NovelToon NovelToon
SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen
Popularitas:19.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Ana—si “Jutek" cantik yang keras kepala—tidak pernah takut pada siapa pun di kampus. Kecuali satu orang yang benar-benar membuatnya naik darah: **Adi**, dosen muda yang terkenal killer, dingin, dan terlalu sexy untuk diabaikan.

Pertemuan mereka selalu penuh ketegangan—tatapan tajam, debat panas di kelas, dan permainan kecil yang hanya mereka berdua pahami.

Ana yakin ia membenci Adi.
Adi justru menikmati setiap detik perlawanan itu.

Namun di balik kebencian yang keras dan gengsi yang tinggi, ada sesuatu yang perlahan tumbuh—**panas, berbahaya, dan semakin sulit disembunyikan.**

Karena kadang…
orang yang paling ingin kita lawan adalah orang yang paling membuat jantung kita berdebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MALAM YANG INDAH

Suasana kaku yang tadi menyelimuti kabin kini telah berganti menjadi ketegangan jenis lain—ketegangan yang manis, yang membuat perut Ana terasa seperti dipenuhi ribuan kupu-kupu. Meski status "pacaran" sudah terucap secara resmi dari bibir pria yang paling ditakuti seantero fakultas itu, Ana masih merasa seperti sedang bermimpi.

Adi sesekali melirik ke arah kursi penumpang. Ia melihat Ana yang pura-pura sibuk menatap keluar jendela, padahal pantulan wajah gadis itu di kaca menunjukkan senyum yang mati-matian ditahan. Dasar keras kepala, pikir Adi. Bahkan setelah menyatakan perasaan pun, gengsi asistennya ini masih setinggi gedung rektorat.

"Masih mau cemberut sampai kapan?" tanya Adi, suaranya kini jauh lebih ringan, kehilangan nada 'killer' yang biasanya melekat.

"Siapa yang cemberut? Ini memang wajah asli saya, Pak," sahut Ana cepat, namun ia langsung menggigit bibirnya saat menyadari ia masih menggunakan panggilan formal.

"Masih panggil 'Pak'? Mau saya kurangi nilai skripsimu?" ancam Adi main-main.

Ana menoleh, memberikan tatapan tajam yang menjadi ciri khasnya. "Hubungan profesional dan personal harus dipisah, Pak Adi Pratama yang terhormat. Di luar kita boleh... ya, begitu. Tapi kalau soal akademik, jangan harap Bapak bisa menyuap saya dengan kata-kata manis."

Adi tertawa renyah, suara baritonnya mengisi kabin mobil. "Ternyata asistenku ini memang tidak bisa diajak kompromi. Baguslah, itu artinya saya tidak salah pilih calon masa depan."

Pipi Ana kembali memanas. Kalimat-kalimat Adi sore ini benar-benar tidak terduga. Sang dosen yang biasanya hanya bicara soal korelasi data dan metodologi penelitian, tiba-tiba bertransformasi menjadi pria yang sanggup meluluhkan pertahanan Ana hanya dengan satu kalimat lugas.

Tak lama kemudian, mobil mewah Adi memasuki kawasan perumahan elit tempat kos Ana berada. Adi menghentikan kendaraannya tepat di depan gerbang kayu besar yang menjadi akses masuk ke kos eksklusif tersebut. Mesin mobil mati, meninggalkan keheningan yang mendalam di antara mereka.

"Sudah sampai," ujar Adi pelan.

Ana melepaskan sabuk pengamannya, namun tangannya tertahan di gagang pintu. Ada rasa enggan untuk segera turun. Ia merasa pembicaraan mereka masih menyisakan banyak hal yang ingin ia rasakan lebih lama.

"Makasih ya, Pak... eh, Mas Adi," ucap Ana pelan, hampir berbisik. Ia baru saja akan membuka pintu ketika sebuah tangan besar dan hangat menggenggam jemarinya.

"Tunggu sebentar," suara Adi terdengar lebih rendah dari sebelumnya. "Tadi kamu bilang pernyataan cinta Saya kurang romantis, kan?"

Ana menoleh, dan sebelum ia sempat memberikan jawaban ketus yang sudah di ujung lidah, Adi sudah mencondong tubuh ke arahnya. Tangan Adi berpindah ke tengkuk Ana, menariknya lembut namun pasti. Tanpa peringatan, Adi mendaratkan ciuman yang dalam di bibir Ana.

Ciuman itu tidak lembut. Itu adalah ciuman yang dipicu oleh rasa gemas yang tertahan sejak tadi, sebuah bentuk 'hukuman' atas rasa cemburu Ana yang kekanakan dan tuntutannya yang membuat kepala Adi pening. Adi menciumnya dengan intensitas yang membuat Ana kewalahan. Ana terkesiap, tangannya yang tadi memegang tas kini meremas kemeja Adi, berusaha mencari pegangan karena dunianya seolah sedang berputar hebat.

Napas Ana mulai memburu, ia merasa sesak sekaligus melayang. Setiap kali ia mencoba menarik napas, Adi justru memperdalam tautan mereka, seolah ingin menyesap habis seluruh rasa ragu yang tersisa di hati gadis itu. Ciuman itu adalah sebuah penegasan: Kamu milikku, dan tidak ada lagi ruang untuk keraguan.

Ketika Adi akhirnya melepaskan tautan itu, Ana tersandar di kursi dengan napas terengah-engah. Wajahnya merah padam, rambutnya sedikit berantakan, dan matanya nampak sayu karena terkejut sekaligus terbuai.

"Laper banget kayaknya ya, pak?" kelakar Ana dengan bahasa sarkasmen, khas Ana.

Adi mengusap bibir bawah Ana dengan ibu jarinya, matanya berkilat penuh gairah yang berusaha keras ia tekan. "Itu hukuman karena kamu sudah membuat saya hampir gila seharian ini karena cemburu nggak jelas Dan itu juga tanda... bahwa kita resmi." Adi membisikan kalimat terakhirnya di telinga Ana dengan suara sexy. "Puas?"

Ana hanya bisa mengangguk lemah. Keberaniannya untuk mendebat mendadak hilang entah ke mana.

"Ingin rasanya Saya menghukum kamu sampai lewat malam ini, Ana," bisik Adi kembali di dekat telinga Ana, membuat bulu kuduk gadis itu meremang.

Adi menghela napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya sendiri.

Sebenarnya, keinginan untuk menghabiskan malam bersama Ana sangat kuat, namun akal sehatnya mengingatkannya pada tumpukan berkas penelitian yang harus selesai sebelum hari Senin. Ia harus memberikan hasil terbaik untuk proyeknya agar jadwalnya benar-benar kosong saat hari penting Ana tiba.

"Turunlah sebelum aku berubah pikiran dan bawa kamu pergi dari sini," ujar Adi dengan senyum tipis yang menggoda.

Ana segera meraih tasnya, merasa sedikit ngeri sekaligus senang dengan intensitas perasaan Adi. "Bapak... eh, mas... jangan lupa istirahat. Jangan kerja terus."

"Saya coba beresin semuanya besok. Biar Senin nanti, saat kamu berdiri di atas podium yudisium, Saya bisa ada di sana sebagai orang pertama yang ngasih selamat. Bukan sebagai dosen, tapi sebagai pacar," janji Adi.

Ana tersenyum lebar, wajahnya memerah. Hal yang sebenarnya romantis ini terasa sangat menggelikan karena keluar dari mulut sang dosen Killer di depannya. Ia tak menyangka, yang dikatakan Adi memang benar, hal ini sebenarnya tidak perlu diungkapkan. Karena rasanya jadi aneh dan agak lucu. Namun Ana mencoba menghargai usaha Adi, ia mencoba tersenyum semanis mungkin.

Meski menggelikan, namun... tetap saja, ini terasa manis.

Ana keluar dari mobil dengan langkah yang jauh lebih ringan daripada saat ia masuk tadi. Di depan gerbang, ia berbalik dan melambaikan tangan kecil ke arah Adi yang masih memperhatikannya dari balik kemudi.

Begitu masuk ke dalam kamar kosnya yang mewah namun selama ini terasa sepi, Ana langsung menjatuhkan diri ke atas tempat tidur. Ia menyentuh bibirnya yang masih terasa panas. Rasa cemburu pada Eva, rasa tidak aman karena status yang menggantung, semuanya seolah tersapu bersih oleh satu malam yang penuh kejujuran.

*

Di sisi lain, Adi memacu mobilnya kembali menuju rumahnya. Pikirannya sudah beralih ke data-data penelitian yang menanti. Ia tahu ia akan begadang semalaman, bahkan mungkin hingga Minggu malam. Namun, ia melakukannya dengan semangat yang berbeda. Ia punya misi: menyelesaikan semua urusan birokrasi dan akademiknya agar Senin nanti ia bisa membuat kejutan yang jauh lebih romantis daripada sekadar "menembak" di dalam mobil.

"### Tunggu saja, Ana. Kamu minta romantis, kan? Akan aku kasih yang tidak akan pernah kamu lupakan," gumam Adi sambil menyeringai kecil, membayangkan wajah terkejut Ana di hari Senin nanti.

-

-

*Mohon dukungan nya ya kakak-kakak pembaca semua. Biar Authot makin semngat nulisnya. *

-

-

1
Almeera
kak tanggung jawab aku kepikiran padahal aku mau tutup buku di kantor 🥲🥲🥲
Almeera
tabok dulu gak sihhh
Nina Sani: tabok sih biar gak kepikiran wkwkkwkw
total 1 replies
Almeera
Tinggalin aja ana kamu berharga, seonggok Adi harus kehilangan dulu baru tau rasa
Almeera
Kakak aku pertama ya, happy nice weekend 😍🌹
Nina Sani: luuuv❤️
total 1 replies
Almeera
Kaaa aku pertama hihihi 😍😍
Nina Sani: ❤️❤️❤️😍
total 1 replies
Almeera
thankyou, have a nice weekend 😍
Almeera
Bu myra gak usah diajakin lah, taro aja di bagasi 🙏
Almeera
Terimakasih banyak Kak sudah menciptakan karya indah ini dengan penuh kasih dan cinta sampai tercipta karya terbaiknya ❣️❣️
Nina Sani: makasih dukungannya kak, ikutin trs ya perjalanan Adi dan Ana. ❤️❤️
total 1 replies
Almeera
Kak aku siapin seragam buat kondangan, tolong jaga pasangan baik ini 🙏🙏😍
Almeera
seruuu banget, tapi tolong jangan berat berat ya kak masalahnya 🤗
Almeera
Aku udah nething yaa kak please 🥲
Ririn Susanti
sejauh ini aku suka ceritanya dan karakter Adi dan Ana,dn sampai disini aku faham ternyata.... kehidupan manusia itu ada yg spt itu,ngeri banget Krn aku punya anak perempuan 🤭
Fitriani
😄😄
Murni Asih
dr pertama sy lngsng suka
dr pertama cerita nya kngsng seru ka
Nina Sani: makasih ya kak, stay tune ikutin kelanjutannya😇
total 1 replies
Sartini 02
kayaknya menarik ya kak Krn masih bab 1
lanjut kak....🤭🙏👍
Nina Sani: siaap 😇😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!