NovelToon NovelToon
Polisi & Dokter

Polisi & Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Action
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Akmaludd

Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.

Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.

bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

​Malam itu, Jakarta diguyur hujan rintik yang membawa hawa sejuk ke dalam kamar utama rumah kediaman Vino dan Alisa. Setelah makan malam yang hangat bersama Bunda Ratna, pasangan suami istri itu akhirnya bisa melarikan diri ke dalam privasi kamar mereka sendiri. Suasana canggung yang sempat dibawa oleh nama Raka tadi sore seolah menguap begitu pintu kamar tertutup rapat.

​Vino baru saja selesai mandi, hanya mengenakan celana pendek hitam dan kaos singlet putih yang menonjolkan otot lengannya. Ia melihat Alisa sedang duduk di depan meja rias, perlahan menghapus sisa riasan tipis di wajahnya. Melalui cermin, mata mereka bertemu. Vino tersenyum nakal, sebuah senyuman yang jarang diperlihatkan kepada anak buahnya di kantor, namun menjadi konsumsi harian Alisa.

​Vino berjalan pelan, lalu berdiri tepat di belakang Alisa. Ia meletakkan kedua tangannya di bahu sang istri, memijatnya perlahan dengan gerakan memutar yang membuat Alisa memejamkan mata dan menghela napas panjang.

​"Capek ya, Sayang?" bisik Vino tepat di telinga Alisa.

​"Sedikit, Mas. Hari ini pasien di poli membludak, ditambah urusan administrasi yang sempat tertunda gara-gara... ya, kamu tahu sendiri," jawab Alisa, merujuk pada gangguan Raka.

​Vino mengecup pundak Alisa yang tidak tertutup rambut. "Lupakan soal Raka. Dia cuma kerikil kecil. Fokus saja ke aku malam ini. Aku dengar tadi sore ada yang bilang suaminya adalah kehormatannya? Wah, aku tersanjung sekali mendengarnya lewat telinga Alvin."

​Pipi Alisa merona merah. Ia berbalik, menatap suaminya dengan tatapan protes yang manja. "Mas Alvin itu benar-benar ya, semua diceritain ke kamu. Aku cuma membela apa yang benar, Mas. Raka itu sudah keterlaluan."

​Vino terkekeh, lalu tiba-tiba mengangkat tubuh Alisa ke dalam gendongannya secara tak terduga. Alisa memekik pelan dan refleks mengalungkan lengannya ke leher Vino.

​"Mas! Turunin! Aku belum selesai pakai skincare!" seru Alisa sambil tertawa.

​"Skincare terbaik itu kebahagiaan, Alisa. Dan malam ini, tugas aku buat bikin kamu bahagia," goda Vino sambil membaringkan Alisa dengan sangat lembut di atas tempat tidur. Ia ikut merebahkan diri di sampingnya, menopang kepala dengan satu tangan sambil terus menatap wajah istrinya.

​"Kamu makin cantik kalau lagi kesal begini," lanjut Vino sambil merapikan anak rambut yang menutupi dahi Alisa.

​"Gombal. Belajar dari mana sih? Pasti diajarin anak-anak di kantor ya?"

​Vino menggeleng. "Alami. Cinta itu guru terbaik, Dok."

​Candaan itu perlahan berubah menjadi suasana yang lebih intim. Vino mencium kening Alisa dengan penuh perasaan, sebuah kecupan yang menyalurkan rasa hormat dan perlindungan. Ciuman itu perlahan turun ke pipi, lalu ke bibir, membawa mereka ke dalam pusaran emosi yang dalam. Di dalam kamar yang hanya diterangi lampu tidur temaram itu, segala penat dan gangguan dunia luar seolah lenyap. Rutinitas suami istri yang penuh cinta pun terjadi, memperkuat ikatan suci yang telah mereka bangun.

​Waktu menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Suasana luar rumah sangat sunyi, hanya terdengar suara sisa tetesan air hujan dari talang atap. Di dalam kamar, Vino tertidur lelap dengan posisi memeluk Alisa dari belakang.

​Tiba-tiba, Alisa tersentak bangun. Ia merasakan sesuatu yang sangat tidak nyaman di pangkal tenggorokannya. Perutnya terasa seperti diaduk-aduk dengan hebat. Tanpa sempat berpikir panjang, ia menyibakkan selimut, melepaskan pelukan Vino, dan berlari menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar.

​Huekk... huekk...

​Suara mual yang hebat itu memecah kesunyian malam. Alisa berlutut di depan kloset, memuntahkan cairan bening karena perutnya memang sedang kosong. Kepalanya terasa berputar hebat, dan keringat dingin mulai membasahi dahinya.

​Vino, yang sebagai polisi memang memiliki insting tajam terhadap suara sekecil apa pun, langsung terbangun. Ia terkejut melihat sisi tempat tidurnya kosong dan mendengar suara dari kamar mandi. Dengan cepat ia menyusul istrinya.

​"Alisa! Sayang, kamu kenapa?" Vino panik melihat Alisa yang tampak lemas bersandar pada dinding kamar mandi. Ia segera memijat tengkuk istrinya dan membantu membasuh wajah Alisa.

​"Enggak tahu, Mas... mual banget," bisik Alisa lemas. Tubuhnya menggigil.

​Vino meraih handuk kecil untuk mengeringkan wajah Alisa, lalu membimbingnya berdiri. Wajah Alisa tampak sangat pucat di bawah lampu kamar mandi yang terang.

​"Kita ke rumah sakit sekarang ya? Aku ambil kunci mobil," ujar Vino dengan nada perintah, wajahnya penuh kecemasan. Sebagai suami, ia tidak tahan melihat istrinya kesakitan seperti itu.

​Alisa menggeleng lemah. Ia memegang lengan Vino, mencegahnya pergi. "Jangan, Mas. Nggak usah ke RS. Ini cuma masuk angin biasa. Mungkin gara-gara aku kecapekan dan telat makan siang kemarin. Habis ini aku minum obat maag sama air hangat juga baikan."

​"Tapi kamu pucat banget, Alisa. Kalau cuma masuk angin nggak mungkin muntahnya sehebat itu. Ayo, biar teman sejawat kamu di UGD yang periksa," desak Vino lagi.

​"Mas, aku ini dokter. Aku tahu kondisi tubuhku sendiri," Alisa mencoba tersenyum meski bibirnya pucat. "Paling cuma dyspepsia karena stres kerjaan. Tolong ambilin aku air hangat ya? Dan minyak kayu putih di laci meja rias."

​Vino menghela napas berat, tidak tega membantah jika Alisa sudah membawa status 'dokter'-nya. Ia membimbing Alisa kembali ke tempat tidur, menyelimutinya dengan rapat, lalu bergegas ke dapur mengambilkan air hangat.

​Di dapur, Vino bertemu dengan Bunda Ratna yang rupanya juga terbangun karena mendengar kegaduhan kecil.

​"Ada apa, Vino? Kok dini hari begini ke dapur?" tanya Bunda Ratna cemas.

​"Alisa, Bun. Dia mual-mual hebat, muntah terus. Vino ajak ke RS nggak mau, katanya cuma masuk angin," jawab Vino sambil menuangkan air panas ke gelas.

​Bunda Ratna terdiam sejenak. Matanya berbinar, sebuah firasat muncul di benak wanita tua itu. "Muntah-muntah? Jam segini? Dia telat bulan nggak?"

​Vino tertegun. Ia mencoba mengingat-ingat. Sebagai suami yang perhatian, ia memang sering mencatat siklus Alisa, namun belakangan ini mereka berdua sangat sibuk. "Kayanya... iya, Bun. Harusnya minggu lalu dia dapet, tapi aku nggak lihat dia pakai pembalut."

​Bunda Ratna tersenyum lebar, menepuk bahu putranya. "Bawa airnya ke atas. Jangan dipaksa ke RS kalau dia nggak mau, tapi besok pagi-pagi sekali, minta dia tes. Bunda rasa, ini bukan sekadar masuk angin."

​Vino kembali ke kamar dengan pikiran yang berkecamuk. Antara khawatir dan ada secercah harapan yang mulai tumbuh di hatinya. Ia membantu Alisa minum, lalu membalurkan minyak kayu putih ke perut dan punggung istrinya.

​"Masih mual?" tanya Vino lembut.

​"Sudah agak mendingan. Makasih ya, Mas. Maaf jadi bangunin kamu," ucap Alisa sambil menyandarkan kepalanya di dada Vino.

​Vino mengecup puncak kepala Alisa. "Apapun buat kamu. Tidur lagi ya, aku jagain."

​Pagi harinya, saat matahari mulai mengintip dari balik jendela, Alisa terbangun dengan perasaan yang jauh lebih segar, meski sisa mual masih ada sedikit. Saat ia hendak beranjak ke kamar mandi untuk mandi sebelum berangkat ke RS, ia menemukan sebuah kotak kecil di atas meja riasnya.

​Itu adalah test pack.

​Di sampingnya ada secarik kertas bertuliskan tulisan tangan Vino yang tegas namun rapi: "Coba dulu ya, Sayang. Buat nenangin hati aku yang khawatir semalaman. Love you."

​Alisa tersenyum kecil. Ia pun membawa alat itu ke kamar mandi. Lima menit kemudian, Alisa keluar dengan tangan yang sedikit bergetar. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

​Dua garis merah. Jelas sekali.

​Tepat saat itu, Vino masuk ke kamar, sudah siap dengan seragam dinasnya yang gagah. Ia melihat Alisa berdiri mematung sambil memegang alat tersebut.

​"Gimana, Sayang?" tanya Vino hati-hati.

​Alisa tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangkat test pack itu dan memperlihatkannya pada Vino. Detik itu juga, waktu seolah berhenti bagi Vino. Sang polisi yang biasanya tangguh dan tak kenal takut itu mendadak lemas. Ia mendekati Alisa, mengambil alat itu, dan menatapnya berulang kali.

​"Dua garis... ini artinya..." suara Vino tercekat.

​"Aku hamil, Mas. Kamu bakal jadi ayah," bisik Alisa sambil menghambur ke pelukan suaminya.

​Vino memeluk Alisa sangat erat, mengangkatnya sedikit dan berputar pelan. "Terima kasih, Ya Allah... terima kasih, Alisa. Ini kado terbaik menjelang kenaikan pangkatku. Aku nggak tahu harus bilang apa lagi."

​Di balik pintu yang sedikit terbuka, Bunda Ratna yang tanpa sengaja mengintip, mengusap air mata bahagianya. Di tengah ancaman Raka dan hiruk pikuk pekerjaan, sebuah anugerah baru saja hadir untuk mempererat cinta mereka. Alisa yang mengira dirinya hanya kecapekan, ternyata sedang membawa kehidupan baru di dalam rahimnya.

Bersambung

Maaf kalau lambat, banyak tugas soalnya. Btw selamat yah yang dapat biru untuk anak kelas 12.

1
Rian Moontero
mampiiirr/Bye-Bye/👍👍
Akmaluddin: makasih kak, jangan lupa like kaka👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!