Dante Valtieri, pemimpin organisasi mafia terkuat di Eropa, dikenal dengan julukan "Tangan Besi". Ia tidak pernah ragu menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya, dan namanya saja sudah cukup membuat orang bergidik ngeri. Namun, di balik sifatnya yang kejam, Dante memiliki tujuan tersembunyi, menyatukan seluruh kelompok kekuasaan di bawah satu payung demi membalas dendam atas kematian keluarganya.
Rencana itu terancam ketika ia terpaksa menyetujui pernikahan perjanjian dengan Elara Sterling, putri tunggal pemimpin kelompok lawan yang dihormati namun terjepit kesulitan keuangan. Elara, seorang wanita cerdas, berpendidikan tinggi, dan memiliki prinsip yang teguh, sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini. Ia menganggap Dante hanyalah seorang penjahat yang tidak memiliki hati.
Ketika bahaya mengancam nyawa Elara akibat persaingan kekuasaan, Dante harus memilih antara ambisi balas dendamnya atau melindungi wanita yang mulai ia cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ani.hendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DIAMBANG KEHANCURAN
💌 PERNIKAHAN SANG MAFIA 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Suasana di dalam ruangan kerja pribadi Dante seolah berhenti berputar saat suara di seberang telepon itu terdengar jelas. Angin kencang yang bertiup dari jendela yang sedikit terbuka seolah tidak terdengar lagi, digantikan oleh suara napas orang di seberang sana yang terdengar berat, terburu-buru, dan mengandung nada kepanikan yang tidak bisa disembunyikan. Genggaman tangan Dante pada telepon genggamnya terasa semakin erat, hingga buku-buku jarinya memutih menahan tekanan. Rasa penasaran, curiga, sekaligus kekhawatiran bercampur aduk menjadi satu dalam benaknya. Siapakah orang ini? Apakah ini bagian dari jebakan baru yang dipasang oleh musuhnya untuk menjatuhkannya sepenuhnya? Atau ini benar-benar satu-satunya titik terang yang bisa menyelamatkannya dari kehancuran yang sudah mengintai di depan mata?
"Tuan Valtteri saya tidak punya banyak waktu untuk bertele-tele atau menjelaskan siapa saya sebenarnya. Yang pasti, saya adalah seseorang yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik semua kekacauan ini, dan saya juga orang yang tidak ingin melihat hal buruk terjadi lebih jauh," suara di seberang sana terdengar rendah namun jelas, sesekali terputus seolah orang itu sedang bersembunyi atau berbicara dari tempat yang tidak aman. "Apa yang Anda ketahui selama ini, atau apa yang disajikan di depan mata Anda, belum tentu kebenaran yang sebenarnya. Ada banyak hal yang sengaja ditutup-tutupi, ada banyak bukti yang sengaja dipalsukan untuk mengarahkan kecurigaan Anda ke orang yang salah."
Dante mengerutkan keningnya, hatinya semakin bingung namun tidak bisa menolak rasa penasaran yang menggebu-gebu. "Maksud Anda apa? Bukti-bukti yang ada di hadapan saya sangat jelas dan mengarah kepada satu nama. Bagaimana saya bisa percaya pada suara misterius yang menelepon saya di saat kritis seperti ini tanpa memberikan bukti yang nyata? Saya tidak mau terjebak dalam permainan kata-kata yang tidak bertanggung jawab."
"Saya mengerti keraguan Anda, Tuan. Wajar jika Anda tidak percaya begitu saja. Tapi percayalah, orang yang selama ini Anda tuduh atau curigai, mungkin sebenarnya adalah korban atau orang yang sedang berusaha berjuang di balik tirai untuk melindungi Anda, meskipun caranya tidak bisa dimengerti. Dan orang-orang yang Anda anggap sebagai musuh yang utama, mungkin justru hanya alat atau pion dalam permainan besar ini," jawab suara itu dengan nada yang terdengar mendesak namun tetap berusaha tenang. "Pak Adam bukan orang yang Anda kira, Tuan. Dia tidak melarikan diri karena rasa bersalah, dia disandera atau dikunci oleh orang-orang yang benar-benar berniat jahat. Mereka memaksanya atau menggunakan namanya untuk menjalankan rencana busuk mereka. Itulah sebabnya dia tidak bisa dihubungi dan hilang begitu saja."
Jantung Dante berdegup kencang mendengar pernyataan itu. Jika apa yang dikatakan orang ini benar, berarti selama ini dia telah salah menuduh dan hampir saja mengambil keputusan yang fatal. Namun, bagaimana dia bisa memastikan kebenarannya? Bagaimana jika ini adalah bagian dari taktik musuh untuk membuyarkan fokusnya di saat genting ini?
"Jika apa yang Anda katakan itu benar, kenapa Anda baru muncul sekarang? Dan apa tujuan Anda sebenarnya? Mengapa Anda membantu saya, padahal saya tidak tahu siapa Anda?" tanya Dante dengan nada yang mulai mengintimidasi, berusaha menguji ketenangan orang di seberang sana.
"Karena sampai hari ini saya baru berani mengambil risiko untuk bicara. Dan saya tidak minta apa-apa sebagai imbalan, Tuan. Saya hanya tidak ingin terlibat lebih jauh dalam kejahatan ini, dan saya tidak ingin rasa bersalah menghantui saya sampai mati. Saya hanya ingin melihat keadilan ditegakkan, meskipun dengan cara yang sulit dan berbahaya," jawab orang itu dengan nada yang terdengar tulus namun menyimpan kepahitan. "Dan untuk membuktikan bahwa saya tidak berbohong, izinkan saya memberi Anda satu informasi yang tidak mungkin diketahui oleh orang luar atau musuh. Rencana serangan hari ini bukan hanya untuk merusak data atau gedung saja, Tuan. Mereka menyiapkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan di dalam gedung ini, sesuatu yang bisa membunuh banyak orang dan menghancurkan reputasi Anda selamanya jika tidak dihentikan sekarang. Dan lokasinya bukan di ruang data utama seperti yang dikabarkan, tapi di ruang penyimpanan cadangan di lantai bawah tanah nomor tiga. Itu jebakan. Mereka ingin Anda mengumpulkan kekuatan di satu tempat, sementara serangan inti mereka dilancarkan di tempat yang sepi dan rentan."
Darah Dante berdesir hebat. Informasi yang sangat spesifik dan mendetail itu membuat hatinya berguncang. Jika ini benar, maka musuhnya sudah menyusun rencana yang sangat matang dan kejam, memanfaatkan ketidaktahuan dan kebingungan Dante untuk menjebaknya. Dan jika dia salah langkah dan memusatkan kekuatannya di tempat yang salah, maka bencana besar tidak bisa dihindari.
"Tolong beritahu saya apa yang sebenarnya terjadi pada Pak Adam? Di mana dia sekarang?" tanya Dante, mencoba menggali informasi lebih dalam untuk meluruskan pikirannya.
"Dia disandera di sebuah gudang tua di pinggiran kota, tidak jauh dari lokasi insiden beberapa hari yang lalu. Mereka memaksanya untuk menandatangani dokumen atau memberikan kode akses dengan cara ancaman kekerasan. Dia berusaha menolak, tapi dia tidak punya pilihan. Itulah sebabnya jejak transaksi dan kode akses mengarah padanya, Tuan. Dia dipaksa," jawab orang itu dengan cepat. "Tapi Anda tidak punya banyak waktu untuk menyelamatkannya sekarang. Prioritas utama Anda saat ini adalah mencegah bencana di gedung ini. Jika Anda terlambat, semuanya akan habis."
Belum sempat Dante bertanya lebih lanjut, sambungan telepon itu tiba-tiba terputus. Bunyi " bip.. bip.. bip.." terdengar berulang kali di telinga Dante, menandakan percakapan telah berakhir. Dante menatap layar ponselnya yang menjadi gelap dengan pandangan kosong namun penuh pertanyaan. Siapakah orang itu? Apakah dia bisa dipercaya? Atau ini jebakan yang lebih cerdik dari sebelumnya? Di satu sisi, bukti yang dia miliki mengarah pada satu kesimpulan, namun informasi baru ini mengarah ke arah yang berlawanan. Situasinya benar-benar memaksa Dante untuk mengambil keputusan dalam waktu yang sangat singkat, di mana satu langkah saja bisa menentukan antara keselamatan atau kehancuran.
Sementara itu, di ruang operasi sementara yang sudah disiapkan oleh tim keamanan, Pak Herman sedang sibuk memberikan perintah dan mengatur strategi. Namun, wajahnya terlihat sangat tegang dan khawatir. Dia tahu, setiap detik yang berlalu adalah sangat berharga. Begitu melihat Dante keluar dari ruang kerjanya dengan langkah yang agak terburu-buru namun tatapan matanya sudah berubah menjadi lebih tajam dan fokus, Pak Herman segera menghampirinya.
"Bagaimana,Tuan? Apakah ada perkembangan? Tim kita sudah siap untuk bergerak ke lokasi ruang data utama seperti rencana awal. Apakah kita akan langsung berangkat sekarang?" tanya Pak Herman dengan penuh harap namun juga ragu.
Dante berhenti sejenak, menarik napas panjang untuk mengumpulkan ketenangan dan keberanian. Dia tahu, apa yang akan dia putuskan dalam beberapa detik ke depan adalah taruhan besar. Dia memegang ponselnya dengan erat, mengingat-ingat kembali kata-kata orang misterius itu. Kemudian, dengan tegas namun tenang, Dante mengangkat wajahnya dan menatap Pak Herman.
"Batalkan rencana awal, Pak. Ubah strategi kita," ujar Dante dengan suara yang rendah namun berwibawa. "Kita tidak akan memusatkan kekuatan di ruang data utama. Itu jebakan. Kita akan membagi tim. Sebagian kecil tetap di sana untuk berjaga-jaga agar tidak mencurigakan, tapi kekuatan utama kita akan kita arahkan ke ruang penyimpanan cadangan di lantai bawah tanah nomor tiga. Di situlah letak masalah sebenarnya."
Pak Herman terkejut mendengar perintah itu, keningnya berkeringat bingung. "Tapi, Tuan! Berdasarkan laporan intelijen kita sebelumnya, targetnya adalah ruang data utama. Apa dasar Tuan mengubah rencana secara mendadak seperti ini? Ini sangat berisiko, Tuan."
"Saya tahu ini berisiko, Pak. Dan saya tahu ini terdengar tidak masuk akal. Tapi naluri saya dan informasi yang baru saja saya dapatkan mengatakan bahwa itulah kebenarannya. Kita tidak boleh terpancing oleh taktik musuh yang ingin memecah belah kekuatan kita atau mengarahkan kita ke tempat yang salah. Kita harus mengikuti petunjuk baru ini," jawab Dante dengan tegas. "Jangan banyak tanya lagi, Pak. Waktu tidak menunggu. Segera instruksikan tim untuk bergerak sesuai rencana baru saya. Dan pastikan semuanya dilakukan diam-diam namun cepat. Kita tidak mau musuh menyadari bahwa rencana mereka terbaca."
Meskipun hatinya masih penuh keraguan dan kebingungan, Pak Herman tahu bahwa saat ini bukan waktunya untuk berdebat. Dia mengangguk patuh dan segera berlari untuk melaksanakan perintah Dante. Sementara itu, Dante juga memerintahkan tim khusus lainnya untuk bersiap menuju lokasi di mana Pak Hendra diduga disandera, meskipun dia tahu kemungkinan kesempatannya sangat kecil dan berisiko tinggi. Namun, dia tidak bisa membiarkan orang yang mungkin tidak bersama terjebak dalam penderitaan itu.
Saat pasukan keamanan bergerak dengan sigap menuju lokasi yang berbeda-beda sesuai instruksi baru, jantung Dante berdebar kencang. Dia berdiri di lobi utama bangunan, mengawasi setiap gerakan dengan mata yang tajam. Dia sadar, keputusan yang dia ambil ini adalah taruhan nyawanya dan nyawa orang banyak. Jika dia salah, maka bencana besar akan terjadi, dan dia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri. Namun, jika dia benar, maka dia berhasil menggagalkan rencana kejam musuh dan menyelamatkan orang-orang di sekitarnya.
Di tempat lain, di sebuah kendaraan yang diparkir di tempat strategis untuk mengawasi situasi, seorang pemimpin pasukan musuh tersenyum puas melihat pasukan keamanan Dante bergerak menuju lokasi yang dia harapkan. Dia mengira rencananya berjalan lancar dan Dante mengikuti jebakan yang telah dipasang. Dia tidak menyadari bahwa rencananya sudah bocor, dan Dante sedang bersiap memberikan perlawanan yang tak terduga.
Ketegangan semakin memuncak saat jarum jam terus bergerak mendekati waktu yang ditentukan. Di dalam gedung maupun di luar gedung, dua kekuatan yang berlawanan sama-sama bersiap untuk saling bentrok. Udara terasa panas dan penuh listrik statis, menandakan bahwa pertarungan besar yang menentukan hasil akhirnya akan segera terjadi. Apakah keputusan Dante yang berdasarkan petunjuk misterius itu benar dan akan menyelamatkan mereka semua? Atau apakah dia malah jatuh ke dalam lubang yang lebih dalam dan kehilangan segalanya? Semuanya akan terjawab dalam beberapa saat ke depan.
BERSAMBUNG
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini novel ke 14 aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^