Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.
Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.
Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.
Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.
Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Saya Pinjam Kamar Mandi Kamu
Ratri meletakkan mangkuk porselen berpenutup itu di atas overbed table yang ada di samping tempat tidur.
Lalu memindahkannya rapat ke sisi Shafiya.
Kaluna mundur beberapa langkah, kembali ke posisi berdiri semula dengan pandangan yang sedikit berubah. Sepertinya ucapan Shafiya barusan membekas cukup dalam.
Shafiya dan Winda tidak memperhatikannya. Tatapan mereka sama-sama jatuh pada sup iga kambing rempah yang disajikan dalam wadah porselen itu.
Ratri membuka tutupnya. Uap tipis dari kuah iga kambing membawa aroma rempah yang berat, cengkeh, pala, dan serai bercampur dengan bau khas daging yang membuat lambung Shafiya perlahan bergejolak.
Ia langsung memindahkan pandangan. Tak ada minatnya sama sekali untuk mencicipi sup itu. Meski terlihat lezat.
Anjani masuk ke kamar. Sagara menyusul beberapa langkah di belakangnya.
"Sup iga kambing sudah siap?"
"Sudah, Nyonya," jawab Ratri.
Anjani mendekat.
"Makanlah, Elara. Itu bagus untuk kesehatanmu."
"Saya suapi ya, Nona." Winda mendekat.
"Tidak usah, Mbak. Saya sendiri saja."
Nyatanya Shafiya tak langsung mengambil sup itu, masih menatapnya beberapa detik. Tarikan napasnya terlihat samar saat tangannya mengangkat mangkuk dan mendekatkan. Sendok berukuran pendek itu ia pegang, menyendok kuah sup dari luar ke dalam.
Anjani memperhatikannya dalam diam. Ada ketenangan yang rapi dalam cara Shafiya menyentuh sendok, menyesap kuah sup, hingga meletakkannya kembali tanpa suara berlebih.
Gadis itu ternyata memahami tata cara yang selama ini hanya ia temukan pada perempuan-perempuan dari keluarga besar.
Padahal, adab semacam itu tidak selalu lahir dari meja makan kaum elite. Kadang, ia tumbuh dari didikan yang mengajarkan kehormatan dalam hal-hal paling sederhana.
Seperti Shafiya, ia terdidik menjaga adab dalam hal-hal yang paling sederhana sekalipun. Bahkan di dalam kesendirian.
Dan rasa puas yang dirasa Anjani karena melihat hal itu, membuatnya tak lagi melihat lebih jauh, bagaimana sebenarnya Shafiya menahan diri saat menyuap kuah sup itu. Aroma rempah yang begitu tajam, dikombinasi aroma khas daging kambing, itu membuat perutnya bergolak.
Anjani tak menangkap itu. Ia justru berbalik menatap ke Kaluna.
"Kaluna."
"Ya." Kaluna mengangkat pandangan.
"Siapa yang memberimu hak bicara lebih jauh dengan Elara?"
"Ee." Kaluna terhenyak, dan langsung memilih diam. Rupanya Anjani mendengan pembicaraannya dengan Shafiya tadi.
"Dia menantu Adinata. Dan kamu--" Tatapan Anjani lebih menajam. "Seharusnya tahu, posisimu di mana. Bertindaklah sesuai aturan."
Kalimat yang efeknya lebih keras dari tamparan. Dan diucapkan di depan cukup banyak orang. Kaluna tak bisa mengangkat wajah karena rasa malu yang merejam.
Namun sebenarnya, yang lebih membuat Kaluna merasa ditampar, bukan karena semua orang yang ikut mendengar. Tapi karena Sagara juga ada di sana. Membuatnya semakin kehilangan muka.
Tapi Sagara sendiri justru tidak memperhatikan itu. Tatapannya tak pernah lepas dari Shafiya. Pada cara gadis itu makan, dan cara ia menahan ketaknyamanan dalam diam.
Sagara sedikit mengangkat alis. Lalu melangkah mendekat.
"Jika tidak kuat, jangan memaksa."
Shafiya menatap Sagara sekilas. Tak mengucapkan apa pun. Lanjut pada suapan berikutnya. Masih dengan gerakan yang sama. Namun gestur lain itu semakin ditangkap Sagara dengan jelas.
"Aromanya memang sedikit menyengat." Suara Anjani terdengar. "Tapi itu baik untuk memulihkan kesehatan Elara."
Sagara tak menanggapi. Tatapannya masih tetap ke Shafiya.
"Untuk hasil yang baik, memang perlu lebih berusaha." Anjani melanjutkan.
Shafiya meletakkan sendoknya pelan. Lebih pelan, karena tangannya sedikit bergetar. Matanya memejam, memaksa makanan yang sudah dikunyah itu masuk.
Melihat itu Sagara tidak lagi menahan. Ia menutup mangkuk sup itu. Dan mendorong overbed table itu sedikit menjauh. Sagara lalu duduk tak jauh di depan Safiya.
Shafiya tidak mencegah. Jemarinya saling mengcengkram.
"Kenapa berhenti?" tanya Anjani.
"Elara tidak tahan dengan aromanya, Nek."
Anjani diam. Raut wajahnya menampakkan ketidakpuasan. Tapi Sagara tak memikirkan itu. Fokusnya saat ini hanya Shafiya.
"Seperti mau keluar?"
Safiya mengangguk pelan.
"Keluarkan saja."
Safiya menggeleng. Ia tetap berusaha menahan. Keringat dingin sebesar biji jagung turun di wajahnya.
"Jangan ditahan, Elara. Tidak apa-apa."
Sagara kian mendekatkan duduknya.
Winda juga maju mengusap pundak Safiya lembut.
Safiya menoleh kanan-kiri, seperti mencari tempat. Namun ia terlambat. Tubuhnya membungkuk pelan. Lalu seluruh isi perut yang sejak tadi ia tahan keluar semua. Jatuh tepat di baju Sagara.
Anjani mundur dua langkah.
Ratri sigap mendekat. "Nyonya, sebaiknya tunggu diluar."
Anjani langsung berbalik dan melangkah keluar. Sedangkan Kaluna masih bertahan di sana. Ia menunggu. Bagaimana reaksi Sagara atas hal itu.
Untuk sepersekian detik, tubuh Sagara menegang. Hangat dan bau asam itu jelas mengotori kemejanya.
Ruangan mendadak sunyi.
Kaluna menunggu. Ia hampir yakin lelaki itu akan menjauh.
Namun Sagara tidak bergerak mundur.
Tatapannya justru jatuh pada wajah pucat Shafiya yang gemetar menahan napas.
“Sudah keluar semua?” tanyanya dengan suara rendah. Seolah yang lebih penting baginya adalah keadaan perempuan itu dibanding bajunya sendiri.
Shafiya mendongak. Benar-benar kaget dengan apa yang terjadi.
"Maaf, Mas. Sa-ya tidak sengaja."
Sagara menatap Shafiya yang lebih panik dari pada dirinya sendiri.
"Lihat saya, Elara."
Safiya mengangkat wajahnya.
"Sudah lebih ringan?"
"Iya, Mas."
"Bagus."
"Lalu itu?" Safiya menunjuk baju Sagara yang kotor.
"Tidak apa-apa," jawab Sagara.
Kaluna menahan napas. Hampir mengingkari apa yang ia lihat. Hampir tak percaya dengan apa yang ia dengar. Akhirnya ia memilih keluar. Karena apa yang ia tunggu sebagai pertunjukan menarik itu, tidak didapatkan.
Sagara bangkit. "Beri minum air hangat," instruksinya pada Winda.
"Mas mau kemana?" tanya Safiya. Masih merasa bersalah dan tidak nyaman.
"Saya pinjam kamar mandi kamu."
Safiya masih mengiringi langkah Sagara dengan tatapannya.
Winda mendekat, memberikan segelas air hangat. "Nona minum dulu."
Safiya minum dua teguk. "Sangat gak nyaman aromanya, Mbak."
"Saya sudah lihat itu dari awal. Nona pasti tidak akan tahan."
Safiya mengusap titik peluh di wajahnya, lalu menatap ke kamar mandi dalam ruang itu yang pintunya tertutup rapat.
"Saya gak nyaman ke mas Sagara."
Winda tersenyum. "Tuan ternyata sepeduli itu pada, Nona. Ia tidak marah meski kena itu--" winda tak melanjutkan ucapannya.