NovelToon NovelToon
ACT ZERO: Di Atas Malam Yang Tinggi

ACT ZERO: Di Atas Malam Yang Tinggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Teen
Popularitas:155
Nilai: 5
Nama Author: Endiya Winter

Gimana bisa siswi SMA bunuh diri di atap, tapi bkn mati krn jatuh?

Yah, kenapa pula ga bisa?
Ini kan ... Act Zero.

- - -

ACT ZERO: Di Atas Malam yang Tinggi

Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis ditemukan tak bernyawa di atap gedung sekolah.

Bunuh diri.

Selama tiga tahun, rumor-rumor dan spekulasi liar bermunculan di mana-mana. Namun tak ada satu pun pihak yang menghentikan karena semua siswi diperbolehkan untuk saling bercerita, memberikan pendapat masing-masing tanpa terkecuali.

Misalnya seperti ... kematian gadis yang diduga merupakan aksi pembunuhan.

Tidak ada yang tahu. Karena mereka yang mengetahuinya menyembunyikannya di dalam Drama.

Drama.

Panggung berisikan lima gadis bergerak melalui cerita yang akan dipertontonkan kepada para audiens. Di balik tirai berwarna merah ... sebelum lampu sorot dinyalakan dan musik dimainkan, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati—alasan dari terciptanya sebuah Drama.

Act Zero.

- - -

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endiya Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ACT V—{Chapter 6}

   Dua hari yang lalu adalah hari Sabtu. Mereka pergi bersama teman-teman untuk menikmati akhir pekan dengan mengunjungi banyak tempat, berfoto, menonton film, juga membeli macam-macam jajanan di pasar tradisional. Hari penuh kebebasan itu kemudian diakhiri dengan mereka pergi ke kedai bakpao. Para junior yang masih canggung menitip dibelikan makanan itu. Namun, karena terjadi ketegangan di dalam kedai—antara Rebecca dan Amber dengan Chloe—jadi Villy dan Ayaa pun memutuskan untuk menunggu di luar. Kebetulan juga mereka harus pergi ke apotek, jadi di sana mereka berbincang-bincang sebentar sampai kemudian datanglah seorang gadis. Gadis itu berdiri di depan mereka berdua. Tanpa menyapa, tanpa basa-basi, dia langsung berkata,

   “Aku memang tidak tahu apa-apa tentang Drama, tapi sepertinya kalian sedang mengalami sedikit kesulitan. Bisakah aku membantu?”

   Villy dan Ayaa mengangkat kepala secara serempak. Lantas manik mata mereka memancarkan sorot terkejut begitu melihat kehadiran gadis itu. 

   Sembari menyentuh kalung berliontin kelopak bunga merah mudanya, Ariana melanjutkan, “Aku akan lakukan dalam waktu dekat. Jadi, Villy—ah, maksudku, Viona—tolong persiapkan hadiahnya, ya.” Dia tersenyum, matanya tampak tenggelam oleh kelopak matanya. “Aku di sini untuk menemani anggota kamarku pergi membeli pangsit. Aku tidak mengikuti kalian. Jangan berprasangka buruk.”  

   “Tidak ada yang bertanya padamu, dasar brengsek. Enyah, kau.”

   Villy menelan ludah. Kepalanya terasa sedikit sakit, bukan karena dia belajar terlalu keras, melainkan karena ia sadar akan suatu hal yang luput dari ingatannya. Kalimat peringatan yang Ariana berikan saat itu bukanlah perkara sepele yang bisa dengan mudah diabaikan. Gadis itu adalah gadis berbahaya. Segala yang diucapkan dan yang dilakukannya tidaklah lain berupa racun. Hanya butuh hitungan waktu sampai racun tersebut bekerja dalam tubuh seseorang.

   Ayaa melanjutkan, “Lebih lagi kita tidak tahu sejauh mana dia menguping obrolan kita. Yang pasti, kita harus melangkah lebih dulu sebelum dia.”

   “Dia pasti akan berbuat sesuatu dalam waktu dekat.”

   “Mungkinkah besok?! Atau jangan-jangan hari ini?!”

   “Kurasa tidak. Besok dia harus pergi ke acara amal untuk memberikan pertunjukan selo. Maka itu hari ini dia berlatih di ruang musik.”

   “Kalau begitu..” Ayaa menggosok-gosok hidungnya, berpikir.

   “Kemungkinan besar dia akan bergerak antara lusa sampai hari berikutnya.”

   “Wah, gila. Ini sungguh tidak mudah.” Ayaa merebahkan dirinya ke lantai, menggeram panjang sambil meregangkan persendiannya yang kaku. Buku dipangkuannya dibuang begitu saja, lalu ia menyambar gelas kopi dan menyesapnya sampai habis. Setelah jeda beberapa detik dengan keduanya saling diam entah memikirkan apa di dalam kepalanya masing-masing, tahu-tahu Ayaa bangkit sambil berseru, “Erica!”

   Villy yang mendengarnya tentu terkejut, juga bingung dengan tindakan gadis itu. “Kenapa kau?”

   “Mari kita mulai dengan Erica!”

   “Sebaiknya kau berhenti belajar. Kau tampak sudah gila.”

   Lampu neon di langit-langit koridor sudah dinyalakan sejak pukul lima sore. Itu sebabnya bayangan berwarna hitam di celah pintu dapat terlihat oleh Ayaa. Setelah berdiam diri di sana, bayangan itu kemudian menghilang, berbelok ke suatu arah. 

   “Kau sedang lihat apa?” Kepala Villy celingukan, mencari asal tujuan pandangan Ayaa. “Kenapa kau menyebut Erica?” tanyanya lagi, makin penasaran.

   Ayaa tertawa kecil. “Ah, bukan apa-apa. Aku hanya berpikir sepertinya penyihir itu menguping obrolan kita sejak kita membicarakan Erica. Artinya kita harus memulai dari Erica, kan?”

   “Astaga, tingkahmu sangat aneh.”

...• • • • •...

   Kamar-kamar di gedung asrama baru dimulai dari lantai dua—sama seperti ruang kelas di gedung sekolah—itu karena lantai satu dibuat khusus untuk membangun berbagai macam fasilitas umum, seperti lapangan, Fe-mart, dapur, laundry, tempat penitipan hewan, ruang kesehatan/UKS, ruang belajar, ruang komputer, dan lain sebagainya. Nah, di antara deretan fasilitas tersebut, salah satunya adalah ruang santai. Ruangan berukuran 20×40 meter itu didesain dengan banyak meja dan kursi, sekilas tampak mirip dengan kafetaria. Bedanya, di sini tidak ada petugas yang berjaga. Makanan dan minuman diletakkan di dalam lemari pendingin dan mesin otomatis. Ada yang disediakan secara gratis, ada pula yang berbayar. 

   Setiap kali menjelang senja, banyak gadis duduk-duduk di sana sambil berbincang. Mereka tersebar di beberapa tempat, begitu juga dengan seorang pria yang kebetulan datang ke SMA Putri Endley sebagai tamu. 

   “Ada apa dengan wajahmu?” Naza menelisik penuh ingin tahu. Dipandanginya gadis itu menarik kursi dengan tampang wajah seperti hantu—datar, pucat dan membingungkan. Padahal saat pertama kali Karinn turun untuk menemuinya, wajahnya terlihat baik-baik saja. Bahkan dia tersenyum cerah setelah diberitahu bahwa ia membawa Lilia, adik perempuannya, ikut serta bersamanya. “Kau oke?” tanyanya lagi. 

   Karinn menggeleng, kepalanya jatuh ke permukaan meja. 

   “Ada masalah?”

   Karinn mengangguk. 

   “Tiba-tiba sekali?”

   Karinn mengangguk lagi. 

   Naza mengulurkan tangan kanannya, menepuk pelan kepala Karinn. “Kau selalu seperti ini sewaktu-waktu. Maka itu kuputuskan datang bersama Lilia karena kuharap kau bisa bersantai sebentar dari urusan Dramamu. Tapi ternyata—”

   “Ah, tidak-tidak. Bukan salahmu.” Karinn mengibaskan pergelangan tangannya, isyarat sebagai ganti kepalanya yang menggeleng. 

   “Kak Karinn!” Seseorang berseru dari kejauhan. Gadis kecil perkiraan berusia sepuluh tahun berlari dari ujung gerbang asrama. Tangannya dilambaikan kepada si pemilik nama dengan secercah cahaya matahari menerpa senyumnya yang lebar. Di tangannya yang lain, dia menggenggam corn es krim—pasti karena lama menunggu, dia memutuskan jajan ke minimarket. “Kau lama sekali,” katanya dengan nada dan wajah merajuk.

   “Hahahaa, iya, maaf, ya. Dompetku tertinggal di kamar, jadi aku kembali untuk mengambilnya.”

   “Sudah ketemu?” 

   Karinn menegak ludah, bingung mencari jawaban karena dia bahkan tidak masuk ke dalam kamar. “Um, sepertinya aku lupa meletakkannya di mana.” Dia menggaruk tengkuk kepalanya yang mendadak terasa gatal, tertawa kikuk.

   “Tidak masalah, biar kali ini aku yang traktir.” Naza yang tahu Karinn menoleh kepadanya, segera membalas dengan tersenyum. Ia jelas tahu itu terjadi karena masalah yang tadi menimpanya. 

   “Kalau begitu ayo kita pergi sekarang!” Lilia turun dari kursi, menarik-narik tangan Karinn yang malas untuk bangkit supaya mengikutinya. Sementara Karinn yang bagaimanapun juga tidak boleh terlihat seperti sedang memendam masalah pada gadis kecil seimut Lilia, pasrah saja tubuhnya dibawa pergi sesuka hati. 

   Pertama-tama, mereka pergi ke pos jaga untuk meminta izin keluar kepada satpam. Di sana sudah tersedia buku besar dengan halaman yang nyaris penuh oleh catatan tangan para penghuni asrama—nama, waktu kepergian, tujuan, semuanya ditulis dengan beragam macam coretan bolpoin. Jam kembali pun sudah ditentukan, pukul delapan malam tepat. Lewat dari itu, konsekuensinya jelas bukan main karena hukuman tak terduga dari petugas asrama akan menanti seperti memenangkan tiket lotre. 

   Karinn dan Naza berjalan berdampingan di trotoar. Di depan mereka, Lilia mengayuh sepeda kecil yang disewanya dari taman bermain, rambutnya berkibar seolah ikut tertawa bersama angin. Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan dua temannya tak tertinggal, lalu melambaikan tangan dengan wajah penuh semangat. 

   Angin dingin bertiup dari perbukitan, membawa kesejukan yang menenangkan. Langit perlahan berubah warna; oranye muda beradu dengan ungu pucat di balik pepohonan pinus. Aroma tanah lembap bercampur samar dengan wangi bunga liar di tepi jalan. Di kejauhan, matahari menggantung rendah seperti koin emas terakhir sebelum gelap mengambil alih. 

   “Kak Karinn!” panggil Lilia, dia mengayuh pedal sepedanya menghampiri sambil menunjuk deretan pertokoan di seberang jalan. “Aku mau bakpao isi selai srikaya.” 

   Begitu gadis kecil itu tiba di dekat kakinya, Karinn hanya menatapnya dengan gugup. Tidak menggeleng, juga tidak mengangguk. Dia kehabisan kata-kata untuk memberikan jawaban, dan alasannya sesederhana ia tidak ingin mengecewakan Lilia yang sudah jauh-jauh datang ke sini demi menemuinya.

   “Ada apa?” Naza bertanya dengan nada agak lirih. Dia jelas merasakan ada hal rumit yang sedang dipikirkannya.

   “Kita tidak bisa pergi.” 

   “Kenapa?”

   Karinn berbisik, “Kedai itu sudah tutup sementara sejak kemarin.”

   Kebetulan tidak jauh dari tempat mereka berdiri, lewat seorang penjual permen kapas dengan desain gerobak berwarna-warni. Lilia yang melihatnya langsung berbinar matanya, mendadak keinginannya berubah dalam sekejap. 

   “Kau mau permen kapas, Lilia?” tanya Naza.

   Lilia mengangguk tanpa pikir panjang. Segera ia turun dari sepeda dan berlari menghampiri sang penjual. Di belakang, Karinn dan Naza mengekor sambil melanjutkan topik obrolan.

   “Karinn, apa ada sesuatu yang terjadi dengan kedai bakpao?” 

   Awalnya Karinn ragu-ragu ingin menjawab, namun mengingat kasus tersebut masih hangat dan tentunya investigasi masih dilakukan secara bertahap, jadi dia pun memutuskan untuk menjelaskan. “Dua hari lalu, mayat seorang karyawan kedai bakpao ditemukan di depan gerbang sekolahku. Saat ini kasusnya masih dirahasiakan, jadi hanya butuh hitungan waktu sampai berita ini beredar.”

   “Setahuku karyawan yang bekerja di sana masih pelajar, kan? Apa mayat itu adalah siswi yang bersekolah di sekolahmu?”

   Karinn menggelang. “Dari berita yang kudengar, dia dikucilkan oleh teman sekolahnya. Itu sebabnya dia pergi ke daerah ini untuk bekerja paruh waktu, semata-mata demi menjauh dari seseorang yang dapat mengenalinya.”

   “Tentang bagaimana kondisinya, apa kau sudah melihatnya?”

   Belum sempat Karinn menjawab, tubuhnya tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Lututnya goyah, pandangannya sempat buram sesaat sebelum dia ambruk ke depan. Untungnya Naza sigap, tangannya secara spontan menahan bahu Karinn. 

   “Ah, maaf! Maafkan aku!” Suara seorang gadis memecah keheningan. Ia memakai seragam SMA Putri Endely, ditambah kardigan abu-abu yang lengan kirinya sedikit kusut. Nafasnya memburu, mungkin karena berlari. Gadis itu membungkuk berulang kali, meminta maaf atas kesalahannya yang tidak sengaja menabrak.

   Karinn mengangkat kepalanya, menemukan sosok wajah senior yang tampak tidak asing di matanya. “Kak Chloe.”

   Tadinya Karinn hendak menyapanya karena sudah lama tidak bertemu setelah terakhir kali mereka jadi teman sekamar, namun Chloe yang tampak linglung itu sudah lebih dulu membalikkan badan dan pergi. Karinn pun tak bisa berbuat apa-apa selain menatap nanar punggung tersebut yang kemudian menjauh dari jarak pandangnya.  

   “Siapa dia? Kau mengenalnya?” tanya Naza.

   “Ya, dia seniorku.”

   “Dia terlihat sedang tidak baik.”

...• • • • •...

   Chloe mempercepat langkahnya, seolah sedang berusaha menjauh dari sesuatu yang mengejarnya. Napasnya memburu, menggema di lorong asrama yang sunyi. Cahaya lampu di langit-langit menimpa wajahnya, seperti kilasan yang makin membuatnya gelisah. Begitu mencapai ujung koridor, ia menembus pintu toilet dan langsung mengunci diri di salah satu bilik. Lantai dingin menyentuh kulitnya ketika ia jatuh berlutut, tubuhnya terlipat oleh dorongan dari dalam perut. Suara muntah memecah keheningan, diikuti batuk kasar yang membuat bahunya bergetar. Beberapa menit kemudian, hanya napas berat yang tersisa. Chloe bersandar ke dinding, menatap kosong ke lantai yang basah oleh pantulan cahaya lampu. Saat tubuhnya mulai tenang, ia bangkit perlahan, keluar dari bilik dan berjalan menuju wastafel.

   Kran diputar, air bening mengalir deras tanpa henti saat ia membasahi wajahnya. Di kaca besar di depannya, pantulan dirinya tampak asing—mata memerah, bibir pucat, rambut menempel di pipi karena keringat. Ia menatap bayangan itu cukup lama, lalu menunduk. Jantungnya kembali berdegup kencang. 

   Satu jam sebelumnya, Serena datang berkunjung ke asramanya. Chloe menyambutnya dengan hangat karena sebelumnya sudah dikatakan bahwa ia ingin mengajaknya pergi ke suatu tempat—tempat di mana ia katakan Maudy berada.

   Selama dalam perjalanan menaiki taksi, Chloe hanya duduk diam sambil memandangi pemandangan yang melintas di luar jendela. Semula deretan pepohonan rindang di pembatas jalan dan hamparan tanah rerumputan tampak mendominasi, namun lama-kelamaan pemandangan itu berganti dengan siluet megah gedung-gedung tinggi yang menjulang ke langit. Jalanan pun melebar, kemudian sedikit menanjak sebelum kemudian melewati jembatan penyeberangan yang membentang kokoh di atas sungai berwarna kelabu, memantulkan cahaya redup langit senja.

   Chloe menatap pantulan wajahnya yang samar di kaca jendela, sebuah pertanyaan mengganjal terlintas di kepalanya, "Kita mau pergi ke mana?" namun apalah daya, lidahnya terasa kelu seolah terbelenggu oleh intimidasi. Tepat di sampingnya, Serena duduk tenang seperti biasa, pandangannya lurus ke depan, tanpa banyak bicara. Suasana di dalam taksi terasa hening, hanya diisi oleh suara mesin yang menderu pelan dan desiran angin yang menerpa kaca.

   Kurang dari dua puluh lima menit, taksi berhenti di depan kompleks rumah sakit. Kondisinya masih cukup ramai walau senja hampir tenggelam. Cahaya oranye dari langit yang retak di ufuk barat memantul di kaca-kaca jendela, menimbulkan bayangan panjang di halaman parkir yang penuh dengan kendaraan. Di depan lobi, beberapa perawat berseragam biru muda bergerak cepat membantu pasien turun dari ambulans. Mereka berbagi tugas secara inisiatif, di saat salah seorang menyibak kerumunan untuk membuka jalan, yang lain bekerja sama menurunkan brankar, sementara yang lain melakukan tindakan resusitasi jantung paru (RJP).

   Papan nama bertuliskan Rumah Sakit Universitas Eugene berdiri di sisi gerbang, huruf logamnya berkilau samar di bawah cahaya lampu. 

   Serena turun lebih dulu, lalu membayar sopir sembari menatap sekilas ke arah Chloe. Mulut Chloe tetap terkatup, tak mengatakan sepatah kata pun walau ingin.

   Kemudian, keduanya menjejakkan kaki ke dalam rumah sakit. Begitu pintu kaca otomatis menutup di belakang mereka, suara hiruk-pikuk dunia luar lenyap seketika—tergantikan oleh suara langkah tergesa dari segala penjuru, juga aroma disinfektan yang menguar dengan tajam. Mereka berjalan melewati deretan kursi tunggu yang sebagian besar kosong, hanya ada seorang ibu yang tertidur sambil memeluk map hasil rontgen. Di ujung lorong, seorang perawat lewat sambil membawa troli obat, lalu masuk ke ruang IGD untuk mengecek tanda vital pasien. Serena tidak bicara apa pun, hanya terus menuntun arah dan Chloe mengikuti dari belakang. Setiap belokan membawa mereka ke bagian rumah sakit yang semakin dalam, semakin sepi—melewati ruang perawatan dengan tirai setengah tertutup, ruang administrasi, lalu akhirnya sampai di koridor belakang yang lampunya berpendar redup.

   Langkah mereka berhenti di depan pintu logam abu-abu. Di sampingnya, papan bertuliskan Morgue/Forensic Department tergantung di permukaan pintu. Seorang staf pria yang berjaga menatap mereka dengan rasa curiga, lalu bertanya dengan nada sedikit tidak ramah. Serena pun maju menghampiri, kemudian menjelaskan secara terus terang tentang keperluan yang membuat mereka datang kemari. Chloe hanya diam dan menonton dari jarak dua meter, tak bisa mendengar keseluruhan apa yang mereka bicarakan. Staf itu diam beberapa saat, lalu mengangguk sekali sembari menekan tombol di panel dinding. Pintu logam itu kemudian terbuka perlahan dengan bunyi desis dingin dari dalam.

   “Kubilang ... aku akan membawamu ke tempat di mana Maudy berada.” Langkah kaki Serena berhenti di depan salah satu laci besi. Tangannya sempat menggantung di udara, ragu sesaat, sebelum akhirnya menyentuh selembar kertas label yang menempel di permukaannya. Sebuah nama tertera di sana—Maudy—tertulis rapi dengan tinta hitam.

   Chloe merasakan gelombang mual naik dari perutnya. Ia sempat menutup mulut, tetapi tubuhnya bereaksi lebih cepat. Dengan langkah terburu, ia berlari masuk ke salah satu bilik toilet. Pintunya hampir tak sempat tertutup rapat saat ia menunduk di atas kloset, memuntahkan kembali isi perutnya. Dia terbatuk-batuk sambil memegang dadanya yang terasa amat sakit, lalu tanpa sadar pandangannya teralih pada sebuah gelang di tangan kanannya. Gelang itu terbuat dari anyaman tali nilon, dirangkai dengan sangat presisi menggunakan beberapa simpul dan batu manik-manik sebagai aksesoris. Di antara semua komponen tersebut, permata berbentuk bunga tulip berwarna ungu menjadi poin paling utama. Benda itu mengkilap sangat cantik saat cahaya lampu memantulkan gelombang warna yang dapat tertangkap oleh mata. Namun, Chloe menariknya dengan kasar. Gelang itu terhempas ke dinding toilet dengan bunyi yang bergema di keheningan. Napasnya memburu lagi, sembari menatap gelang tersebut dengan pandangan jijik.

   Malam itu ... dingin serasa menusuk, bahkan seolah mampu menembus sampai ke tulang walau jaket yang dikenakannya sudah mencapai dua lapis. Belakang kedai bakpao bukanlah tempat yang menarik, karena di sana hanya terdapat deretan tong sampah dan pemandangan yang langsung menuju ke jalan raya. Sempit, serta tanahnya becek oleh sisa hujan sore tadi. Air menetes dari talang yang bocor, memantul di genangan kecil, menciptakan irama melodi yang berpadu sempurna dengan suara napasnya. Tenggorokannya terasa sempit, panas, dan setiap kali ia mencoba menghirup, hanya ada suara serak terputus yang lolos dari mulutnya. Kedua tangannya terus berusaha meraih tali itu, kukunya menggurat kulitnya sendiri dalam panik. Ia meronta sekuat tenaga, tetapi seberapa keras pun ia bergerak, jeratan tali justru semakin mengiris kulit lehernya. Perih. Menyakitkan. Chloe tenggelam oleh rasa takut. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, berharap menemukan seseorang. Namun tak ada siapa pun di sejauh matanya memandang, hanya gelap yang seolah menelan pinggiran kota dengan ganas.

   “Kukatakan sekali lagi, beri aku jawaban atau kau akan benar-benar mati.” Dia berbisik di dekat telinganya sembari tersenyum, merasakan sensasi luar biasa dari tubuh yang menggelepar seperti ikan. Hidup dan matinya ada di tangannya, jelas ini adalah euforia yang telah lama tidak dirasakannya. “Kau mau mati hari ini?”

   Chloe menggelengkan kepala susah payah, air matanya makin deras membasahi pipinya. 

   “Kalau begitu sebutkan satu nama, maka akan kubebaskan kau.”

   Urat leher Chloe menegang, begitu pula otot tangannya yang masih berusaha melonggarkan tali. Suaranya nyaris tidak dapat keluar dari kerongkongannya. Ia semakin takut. Tenaganya berangsur-angsur melemah sampai kemudian ia tidak lagi menunjukkan reaksi memberontak. “....D-Dengan apa ... k-kau bisa menjamin ucapanmu?”

   “Aku akan memberimu ... hadiah terbaik.” Dari balik masker hitam yang melekat menutupi setengah wajahnya, dia tersenyum dan tertawa—puas terhadap reaksi mangsanya. Itu membangkitkan kembali gairahnya saat merasakan darah mengalir di sela-sela jarinya, juga perubahan suhu yang turun secara drastis. 

   Chloe masih berusaha membuka mulutnya, tergagap-gagap saat mengatakan, “.....M-Maudy..”

   “Siapa dia? Berikan alasanmu.”

   “D-dia ... Dia rekan kerjaku.”

   “Alasannya?”

   Jeratan tali itu makin menekan pembuluh darah Chloe. Ia bahkan dapat merasakan permukaan kulit lehernya mengelupas dan mengeluarkan sensasi perih. Walau tak sebanding dengan rasa takutnya, ia tetap berusaha membuka mulutnya, mencoba bicara. “D-dia ... Aku tidak menyukainya. Dia banyak berlagak dan menempel padaku.”

   “Itu saja?”

   Mendadak Chloe merasa kesal, tanpa sadar dia menyalak, “Sial, aku membencinya! Dia bertingkah seolah aku harus selalu melihat dan memperhatikannya! Dia membuatku seolah aku adalah orang jahat! Padahal dia ... dialah yang merebut posisiku. Dia merebut cahaya lampuku!”

   Dari balik maskernya, dia tertawa lebar. Suaranya bahkan terdengar jelas di telinga Chloe. “Jadi kau menghindarinya agar cahayanya redup, namun kau malah membuatnya makin bersinar terang.” Dengan sekali gerakan, ia melepaskan tali di leher Chloe, tubuhnya langsung terjatuh ke tanah. Chloe terbatuk-batuk. “Besok aku akan mengirimkan hadiahnya.”

...• • • • •...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!