NovelToon NovelToon
Batas Jarak Dan Baktimu

Batas Jarak Dan Baktimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

​Pertemuan mereka diawali oleh rintik hujan dan aspal basah di sebuah asrama militer. Aura Shenina, gadis kecil dengan imajinasi setinggi langit, harus merasakan perihnya luka demi sebuah tabrakan yang tak disengaja. Di sisi lain, Pradipta Arya, remaja laki-laki yang membawa beban nama besar sang ayah, terikat pada rasa bersalah yang perlahan menjelma menjadi sebuah janji penjagaan yang tak kasat mata.
​Waktu berlalu, membawa mereka ke dua dunia yang kontras. Nina meniti sunyi di atas panggung tari dengan gemulainya selendang, sementara Arya menantang maut di belantara hutan dengan senapan di pundak.
Pertemuan kembali di kota budaya, Yogyakarta, menyeret mereka ke dalam pusaran rasa yang lebih dewasa. Namun, saat rindu mulai menemukan muaranya, badai besar datang menghantam pilar terkuat dalam hidup Nina. Di tengah duka yang pekat, sebuah pundak hadir menawarkan perlindungan, namun sekaligus membawa bayang-bayang status sosial yang jurangnya begitu dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji yang Terbelah

​Jakarta menyambut Nina dengan hawa panas yang seolah membakar pori-pori kulitnya, sangat kontras dengan musim dingin Amsterdam yang baru saja ia tinggalkan. Nina melangkah keluar dari Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta dengan koper besar dan hati yang jauh lebih berat. Ia tidak memberi tahu siapa pun tentang kepulangannya, kecuali satu orang yang ia harap masih berada di pihaknya: Dimas.

​Namun, baru saja ia melewati pintu keluar, sosok tegap dengan kemeja flanel gelap sudah berdiri menunggunya. Wajah Dimas tidak memancarkan kegembiraan. Sebaliknya, ada guratan kecemasan dan ketegasan yang membuat Nina tertegun.

​"Ikut aku, Nin. Kita harus bicara sebelum kamu melangkah lebih jauh," ujar Dimas tanpa basa-basi. Ia langsung menyambar koper Nina dan menuntunnya menuju parkiran.

​Di dalam mobil yang melaju membelah kemacetan tol menuju pusat kota, keheningan menyelimuti mereka. Nina menatap gedung-gedung pencakar langit dengan pandangan nanar.

​"Aku mau ke RSPAD, Mas. Atau ke rumah dinasnya. Aku harus melihat Kak Arya," bisik Nina memecah keheningan.

​Dimas menghela napas panjang, jemarinya mengetuk kemudi dengan ritme yang gelisah. "Kamu tidak bisa ke sana, Nin. Setidaknya, tidak sekarang. Jika kamu muncul di hadapannya saat ini, kamu bukan hanya akan menghancurkan ketenangan keluarga Sudrajat, tapi kamu bisa membahayakan nyawa Arya."

​Nina menoleh cepat. "Maksud Mas apa? Dia sudah sadar, kan? Dia sudah sehat!"

​"Secara fisik, ya. Tapi jiwanya sedang rapuh, Nin. Dia mengalami amnesia yang cukup parah. Dan saat ini..." Dimas menjeda, seolah berat untuk mengucapkannya. "Dia sedang hidup di dalam cerita yang dikarang oleh Maura. Maura telah menghapus jejakmu sepenuhnya. Dia meyakinkan Arya bahwa mereka adalah pasangan yang sangat saling mencintai sejak dulu. Arya percaya itu karena dia tidak punya memori lain untuk membantahnya."

​Nina merasa dadanya seperti dihantam godam. "Jadi... dia percaya bahwa dia mencintai Maura? Dia lupa tentang Jogja? Tentang selendang itu?"

​"Dia lupa semuanya, Nin. Dan dokter bilang, kejutan emosional yang terlalu besar bisa memicu trauma saraf yang lebih parah. Kamu mau dia jatuh sakit lagi? Kamu mau dia kehilangan kesadarannya lagi karena dipaksa mengingat sesuatu yang otaknya belum siap terima?"

​Nina menyandarkan kepalanya ke kaca mobil. Air matanya jatuh tanpa suara. Ia merasa seperti hantu yang gentayangan di dunianya sendiri. Ia ada, ia nyata, tapi bagi orang yang paling ia cintai, ia sama sekali tidak pernah ada.

​Dimas tidak tega melihat kondisi sahabat dari sepupunya itu. Ia tahu betapa tulusnya cinta Nina dan Arya, namun ia juga terikat sumpah setia pada kawan dan tanggung jawab moral untuk menjaga stabilitas keluarga Sudrajat yang sedang berduka.

​"Aku sudah mencarikanmu rumah kontrak kecil di daerah Jakarta Selatan. Cukup tersembunyi, tapi aman. Kamu bisa tinggal di sana sementara waktu sampai suasana mereda," kata Dimas sambil menyerahkan sebuah kunci. "Aku juga punya kenalan di sebuah perusahaan ekspor-impor, mereka butuh staf administrasi. Gajinya cukup untuk menyambung hidupmu di sini tanpa harus bergantung pada tabungan Amsterdammu."

​Nina menatap kunci itu, lalu menatap Dimas dengan senyum getir. "Terima kasih, Mas Dimas. Aku akan menerima rumah kontraknya. Tapi untuk pekerjaan... aku menolaknya."

​Dimas mengernyitkan dahi. "Kenapa? Kamu butuh uang untuk bertahan di Jakarta, Nin. Hidup di sini mahal, dan kamu tidak mungkin terus-menerus mengandalkan bantuan orang."

​"Aku sudah mendapat tawaran pekerjaan lain," jawab Nina singkat, matanya memancarkan kilat tekad yang sulit dibaca.

​"Pekerjaan apa? Di mana?"

​"Ada sebuah sanggar tari tradisional kontemporer di daerah Jakarta Pusat yang sedang mencari pelatih utama untuk persiapan pertunjukan besar di gedung kesenian. Mereka sudah menghubungiku sejak aku di Belanda. Aku akan kembali ke akarku, Mas. Aku akan menari. Biarkan aku bertahan hidup dengan cara yang aku kuasai."

​Dimas hanya bisa mengangguk pasrah. Ia tahu Nina adalah wanita yang keras kepala. Selama ia tidak nekat mendatangi rumah dinas Arya, Dimas merasa tugasnya untuk mengamankan situasi masih terkendali.

​***

​Sementara Nina meratapi nasibnya di sebuah kontrakan sepi, di rumah dinas Kapten Arya, suasana justru berbanding terbalik. Kehangatan palsu yang diciptakan Maura telah berubah menjadi rutinitas yang tampak sangat nyata bagi Arya.

​Setelah malam "kebenaran" di mana Arya mengetahui Maura masih perawan, keraguan Arya perlahan tertutup oleh perhatian Maura yang luar biasa. Maura tidak membiarkan Arya sendirian sedikit pun. Ia mengisi setiap jam, setiap menit, dengan cerita-cerita karangan tentang kencan-kencan romantis mereka yang tak pernah terjadi.

​Sore itu, mereka duduk di taman belakang. Maura sedang menyuapi Arya potongan buah mangga.

​"Dulu, Mas paling suka mangga yang kupotong seperti ini. Ingat tidak?" tanya Maura sambil tersenyum manis.

​Arya mencoba mengingat, lalu ia tersenyum tipis—sebuah senyum yang terpaksa. "Sejujurnya belum ingat, Maura. Tapi rasanya memang enak."

​Maura kemudian bersandar di bahu Arya, tangannya mengusap lengan suaminya yang berotot. "Tidak apa-apa, Mas. Kita punya seluruh sisa hidup kita untuk membuat kenangan baru. Aku senang sekali akhirnya kita bisa benar-benar menjadi suami istri yang sesungguhnya. Aku merasa... aku wanita paling bahagia di dunia."

​Arya menatap Maura. Wajah cantik istrinya tampak begitu tulus di bawah sinar matahari sore. Secara biologis, Arya merasa tertarik pada Maura—ia adalah pria normal, dan Maura adalah wanita yang sangat menarik. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada sebuah kekosongan yang tak terjelaskan. Seperti sebuah nada yang sumbang di tengah simfoni yang indah.

​"Aku juga bersyukur memilikimu, Maura," ujar Arya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

​Kemesraan mereka semakin menjadi-jadi. Mereka sering terlihat berjalan-jalan di kompleks perwira, bergandengan tangan, membuat para tetangga dan kolega Arya memuji betapa harmonisnya pasangan itu pasca kecelakaan. Maura benar-benar menikmati perannya. Ia merasa telah memenangkan perang. Ia merasa telah berhasil mengubur Nina di bawah tumpukan kebohongan yang manis.

​Maura bahkan mulai merencanakan untuk segera memiliki anak. "Mas, kalau nanti kita punya anak laki-laki, aku ingin dia gagah sepertimu," bisiknya saat mereka sedang bersantai di depan televisi.

​Arya hanya mengangguk, namun pikirannya melayang ke sebuah nama yang tempo hari muncul di mimpinya. Nina. Nama itu masih menghantuinya, namun ia menekannya dalam-dalam. Ia pikir itu mungkin hanya fragmen dari sebuah film atau masa lalu yang tidak penting yang sudah dibuang oleh otaknya.

​***

​Di kontrakan kecilnya, Nina sedang membongkar koper. Ia mengeluarkan selendang ungu lavender pemberian Arya. Ia memeluk kain itu erat-erat, menghirup aroma yang masih tersisa.

​Ia tidak tahu sampai kapan ia bisa bertahan di Jakarta tanpa menemui Arya. Namun, peringatan Dimas terus terngiang di kepalanya. Ia tidak boleh egois. Jika mencintai Arya berarti harus membiarkan pria itu hidup dalam kebohongan agar ia tetap sehat, maka Nina akan melakukannya.

​Ia mulai berlatih tari di ruang tamunya yang sempit. Setiap gerakan tangannya adalah doa. Setiap hentakan kakinya adalah tangisan. Nina memutuskan untuk menyalurkan seluruh kerinduannya ke dalam tarian yang akan ia ajarkan di sanggar nanti.

​Di sisi lain kota, Arya sedang memeluk Maura di balkon rumah mereka, menatap bulan yang sama dengan yang ditatap Nina.

​"Aku mencintaimu, Maura," ucap Arya pelan, lebih sebagai mantra untuk meyakinkan hatinya sendiri.

​"Aku jauh lebih mencintaimu, Mas," sahut Maura dengan binar kemenangan di matanya.

1
kartini aritonang
semangat thor...lanjuuut.
kartini aritonang
saya suka karya ini , sayang sekali peminatnya sangat sedikit, Banyak karya karya bagus di nt yang sepi pembaca, semoga othor tidak lelah untuk berkarya, mungkin bukan sekarang, tetapi nanti akan banyak yang membaca karyamu thor. semangat 💪
Boa: kak😍Terima kasih banyak sudah menyukai karya sy. Terima kasih juga utk setiap like nya. sy termasuk penulis pemula disini. bisa cek karya sy yg lain juga ya kak, siapa tau suka ☺🙏
total 1 replies
falea sezi
heleh muter mbuh lah males
Indryana Imaniar
woou kereeen
falea sezi
moga Arya g plin plan lagi klo. emak loe pura2 sakit. lagi. mending nina balik ke Belanda gak balik.
falea sezi
cerai lah oon bgt jd cowok. plin. plan makan itu penyesalan salah sendiri manut ma emak mu yg kayak. lampir itu
falea sezi
kapok. jd cowok. kok. lemah ibumu. cm akting
falea sezi
ma emak nya aja kalah laki plin. plan pengecut makan itu karir
Erlina Candra
kereen karyanya Thor..semakin penasaran
Boa: Terima kasih banyak kak, semoga suka ya 🙏☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!