[ Karya pertama di NovelToon ]
[ Semua visual di dalam didapat dari apk pinterest ]
----------
Yu Lingxi adalah Nona Muda Sekte Naga Giok. Ia dipuja-puja sebagai dewi karena memiliki kemampuan diatas rata-rata para kultivator wanita luar. Namun, ada suatu masa Sekte Naga Giok runtuh, disebabkan oleh Sekte Iblis Guntur yang secara terang-terangan mendeklarasikan peperangan dadakan. Dan diakhir hanya menyisakan nyawa Yu Lingxi dan Kakek Naga—Yu Tianlong. Peristiwa itu mengakibatkan mereka terpaksa meninggalkan sekte demi keberlangsungan hidup.
Tapi, tanpa Sekte Iblis Guntur ketahui, akan ada masanya Yu Lingxi membalaskan ketidakadilan dan dosa besar yang sudah mereka lakukan terhadap Sekte Naga Giok. Yu Lingxi, akan segera datang. Tunggu saja ...
----------
[ Hasil ketik tangan sendiri ]
[ Segi dunia, kultivasi, profesi, tingkatan, kekuatan, dan lain sebagainya adalah sebuah rekayasa dari ide author sendiri. Jika ada kesalahan kalimat/typo, mohon beritahu author ]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona cacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trauma #05
Suara teriakan Lingxi kecil menggema, memantul di dinding-dinding batu yang lembap dan berlumut di penjara bawah tanah. Ruangan itu begitu mencekam—cahaya hanya berasal dari obor yang berderak lemah, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang mengerikan di langit-langit yang penuh dengan tetesan air payau. Bau karat besi bercampur dengan aroma amis darah yang membeku di lantai batu, menciptakan atmosfer yang menyesakkan napas.
CETAASS! CETAASS!
Suara cambuk berduri berulang kali membelah udara, menghantam punggung mungil Lingxi dengan kejam. Setiap hantaman meninggalkan luka sayatan baru yang dalam dan robekan pada kulitnya yang semula halus, hingga kain baju compang-campingnya menyatu dengan darah segar yang mengalir.
S-seseorang ... tolong ... a-ak ... aku ...
Di tengah gelapnya malam, Lingxi kecil hanya dapat menangis tersedu-sedu, tubuhnya meringkuk di atas permukaan tanah batu yang dingin. Ia memohon, meminta tolong dengan suara yang nyaris hilang, namun tak ada siapa pun yang datang menolongnya. Yang terdengar hanyalah tawa penuh hina dan keji dari para penjaga yang berdiri di balik bayangan, menikmati penderitaan seorang anak berusia sebelas tahun. Perlahan, kekuatan tubuhnya terkuras habis; matanya mulai sayu, kelopak matanya terasa seberat timah, dan pandangan dunianya perlahan menggelap sepenuhnya.
"LINGXI, YU LINGXI!"
...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...
^^^Returned to Shen Zhengtian's Tranquility Residence. The 10th day of the sixth month of the year one thousand and fourteen^^^
Lingxi tersentak hebat, napasnya memburu seolah ia baru saja muncul dari permukaan air setelah tenggelam lama. Tangannya secara tidak sadar meraba punggungnya sendiri, mencari luka-luka robek yang ia rasakan dalam memorinya, namun ia hanya menemukan kain sutra hanfu azurenya yang kering dan halus.
Yu Tianlong memegang kedua pipi Lingxi. Lalu berbicara dengan suara parau, "napas, Lingxi! Fokus pada Kakek. Tidak ada Huang Zhong, tidak ada cambuk. Kau aman."
Lingxi terengah-engah, tubuhnya basah kuyup oleh keringat dingin. Ia menatap Kakek Naga dengan tatapan penuh teror, masih bisa merasakan perihnya cambukan di punggungnya dan dinginnya lantai batu penjara di pipinya.
"Rasanya ... rasanya masih sangat perih, Kakek. Suara cambuk itu ... tawa mereka ... semuanya terasa seolah baru saja terjadi kemarin!" ujarnya secara terang-terangan. "Apa Kakek tidak sudah lupa rasa sakit yang diperoleh oleh cucumu ini?" Lingxi dengan tatapan linglung dan air mata yang mulai tumpah refleks berjongkok dengan kepala tertunduk.
Yu Tianlong membeku, sebelum menarik Lingxi ke dalam dekapan hangatnya—membiarkan Lingxi menangis di dadanya. Ia menyadari bahwa meskipun Lingxi telah mencapai usia remaja, jiwanya masih tertinggal di lantai penjara dingin itu.
"Maafkan Kakek. Kakek terlalu memaksakan dendam itu padamu tanpa menyadari betapa dalamnya lubang hitam di hatimu." bisiknya dengan nada menyesal. "Jika seperti ini, kita tidak akan melakukan apa pun sampai kau benar-benar siap," sambungnya seraya membelai halus pucuk surai putih bersih milik cucunya.
Tetapi, belum sempat menit berganti jam, Yu Tianlong merasakan rasa sakit yang dahsyat dari dalam hatinya. Sesak, rasa takut akan kehilangan. Yu Tianlong berdiri mematung, sepasang matanya yang tajam bak elang kini terkunci rapat pada wajah mungil di hadapannya.
Lingxi tertunduk lesu. Isak tangisnya yang tadi meledak kini hanya menyisakan suara lirih yang menyayat hati. Kelopak matanya membengkak kemerahan, jejak air mata tampak mengering di pipinya yang pucat.
"Lingxi," suara Yu Tianlong berat dan dalam, bergema di ruangan yang sunyi itu. "Angkat wajahmu. Lihat Kakek."
Dengan gemetar, gadis itu mendongak. Sorot mata Yu Tianlong begitu serius, tanpa celah bagi keraguan. "Kemasi barang-barangmu. Kita tinggalkan Kediaman Ketenangan malam ini juga. Kita akan berkelana, menjauh dari jangkauan tempat ini."
Lingxi tersentak. Ketakutan kilat menyambar di matanya yang sembab. "Tapi, Kakek ... di luar sana," suaranya tercekat.
Bayangan pakaian hitam mata-mata Sekte Iblis Guntur dan kilatan pedang Huang Zhong—sang Jenderal Emas Kekaisaran Nian—kembali menggerogoti ingatannya. Trauma masa lalu itu seperti rantai dingin yang membelit lehernya.
"Bagaimana jika mereka menemukan kita? Jenderal Huang ... dia tidak akan pernah berhenti mencariku." Lingxi sigap menopang kepalanya yang hendak terjatuh. Keputihan di bola matanya berangsur-angsur memerah. Lalu, ia kembali menimpali, "aku takut, Kakek ..."
Yu Tianlong menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang sarat akan beban kenyataan. Ia melangkah mendekat, bayangannya menutupi tubuh kecil Lingxi. "Kau pikir dengan tetap diam di sini kau akan aman?" tanya Yu Tianlong dingin.
Ia kembali merogoh saku hanfunya, lalu meletakkan sebuah plat besi hitam di atas meja kayu di antara mereka. Bunyi denting logam itu terdengar seperti lonceng kematian bagi Lingxi.
"Tempat ini bukan lagi persembunyian, Lingxi. Keberadaanmu sudah terendus," lanjut Yu Tianlong dengan nada yang menusuk. "Pria misterius yang menguntitmu dan Shen Zhengtian di bawah pohon jeruk itu... dia adalah saksi mata yang telah melihat segalanya. Dan plat ini? Ini adalah tanda bahwa Iblis Guntur sudah berdiri di depan pintu rumah kita."
Wajah Lingxi kian memucat, nyaris seputih kertas. Bibirnya ikut mengering akibat diterpa semilir angin.
"Sekte itu sudah tahu kau ada di sini. Menetap hanya akan menanti maut menjemputmu dalam tidur," Yu Tianlong memberikan kenyataan pahit itu tanpa saringan.
"Kakek? Bukankah Kakek baru saja berkata kepadaku, apa Kakek melupakannya?"
Jika seperti ini, kita tidak akan melakukan apa pun sampai kau benar-benar siap
"Lingxi, pilihannya hanya dua, kau tetap di sini dan membiarkan mereka merantai kakimu lagi, atau kau ikut dengan Kakek dan kita ambil kendali atas nasibmu sendiri."
Lingxi menatap plat besi itu dengan tatapan kosong. Dadanya sesak, napasnya terasa berat dan terputus-putus. Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa saat, hanya detak jantungnya yang berpacu liar mengalahkan suara jangkrik di luar.
Benar juga ... dulu, aku sangat ingin membalaskan dendam sekte yang kini sudah menjadi abu, gumam Lingxi sembari kedua tangan terlipat di depan dada.
Tapi, semua trauma itu ... sulit untukku membangkitkan semangat juang setelah apa yang sudah kualami ..., ucapnya dalam hati lagi. Kini, posisi tangan kanannya menyentuh dagu.
Tidak, tidak boleh menyerah ...! Aku adalah Yu Lingxi, mana mungkin menyerah ...!
Setelah pergulatan batin yang hebat, Lingxi akhirnya menghembuskan napas panjang yang gemetar. Ia menghapus sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan, lalu mengangguk pelan.
"Baik, Kakek Naga," ucapnya dengan suara yang kini terdengar lebih tegar meski masih menyimpan getaran. "Aku akan ikut. Bawa aku pergi dari sini."
Yu Tianlong tidak tersenyum, namun sorot matanya sedikit melunak. Ia tahu, perjalanan panjang yang penuh bahaya baru saja dimulai. Sementara itu, di luar ruangan, Shen Zhengtian sedikit menguping pembicaraan mereka tanpa persetujuan.
Huang Zhong? Jenderal Emas andalan Kekaisaran Nian, apa yang istimewa di dalam tubuh mungil seorang gadis dari Sekte Naga Giok ini?
...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...
...…To Be Continued…...
Nggak sia-sia bacanya, harap-harap alurnya juga semantep visualnya/Kiss//Rose/