NovelToon NovelToon
Kebangkitan Meridian Naga

Kebangkitan Meridian Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ichsan Ramadhan

Di tengah kemegahan Klan Naga Api, Ren hanyalah aib dan sampah masyarakat. Dilahirkan dengan meridian yang tertutup rapat, ia dianggap tidak memiliki bakat sama sekali. Hinaan, pukulan, dan pengkhianatan menjadi makanan sehari-harinya, hingga akhirnya ia diusir dengan kejam dari klannya sendiri, dibiarkan mati di alam liar.

Namun, takdir memiliki rencana lain. Di ambang kematian, darah nenek moyang yang terpendam di dalam tubuhnya akhirnya berdenyut. Meridian yang dianggap cacat itu ternyata adalah Ruang Suci Naga, tempat bersemayamnya kekuatan purba yang telah tertidur ribuan tahun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Keluar dari Sarang Menuju Dunia yang Lebih Luas

Fajar menyingsing dengan indahnya. Sinar keemasan menembus celah-celah pepohonan, menerangi jalan setapak yang basah oleh embun pagi.

Suasana hati Ren pagi ini berbeda total. Jika dulu setiap langkahnya berat karena lapar dan takut, kini setiap injakan kakinya terasa ringan, seolah ada angin yang mendorongnya maju.

Ia berdiri di tepi tebing tinggi, di mana di bawahnya terbentang hutan rimba yang baru saja mereka taklukkan, dan di kejauhan... terlihat hamparan kota yang megah dan jalan-jalan raya yang menghubungkan berbagai wilayah.

Itu adalah Kota Perbatasan Azure. Gerbang menuju dunia luar.

"Indah sekali..." bisik Ren terpana. Angin pagi menerpa wajahnya, membelai rambutnya yang kini agak panjang dan berantakan, namun tidak lagi terlihat kumal. Justru ada aura liar dan gagah yang memancar darinya.

Di belakangnya, Xue Ying datang membawa dua kantong bekal yang sudah dikemas rapi. Gadis itu tersenyum melihat punggung kekasihnya yang tegap dan kokoh.

"Sudah siap, Pahlawan?" tanya Xue Ying ceria.

Ren menoleh, wajahnya langsung mekar dengan senyum lebar. "Siap seratus persen! Perbekalan lengkap, tenaga penuh, dan... ada pendamping paling cantik di dunia."

"Dasar gombal!" Xue Ying tertawa manis, pipinya merona. "Tapi serius Ren... kita benar-benar akan keluar dari sini ya. Setelah ini, tidak ada lagi hutan sunyi. Kita akan bertemu orang-orang hebat, sekte-sekte besar, dan mungkin... musuh-musuhku juga ada di sana."

Ren berjalan mendekat, lalu dengan lembut menyisir helai rambut yang menutupi wajah Xue Ying.

"Justru itu tujuannya, Xue Ying. Kita tidak bisa bersembunyi selamanya. Di dalam hutan ini aku belajar bertahan hidup. Tapi di luar sana... aku akan belajar bagaimana menjadi raja."

Mata Ren berbinar penuh keyakinan.

"Dunia ini luas. Selama ini aku cuma tahu sudut kecil yang suram di klanku. Sekarang aku ingin melihat semuanya. Aku ingin tahu seberapa tinggi langit, seberapa dalam bumi. Dan aku ingin melakukannya bersamamu."

Xue Ying mengangguk mantap. Kekhawatirannya hilang digantikan oleh api semangat yang sama.

"Baiklah. Ayo berangkat. Ke dunia yang lebih luas!"

 

Perjalanan menuruni gunung terasa begitu cepat. Dengan kekuatan fisik Ren yang sudah melebihi manusia biasa dan ketangkasan Xue Ying, jarak yang biasanya ditempuh seharian bisa mereka tempuh hanya dalam waktu beberapa jam saja.

Semakin dekat ke kota, suasana semakin ramai.

Mereka mulai bertemu dengan pedagang keliling, pemburu, hingga murid-murid sekte yang sedang berkelana. Semuanya sibuk dengan urusannya sendiri.

Namun, saat Ren dan Xue Ying berjalan melewati jalan utama, mata orang-orang di sekitar seakan tertarik secara otomatis.

Bukan hanya karena Xue Ying yang cantik jelita bagaikan bidadari turun dari langit, tapi juga karena aura yang dipancarkan Ren. Meski berpakaian sederhana dari kulit binatang dan terlihat seperti pengembara muda, tatapan matanya yang tajam dan cara berjalannya yang stabil dan berwibawa membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa segan.

"Wah... ramai sekali ya," gumam Ren sambil memandang kiri kanan. Warung-warung makanan, toko senjata, tempat penginapan, berjejer rapi. Suara hiruk pikuk manusia sangat berbeda dengan sunyinya hutan.

"Ya. Ini baru kota kecil. Bayangkan kalau kita sampai di Ibu Kota Kekaisaran nanti," canda Xue Ying.

Tiba-tiba, langkah mereka terhenti. Di depan sebuah gerbang besar bertuliskan "Penginapan Singa Emas", ada sekelompok pemuda berpakaian seragam biru langit sedang membuat keributan.

Mereka sedang memaksa seorang pedagang tua membayar "uang perlindungan" yang jumlahnya sangat tidak masuk akal.

"Dengar ya pak tua! Ini wilayah kekuasaan Sekte Awan Biru! Kalau mau jualan aman, bayar sesuai permintaan kami! Kalau tidak... warung ini kami bakar!" teriak salah satu pemuda itu dengan sombongnya.

Pedagang tua itu gemetar ketakutan, wajahnya penuh keputusasaan. "Tuan... ini hasil jualan satu bulan saya... kalau diambil semua, keluarga saya mati kelaparan..."

"Diam! Urusanmu bukan urusan kami!"

Pemuda itu mengangkat tangan siap menampar wajah orang tua itu.

PLAK!

Namun, tangannya tertahan di udara sebelum sempat menyentuh pipi orang tua.

Semua orang terkejut. Tangan yang menahan itu adalah tangan Ren.

"Kasar sekali mulutmu. Dan tanganmu juga kotor," ucap Ren pelan, tapi suaranya cukup jelas didengar semua orang di situ.

Pemuda dari Sekte Awan Biru itu menoleh marah. "Heh! Bocah pengemis kurang ajar! Berani kamu ikut campur urusan Sekte Besar?! Minggir sebelum aku marah!"

Ren tidak bergeming. Ia justru menatap mata pemuda itu dengan tatapan dingin.

"Dunia luas ini punya aturannya. Yang kuat melindungi yang lemah, bukan menindas mereka. Kalau kalian tidak bisa jadi pelindung, setidaknya jangan jadi hama."

"BERANI KAU MENYERANG KAMI HAMA?!"

Tiga orang dari kelompok itu langsung menarik senjata mereka. Aura level Pemula hingga Perbaikan Qi tingkat awal terpancar dari tubuh mereka.

"Wahai warga! Lihat! Ada orang asing yang berani menentang Sekte Awan Biru! Kita ajari dia sopan santun!"

Mereka menerjang Ren dengan senjata tajam!

Xue Ying di belakang Ren hanya menyilangkan tangan di dada, tersenyum tenang. Ia tidak khawatir sedikit pun. Ia tahu, bagi Ren sekarang, orang-orang selevel ini tidak lebih besar dari nyamuk.

BOOM!

Ren tidak mengeluarkan senjata, tidak bahkan berteriak. Ia hanya menghentakkan kakinya sekali ke tanah.

Gelombang kejut tak terlihat meledak keluar!

Ketiga pemuda itu seakan ditabrak kereta kuda berat. Tubuh mereka terlempar mundur puluhan meter, menabrak tembok penginapan dan jatuh tak berdaya, pingsan seketika dengan mulut berbusa.

Hening...

Seluruh pasar terdiam kaku. Orang-orang menutup mulut mereka tak percaya. Mengalahkan tiga kultivator hanya dengan hentakan kaki?!

Ren melepaskan tangan orang tua pedagang itu dengan lembut.

"Paman tidak perlu takut lagi. Silakan lanjutkan berjualan," kata Ren ramah, lalu ia berbalik badan dan berjalan pergi meninggalkan tempat itu dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa.

Xue Ying segera menyusul di sampingnya, tertawa kecil.

"Kau ini ya... baru keluar sarang sudah cari masalah," goda Xue Ying.

Ren mengangkat bahu. "Bukan cari masalah, Xue Ying. Aku cuma memberitahu mereka... bahwa kita sudah datang. Dan mulai sekarang, aturan main di sini mungkin akan sedikit berubah."

 

Mereka berjalan menjauh dari kerumunan, menuju gerbang kota yang lebih besar.

Di hadapan mereka terbentang jalan raya utama yang lebar, menghubungkan utara dan selatan benua. Kendaraan ajaib, kuda berkualitas tinggi, dan pendekar-pendekar hebat lalu lalang tak henti.

Ini adalah dunia yang sesungguhnya. Dunia di mana kekuatan adalah segalanya. Dunia di mana impian dan ambisi bertarung satu sama lain.

Ren berhenti sejenak di tengah jalan. Ia menengadahkan wajahnya ke langit yang biru cerah.

"Leluhur... lihat itu. Dunia yang kau janjikan ada di depan mata," bisik Ren dalam hati.

Ya cucuku. Di luar sana ada bahaya, ada jebakan, ada pengkhianatan. Tapi di sana juga ada harta karun, teknik suci, dan kejayaan yang tak terbayangkan.

Suara Naga Emas bergema penuh semangat.

Terbanglah setinggi yang kau mau. Langit ini terlalu sempit untuk sayap seekor naga!

Ren tersenyum lebar. Ia menggenggam tangan Xue Ying erat-erat.

"Xue Ying, siapkah kau menemani aku berlayar mengarungi samudra dunia ini?"

Xue Ying menatap mata Ren, lalu tersenyum paling indah.

"Ke mana pun kau pergi, ke langit ketujuh atau ke neraka terdalam... aku akan selalu ada di sisimu, Ren."

Matahari bersinar terang menyinari kedua sosok muda itu.

Babak baru telah dimulai. Keluar dari sarang, meninggalkan masa lalu yang kelam, dan melangkah tegap menuju masa depan yang gemilang. Perjalanan mereka untuk mengguncang langit dan bumi baru saja dimulai!

1
Jade Meamoure
😍😍😍
Jade Meamoure
novel yg bagus...moga kedepannya anda tetap berkarya
Jade Meamoure
kisah percintaan d balut kultivasi tp aq salut Krn tk ada adegan yg vulgar hanya d novel anda lho Thor 👍👍👍 sukses n sehat selalu
Didit Nur
terlalu sombong dan terlalu pamer kekuatan
Didit Nur
MC nya terlalu sombong dan terlalu pamer kekuatan, biasanya air beriak tanda tak dalam. harusnya seperti laut yg tenang Namum memiliki ombak yg ganas
Cahya Laela Tsaniya
kata keren kayaknya kurang pas 🙏🏾🙏🏾🙏🏾mungkin kata luar biasa sedikit cocok.
.🙏🏾🙏🏾🙏🏾 maafkan saya sedikit sok tau🤭
Cahya Laela Tsaniya
terdengar aneh kata Mbak 🙏🏾🙏🏾,mungkin kata Mbak diganti Nona ,biar enak didengar🤭
Cahya Laela Tsaniya
semangat Thor 💪💪💪
Cahya Laela Tsaniya
Kayaknya ada yg terlewat / tidak terbaca ya🤔🤔🤔🤔??? Tingkatan kultivasi apa saja Thor??
Cahya Laela Tsaniya
semangat Thor 💪💪💪!!!!
T28J
semangat thor✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!