NovelToon NovelToon
Chef Kirana Dan Jendral Berhati Dingin

Chef Kirana Dan Jendral Berhati Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Kirana, Executive Chef bintang lima di Jakarta, mati konyol karena ledakan gas. Sialnya, dia malah terbangun di tubuh Putri Tantri—tokoh antagonis dalam novel sejarah yang baru saja meracuni adik angkat suaminya!
​Di hadapannya, Jenderal Arga sang "Iblis Perang Utara" sudah menghunus pedang, siap memenggal kepalanya.
​Tak mau mati dua kali, Kirana mengajukan penawaran gila: "Jangan bunuh aku dulu! Izinkan aku masak makanan terakhir!"
​Bermodalkan bawang merah, kecap manis buatan sendiri, dan teknik masak modern, Kirana bertekad mengubah takdir kematiannya. Siapa sangka, masakan lezatnya tak hanya menyelamatkan lehernya, tapi juga menyembuhkan maag kronis sang Jenderal dan mengguncang lidah satu kerajaan?
​Tapi hati-hati, Kirana! Musuhmu bukan cuma panci gosong, tapi juga pelakor bermuka dua dan intrik politik yang mematikan. Sanggupkah Kirana bertahan hidup di zaman kuno tanpa rice cooker dan kulkas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Season 2 BAB 6: JEJAK DINGIN DI JANTUNG SELATAN

Lampu-lampu jalan tol Trans-Jawa berkelebat seperti garis-garis cahaya yang ditarik paksa di samping SUV mewah milik Arga. Di dalam kabin yang kedap suara, hanya ada deru mesin yang halus dan alunan musik instrumental yang sengaja diputar Kirana untuk menenangkan suasana. Namun, ketegangan di antara mereka tetap terasa setajam mata pisau Damaskus yang kini tergeletak di konsol tengah, di antara dua jok depan.

Arga mencengkeram kemudi dengan buku-buku jari yang memutih. Wajahnya kaku, matanya lurus menatap aspal basah di depan. Sesekali, dia mengernyitkan dahi, tangan kirinya secara refleks menekan ulu hatinya yang kembali bergejolak.

"Jangan ditekan terus," suara Kirana memecah keheningan. "Semakin kau menekan maagmu karena stres, semakin asam lambungmu naik. Kau ingin kita sampai ke Jawa Timur atau ingin aku menepi di rest area untuk mencari instalasi gawat darurat?"

Arga melirik Kirana sekilas. "Aku baik-baik saja."

"Kau pria paling keras kepala yang pernah aku temui di dua abad yang berbeda," Kirana mendengus. Dia membuka tas pendingin kecil yang ia bawa dari restoran. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah termos kecil dan sebuah wadah berisi irisan tipis apel yang sudah direndam air garam dan kayu manis.

"Minum ini. Teh chamomile dengan madu hutan dan sedikit perasan kunyit putih. Dan makan apelnya. Jangan membantah, Jenderal," perintah Kirana dengan nada yang tidak menerima penolakan.

Arga tertegun mendengar sebutan "Jenderal" itu lagi. Entah kenapa, perintah Kirana terasa seperti hukum baginya. Dia menerima termos itu saat mobil sedang melaju stabil dengan fitur cruise control. Cairan hangat itu mengalir di tenggorokannya, dan rasa hangat yang menenangkan mulai menyebar di perutnya.

"Terima kasih," bisik Arga. Suaranya tidak lagi dingin, melainkan terdengar sedikit rapuh. "Kenapa kau melakukan ini, Kirana? Maksudku... kau bisa saja memilih hidup tenang sebagai koki terkenal. Kau tidak harus mengikutiku ke tempat antah berantah untuk mencari sesuatu yang mungkin hanya dianggap mitos oleh orang modern."

Kirana menatap keluar jendela, melihat kegelapan hutan di sisi jalan tol. "Karena aku tidak bisa hidup tenang sendirian, Arga. Lima tahun aku bangun dari koma di dunia ini, aku merasa seperti alien. Aku punya ilmu memasak modern, aku punya karier, tapi aku tidak punya 'rumah'. Dan saat aku melihatmu di restoranku... aku tahu di mana rumahku berada. Rumahku bukan sebuah tempat, tapi sebuah jiwa."

Arga terdiam. Dia merasa dadanya sesak, tapi kali ini bukan karena penyakit lambungnya. Itu adalah rasa haru yang mendalam. Dia merayankan tangan kirinya, mencoba meraih tangan Kirana yang berada di atas pahanya, namun dia menariknya kembali di detik terakhir. Slow burn, batinnya. Dia tidak ingin merusak momen ini dengan terburu-buru.

"Jantung Selatan," Arga mengalihkan pembicaraan untuk menenangkan diri. "Detektifku bilang Laras telah menutup akses jalan menuju perkebunan itu. Dia menggunakan alasan konstruksi resort. Ada penjaga keamanan di mana-mana."

"Laras selalu suka membangun benteng di sekelilingnya," sahut Kirana sinis. "Tapi dia lupa satu hal. Perkebunan Edelweiss itu adalah tanah kelahiran Putri Tantri. Aku menghabiskan masa kecilku di sana sebelum menikah denganmu. Aku tahu setiap lubang kelinci, setiap jalur tikus, dan setiap rahasia tanah itu yang tidak akan ada di peta digital mana pun."

Fajar mulai menyingsing saat mereka memasuki wilayah pegunungan di selatan Jawa Timur. Kabut tebal menyelimuti lereng-lereng hijau, memberikan suasana mistis yang mencekam. Udara di sini jauh lebih dingin daripada Jakarta, menusuk hingga ke tulang.

Arga memarkir mobilnya di sebuah jalan setapak yang tersembunyi, sekitar dua kilometer dari gerbang utama proyek Laras. Mereka harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki agar tidak terdeteksi oleh patroli keamanan.

"Pakai ini," Kirana menyodorkan jaket gunung tebal kepada Arga. "Dan bawa pisau itu. Kita tidak tahu apa yang Laras siapkan di sana."

Arga menyampirkan pisau Damaskus di pinggangnya, menutupinya dengan jaket. Saat mereka mulai mendaki, pemandangan di sekitar mulai membangkitkan memori-memori yang lebih tajam bagi Arga. Suara kicauan burung tertentu, aroma pinus yang basah, dan cara kabut itu menggantung di dahan pohon—semuanya terasa sangat familiar.

"Di sini," Kirana berhenti di depan sebuah tebing kecil yang tertutup semak belukar berduri. "Di balik duri-duri ini ada jalan menuju 'Lembah Tanpa Suara'. Itu adalah tempat di mana keluarga kerajaan dulu menyimpan rahasia mereka."

Kirana mengeluarkan sebuah pisau dapur kecil yang sangat tajam dari tasnya. Dengan gerakan ahli, dia memotong semak berduri itu. Arga memperhatikannya dengan kagum. "Kau sangat lincah untuk seorang koki kota."

"Jangan remehkan koki yang biasa memotong tulang sumsum sapi," canda Kirana.

Setelah melewati semak itu, mereka tiba di sebuah area terbuka yang sangat indah. Di sana, ribuan bunga Edelweiss tumbuh liar di antara bebatuan. Di tengah-tengah lembah itu, berdiri sebuah bangunan tua dari batu yang sudah ditumbuhi lumut—sebuah kuil kecil atau mungkin tempat penyimpanan abu leluhur.

Namun, ketenangan itu terusik oleh pemandangan di depan bangunan tersebut. Beberapa orang dengan seragam safari sedang melakukan penggalian menggunakan alat-alat modern. Dan di bawah tenda besar yang nyaman, Larasati duduk dengan anggun, menyesap kopi dari cangkir porselen.

"Laras benar-benar serius," bisik Arga.

"Dia bukan sedang mencari artefak untuk museum, Arga," Kirana menunjuk ke arah seorang pria tua yang berdiri di samping Laras. Pria itu memegang sebuah kompas kuno dan beberapa batang kayu yang diikat dengan benang merah. "Dia membawa 'Dukun Sejarah'. Dia mencari titik energi yang ditinggalkan Bara."

Tiba-tiba, pria tua di samping Laras itu menoleh ke arah tempat persembunyian Kirana dan Arga. Matanya yang putih dan keriput tampak sangat menyeramkan.

"Nyonya," suara pria tua itu serak. "Ada tamu tak diundang yang membawa 'Kunci' itu ke sini."

Laras berdiri, meletakkan cangkirnya dengan tenang. Dia menoleh ke arah semak-semak tempat Kirana dan Arga bersembunyi. Senyumnya yang manis—namun mematikan—mengembang.

"Arga? Chef Kirana? Wah, kalian benar-benar datang lebih cepat dari yang aku perkirakan," suara Laras menggema di lembah yang sunyi itu. "Kenapa bersembunyi? Sini, bergabunglah denganku. Udara di sini sangat bagus untuk bernostalgia."

Arga memberikan isyarat pada Kirana untuk tetap di belakangnya. Dia melangkah keluar dari persembunyian, diikuti oleh Kirana.

"Hentikan penggalian ini, Laras," kata Arga tegas. "Tanah ini memiliki sejarah yang tidak boleh kau rusak untuk kepentingan bisnismu."

"Bisnis?" Laras tertawa renyah. "Arga, kau masih sangat lugu. Aku tidak butuh resort di sini. Aku hanya ingin apa yang seharusnya menjadi milikku sejak lima ratus tahun yang lalu. Pengakuanmu."

Laras berjalan mendekat, langkahnya pelan dan penuh perhitungan. "Kau tahu, Arga? Aku bermimpi setiap malam. Di mimpi itu, aku adalah wanita yang paling setia padamu. Aku yang merawatmu saat kau terluka di perang. Tapi kemudian wanita ini datang," Laras menunjuk Kirana dengan penuh kebencian. "Dia datang dengan makanan-makanannya yang aneh, dengan sihir dapurnya, dan dia mencuri segalanya dariku! Bahkan di kehidupan ini, dia muncul lagi!"

"Kirana tidak mencuri apa-apa, Laras. Dia hanya memberikan apa yang tidak bisa kau berikan. Ketulusan," balas Arga dingin.

"Ketulusan?" Laras mendengus. "Ketulusan tidak akan bisa memecahkan segel 'Sumpah Darah' yang disembunyikan anak haram kalian di bawah kuil ini. Hanya darah murni dari garis keturunan yang bisa membukanya."

Laras memberi kode pada penjaga keamanannya. Empat pria berbadan besar langsung mengepung Arga dan Kirana.

"Berikan pisaunya, Arga," pinta Laras. "Pisau itu adalah kunci terakhir. Jika kau memberikannya padaku, aku berjanji tidak akan menyakiti koki kesayanganmu ini. Aku bahkan akan membiarkan kalian berdua hidup bahagia—tanpa ingatan masa lalu yang membebani."

"Jangan pernah berikan padanya, Arga!" seru Kirana.

"Diam kau!" salah satu penjaga mencoba meraih lengan Kirana, tapi dengan gerakan kilat, Kirana menghindar dan menggunakan teknik bela diri dasar yang pernah ia pelajari saat pelatihan militer koki di hotel bintang lima (untuk menangani tamu kasar). Dia memelintir tangan penjaga itu dan memberikan tendangan tepat di lututnya.

Bruk! Penjaga itu terjatuh.

Arga tidak tinggal diam. Naluri bertarungnya bangkit. Dia tidak mencabut pisau Damaskus-nya—karena dia tahu itu terlalu berbahaya—tapi dia menggunakan gerakan tangan kosong yang sangat efisien. Dalam hitungan detik, dua penjaga lainnya sudah tersungkur.

"Aku mungkin bukan Jenderal lagi di dunia ini, Laras," kata Arga sambil mengatur napas. "Tapi tubuhku masih mengingat cara mematahkan tulang musuh."

Laras mundur beberapa langkah, wajahnya pucat. "Kalian... kalian pikir kalian bisa menang?"

Tiba-tiba, tanah di bawah mereka bergetar. Suara gemuruh terdengar dari dalam kuil tua. Pria tua dukun itu berteriak histeris sambil menunjuk ke arah pintu batu kuil yang mulai terbuka perlahan.

"Waktunya sudah tiba! Penjaga Jantung Selatan telah bangun!" teriak si dukun.

Dari dalam kuil yang gelap, keluar segerombolan lebah hutan yang sangat besar dan agresif. Namun, anehnya, lebah-lebah itu tidak menyerang Arga atau Kirana. Mereka justru terbang menyerbu para pekerja penggali dan penjaga Laras.

"Arga, sekarang!" Kirana menarik tangan Arga. "Masuk ke dalam kuil! Itu perlindungan dari Bara!"

Arga dan Kirana berlari menembus kabut lebah yang sibuk menyerang anak buah Laras. Mereka masuk ke dalam pintu batu yang dingin. Begitu mereka berada di dalam, pintu itu tertutup dengan sendirinya, meninggalkan Laras yang berteriak frustrasi di luar.

Di dalam kuil, suasananya sangat tenang dan sangat harum. Harum bunga Edelweiss kering dan dupa kuno. Ruangan itu hanya diterangi oleh beberapa lubang udara di langit-langit. Di tengah ruangan, terdapat sebuah altar batu kecil. Di atas altar itu, ada sebuah kotak perak yang diukir dengan sangat indah.

"Itu dia," bisik Kirana. "Sumpah Darah."

Mereka mendekati altar itu. Arga meletakkan tangannya di atas kotak perak. Seketika, kilasan memori yang sangat dahsyat menghantamnya.

Dia melihat dirinya sendiri, yang sudah tua dan berjanggut putih, sedang duduk di tempat ini. Di depannya ada seorang pemuda gagah yang sangat mirip dengannya—Bara. "Anakku," suara Arga tua itu terdengar berat. "Ibumu tidak benar-benar pergi. Dia hanya sedang menunggu kita di sebuah tempat bernama masa depan. Simpan kotak ini. Hanya dia yang bisa membukanya dengan rasa cintanya."

Air mata Arga tumpah. Dia menatap Kirana. "Bara... dia merawatku sampai akhir hayatku, Kirana. Dia koki hebat, tapi dia juga putra yang berbakti."

Kirana menyentuh kotak perak itu. Kotak itu terasa hangat, seolah ada jantung yang berdetak di dalamnya. "Bara ingin kita mengingat semuanya, Arga. Bukan untuk menyiksa kita, tapi agar kita tidak menyia-nyiakan kesempatan kedua ini."

"Tapi Laras ada di luar," kata Arga. "Dia tidak akan membiarkan kita keluar dari sini dengan kotak ini."

Kirana membuka tasnya. "Dia mungkin punya tentara dan uang, tapi dia tidak punya ini."

Kirana mengeluarkan sebotol kecil minyak esensial yang ia buat sendiri dari ekstrak rempah langka dan... resep rahasia yang ia temukan di buku biru.

"Ini adalah 'Aroma Penenang Jiwa'. Jika kita membakarnya di dalam sini, asapnya akan keluar melalui lubang udara dan membuat siapa pun di luar sana kehilangan keinginan untuk bertarung. Mereka akan merasa sangat damai hingga tertidur," jelas Kirana. "Ini adalah teknik masak tingkat tinggi: memasak atmosfer."

Arga tersenyum kagum. "Kau benar-benar penyihir dapur."

Mereka mulai membakar minyak itu. Asap tipis berwarna keunguan mulai memenuhi ruangan dan keluar ke lembah. Di luar, Laras yang sedang marah-marah tiba-tiba merasa matanya sangat berat. Dia mencoba melawan, tapi rasa kantuk yang luar biasa menyerangnya. Satu per satu, anak buahnya jatuh tertidur di atas tanah yang dingin.

Beberapa jam kemudian, saat matahari sudah tinggi, Arga dan Kirana keluar dari kuil. Mereka melihat Laras dan anak buahnya tertidur lelap seperti bayi. Arga mengambil ponsel Laras dan menghapus semua koordinat lokasi ini agar tidak bisa ditemukan lagi oleh satelit perusahaan Laras.

"Biarkan dia bangun dengan perasaan bingung," kata Arga. "Dia akan menganggap ini semua hanya mimpi buruk akibat ketinggian gunung."

Mereka berjalan kembali menuju mobil, membawa kotak perak dan buku biru. Perasaan mereka kini jauh lebih ringan.

"Jadi," Arga memulai saat mereka sudah berada di dalam mobil. "Setelah kita sampai di Jakarta, dan setelah kita membuka kotak ini dan mengingat segalanya..."

"Ya?" tanya Kirana penasaran.

"Apakah janji sate kambing itu masih berlaku?" Arga menatap Kirana dengan tatapan penuh cinta yang sudah lama tertunda. "Aku tahu tempat sate kambing terbaik di pinggiran kota. Tidak berminyak, dagingnya empuk, dan lambungku pasti setuju."

Kirana tertawa kecil, menyandarkan kepalanya di bahu Arga. "Tentu, Jenderal. Tapi setelah itu, kau harus membantuku mengurus Bara di masa depan."

"Hah? Kita bahkan belum menikah di dunia ini," Arga tersipu, wajah 'Iblis Perang'-nya mendadak berubah menjadi remaja yang sedang jatuh cinta.

"Itu masalah gampang. Aku punya resep kue pengantin yang tidak akan bisa ditolak oleh keluarga besarmu," sahut Kirana penuh percaya diri.

Mobil meluncur kembali menuju Jakarta, meninggalkan Jantung Selatan yang tetap tenang menjaga rahasia mereka. Perang mungkin belum sepenuhnya berakhir, tapi kali ini, koki dan jenderalnya memiliki senjata yang paling kuat: memori tentang cinta yang abadi.

...****************...

...Bersambung.... Terima kasih telah membaca📖 Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
SeekarYaSeekar
akhirnya update juga kak
Calisa
seru
Calisa
kok aku bingung ya?
arga itu kakak iparnya Panji? terus Kirana siapanya panji sih? 😅
Calisa
emang arga istrinya berapa? Laras bukannya adik angkat?
Calisa
ayo kiranaaa.. hajaarrr
Calisa
diancam kayak gini siapa yg nggak takut 🤣
ms. S
novel dgn bab sedikit tapi cerita ga kaleng2. tuntas dan jelas. cerita jendral dan chef dan masa lalu. good job Thor.
Nunung Elasari
recommended, ceritanya bagus.......
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Ada kelegaan yang menyumbat rongga dada,
Kasih di mana tak dapat bersatu di masa itu ,kembali bereinkarnasi menemui cinta abadi nya.
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
cinta Arga membawa nya ke masa depan
tak berjodoh di masa lalu
berjodoh di masa depan
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
tdk bisa kah takdir di rubah kembali
Tantri akan bahagia bersma jenderal dan putra nya
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
seluruh istana pasti berduka atas hilangnya Tantri yang istimewa
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
waduhh , kisah masa lalu bisa kacau kembali ini
kalau Tantri kembali ke masa depan
apa tantrii sebenarnya yg telah meninggal
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
huhuhu.. /Sob/ bagaimana kelanjutannya ini thor? semoga happy ending..
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
taktik gerilyaa apalagi tantri
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
pengorbanan seorang ibu tidak akan pernah sia2, ....
siapa tahu "SUARA" itu akan tersentuh oleh ketulusan cinta kalian.
Hingga nanti semua akan berakhir bahagia
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
udah ngaku aja daripada disuruh makan ceker mercon yg isinya potongan jari2 sendiri 🙈🙀
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
tambahin irisan kol dan daun bawang 😆😆
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
gak main main, 5 liter minyak jelantah 🤣🤣
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
kAlau kirana bangun ,tantri kembali kesetelan awal donk🤣,kecuali tersisa memori dan sedikit keahlian kirana agar tantri hidupnya tak sengsara dengan kehilangan keahliannya.
Ahh ...kirana jangan kau kacaukan dulu perjalanan mereka, biar berdiri dulu sekolah tata boga tantri dan sukses mencetak lulusan terbaik baru kau kembali ke asalmu😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!