WARNING! Sebelum mulai membaca, tolong baca tagar dahulu. Karena di sini area bebas JULID, dilarang mengomel hanya karena keinginan Anda tak sejalan dengan pemikiran Author.
•
Cinta itu menuntun dirinya untuk membuat keputusan paling kejam, memilih satu diantara dua wanita. Di antara tangis dan perih dua wanita yang lain, ia tetap mempertahankan wanita yang ia cinta.
Setelah keinginan diraih, takdir kembali lancang menuliskan jalannya tanpa permisi. Sekali lagi ia kehilangan, tapi kali ini untuk selamanya.
Terombang ambing dalam amarah, serta sempat menjauh dari-Nya. Tapi sepasang tangan kecil tetap meraih dirinya penuh cinta, tulus tanpa berharap imbalan jasa.
Apakah tangan kecil itu mampu menuntun Firza kembali ke jalan-Nya?
Lantas bagaimana dengan dua wanita yang pernah disakiti olehnya?
Mampukah Firza memantapkan hatinya pada cinta yang selama ini terabai oleh keegoisannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31
#31
"Ya itu yang punya hajat, ya, Abah Husain. Hari ini putrinya menikah lagi, mujur sekali Neng Ersha, calon suaminya bukan orang sembarangan."
Jawaban hansip-hansip itu hanya lalu, bahkan pertanyaan mereka berikutnya tak lagi terdengar, Firza melangkah maju, menolak percaya dengan apa yang ia dengar. Kenyataan bahwa Allah mengabulkan doa-doa yang ia ucapkan untuk Ersha, tak serta merta membuatnya bahagia.
Pria itu merasa seperti buih di lautan, terombang-ambing kesana-kemari tak tentu arah. Yang ia kejar terlepas, dan yang ia lepas, kini diraih orang lain. Sedih kecewa berbaur menjadi satu kesatuan.
“Saya terima nikah dan kawinnya, Ersha Sanaya binti Husain Alkatiri, dengan mas kawin perhiasan dengan berat 5 gram, koin dinar seberat 50 gram dan uang tunai sebesar 500 juta rupiah, dibayar tunai!”
Rahang nya bergetar ketika mendengar sendiri, pria itu dengan lantang mengucap kalimat ijabnya, dengan kesungguhan, tak sedikitpun ada nada gentar, seolah ini adalah keinginan terakhirnya. Dan yang paling membuat Firza merasa semakin kerdil karena mas kawinnya dahulu tak sebesar mas kawin pemberian pria itu.
Kenapa? Mau marah? Tak terima? Sudah terlambat! Bukan saatnya, karena kau sendiri yang membuang berlian seindah Ersha demi wanita yang sama sekali tak bisa dibandingkan dengan Ersha. Jangankan soal keyakinan, bahkan sikap dan tingkahnya saja tak sedikitpun menyerupai Ersha.
Lantas kenapa dulu mati-matian ia bela dan ia inginkan?! Jawabannya hanya satu, yaitu hawa nafsu yang terlalu diperturutkan.
Beberapa saat kemudian, pengantin wanita dibawa keluar, untuk prosesi pemasangan cincin pernikahan, serta penandatanganan dokumen negara. Ersha masih seperti dulu, bahkan aura wajahnya tak berubah, bukan cantik secara fisik, tapi kecantikan hati serta ketulusannya yang memancar indah.
Di tempat itu, tak hanya Ersha dan keluarganya yang berbahagia, hadir pula di sana, Biru dan istrinya, tak ketinggalan Miranda sedang memangku Abizar yang riang bercengkrama dengan dengan Violet. Semua tertawa lepas, semua orang bahagia, kecuali dirinya—
Tak sanggup berlama-lama lagi, Firza berbalik, pergi membawa gunungan sesal, apa mau dikata, siapa yang mau disalahkan, jika dulu dirinya sendiri yang menampik keberadaan Ersha serta ketulusan cintanya. Kini masihkah layak berharap ingin dicintai sekali lagi?
Biarlah—
Ersha layak berbahagia.
•••
Tak ada kesedihan yang terasa begitu menyakitkan selain sebuah penyesalan. Karena semua sudah berlalu, hanya sesal yang tertinggal, rasanya pilu, pahit, dan begitu menyakitkan, itulah sebuah penyesalan.
Kenapa? Kenapa dulu dilepaskan, bila hari ini hatinya menangisi kesendirian?
Kenapa dulu mengabaikan, bila kini ia begitu merindukan?
Tenggelam dalam sesal, Firza menatap nanar botol-botol yang berbaris di atas meja, dentuman musik terdengar melengking di telinga. Tempat yang dulu anti untuk ia datangi, kini dengan ringan kakinya melangkah kemari, kata orang lari kemari bukan pilihan yang buruk.
Seteguk, rasanya masih aneh, asing, panas membakar kerongkongan, teguk berikutnya ia terus coba membiasakan, hingga sekali lagi, akalnya mulai hilang kewarasan. Musik yang memekakan telinga, terdengar seperti hembusan angin yang merdu, wajah Ersha yang tersenyum, menari-nari di pelupuk matanya.
“Wah, sasaran, nih,” cetus seorang wanita yang tanpa sengaja melihat Firza yang sudah bersandar lemas padahal baru beberapa teguk alkohol masuk ke kerongkongannya.
“Mau ditemani?” tanya wanita itu dengan suara mendayu.
Saat itu di mata Firza yang terlihat hanya senyuman Ersha, maka ia pun mengangguk saja. “Kau datang, Sayang?” cetusnya tanpa sadar, “maafkan aku,” ucap Firza sebagai bentuk penyesalannya.
“Iya, iya, nggak papa, namanya juga manusia, pasti pernah salah.” Wanita berpakaian serba ketat itu kegirangan, karena Firza memeluk tubuhnya dengan erat.
Wanita itu mendorong tubuh Firza sejenak, kemudian menyuapi pria itu dengan alkohol agar kesadaran Firza semakin hilang. Dengan begitu ia bebas melancarkan aksinya, karena pria ini lumayan juga, sepertinya cukup mapan, dan ber-uang. Masa bodo dengan si Jack kekasihnya yang kini mulai kehabisan uang.
Entah sudah berapa banyak cairan yang ia minum, Firza semakin terbuai dalam pelukan wanita yang ia kira sebagai Ersha. Bibirnya terus berucap tak karuan, kadang menangis, kadang terisak, dan paling sering adalah meminta maaf, memohon agar ia dicintai sekali lagi.
Tapi, beberapa kali juga ia tiba-tiba marah, ketika ingat ada pria lain yang sudah resmi menikahi Ersha, memasangkan perhiasan di tangan mungilnya yang lentik. Tangan itu yang dulu mengusap dan membelainya dengan lembut ketika ia sakit, menyiapkan makanan hangat, serta pakaian yang rapi. Tangan itu juga yang mencakar lengannya ketika ia sedang berjuang melahirkan buah hati mereka Abizar.
Semua bayangan kebahagiaan itu berputar tak mau berhenti, hingga membuat Firza kembali menjerit histeris.
“Kurang ajar! Ternyata kamu punya pria lain! Pantas saja kamu pergi meninggalkanku!”
Seorang pria dengan perawakan tinggi besar tiba-tiba datang, dan menarik lengan wanita itu.
“Tidak, kamu salah paham, aku tak mengenalnya, tapi dia terus menerus memelukku!” Wanita itu memanfaatkan situasi Firza yang benar-benar tidak sadar. Tapi si Jack kekasih wanita itu tak begitu saja percaya, karena ia sudah hafal tabiat kekasihnya.
Jack mencengkram rahang wanita itu, “jangan bohong!” erangnya marah.
“A-aku, tidak boh-hoong, kalau tak percaya tanya saja pada orang-orang.”
Jack tertawa miring, siapa yang mau ditanya? Semua orang sibuk menikmati musik, bahkan berjoget dalam keadaan tak sadar setelah meminum alkohol. Mereka datang ke diskotik untuk mencari hiburan, bukan mengurusi urusan orang.
“Kamu memang jalang!” geram Jack, lalu berganti mencengkram rambut kekasihnya.
“Akh!”
“Jangan sakiti dia!” Firza tiba-tiba berdiri meski sempoyongan, sungguh ia hanya melihat bayangan Ersha, karena itulah ia marah ketika wanita itu diperlakukan kasar oleh kekasihnya.
“Siapa kamu? Jangan ikut campur urusan kami!” hardik Jack.
“Kau, dalam masalah karena berani mengusik istriku!” ancam Firza kembali ngelantur, jelas saja si Jack semakin marah. Lalu—
Bugh!
Sebuah tinju melayang tepat mengenai wajahnya, Firza yang sedang tak siap serta dalam pengaruh Alkohol, langsung terjengkang hingga merobohkan beberapa meja kursi yang ada di belakangnya.
Keributan tak terelakkan, di sisa kesadarannya yang tak seberapa, Firza kembali bangkit dan balas menghajar pria itu. Susana semakin ricuh hanya karena baku hantam kedua pria itu.
Petugas keamanan segera datang untuk melerai keributan yang sudah terlanjur terjadi. Tapi, tak lama kemudian pandangan Firza kembali gelap, benar-benar gelap total, ia pingsan karena baru pertama kali mencoba Alkohol, dan dosisnya terlalu banyak.
•••
Di rumah Biru, pria itu baru selesai dengan beberapa pekerjaan yang ia bawa pulang ke rumah.
Tapi, ponselnya berdering, hingga ia kembali melepaskan diri dari pelukan istrinya.
“Ada apa?” jawabnya ketus, karena yang memanggil adalah Firza.
“Selamat malam, Pak. Apa benar, Anda yang bernama Biru?”
“Malam, Pak. Iya, benar. Ada apa, ya?”
“Kami dari kepolisian sektor Jakarta—” Polisi itu menyebutkan lokasi keberadaannya. “Pria ini teman Anda? Karena nomor Anda yang ada di panggilan cepat pertama.”
Biru memijat pelipisnya yang berdenyut karena kantuk. “Benar, Pak. Dia saudara saya.”
“Bisakah Anda menjemputnya? Saudara Anda sedang mabuk berat.”
si ersha udah 3 kali_ kamu/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Shy/
siapa yg di episode awal minta Firza nggk boleh balik sama ersha😄😄
salah satunya gue, sekarang malah doain😏😏