NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikahi SERUNI (Kembang Desa)

Terpaksa Menikahi SERUNI (Kembang Desa)

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Romansa pedesaan / Trauma masa lalu / Bertani / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:146.3k
Nilai: 5
Nama Author: Safira

Seruni (20 tahun) adalah kembang desa cantik, lugu dan polos yang tinggal di wilayah terpencil daerah Tapal Batas.

Pernah bertunangan dengan salah satu pemuda dari kampung sebelah. Berujung putus dan gagal menikah karena ditikung adik tirinya bernama Rasti.

Suatu hari, Seruni dijodohkan dengan seorang pria dari kota. Musibah datang menerpa, di mana rombongan bus calon pengantin laki-laki mengalami kecelakaan, lalu terbakar hebat. Semua penumpang tewas di TKP termasuk calon suami Seruni.

Kepercayaan masyarakat setempat, jika sampai seorang gadis gagal menikah dua kali maka dianggap pembawa sial. Pastinya tak ada pemuda yang akan sudi menikahi Seruni.

Pak Tono selaku Kades yang berstatus sebagai ayah kandung Seruni, terpaksa menerima laki-laki asing bernama Bastian Fernando Malik yang mendadak bersedia menjadi suami Seruni. Tanpa diketahui semua orang bahwa Bastian tengah lari dan bersembunyi dari kasus pembunuhan yang menjeratnya.

Bagian dari Novel : Maafkan Mama, Pa🍁

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 - Jangan Lama-Lama

"Tidak keberatan sama sekali," jawab Seruni.

"Bila ading melakukannya, akan mendapat pahala. Bila menolaknya, justru ading akan berdosa sekali. Ading ingin mendapat rahmat dari Allah untuk masuk sur_ga kelak di akhirat. Pintu sur_ga yang ading inginkan adalah pintu karena ketaatan seorang istri pada suami," lanjutnya.

Nyess...

Hati Bastian seketika terenyuh mendengar untaian kalimat indah dan menyejukkan dari Seruni barusan.

"Udara di sini lumayan enak buatku daripada di rumah bapakmu," ungkap Bastian seraya tersenyum tipis.

Sebuah kipas angin berukuran sedang yang berada di atas kursi kayu di dalam kamar mereka. Kipas yang harganya tak sampai seratus ribu rupiah tersebut sejak tadi menyala karena Bastian masih merasa kegerahan.

"Lebih dingin di sini ya, Bang?"

"Hem," sahut Bastian. "Cuma bagiku masih terasa gerah. Maklum tubuhku gampang panas," sambungnya.

Cuaca di area pengasingan bila malam hari jauh lebih dingin daripada di desa Seruni. Bila siang hari terasa terik alias panas.

Akan tetapi, jangan lupakan bahwa Bastian adalah pria blasteran dan enam tahun dirinya pernah tinggal di Australia. Ia lebih menyukai hawa dingin ketimbang panas.

Kalian pernah lihat bule naik gunung hanya dengan pakai kaos singlet tipis, bahkan telan_jang dada ?

Nah, bagi seorang Bastian hawa di area pengasingan masing kurang dingin.

Sedangkan bagi Seruni, berbeda. Seruni kurang menyukai hawa dingin. Alhasil sejak tadi ia sudah menutup tubuhnya dengan selimut agar tidak kedinginan serta masih pakai hijab.

Walaupun hawa terasa dingin baginya, Seruni perlahan bangun dari posisi tidurnya. Namun, ia masih berada di atas ranjang.

Seruni memberanikan diri melakukan permintaan Bastian sebelumnya yakni melepas hijab malam ini. Tangan Seruni pelan-pelan membuka peniti di area leher.

Kedua mata Bastian menatap dengan penuh seksama ke arah Seruni. Seolah tampak jelas pria ini tak ingin melewatkan momen penasarannya akan rahasia kecantikan sang istri yang tersembunyi di balik hijab warna hitam tersebut.

Jantung Bastian mendadak berdegup menggebu-gebu bercampur tak sabaran karena adegan slow motion yang dilakukan Seruni. Rasanya tangan Bastian gatal sekali ingin ikut membantu untuk melepaskan kain penutup kepala Seruni.

Bahkan sempat terbesit pikiran nakal Bastian yang ingin sekali melepas seluruh kain di tubuh Seruni, bukan hanya sekedar hijabnya. Hohoho...

Klik...

Bunyi peniti yang telah terbuka pun terdengar. Setelah peniti berhasil dibuka, hijab warna hitam itu pun terlepas perlahan dari kepala Seruni. Bastian seketika dibuat takjub melebihi ekspektasi pikirannya sendiri yang tadi merec0ki kepalanya.

Rambut panjang berwarna hitam pekat membingkai kepala Seruni. Belum disentuh oleh Bastian, pria ia begitu terpana sampai tanpa sadar mulutnya sedikit menganga.

"Mashaa Allah..." gumam Bastian lirih dan spontan.

Sungguh ia terpesona akan rambut Seruni yang tampak begitu terawat seperti rambut para wanita kota yang sering dilihatnya hobi keluar-masuk salon untuk perawatan mahal.

Jelas jika Seruni tak mungkin pergi ke salon. Di desa pelosok ini tak ada bangunan salon atau spa yang berdiri. Jasa perawatan tubuh dan rambut door to door juga tidak ada. Hanya ada tukang pijat untuk pegal linu atau enc0k yang tersedia keliling kampung.

Jangan tanya wajah dan perasaan Seruni saat ini. Memerah tersipu malu dan berbunga-bunga hingga membumbung tinggi ke cakrawala karena mendengar pujian singkat yang keluar dari bibir Bastian.

"Apa abang suka?" cicit Seruni malu-malu dengan kepala setia menunduk sejak tadi.

"Eh...ehm, su_ka." Jawab Bastian tergagap.

Seketika ia tersadar dari lamunannya. Rasanya keperg0k menatap mess_um ke istri sendiri. Oh, My God.

"Tunggu, Run." Cegah Bastian di mana Seruni hendak merebahkan tubuhnya kembali di atas peraduan.

"Kenapa Bang?"

Bastian mendekat dan mengikis jarak antara mereka berdua. Tangan Bastian terulur ke atas dan menyentuh rambut Seruni.

"Ini ikat rambutmu masih menempel di ujung bawah," ucap Bastian menjawabnya seraya jari-jemarinya melepaskan karet gelang yang melekat di ujung rambut Seruni.

Sepertinya ikat rambut Seruni melo_rot ke bawah, tapi belum terlepas sempurna. Alhasil kini Bastian pisahkan dari rambut istrinya itu.

Tubuh Seruni semakin bergetar tak karuan usai mendapat sentuhan pertama dari Bastian di mahkota bagian atas yang selama ini dijaganya dari pandangan pria yang bukan mahramnya.

Ini baru permulaan sentuhan di mahkota atas Seruni, belum mahkota tersembunyi di bawah perutnya. Yang pasti masih original karena tak pernah dija_mah oleh pria mana pun. You know what I mean.

"Nah, sekarang lebih baik." Celetuk Bastian.

Bibirnya ingin berucap kata 'cantik', tetapi yang terlontar berbeda. Bastian sendiri masih sedikit gengsi mengutarakan bahwa memang Seruni cantik di matanya.

"Aku lebih suka melihat rambutmu tergerai bebas," ucap Bastian.

Blushh...

Wajah Seruni semakin merah merona mendapat pujian kembali dari sang suami. Seruni tampak malu-malu meong.

"Tatap aku, Run. Aku di depanmu, bukan di bawah."

Seruni masih bergeming dengan debaran jantungnya sendiri. Bastian yang gemas melihat tingkah sang istri, perlahan jari-jemarinya menyentuh dagu manis milik Seruni.

Kepala Seruni perlahan akhirnya mendongak. Kini pandangan suami-istri yang masih aroma pengantin baru itu saling berhadapan. Kedua mata Seruni berbulu mata lentik itu pun menatap wajah Bastian dari jarak yang begitu dekat.

Bahkan hembusan nafas Bastian mampu ia rasakan. Hal ini semakin membuat tubuh Seruni rasanya lemas tak berdaya akan pesona suaminya sendiri yang begitu tampan bak Dewa Yunani.

Entah dorongan dari mana, Bastian semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Seruni. Jari Bastian masih menjepit dagu milik Seruni agar sang istri tetap menatapnya.

Tiba-tiba...

BLAMM...

Listrik mendadak padam. Gelap pun datang menerpa sepasang pengantin baru tersebut.

"Bang..." cicit Seruni lirih di tengah suasana gelap saat ini.

"Aku di sini, Run. Tenanglah," ucap Bastian berusaha menenangkan istrinya.

Tiba-tiba Seruni merasa Bastian melakukan suatu pergerakan turun dari ranjang.

"Abang mau ke mana?" tanya Seruni terdengar cemas.

"Abang mau buka jendela kamar biar gak panas," jawab Bastian.

"Jangan lama-lama," cicit Seruni refleks.

Dalam gelap Bastian tersenyum bahkan rasanya ingin tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Seruni barusan.

Jendela kamar mereka letaknya hanya satu jengkal di depan ranjang, bukan berjarak jauh sampai ke Kutub Utara.

"Memangnya kalau abang lama-lama, kenapa?" pancing Bastian dengan nada penuh goda.

Bersambung...

🍁🍁🍁

*Menyambut bulan suci Ramadhan tahun 2026, Othor mengucapkan :

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan.

Semoga diberi kesehatan dan kelancaran dalam menjalan ibadah di bulan Ramadhan tahun ini. Segala amal ibadah kita diterima dengan baik oleh Allah SWT dan diampuni segala dosa. Aamiin yaa rabbal alamiin...

🙏🙏

1
Ayesaalmira
coba runi kluar dari blik pengasingan samperin bang bul,br jls smuanya...
Teh Euis Tea
sabar ya runi, doain aj suamimu bisa membuktikan klu dia tdk bersalah, jgn dengetin si maura apa lg ibu dan adik tirimu yg menginginkan km sengsara
kaylla salsabella
masak bastian udah dipenjara 🤔🤔🤔
Dew666
💜💜💜
Sugiharti Rusli
dan sekarang pada akhirnya si Seruni malah tahu perkara kamu dari si Maura, yang pasti bias omongannya karena ada kepentingan buat dirinya
Sugiharti Rusli
padahal meski dari kampung, tapi Seruni termasuk perempuan cerdas kan dia, seharusnya Bastian paling tidak kasih pengertian sebelum berangkat
Sugiharti Rusli
nah kan, akibat si Bastian ga mau jujur sama si Seruni sekarang dia jadi memperta nyakan ketulusan cinta kamu kepadanya Bas,,,
Wardi's
trus maksudnya maura apa datang ke seruni? cuma mau ngasih tau bastian d penjara?? tp kenapa berbelit2 sampai bilang pernah nganu2..
Nena Anwar
tuh kan Seruni tau dari org lain kan karena Bastian gk mau jujur sih
Ayuk Witanto
Bastian menyerah kan diri
Ayuk Witanto
sabar ya run...
Al Fatih
bang bul...,, bang bul...,, pergi tanpa memberikan penjelasan yang sebenarnya
Al Fatih
sabar yaa mbak seruni....
Nia nurhayati
dasar perempuan durjana kauuuu selvongggg
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
sabar ya seruni🥹
Nia nurhayati
betapa baik nya hati istri mu bastian iya berbesar hati me ma'af kan muu
maka,sayangi dan cintai seruni sepenuh jiwa bastian
Muji Lestari
semangat Thor. selalu di tggu kelanjutanya
Tuti Tyastuti
𝘈𝘭𝘩𝘢𝘮𝘥𝘶𝘭𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘵" 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘬𝘢 𝘧𝘪𝘳𝘢
Tuti Tyastuti
𝘣𝘢𝘨𝘶𝘴 𝘳𝘶𝘯𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘯𝘪𝘯𝘨𝘴𝘪𝘩 𝘩𝘦𝘮𝘱𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘬𝘰𝘳
Nena Anwar
sehat selalu ya othor dan kluarga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!