NovelToon NovelToon
Something Between Us

Something Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Idola sekolah
Popularitas:32
Nilai: 5
Nama Author: NitaLa

Some adalah gadis SMA biasa, selain karena di seorang seleb sosial media. Dia dikenal cewek yang ceria dan anak OSIS, sampai suatu ketika dia mendapat kabar dari dokter kepercayaan ayahnya kalau ia ada gejala kanker. Ditengah air mata yang tak dapat terbendung, sang mama dan papa malah membuat sebuah kencan - kencang dengan anak - anak rekan kerja mereka. Agar Some dapat menikah dengan pria yang bertanggung jawab, dan diantara cowok - cowok kayak itu mengapa harus Dinner. Orang yang mengawali kencan pertama kali, dan anak baru di sekolah Some. Ternyata alasannya sangat klasik, itu pun berlaku untuk Dinner yang memiliki keluarga super fanatik. Ketika dia mau dijodohkan dan serius dengan Some, karena kencan itu, maka mereka merestui seolah kasta mereka sama.

🌷Judul Aslinya : Something
🌷Tidak ada unsur plagiat, setiap detail saya harap bisa memenuhi itu
🌷Tema : Fiksi Remaja, Cinta Paksaan, dan Percintaan Dewasa
🌷Detail Hubungan : Perjodohan Kencan, Kekayaan, Gengsi, Perusahaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NitaLa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Between 35

Dinner Tidak Apa - Apa

**

Seperti biasa Some datang ke sekolah dengan wajah lesu, dan tubuh lunglai. Baru saja sampai di depan kelasnya, ia sudah merasakan itu semua. Padahal biasanya ia masih sempat berlarian, ke kantin untuk membeli pulpen. Namun karena kondisinya yang kurang fit ini, mama dan papa sebisa mungkin memenuhi kebutuhan Some. Dia dengan mata yang berkaca - kaca menatap sebuah tag kelas di atas pintu, ia di kelas IPA 2 itu dirinya habisnya diri untuk bersenang - senang dan belajar, bahan Some tak pernah menduga, dipertengahan persahabatannya di dirinya terserang penyakit ini.

"Some baru datang," ujar Ayu salah satu dari teman Some di kelas IPA 2. Dia nampak tersenyum meski hanya senyum samar yang mampu mendeskripsikan kalau sebenarnya ia tidak mau terlalu dikawatirkan. Ayu datang hanya menyembulkan kepalnya di depan pintu.

"Iya, tadi langsung jalan dari parkiran ke sini, lumayan agak lemes juga karena agak jauh," jawabnya.

"Masih dalam kondisi yang nggak baik ya Some, mau gue anterin ke dalam?" tawarnya. Some langsung terima beberapa saat, benarkah dirinya diketahui teman kelasnya kalau sedang sakit.

"Kenapa bisa tahu, bukannya gue biasanya aja. Kan cuma gejala lelah aja," ujarnya tak menghiraukan tawaran itu.

"Kenapa nggak perhatikan sama teman kelas sendiri. Biasnya kamu paling ceria dan lincah di kelas, habis kamu di gosipkan dekat dengan Dinner, kamu jadi sering diam di kelas," ujarnya nampak sekali sangat jujur bahkan ia tidak menutupi apapun. Membuat Some mendengar menggaruk tengkuk, belum apa - apa sudah diingatkan tentang Dinner.

"Maaf ya kalau gue berubah," ujar Some.

Ayu menyandarkan punggungnya pada pintu, berkat Some yang berubah itu dia jadi nggak suka rival sama Some. Dia jadi lebih sering di lihat, ketika menjadi sekretaris. "Ngak apa - apa kali, perubahan loe lebih  bikin teman - teman pada peduli sama loe," jawab Ayu. Namun di balik itu semua Some merasa rindu dirinya yang sehat, dan dirinya yang tidak dengan pikiran terbayang pada operasi.

Some menghentikan langkah Ayu yang hendak meninggalkannya ke dalam, "Gue mau di antar sama loe. Tapi gue punya satu pertanyaan?" katanya membuat Ayu terdiam beberapa saat lalu Kemabli menatapnya.

"Apa, gue bisa dengarkan kok," ujarnya sambil merangkul tangan Some untuk membawanya ke kursinya di belakang.

"Loe lebih suka gue yang sekarang atau yang dulu?" tanya Some ingin tahu. Kalau unjuk rasa Ayu cuma hanya karena dia diperhatikan, itu nggak care namanya. Ayu menatap Some bingung.

"Sama saja, gue tahu kok keadaan loe lagi nggak sehat, gue masih waras kali buat dukung loe, good luck ya," ujarnya sambil merasa bahu rapuh Some. Dia nampak menghawatirkan Some di satu sisi, yang membuat senyum Some kian menghangat.

"Thanks," jawab Some lalu dia dipimpin jalan oleh Ayu ke bangkunya. Setelah sampai Cassie dan Dina, juga Setyo memerhatikan sambil bilang terima kasih pada Ayu yang beranjak pergi.

"Loe baik - baik aja kan?" tanya Cassie perhatian. Ia tadi malem mendapat pesan dari Some, jelas setelah itu ia membaginya pada Dina dan Setyo. Dan jelas juga mereka akan menemani masa tersulit Some di rumah sakit nanti.

"Baik kok, yah meskipun besok gue harus operasi lagi," jawabnya lesu dengan nada pelan agar tak didengar orang lain.

"Buset Some gws gue nggak percaya akan fatal gini," kata Setyo sambil mengusap wajahnya terasa khawatir.

"Gue nggak percaya akan ada pengecekan ulang, gue harap loe kembali sehat," kata Dina sedih. Dia dari tadi merencanakan segara cara agar melihat Some lebih tenang untuk ini.

"Ya sudah yang penting loe bersedia, dan loe nggak kepikiran tengang besok oke?" ujar semangat Cassie yang membuat Some mengangguk seketika. Bukannya sebaiknya Some lebih senang karena akan operasi demi penyembuhan, di lain waktu mungkin dokter bilang kalau kanker itu berhasil di selamatkan.

Some duduk di bangkunya dengan tenang, Tidka terlalu ikut obrolan ketika teman - temannya kembali mengobrol tentang pemilihan OSIS yang curang. Benar, Some dan Dinner sempat menjadi juara bertahan dalam OSIS, namun papa dengan berat hati meminta kemunduran pada Some. Jadi kepala sekolah mengganti kandidat lain, yang akhirnya di menangkan oleh anak IPA lain.

"Kok melamun?" tanya Dina yang mengagetkan Some.

"Iya Din keinget mimpi gue yang ingin jadi OSIS," ujar Some. Dine menatapnya sambil menggoda.

"Keinget OSIS apa teman satu grup loe nih," goda Dina membuat Some tersipu. Meskipun begitu tetap saja Some dan Dinner akan ikut organisasi untuk melancarkan acara mereka.

"Ngapain juga ingat sama dia, lagian kita udah tunangan ya ingat," ujar Some dengan keki. Membuat Dina memberengut karena kalah merayu.

"Masih calon kali, makannya yang semangat hidupnya," balas Dina membuat Some menghembuskan nafas pasrah.

Mereka langsung duduk dengan tenang ketika guru datang ke kelas. Dina dan Setyo lantas pindah duduk, jadi Some sendirian bareng Cassie. Ketika pembelajaran di mulai Some masih kepikiran kata - kata Dina, apakah mungkin penyakit ini datang karena dia sendiri yang tak pernah menghargai hidup saat ini dan nanti.

Kebanyakan melamun sampai Some tak sadar, darah segar mengalir di hidungnya.

"Benarkan gue emang lemah, apa untungnya penyakit ini bagi gue," kesal Some dalam hati.

**

Pagi akhirnya datang, membangunkan Some yang sedang tertidur di sebuah brangkar rumah sakit. Tadi malam seperti yang di minta Dokter Rafaella ia telah berada di rumah sakit, dan hari ini ia sudah di infus dalam keperluan untuk operasi nanti. Papa dan Ranu nampak tertidur di sofa, sedangkan mama memegang tangannya di sebelahnya nampak kelelahan.

"Udah kebangun cantik?" tanyanya lembut, ketika tadi sempat membuka gorden rumah sakit yang berwarna jingga itu. Some selalu betah tinggal di sini, merasa ketenangan. Padahal hanya sebuah ruangan rawat. Tapi kekompakan keluarganya begitu terasa, yang jarang dirasakan ketika berada di rumah.

"Udah ma," jawab Some ceria dengan senyum yang mengembang seolah menyambut pagi tanpa tapi. Mama lantas senang melihatnya.

"Kamu selalu kelihatan baik - baik saja Some, itu membuat mama selalu sadar kalau penyembuhan ini akan berhasil," ujarnya sambil menghembuskan nafas sedih. Bagaimana mungkin hal yang tak pernah ia bayangkan untuk melihat anaknya operasi, datang secara tak pernah ia duga.

"Ma nggak semua penyakit bisa sembuh oleh dokter atau rumah sakit mahal," ujar Some tidak setuju.

"Tapi kesembuhan kamu itu berarti untuk mama dan papa, jangan putus semangat gitu," ujarnya lalu Some cemberut tapi kemudian mengangguk setuju.

"Iya deh. Ingat ya doa dan harapan mama pasti di kabulkan sama Allah, dan tanpa melihat Some di dunia ini pun," katanya seperti tanpa ada beban namun mama langsung menatapnya tajam.

"Allah beneran jahat banget kalau ngambil Some dari rengkuhan mama. Tapi mama tetap mau berdoa," balasnya yang langsung disambut tawa renyah papa setelah bangun.

"Selamat pagi anak papa, yang mau merasakan jarum lagi di dadanya," ujar papa sambil mendekati Some dan mencium kening gadis kecilnya itu. Some tak kuasa menahan senang.

"Pagi gue pa, Some harap rasa Sakir ini bisa terbayar dengan kesembuhan total," jawabnya.

"Ya pasti dong, lagian nggak bakalan sakit sekali kalau emang Some bisa melupakannya. Papa udah tunjuk dokter terbaik, juga suster baik, juga peralatan yang lebih memadai," jawabnya yang selalu memberikan yang terbaik. Sedangkan Some hanya merasa risih dan semakin takut mengecewakan mereka.

"Kenapa nggak sekalian ke Singapura?" heran Some, kalau emang itu membawa kesembuhan mengapa harus di Indonesia.

"Sayang papa baru dengar tadi dari dokter Hanry, katanya penyakit kamu akan dibersihkan lewat metode ini. Well, papa yakin kanker itu akan mati," ujarnya optimis. "Well, kenapa papa harus ke ruang sakit lain," lanjutnya yang membuat Some tertawa.

"Kamu mandi dulu Some, operasinya akan berlangsung dua jam lagi. Yuk," ajak mama sambil merentangkan tangan. Some merasa mual, namun setelah itu ia duduk dan bersiap untuk membersihkan diri.

Selesai mandi Some langsung duduk di brangkar, dengan wajah yang lebih fresh. Ia menikmati sarapan paginya yang hanya buah, dan bubur tanpa rasa. Hingga terbukanya pintu ruang rawat, menyadarkannya. Dinner datang dengan baju santai, hanya kaos dan celana panjang skinny.

Ia menyimpan berbagai aneka makanan ringan di meja perapian. "Maaf kemarin gue nggak ada waktu ke kelas loe, jadi kita nggak ngobrol apa - apa. Padahal banyak yang mau di bahas," katanya cuek.

"Nggak ada bahkan semuanya sampai random pernah kita coba. Tapi tetap santai, tanpa perasaan," jawab Some.

"Enak aja gue udah sebisa mungkin menjaga hubungan ini, dan perasaan kita," katanya sambil duduk di kursi sebelah Some.

"Sama saja gue juga," jawab Some santai sambil menunduk.

"Gimana kesehatan loe itu yang harus di bahas," ujar Dinner.

"Gue baik - baik aja, masih suka mimisan kemarin di sekolah dan sampai sekarang lemes aja," katanya seperti biasa untuk mencairkan suasana. Dinner  memegang kening Some.

"Jadi pas di sekolah mimisan, kenapa nggak datang ke kelas gue, siapa tahu perutnya kosong, lagi sakit," ujar Dinner perhatian. Some terdiam sejenak.

"Dinner Tidak apa - apa gue baik - baik aja, Kita itu cuma semu, belum tentu gue bisa sama loe," kesal Some.

"Gue tenang aja, gue bisa menjaga loe meskipun pada akhirnya gue tahu bagaimana," ujarnya seolah memberi harapan. Some langsung merebahkan dirinya di dada Dinner, melihat rengkuhan yang berusaha ia perlihatkan. 

**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!