NovelToon NovelToon
Istri Tanpa Sentuhan Pewaris Adinata

Istri Tanpa Sentuhan Pewaris Adinata

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:21.9k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.




Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.




Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.




Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.



Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Cukup Menunjukkan Posisi

Mukenna yang disiapkan masih baru. Putih bersih. Terlipat sempurna. Lengkap dengan sajadah. Shafiya menerima dengan senyum. Ia masih menggenggam mukenna itu beberapa saat.

“Mas… saya wudhu dulu,"

ucapnya pelan pada Sagara.

Sagara mengangguk tipis.

Lalu mengangkat tangannya.

Menunjuk ke salah satu sisi dinding.

“Di situ.”

Namun Safiya tidak melihat ia justru kembali duduk di sofa dengan sedikit tergesa. Menahan napas dan mengembuskannya pelan.

Sagara melihatnya. "Kenapa?"

"Gak papa." Napasnya terdengar cukup berat.

"Hanya sedikit mual saja."

Sagara bangkit, melangkah mendekat.

"Saya panggil dokter."

"Gak usah, Mas. Sebentar lagi reda." Nyatanya wajah itu mulai sedikit pucat.

Sagara ragu antara mengikuti keinginan Safiya atau segera menelepon Zulaika.

Safiya tetap duduk tenang berusaha menahan.

"Baring, Elara." Sagara mengambil bantal kecil diletakkan di dekat Safiya.

"kalau tiduran, mualnya makin menjadi."

"Harus segera diatasi." Sagara bergegas ke meja mengambil ponselnya.

"Udah mendingan, Mas. Saya hanya butuh duduk tenang. Dan--"

"Dan apa?" Sagara mendekat.

"Air hangat."

Sagara tak perlu keluar ruangan untuk mendapatkan air hangat itu. Ia hanya perlu mengambil ke sudut ruangan dimana terdapat dispenser air hangat.

Safiya menerima gelas itu. meminumnya pelan. Hangatnya menyebar. Ia diam sebentar kemudian minum lagi. Begitu berulang sampai mualnya reda sendiri.

Sagara masih tetap berdiri, memperhatikan. Wajahnya tak menampakkan kekhawatiran. Tapi tatapannya tak berpindah dari Safiya.

"Terima kasih, Mas. Udah enakan."

Sagara menghela napas, tapi tak mengatakan apapun.

"Saya mau solat."

"Istirahat dulu."

Safiya menggeleng.

"Sudah gak papa, Mas. Lagian saya tidak mau ketinggalan waktu solat."

Sagara diam, tidak mencegah lagi.

"Kamar mandinya dimana?"

"Di sana."

Shafiya menoleh.

Dinding yang ditunjuk itu terlihat biasa saja. Berlapis panel seperti PVC.

Tidak ada gagang yang terlihat.

Tidak ada tanda apa pun.

Ia sempat ragu.

Namun tetap melangkah mendekat.

Tangannya menyentuh permukaan dinding itu. Dan ternyata bergeser. Itu sebuah pintu tersembunyi yang mengubungkan ruang di dalamnya. Sebuah kamar mandi yang bersih dan sangat privat. Di sana Shafiya membersihkan diri dan ambil whudhu.

Sagara kembali duduk di tempatnya. Laptop masih terbuka. Tapi pandangannya belum berada di sana.

Safiya keluar dari kamar mandi beberapa saat kemudian dengan wajah basah. Memilih tempat di sudut. Sajadahnya ia hamparkan lebih dulu sebelum memakai mukenna.

Barulah Sagara kembali ke laptop itu.

Tidak melihat lagi. Perhatiannya utuh pada layar laptopnya.

Namun, ada satu jeda. Di mana tatapannya terangkat. Menatap Shafiya yang berdiri khusyu dengan ibadahnya. Terbungkus mukenna warna putih, tampak rapi dan tenang. Tatapannya tertahan di sana, seolah mengikuti gerakan sholat Shafiya.

Pintu diketuk pelan.

"Masuk."

Agam yang datang. Ia langsung duduk di kursi depan Sagara.

"Direktur PT Megah Utama sudah sampai."

Sagara menatap jam. Tepat waktu seperti yang dijanjikan.

"Mereka sudah menunggu di ruang tamu VIP," lanjut Agam.

Sagara tidak langsung menjawab.

Tatapannya terangkat ke arah sudut ruangan.

Shafiya sudah duduk. Dalam zikir yang pelan. Belum benar-benar selesai.

Sagara kembali ke Agam dan berkata,

“Tunggu sebentar."

Agam juga menatap ke arah yang sama. Lalu mengangguk.

"Beberapa poin sudah disampaikan?"

tanya Sagara kemudian.

"Belum. Kami menunggu, Pak."

Sagara mengangguk. Dan ia tidak bergeser dari tempatnya. Masih menunggu.

Agam sedikit mengerutkan kening.

Ini bukan kebiasaan Sagara. Ia tak biasa menunda waktu, apalagi dalam urusan bisnis. tidak barang satu detik pun.

Tapi kali ini ia masih diam. Menanti Shafiya selesai sholat sebelum ditinggal keluar.

Shafiya memang sedang berdzikir. Tapi bukan berarti ia tak mendengar, dan paham. Bahkan jemarinya yang bergerak pelan di antara untaian tasbih itu sempat berhenti.

Shafiya menyingkat dzikirnya, dan mengakhiri dengan doa. Tidak panjang, namun penuh harap. Setelahnya ia bangkit. Berjalan mendekat dengan tanpa melepas mukenna. Dalam beberapa langkah ia berhenti.

"Mas, saya sudah selesai."

Sagara mengangguk. Barulah ia bangkit membawa tabletnya.

Agam mengikuti.

"Jasnya, Mas." Shafiya mengingatkan sambil menunjuk jas yang ada di sofa.

"Tidak usah."

Dengan balutan kemeja hitam dan dasi senada, tubuh tinggi tegap itu keluar ruangan dengan sedikit tergesa.

Shafiya mengikutinya dengan pandangan hingga pintu itu menutup kembali.

Rabb…

Saat ini aku belum tahu apa yang aku inginkan.

Tapi kuatkan aku untuk menerima takdir-Mu dengan lapang.

Bimbing aku menjalaninya dengan benar.

Dan jadikan semuanya… bernilai ibadah.

Aamiin.

Ia membisikkan doa itu di kedalaman hati.

Akhirnya jam pulang kantor tiba.

Sagara berdiri di dekat pintu menanti Shafiya yang sedang berkemas.

"Mukennanya ditinggal saja ya, Mas." Shafiya menatap Sagara sejenak dan memindahkan mukenna putih itu ke sofa.

"Jika sewaktu-waktu saya ikut, biar gak ngerepotin lagi," lanjut Shafiya.

Sagara mengangguk saja.

Shafiya mendekat dengan membawa tas kecilnya serta jas milik Sagara yang disampirkan di lengannya.

Sagara membuka pintu. Mereka keluar bergantian. Lalu pintu menutup sendiri.

Agam sudah menunggu beberapa langkah di depan. Berdiri bersisian dengan sekretaris Sagara. Bahkan mereka sempat terlibat obrolan kecil sebelum sama-sama mengakhiri karena melihat Sagara sudah keluar dari ruangan.

Di depan pintu itu Sagara menghentikan langkah. Menatap jasnya di tangan Shafiya.

"Kalau dingin, pakai."

Dan ia melangkah tanpa menunggu Shafiya menjawab.

"Dipakai saya?" Shafiya masih bertanya takut salah memahami. Seraya melangkah mengikuti.

"Hampir semua ruangan di sini, suhunya dingin." Itu ucapan Sagara. Ia mulai memberi penjelasan.

"Gak papa kalau saya pakai, Mas?" Shafiya masih ragu. Tapi ia setuju kalau dengan jas itu tubuhnya akan merasa lebih hangat.

Sagara menoleh.

"Kalau jadi pertanyaan, gimana?" lanjut Shafiya.

Sagara berhenti. Mengambil jas itu dan menyampirkannya ke Shafiya. Tidak dengan gerakan terlalu hati-hati. Tidak diletakkan dengan posisi sempurna. Namun itu cukup.

Cukup membuat waktu seolah berhenti.

Shafiya diam.

Agam yang melihat di depan juga diam.

"Saya tidak hidup dari penilaian orang."

Usai menitip kata itu Sagara melangkah. Shafiya sedikit tertinggal. Karena ia tak langsung menyusul. Seolah masih menata ulang dirinya.

Sekretaris Sagara membungkukkan badannya sedikit saat Sagara melintas di depannya. Dan begitu ia kembali mendongak tatapannya bertemu dengan Shafiya. Ia tersenyum. Senyum yang tetap mengandung banyak kata tanya.

Di depan lift, Sagara membiarkan Shafiya masuk lebih dulu--seolah menjaga kejadian di lift tadi saat naik ke atas tak terulang lagi.

Dalam lemari besi yang meluncur ke bawah itu, tak ada percakapan apa-apa lagi. Hening. Di posisi masing-masing.

Tiba di lantai bawah. Mereka melangkah dengan jarak yang tetap terjaga. Tidak terlalu dekat. Tidak terlihat akrab. Tapi jas Sagara yang membalut tubuh Shafiya, itu cukup dikenali. Dan cukup menunjukkan posisi.

1
Amalia Siswati
nunggu lama2 agak kecewa di bab ini,malah terlalu banyak menceritakan karakter sagara,di awal2 sudah di ceritakan bagaimana karakternya tapi selalu di ulang2 bukan fokus ke kisah dengan elaranya.
iqha_24
gercep kan Sagara 👍, lanjut
Ayuwidia
Baca bab ini, berasa deg-degan. Takut Elara dan calon bayinya kenapa-napa 🥺
Nofi Kahza
Iya, Sagara manis juga ternyata🤭
Nofi Kahza
lho.. dh mulai manis ni perhatiannya...🥰
Nofi Kahza
sikap Anjani yg ini gue suka😎
Ayuwidia
Baru sadar kalau kamu suaminya? Kalau mengaku suami, harusnya paham dong tanggung jawab dan kewajibannya apa...
Nofi Kahza
masih bertanya? teman kok suka suudzhon..
Nofi Kahza
Cetaasss! bagus. Satriya itu bibirnya lembut tp diwaktu tertentu tajamnya setajam silet😆
Nofi Kahza
Anjani yang di sini dengan Anjani yang di sana beda ya🤭
Nofi Kahza
Anjani mah, yg dipikirin cuma penerus keturunannya aja. itu Shafiya anak orang loh, rela kasih penerus. ih😒
Nofi Kahza
Yes! harusnya dr kemarin2 kayak gitu, Gar....
Nofi Kahza
Eaaakk .. mulai berkembang nih si Sagara. Suka suka..🥰
Nofi Kahza
tetaplah berpijak di batas wajar aja ya, Gam. Aku tahu, Sagara kakunya nyebelin, tapi aku tetep pinginnya Shafiya itu sama Sagraa🤭
Nofi Kahza
woah. centilnya centil banget🤭
Nofi Kahza
aku suka jika Sagara terusik. kalau bisa buat dia kelimpungan dg gengsinya Kak Othor🤣
Nofi Kahza
Lagi menghibur diri ya, Gar?
Nofi Kahza
Sagara lama2 kalah waktu dan momen dengan Shafiya lho. Meski dia lebih menang di status🤭 kan sedih..
Ayuwidia
Wkkkk, bagus, Shafiya. Pasti Sagara kefanasan 😄
zee
sukaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!