampir tak kedengaran.

Sosok itu berhenti tiga meter di depan mereka. Dia menurunkan topinya perlahan. Wajah yang dulunya sama persis dengan Dody sekarang penuh bekas garis melintang. Gurat merah mengular dari pipi kiri sampai dagu, seperti peta permainan belum selesai. Mata kanannya sedikit sipit, bekas sabetan yang nyaris merenggut penglihatannya.

Tarwi dan Rawi mundur dua langkah. Bahkan pak Sukma yang galak itu menelan ludah.

“Kau … siapa?

Tanya Tarwi gugup.

Bagas tidak menjawab. Tatapannya tertuju lurus ke Dody. Dingin, kosong. Seperti melihat orang asing.

“Lama tak ketemu, adik kecil.”

Kata Bagas akhirnya.

Suaranya serak, berat dan penuh luka yang tidak terlihat.

Ingat tempat rahasia. Dekat pohon Akasia kanal B.”

Kata Bagas dengan suara serak menyeramkan.

“Tutup Kanal A, buka kanal B!”

Kata Dody dengan lantang.

Dia mengingat kode rahasia untuk tempat persembunyian bagi dia dan Bagas semasa kecil. Suatu tempat rahasia dekat Sungai G. tempat itu hanya dia dan Bagas yang tahu.

“Apa yang terjadi padamu!”

Kata Dody mendekat ke Bagas.

Tapi Bagas memberi tanda pada tangannya untuk mundur.

Bagas tersenyum miring. Senyum itu tidak hangat. Justru membuat merinding.

“Apa yang terjadi? Bukan. Aku diambil. Diangkat anak sama Moserat.

Nama itu membuat pak Sukma mundur selangkah. Bahkan Ita yang tadi masih ketawa sekarang diam kaku. Moserat. Salah satu mafia tua yang jarang muncul tapi kalau muncul, selalu bawa maut.

*

*

*

“Ini pesan dari Moserat untuk anak yang lari!”

Kata Bagas dengan tatapan kosong.

Di tangannya bilah mengkilat mengarah ke leher Dody. Jaraknya tinggal 5 cm. Dody tidak bisa gerak. Nafasnya tertahan.

Bersambung

1
gendiz
semangat ya
Alya Senja: Terima kasih kak sudah mampir
total 1 replies
MayAyunda
keren
Alya Senja: Makasih kak sudah mampir 🙏
total 1 replies
Alya Senja
ya terima kasih mau mampir kak. Kita langsung ya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!