NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Tubuh Istri Gendut Sang CEO

Transmigrasi Ke Tubuh Istri Gendut Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Romansa Fantasi
Popularitas:20.2k
Nilai: 5
Nama Author: ElleaNeor

Yvone Faranes adalah seorang Mafia yang memiliki keahlian dalam bidang persenjataan, meracik obat-obatan dan racun, tewas akibat konspirasi dari beberapa orang. Bukannya ke alam baka, Yvone justru terbangun di tubuh gendut milik Rose Reinhart.


Rose Reinhart adalah istri dari Arsen Reinhart 32 tahun, yang meninggal dunia akibat overdosis obat-obatan yang dikonsumsinya. Semasa hidup, ia selalu dihina dan direndahkan oleh keluarga suaminya karena kondisi fisiknya yang gendut dan jelek.


Bahkan Arsen, suaminya sendiri enggan menyentuhnya lantaran tubuhnya itu. Tidak hanya itu, Rose kerap dihina karena tak kunjung memberikan keturunan bagi keluarga Reinhart.


Hingga kehadiran Renata, disebut-sebut akan menjadi pengganti Rose untuk memberikan apa yang keluarga Reinhart inginkan.


Kini, Rose berbeda. Dengan keahlian milik Yvone yang berada di tubuhnya, ia merubah penampilannya dan memberi pelajaran pada orang-orang yang menindasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElleaNeor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Salah Tingkah

“Kenapa tidak mau minum obat?” tanya Arsen.

“Karena aku tidak sakit!” Yvone membuang muka. Di dunia bawah, ia telah menghadapi banyak pria berkuasa. Tetapi, entah mengapa saat berhadapan dengan Arsen, Yvone jadi salah tingkah.

Yvone menarik napas panjang. Meyakinkan dirinya, ‘Ingat, Yvone. Dia suami orang,’ batin Yvone.

“Apa maksudmu?” Kening Arsen mengkerut.

“Obat yang kuminum setiap hari adalah rekomendasi Mama. Apa kau tahu itu obat apa?” Yvone balik bertanya. Kedua tangannya terlipat di perut.

Arsen menatap Yvone, “Vitamin kesuburan dan penekan nafsu makan.”

“Itu kata Mama,” sahut Yvone lagi.

“Sebenarnya apa yang ingin kau katakan, Rose?”

Yvone menghela napas panjang. Ia ingin mengatakan banyak hal. Tetapi, ia yakin Arsen tidak akan mempercayainya. Otak pria itu telah diracuni oleh ibunya.

Yvone harus mencari bukti-bukti terlebih dahulu. Barulah ia bisa meyakinkan Arsen tentang niat ibunya yang sebenarnya.

“Tidak ada. Intinya aku tidak mau lagi minum obat itu!” seru Yvone kemudian menyibukkan diri dengan merapikan seprai yang sebenarnya sama sekali bukan keahliannya.

Yvone tidak ingin berlama-lama bertukar pandang dengan Arsen karena itu hanya akan membuat dirinya semakin tidak terkendali.

“Tidak mau minum obat tidak apa-apa. Tapi kita makan dulu,” ucap Arsen lagi.

Mendengar itu, Yvone segera menyanggah, “Aku tidak makan malam.”

Arsen terkesiap, menatap punggung lebar yang tak jauh darinya. Memperhatikan istrinya dengan tatapan tak dapat diartikan. Sejak bangun dari kematian, Arsen merasa Rose sedikit berubah.

Dari gaya bicaranya, gestur tubuhnya serta ekspresi wajahnya yang terlihat lebih dingin. Keteduhan di matanya pun menghilang, berganti dengan tatapan tajam seperti elang. Hal itu membuat Arsen bertanya-tanya.

“Sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kau banyak berubah?” Arsen akhirnya mengungkapkan isi pikirannya.

Yvone menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia terdiam, ekor matanya terarah ke belakang. Ia dapat melihat Arsen masih berdiri di tempatnya, tatapannya tajam menghujam. Yvone memutar tubuhnya menghadap Arsen.

Suasana menjadi sangat hening. Bagi Yvone, itu adalah pertanyaan bodoh. Yvone dan Rose adalah orang yang berbeda jauh. Namun, karena sebuah takdir yang tak masuk akal, Yvone masuk ke dalam tubuh Rose. Entah bagaimana reaksi Arsen bila tahu soal itu.

“Aku…” Yvone hendak menjawab saat tiba-tiba terdengar suara seorang pelayan.

“Tuan, Nona Renata menelpon.”

Arsen segera menoleh, lalu berkata, “Ya baiklah.” Pria itu meninggalkan Yvone tanpa sepatah kata pun. Dan itu membuat Yvone kesal.

“Apa-apaan ini? Dia langsung pergi begitu nama Renata disebut. Jangan-jangan dia memang menyukai Renata,” gerutu Yvonne.

Jika itu benar terjadi, Yvone tidak akan tinggal diam. Ia harus segera menyusun rencana. Yvone memanggil Sui, dan memintanya untuk menemuinya di kamar.

“Nyonya memanggil saya?” tanya Sui.

“Sui, apa kau bisa merekomendasikan seorang dokter?” tanya Yvone.

“Dokter? Bukankah keluarga ini memiliki Dokter pribadi?” Sui balik bertanya.

Ingatan Yvone terlempar pada saat pertama dirinya bangun. Sepertinya Dokter itulah yang dimaksud oleh Sui.

“Dokter itu, apa dia bisa menjaga rahasia? Dia adalah Dokter pribadi keluarga Reinhart, sudah pasti dia akan mendukung keluarga ini,” ujar Yvone.

“Tidak, Nyonya salah. Meski Dokter Darwis adalah Dokter pribadi keluarga ini, dia tidak terlalu disukai karena sangat dekat dengan Nyonya.” Sui celingukan melihat ke arah pintu, takut ada yang mendengar, kemudian ia mencondongkan wajahnya ke arah Yvone. “Diketahui Dokter Darwis pernah menyukai Nyonya,” bisik Sui yang membuat Yvone terkejut.

“Apa? Yang benar saja?” Yvone menatap Sui tidak percaya.

“Pelankan suara Nyonya, nanti Tuan Arsen dengar.”

“Tidak akan, dia sedang sibuk dengan Renata.”

“Ah begitu. Sebenarnya, Tuan Arsen tidak menyukai Dokter Darwis, tapi karena keluarga mereka berteman sejak kecil, Tuan Arsen terpaksa membiarkan Dokter Darwis di posisinya,” jelas Sui.

“Ah begitu rupanya.” Yvone kembali berpikir, jika benar yang dikatakan oleh Sui, maka ia bisa memanfaatkan Dokter itu.

“Kalau begitu, besok kita temui Dokter Darwis,” ucap Yvone.

Sui menatap Yvone bingung. “Nyonya bisa memanggilnya kemari.”

“Tidak, di sini banyak mata-mata. Aku ingin bicara empat mata dengannya,” ucap Yvone penuh tekad.

“Tapi, Nyonya. Selama ini Anda tidak pernah diizinkan keluar. Apalagi menemui Dokter Darwis. Tuan Arsen tidak akan mengizinkan.”

Yvone menyunggingkan senyumnya, kemudian berkata, “Sudah kubilang ‘kan? Tidak ada yang bisa melarangku!”

Keesokan harinya aktivitas berjalan seperti biasa. Bangun tidur, Yvone segera berolahraga. Karena ia berencana menemui Dokter Darwis, maka ia segera menyelesaikannya. Selesai berolahraga, Yvone segera membersihkan diri.

Masalah baru muncul, Yvone selalu kesulitan saat hendak memilih pakaian karena pakaian yang dimiliki Rose tidak sesuai dengan kriterianya. Alhasil Rose mengeluarkan semua pakaian dalam lemari.

Di saat yang bersamaan, Sui memasuki kamar dengan membawa nampan berisi buah. Melihat apa yang dilakukan oleh majikannya, Sui pun bertanya, “Nyonya, apa yang Anda lakukan?”

“Pakaian ini sama sekali bukan gayaku. Jadi aku ingin kau membuangnya,” titah Yvone.

Sui menatap bingung ke arah tumpukan baju. “Baju sebanyak ini, Nyonya ingin membuangnya? Lalu Nyonya memakai apa?”

“Aku sudah menyisakan beberapa, lagi pula jika tubuhku sudah langsing nanti, aku tidak lagi memerlukan pakaian itu.” ucap Yvone sembari menatap ke arah lemari yang kosong.

Sui mengikuti arah pandangan Yvone, dan melihat beberapa helai pakaian berwarna gelap. Hal itu membuat Sui semakin merasa aneh. Selama ini Rose sangat menyukai warna-warna terang dengan motif bunga-bunga. Tetapi saat ini justru sebaliknya.

Meski begitu, Sui mencoba membuang jauh-jauh perasaan itu. Sui hanya ingin yang terbaik untuk Nyonya Mudanya.

“Baiklah kalau itu keinginan, Nyonya.”

Sui segera membereskan pakaian yang hendak dibuang, dan membawanya keluar. Di saat yang bersamaan, ia berpapasan dengan Brighita.

“Hei, mau dikemanakan baju sebanyak ini?” tanya Brighita heran.

Sui segera menundukkan kepalanya lalu menjawab, “Nyonya Rose meminta saya untuk membuangnya.”

“Apa?” Brighita melotot. “Apa dia tidak tahu pakaian ini dibeli dengan uang, kenapa seenaknya dibuang?”

“Bukankah Nyonya juga begitu. Kalau sudah bosan dengan pakaian lama, maka akan beli baru, dan yang lama dibuang,” bantah Sui yang membuat Brighita berkacak.

“Kau berani?” Brighita berkacak pinggang.

Melihat itu, Sui segera menyingkir. “Permisi, Nyonya.”

“Dasar pelayan kurang ajar.”

Yvone telah siap untuk pergi. Ia terpaksa mengenakan setelan formal, jas dan juga celana panjang. Yvone menatap dirinya di cermin.

“Ini pakaian lebih cocok dipakai ke pemakaman,” gumamnya pelan. “Tapi tidak masalah, aku lebih percaya diri memakai ini.”

Yvone kembali memperhatikan penampilannya, beruntungnya Rose ini memiliki wajah yang cantik, rambutnya juga indah. Hanya saja tubuhnya yang gendut.

Setelah memastikan penampilannya sempurna, Rose segera keluar kamar. Di saat yang bersamaan Arsen baru saja keluar dari kamar, dan mereka pun berpapasan.

Arsen melihat penampilan Rose dan refleks bertanya, “Kau mau ke mana?”

“Aku mau ke rumah sakit menemui Dokter Darwis.”

Mendengar itu, tatapan Arsen berubah tajam.

1
Uthie
Aaahhhh... lagi seru-serunya baca... harus nunggu lagiiii 😂🤩🤩

Jangan lama-lama Up lagiii nya yaaa 😘😍🤗🤗
MataPanda?_
semangat trus kak kalau bisa mh kasih pemeran baru buat pasangan ros yg gk neko"sama"badas 🤣🤣 💪
Uthie
modussss 😏
Uthie
bikin cemburu Rose 👍😂
Uthie
Waowww.... Ayooo Rose buktikan sinar dirimu kembali 🤩🤩👍
Uthie
Bagus Rose 🤩👍
Uthie
Lanjuuttttt 💪🤗
Uthie
Semakin menarik disimak 👍👍👍😏
Uthie
Selalu sukkaaaa cerita yg ada kata:
Transmigrasi, Gendut, CEO/Mafia 😁🤩👍👍
Evi 060989
up
Tiara Bella
mending pisah aja rose pernikahan udh gk sehat....mertua sm iparnya jg ky teule semua...Arsen jg ky begitu
Anita Rahayu
Sikat yvone kasi juga obat yg di berikan 3 medusa sebelum cerai biar setres si arsen😈😈😈😈😈😈👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Anita Rahayu
Thor buat yvone kasi kembali obat untuk mertua ipar dan demitnya thor biar arsen pusing nanganin 3 SUMO😈😈😈😈😈😈😈😈😈👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Tiara Bella
obat apakah gerangan.....
Anita Rahayu
upnya yg double dan panjang👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
Rai Gojess
beri pengajaran dulu sama keluarga hama itu
Etty Rohaeti
lelaki ga bisa tegas tinggalkan saja
Rai Gojess: bikin geram ni cerita, malas mau bagi hadiah🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Tata Hayuningtyas
kelamaan pembalasan nya...ga sat set sat set
Heni Mulyani
lanjut
Tiara Bella
drama bngt....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!