Cinta adalah anugerah... tapi bagaimana jika cinta harus kamu berikan pada orang lain?
Aletta syavira levania dan Dilan Wijaya Kusuma saling mencintai sejak SMA – cinta yang tumbuh perlahan seperti bunga di musim hujan. Namun ketika sahabatnya Tamara Amelia Siregar mengaku jatuh cinta pada Dilan untuk pertama kalinya, Aletta membuat keputusan berat, melepaskan orang yang dicintainya demi menyenangkan sahabatnya.
"Dia butuh kesempatan, aku mohon Dilan, aku jaminan kamu akan lebih bahagia sama dia." Ucapnya dengan nada yang memelas sampai Dilan pun tak tega untuk menolaknya
Untuk memenuhi janjinya, Aletta mencari cinta baru melalui media sosial dan bertemu Jonathan Adista sanjaya. Sementara itu, Dilan dengan berat hati menjalin hubungan dengan Tamara. Di depan orang lain, semuanya terlihat sempurna – dua pasangan yang harmonis dan bahagia. Namun di balik senyum dan candaan, setiap tatapan Aletta dan Dilan menyimpan rasa rindu yang tak bisa disembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Siang itu, matahari bersinar terik menyengat kulit, namun hati Aletta terasa dingin dan gelap. Sejak pagi, sama sekali tidak ada kabar dari Jonathan. Biasanya, bahkan sebelum matahari terbit, suara pesan atau telepon Jonathan sudah terdengar menyapanya.
Namun hari ini, keheningan itu kembali menyelimuti, persis seperti hari kemarin, bahkan terasa jauh lebih berat dan mencekam. Karena tidak ada tanda-tanda Jonathan akan datang menjemput, dan tidak ingin terlambat ke puskesmas, Aletta pun memutuskan untuk berangkat sendiri.
Kebetulan sekali, Tante Monika—saudara jauh ibunya Puspa yang sedang menginap di rumah mereka beberapa hari ini—sedang tidak menggunakan motornya. Dengan izin dari orang tuanya, Aletta pun meminjam motor itu untuk berangkat kerja.
Sebelum pergi, sempat ada Diego yang datang seperti biasa, berniat mengajak berangkat bersama. Namun Aletta menggeleng pelan, menyuruh Diego pergi duluan saja.
"Kamu jalan aja duluan ya, Diego. Gue ada janji mau ketemu Cika sama teman-teman kelompok kita sebentar sebelum masuk," ucap Aletta saat itu, berusaha tersenyum agar Diego tidak curiga ada sesuatu yang salah.
Diego pun mengangguk, pamit, dan melaju pergi meninggalkan halaman rumahnya.
Selesai bertugas dan pulang dari puskesmas, Aletta tidak langsung pulang ke rumah. Dia sudah berjanji pada Cika, untuk menjenguk Aldi, kekasih Cika yang beberapa hari ini sedang dirawat di rumah sakit karena demam tinggi yang tak kunjung turun.
Di sana, di bangku panjang lorong rumah sakit yang bau obatnya begitu menyengat, Aletta duduk mendampingi Cika yang sedang mengupas buah untuk Aldi.
"Kamu kok diam aja dari tadi, Al? Mikirin apaan sih? Muka loh pucat banget," tanya Cika sambil menatap lekat wajah sahabatnya itu.
Aldi yang sedang berbaring di tempat tidur pun ikut menoleh, ikut merasa heran melihat Aletta yang begitu pendiam dan gelisah.
Aletta menghela napas panjang, menatap keluar jendela kaca yang memandang ke arah taman rumah sakit. Tangannya meremas ujung baju dengan kuat, rasa cemas di dadanya semakin memuncak mengingat tempat ini adalah tempat di mana papah Jonathan Yuda dirawat.
"Gue bingung, Cika... dari kemarin sampai sekarang, Jonathan nggak ada kabar sama sekali," jawab Aletta pelan, suaranya terdengar penuh kekhawatiran.
"Biasanya dia nggak pernah begini. Sekali aja dia hilang, rasanya dunia gue jadi nggak karuan. Tadi pagi pun dia nggak jemput, nggak ada pesan, telepon juga nggak pernah diangkat. Padahal kemarin kita sempat ngobrol baik-baik soal Papahnya yang butuh darah. Gue khawatir banget... takut ada apa-apa sama Papahnya, atau sama dia sendiri."
Cika meletakkan pisau dan buah yang dipegangnya, lalu duduk di samping Aletta dan merangkul bahu sahabatnya itu erat.
"Sabar ya, Al. Mungkin dia lagi sibuk banget ngurusin Papahnya. Loh kan tahu sendiri, kondisi Papahnya Jonathan itu kan lemah banget. Siapa tahu ada pemeriksaan mendadak atau ada hal penting yang harus dia urus sampai nggak sempat pegang Handphone."
"Loh jangan mikir yang enggak-enggak dulu ya, nanti loh malah sakit sendiri. Nanti kalau sudah waktunya, dia pasti bakal hubungin loh kok."
Aletta hanya mengangguk lemah, meski di dalam hatinya firasat buruk itu semakin kuat, bergemuruh tidak karuan seolah memberi sinyal bahwa sesuatu yang besar dan menyedihkan sedang terjadi.
Dia menatap lorong rumah sakit yang panjang dan sepi, berharap sekilas saja dia bisa melihat sosok Jonathan lewat di sana, namun sampai mereka pamit pulang, sosok itu sama sekali tak terlihat.
Sementara itu, di ruang rawat inap kelas tiga yang sederhana namun penuh kenangan itu, suasana berubah menjadi sangat kelam, hening, dan penuh tangisan.
Berjam-jam lamanya, para dokter dan perawat sudah berusaha sekuat tenaga mempertahankan nyawa Yuda, ayah Jonathan, yang kondisinya mendadak menurun drastis sejak sore tadi. Penyakit yang dideritanya sudah terlalu lama bersemayam di tubuh tuanya, dan hari ini, tubuh itu akhirnya menyerah.
Jonathan duduk terjatuh di lantai dingin di samping tempat tidur ayahnya. Tangannya masih menggenggam tangan Yuda yang kini sudah dingin dan kaku, kulitnya yang keriput dan kurus itu sudah tidak lagi memiliki kehangatan kehidupan.
Napas panjang terakhir Yuda, yang dihembuskan perlahan beberapa menit yang lalu, masih terngiang jelas di telinga Jonathan. Dokter yang berdiri di sampingnya dengan wajah penuh belas kasih telah menyampaikan berita itu, berita yang terasa seperti petir menyambar langsung ke kepalanya Yuda telah meninggal dunia.
Dunia Jonathan runtuh seketika. Semua yang dia miliki, semua alasan dia bertahan hidup, semua kasih sayang yang dia kenal, semuanya ikut pergi bersama kepergian Yuda.
Di matanya, Yuda bukan sekadar orang tua, melainkan segalanya. Satu-satunya orang yang selalu ada, yang selalu mengerti, yang selalu mendukungnya saat mamahnya sendiri lebih memilih kesibukan dan dunianya sendiri.
Rinjani, mamahnya, yang baru saja tiba setelah diterbangkan dari lokasi syuting yang jauh, hanya berdiri diam di ambang pintu dengan wajah kaku dan mata yang kering, seolah kewajibannya sudah selesai begitu dia melihat suaminya telah tiada. Tidak ada tangis histeris, tidak ada rasa kehilangan yang mendalam, hanya kekosongan.
Jonathan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kasar, air matanya jatuh membasahi tangan Yuda, isak tangisnya tertahan di tenggorokan hingga terasa sakit sekali.
"Papah... jangan tinggalin Jo... Papah bangun... Jo masih butuh Papah... Jo cuma punya Papah..." rintihnya dalam hati, suaranya tak mampu keluar.
Perlahan, rasa sakit itu berubah menjadi kepedihan yang mendalam, lalu berubah menjadi tembok pertahanan yang tinggi. Jonathan merasa dunia ini terlalu kejam, terlalu menyakitkan. Dia merasa sendirian, sangat sendirian, meski ada banyak kerabat dan tetangga yang mulai berdatangan melayat.
Dia merasa tidak ingin melihat siapa pun, tidak ingin berbicara dengan siapa pun, bahkan tidak ingin mendengar suara siapa pun, termasuk suara Aletta yang biasanya menjadi penenang hatinya. Dia merasa malu, merasa hancur, dan merasa bahwa kebahagiaannya sudah selesai sampai di sini.
Dengan tangan gemetar, dia mengambil ponselnya dari saku celana. Layarnya menyala, ada puluhan pesan dan panggilan tak terjawab dari satu nama Aletta. Namun, melihat nama itu justru membuat dadanya semakin sesak.
Dia merasa tidak pantas, merasa tidak sanggup menghadap Aletta dalam keadaan hancur seperti ini. Dengan gerakan kaku, Jonathan mematikan ponselnya.
Layar itu menjadi gelap, dan bersamaan dengan itu, dia pun mematikan segala bentuk komunikasi dengan dunia luar. Dia ingin menghilang, dia ingin tenggelam dalam kesedihannya seorang diri.
Setelah jenazah ayahnya dibawa pulang ke rumah untuk dimakamkan keesokan harinya, Jonathan tidak ikut berbaur dengan kerabat yang datang silih berganti. Dia sama sekali tidak menyapa siapa pun, tidak menjawab pertanyaan tetangga, dan tidak mau makan atau minum sedikit pun.
Begitu jenazah diletakkan di ruang tengah dan suasana mulai ramai oleh suara doa dan tangisan kerabat, Jonathan perlahan berjalan menuju kamarnya yang berada di bagian belakang rumah. Dia melangkah gontai, seolah setiap langkahnya membawa beban seberat gunung.
Begitu masuk ke dalam kamar kecil itu, dia langsung menutup pintu dengan pelan namun mantap, lalu menguncinya dari dalam. Klik. Suara kunci itu terdengar begitu nyaring di tengah kesunyian.
Di dalam kamar itu, udara terasa pengap dan panas. Cahaya matahari sore yang redup masuk sedikit saja lewat celah tirai jendela, menyoroti debu-debu yang melayang di udara.
Jonathan berjalan ke arah tempat tidurnya, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk itu. Dia menelungkupkan wajahnya ke bantal, menenggelamkan kepalanya dalam-dalam seolah ingin menghilang dari dunia ini.
Seharian penuh dia berada di sana, tidak bergerak, tidak bersuara. Kadang dia menangis diam-diam, air matanya membasahi sarung bantal hingga basah kuyup.
Kadang dia hanya menatap dinding kosong di hadapannya dengan pandangan kosong dan hampa, matanya merah dan bengkak.
Pikirannya dipenuhi oleh kenangan bersama Yuda, kenangan masa kecil, kenangan saat Yuda merawatnya saat sakit, kenangan saat Yuda menasihatinya dengan lembut.
Di luar pintu, ada panggilan-panggilan. Tante-tantenya memanggil, memintanya keluar untuk makan atau menerima pelayat. Rinjani, mamahnya, bahkan hanya mengetuk pintu sekali saja dengan nada datar lalu pergi kembali ke ruang tamu untuk berbicara dengan tamu.
Namun Jonathan seolah tuli. Dia tidak mendengar apa pun. Baginya, dunia di luar pintu itu sudah berakhir. Dia merasa jika dia keluar dari kamar ini, maka kenyataan pahit bahwa Yuda sudah tiada akan semakin nyata dan menyakitkan. Dia lebih memilih diam di sini, dalam kesendirian, meratapi nasibnya yang kini menjadi anak laki-laki yang sebatang kara.
"Kenapa Papah harus pergi? Kenapa Jo harus ditinggal? Mamah ada, tapi rasanya kayak nggak ada. Sekarang Papah pun pergi... terus siapa lagi yang ada buat Jo? Siapa lagi yang bakal sayang sama Jo kayak dulu?" batinnya berteriak dalam kesunyian kamar.
Nama Aletta sempat terlintas sekilas di benaknya, namun dia cepat-cepat mengusirnya. Dia merasa tidak ingin melibatkan Aletta dalam kesedihan dan kehancurannya ini. Dia ingin sendiri, dia butuh waktu untuk mati rasa.
Sementara itu, di rumah Aletta, suasana hatinya semakin tidak karuan. Sejak pagi tadi, ponselnya yang biasanya menjadi benda paling berharga, kini menjadi sumber ketidak tenangan terbesarnya.
Puluhan kali dia mengecek layar ponselnya, berharap ada pesan masuk, ada balasan, atau setidaknya ada satu panggilan masuk dari Jonathan. Namun hasilnya tetap sama nihil. Kosong Sunyi, Dia sudah mengirim pesan beruntun sejak pagi.
"Jo, kamu di mana? Kenapa nggak jemput?"
"Jo, kamu kenapa nggak bales? Kamu sakit ya?"
"Jo, aku khawatir banget nih... kabarin aku kalau kamu baik-baik aja ya."
"Jo, aku ke rumah sakit ya mau nengok Papah? Kamu di sana kan?"
Semua pesan itu terkirim, tapi tidak pernah ada balasan. Panggilan teleponnya berulang kali hanya disambut suara operator yang dingin dan mekanis.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan coba lah beberapa saat lagi..."
Aletta merasa kepalanya pening dan perih. Firasat buruk yang sempat muncul sedikit kemarin, kini tumbuh menjadi besar, hitam, dan menakutkan. Dia teringat betapa pentingnya Yuda bagi Jonathan.
Dia teringat kondisi ayah Yuda yang sangat lemah. Dia teringat betapa paniknya Jonathan saat mencari darah kemarin. Semua potongan kejadian itu menyusun satu kemungkinan buruk yang paling dia takutkan.
"Jangan jangan... jangan sampai... jangan sampai hal itu terjadi..." batinnya gemetar.
Sepanjang sore dan malam, Aletta terus memikirkan Jonathan. Di meja makan, dia duduk diam dengan makanan yang tersisa banyak di piringnya.
Matanya sayu, wajahnya pucat, dan pikirannya melayang jauh ke rumah sakit atau ke rumah Jonathan. Coba dia tanyakan pada dirinya sendiri.
"Kenapa dia menghilang begitu saja? Kenapa dia mematikan Handphone? Kalau dia cuma sibuk, pasti ada waktu sebentar buat kabarin. Kalau dia marah, pasti dia bakal ngomel panjang lebar. Tapi ini... diam total..."
Kepanikan itu membuatnya tidak bisa duduk diam. Dia mondar-mandir di dalam kamar, memegang ponselnya erat seolah benda itu adalah nyawanya. Dia teringat wajah Jonathan yang lelah dan penuh kekhawatiran kemarin.
Dia teringat kata-kata Jonathan bahwa Yuda adalah satu-satunya dunianya. Jika ada hal buruk terjadi pada ayahnya, Aletta tahu betapa hancurnya hati Jonathan.
Dan yang paling menyakitkan kenapa Jonathan tidak memberitahunya? Kenapa dia menutup diri? Apakah Aletta tidak cukup berharga untuk diajak berbagi kesedihan? Pertanyaan itu menusuk hatinya berkali-kali lipat.
Jam dinding di ruang tengah rumah Aletta sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Rumah sudah sangat sepi, lampu-lampu di ruang tamu sudah dimatikan, dan semua orang sepertinya sudah lelap dalam tidur mereka.
Namun, Aletta masih terjaga. Matanya terasa berat, tapi hatinya begitu gelisah hingga membuatnya tidak mampu memejamkan mata barang sedetik pun.
Dia berbaring di atas kasurnya, menatap langit-langit kamar yang gelap, pikirannya masih tertuju penuh pada Jonathan. Perasaan tidak enak itu semakin menjadi-jadi, rasanya dada sesak sekali, seolah ada batu besar yang menindihnya.
Karena tidak tenang, akhirnya Aletta memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Dia berjalan dengan langkah pelan dan telanjang kaki menyusuri lorong rumah yang remang-remang, menuju kamar ibunya, Puspa. Dia tahu ibunya pasti masih terjaga atau sedang membaca buku sebelum tidur.
Begitu dia membuka pintu kamar ibunya sedikit saja, Puspa langsung menoleh. Dia belum tidur, sedang duduk bersandar di kepala tempat tidur. Melihat anak perempuannya berdiri di ambang pintu dengan wajah sedih dan mata yang berkaca-kaca, Puspa tersenyum lembut dan mengulurkan tangan memanggilnya.
"Letta Kamu belum tidur, sayang? Ayo sini, masuk," panggil Puspa pelan.
Aletta pun berjalan mendekat, lalu naik ke atas kasur ibunya dan berbaring di sebelah wanita yang paling dia cintai itu. Puspa langsung menarik selimut menutupi tubuh putrinya, lalu mengusap rambut panjang Aletta dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Kenapa mata kamu merah dan bengkak begini? Ada yang bikin kamu sedih ya? Atau ada yang bikin kamu khawatir?" tanya Puspa dengan suara lembut dan menenangkan.
Aletta menatap wajah ibunya yang teduh itu, lalu air matanya yang sudah ditahan sedari tadi akhirnya tumpah juga. Dia memeluk pinggang ibunya erat, menumpahkan segala kegelisahan yang membebaninya.
"Buk... aku takut banget..." isak Aletta pelan, suaranya bergetar.
"Jo... Jo hilang, Buk. Dari kemarin sampai sekarang dia nggak ada kabar sama sekali. Handpone-nya dimatikan, nggak bisa dihubungi. Biasanya dia nggak pernah begini, Buk."
"Dia selalu ada, selalu ngabarin. Tapi kali ini diam banget... aku khawatir banget sama dia, aku khawatir banget sama Papahnya. Kemarin kan Papahnya sakit parah, butuh darah, aku sempat donorin darah buat Papahnya."
"Tapi sekarang... sekarang dia hilang. Aku takut, buk... aku takut ada apa-apa sama Papahnya. Aku takut kalau hal buruk terjadi... aku takut kalau Papahnya sudah pergi... dan aku takut banget sama keadaan Jo."
"Dia kan anaknya yang paling sayang sama Papah, dia cuma punya...Papah satu-satunya, Buk. Kalau sampai Papahnya pergi, aku nggak kebayang gimana hancurnya hati dia."
"Dia pasti sendirian banget, pasti sakit banget rasanya. Tapi kenapa dia nggak cari aku? Kenapa dia nggak ngabarin aku? Aku pengen ada di sebelah dia, aku pengen peluk dia, aku pengen bilang kalau aku ada di sini buat dia. Tapi aku nggak tahu ke mana harus cari dia, Buk... aku bingung, aku takut banget."
Isak tangis Aletta makin menjadi, bahunya naik turun menahan rasa sesak yang menyakitkan. Air matanya membasahi baju ibunya, seolah semua kegelisahan yang ditahannya seharian ini akhirnya menemukan tempat untuk tumpah.
Dia memeluk ibunya makin erat, seolah jika dia melepaskan pelukan itu, dia akan hanyut terbawa rasa takutnya sendiri.
Puspa diam sejenak, mengusap lembut punggung dan rambut putrinya dengan gerakan yang sangat pelan, penuh kelembutan dan kasih sayang seorang ibu.
Dia mengerti betapa dalamnya perasaan Aletta pada Jonathan, dan dia pun mengerti betapa berat beban yang sedang dipikul pemuda itu.
Puspa menghela napas panjang, lalu menundukkan wajahnya, mencium ubun-ubun Aletta dengan lembut, sebelum akhirnya berbicara dengan suara yang tenang, rendah, namun begitu menenteramkan hati.
"Sudah yah, sayang... sudah, nangis saja kalau itu bikin hati kamu sedikit lebih lega. Keluarkan saja semuanya, jangan ditahan sendirian," ucap Puspa pelan, suaranya lembut sekali.
"Ibu mengerti, Ibu paham banget apa yang kamu rasakan sekarang. Kamu khawatir, kamu takut, kamu cemas... itu wajar, itu bukti kalau hati kamu tulus sayang sama Jonathan dan keluarganya. Ibu bangga banget punya anak perempuan yang hatinya selembut dan sebaik kamu."
Puspa mengangkat dagu Aletta perlahan, menatap mata putrinya yang basah dan merah itu dengan pandangan yang dalam dan bijaksana.
"Tapi dengarkan Ibu baik-baik ya, sayang. Apa yang kamu takutkan... apa yang kamu firasatkan... Ibu harap semoga saja salah, tapi kalau memang benar itu yang terjadi... kalau memang Tuhan memanggil Papah Jo pulang... maka percayalah, itu sudah jadi ketetapan-Nya yang terbaik, meskipun rasanya sangat pahit dan berat buat kita semua," lanjut Puspa dengan nada yang bergetar namun tegas.
"Dan soal Jo... kamu jangan marah, jangan kecewa, dan jangan merasa dia menjauh atau nggak butuh kamu ya, Sayang," kata Puspa lagi, mengusap air mata di pipi Aletta.
"Jo itu anak yang baik, anak yang sangat menyayangi papahnya. Kalau benar Papahnya sudah tiada, maka rasa sakit yang dia rasakan itu... jauh lebih besar dari apa pun yang pernah kita rasakan."
"Dunia dia pasti rasanya runtuh hancur seketika. Dan saat hati seseorang hancur dan sedih luar biasa... kadang-kadang cara dia menghadapinya itu berbeda-beda."
"Ada orang yang butuh ditemani, ada orang yang butuh cerita, tapi ada juga orang yang... yang lebih memilih untuk diam, menyendiri, dan menutup diri dari semua orang."
"Bukan karena dia nggak sayang, bukan karena dia lupa sama kamu... tapi karena dia merasa sakitnya itu terlalu besar, dia merasa dia belum kuat buat bicara sama siapa pun, termasuk sama kamu yang paling dia sayang. Dia malu, dia sedih, dia bingung... makanya dia menghilang sementara waktu."
Aletta mendengarkan sambil terisak, matanya menatap ibunya penuh harap. "Tapi Buk... aku pengen ada di sana... aku pengen bantu dia... aku pengen bilang kalau aku ada..."
"Ibu tahu, Sayang, Ibu tahu niat kamu paling tulus," potong Puspa lembut.
"Tapi sekarang, apa yang bisa kamu lakukan? Kamu sudah nunggu, kamu sudah cari, kamu sudah coba hubungi... itu semua sudah bukti kalau kamu peduli."
"Sekarang, langkah terbaik yang bisa kamu lakukan buat Jo... adalah berdoa. Doa kamu itu kekuatan yang luar biasa besar buat dia, sayang. Doa kamu yang bisa sampai ke mana pun dia berada, doa kamu yang bisa menembus tembok kamarnya, doa kamu yang bisa menguatkan hati dia yang lagi hancur itu."
Puspa memegang kedua tangan Aletta, menggenggamnya erat-erat di dalam tangannya yang hangat.
"Doakan Papah Yuda ya, Nak. Doakan semoga beliau ditempatkan di tempat paling indah di sisi Tuhan, semoga segala sakit dan lelahnya selama ini sudah terbayar lunas dan berubah jadi kebahagiaan abadi."
"Dan doakan juga Jo... doakan semoga hati dia dikuatkan, semoga dia diberi kesabaran yang luas, semoga dia segera bisa bangkit lagi, dan semoga nanti... saat dia sudah siap, dia akan kembali datang sama kamu, membawa dirinya yang baru."
"Percayalah, sayang... rasa sayang dan kebaikan kamu itu nggak akan hilang begitu saja dari ingatan dia. Saat dia merasa siap, saat rasa sakitnya sedikit berkurang, orang pertama yang bakal dia cari dan dia temui... pasti kamu."
Aletta mengangguk pelan, meski air matanya masih menetes, tapi rasa gelisah dan takut di dadanya perlahan mulai terangkat sedikit demi sedikit mendengar nasihat ibunya.
Dia menyandarkan kepalanya kembali ke dada ibunya, mendengarkan detak jantung wanita itu yang begitu tenang dan meneduhkan.
"Jangan dipaksa ya, sayang. Biarkan waktu yang menjawab semuanya. Sekarang, kamu tarik napas panjang... lalu berdoa sama-sama sama Ibu ya, untuk Papah Yuda, untuk Jonathan."
"Lalu kamu tidur ya, istirahatkan badan dan hatimu. Karena nanti, saat Jo butuh kamu, saat dia kembali datang ke kamu... kamu harus kuat, kamu harus sehat, dan kamu harus ada buat dia. Itu tugas kamu sekarang, Sayang. Menjadi tempat pulang yang aman buat dia nanti."
Aletta mengangguk lagi, lalu menutup matanya perlahan, membiarkan kehangatan dan ketenangan dari ibunya merasuk ke seluruh hatinya.
Di dalam keheningan malam itu, Aletta pun mulai berbisik lirih, melantunkan doa-doa terbaiknya, untuk ayah Jonathan yang dia duga sudah pergi, dan untuk Jonathan yang sedang berjuang melawan kesedihan seorang diri di tempat yang jauh.
Hatinya masih sakit, masih cemas, tapi kini ada satu keyakinan yang tumbuh Dia akan menunggu. Dia akan berdoa. Dan dia akan tetap ada, sampai Jonathan kembali.
~be to continuous~