NovelToon NovelToon
Batas Pintu Jati

Batas Pintu Jati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Romansa Fantasi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: penavana

Laras Kusuma Widjaya adalah definisi gadis sempurna: ningrat, cantik, dan sangat penurut. Hidupnya adalah deretan protokol kaku. Masalahnya hanya satu, Laras tidak tahu cara bilang "tidak"—bahkan saat Bara, cowok paling pembuat masalah di sekolah, mengajaknya melakukan hal paling gila dalam hidupnya.

Semua hal nyeleneh yang dilarang keras oleh keluarganya, justru menjadi pintu keluar bagi jiwa Laras yang selama ini terkekang. Namun, saat perasaan mulai tumbuh melampaui batas kasta, tembok tradisi menuntut ketaatan yang mustahil ia sanggupi. Di antara tuntutan keluarga dan debaran jantung yang tak masuk akal, Laras harus memilih: tetap menjadi putri mahkota yang sempurna, atau membiarkan gelar ningratnya hancur berantakan demi satu-satunya kebebasan yang pernah ia rasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penavana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rona Merah Laras

Setelah film usai, mereka berjalan keluar dari teater. Kerumunan orang yang mengantre untuk jam tayang berikutnya membuat suasana terasa sesak, dan hal itu seolah memberi alasan bagi Bara untuk semakin mempererat genggamannya pada tangan Laras. Laras menoleh ke arah Bara, mendapati pria itu tengah menatapnya dengan binar yang sulit diartikan. Seolah ada sebuah kesepakatan tanpa kata yang terjalin di antara mereka; bahwa malam ini masih terlalu awal untuk berakhir begitu saja.

Bara melangkah mendekati Danendra dan Aurel. Dengan gestur tenang, ia menepuk bahu Danendra.

"Ndra, gue cabut duluan ya, misah. Laras biar gue yang antar pulang. Gue mau ajak dia cari angin sebentar."

​Danendra tersenyum jahil. "Ya sudah, sana. Gue maklum kok sama dua orang yang lagi kasmaran begini. Dunia memang punya kalian berdua malam ini."

​Bara dan Laras menuju ke lantai atas, menuju tempat suara dentuman musik dan cahaya neon warna-warni terdengar meriah.

​"Kita ke Timezone?" tanya Laras dengan mata berbinar saat melihat gerbang dunia permainan itu di depannya.

Bara mengangguk dan tersenyum. Ia segera mengisi saldo kartu permainan mereka, lalu menarik tangan Laras menuju deretan mesin permainan. ​Permainan pertama adalah Street Basketball. Laras tertawa lepas saat melihat Bara yang biasanya tenang kini begitu kompetitif, melemparkan bola demi bola ke dalam ring dengan gerakan yang cekatan. Sesekali ia sengaja mengarahkan bola Laras yang meleset agar masuk ke ring, membuat skor Laras melambung tinggi.

​"Yaaaay!" teriak Laras sambil tertawa.

Bara tersenyum dan mengusap kepala Laras gemas.

Setelah puas dengan basket, mereka beralih ke mesin dansa. Laras yang awalnya malu-malu akhirnya menyerah saat Bara menariknya naik ke atas platform. Mereka bergerak mengikuti panah di layar, meski langkah kaki mereka seringkali bertabrakan dan berakhir dengan tawa renyah yang memenuhi sudut ruangan. Di mata Laras, Bara yang sedang tertawa lebar seperti ini adalah pemandangan paling indah, jauh lebih menarik daripada aktor mana pun.

​Lelah bermain, mereka berhenti di depan mesin pencapit boneka (claw machine). Laras menempelkan wajahnya di kaca, menatap sebuah boneka beruang kecil dengan pita merah yang tampak lucu.

​"Mau yang itu?" tanya Bara, suaranya terdengar tepat di samping telinga Laras.

​Laras mengangguk pelan. "Tapi katanya mesin ini susah banget, Bar."

​"Tantangan diterima," sahut Bara percaya diri.

Ia menggesekkan kartu, menggerakkan tuas dengan penuh konsentrasi. Matanya menyipit, fokus pada target. Percobaan pertama gagal. Percobaan kedua, penjepit itu hanya menyentuh ujung telinga si beruang. Laras sudah bersiap untuk menyerah, namun pada percobaan ketiga, Bara mengatur posisi dengan sangat hati-hati. Saat penjepit itu berhasil mengangkat si beruang dan menjatuhkannya ke lubang keluar, Laras bersorak kegirangan. Ia spontan memeluk lengan Bara, membuat pria itu tertawa puas. ​Bara mengambil boneka itu dan menyerahkannya pada Laras.

"Ini buat kamu." ucap Bara bangga.

Laras menerima boneka itu dengan perasaan membuncah. Di tengah hiruk-pikuk mesin permainan dan teriakan anak-anak di sekitar mereka, Laras merasa seolah mereka berada di dalam gelembung mereka sendiri. Ia memeluk boneka itu erat, lalu menatap Bara dengan tulus.

​"Terima kasih, Sayang."

Ketika mau keluar dari zona permainan, langkah mereka terhenti di depan sebuah stan photobox estetik dengan lampu neon berwarna ungu. Bara melirik Laras yang tampak tertarik menatap tirai stan tersebut.

"Mau coba?" tanya Bara.

Laras mengangguk. Mereka masuk ke dalam bilik kecil yang sempit, memaksa tubuh mereka berhimpitan. Di bawah pendar lampu kilat, mereka melakukan beberapa pose lucu; mulai dari pose formal, pose menjelekkan wajah, hingga pose Bara yang merangkul bahu Laras protektif. Namun, pada jepretan terakhir, keberanian Laras muncul secara tiba-tiba. Tepat saat hitungan mundur di layar menunjukkan angka satu, Laras berbalik dan mendaratkan sebuah ciuman di pipi Bara.

​Cekrek!

​Lampu kilat menyambar, mengabadikan momen di mana mata Bara membelalak terkejut namun bibirnya mulai membentuk senyum bahagia. Laras segera menarik diri dengan wajah semerah tomat. Saat hasil foto keluar, Bara menatap lembaran strip foto itu lama, lalu menyimpannya dengan hati-hati di saku kemejanya.

"Pose terakhir itu favorit aku," bisik Bara sukses membuat jantung Laras menggila.

Wajah Laras seketika berubah seperti kelopak mawar yang baru mekar—merah jambu lembut namun terasa panas hingga ke ujung telinganya.

​Namun, sebelum pulang, Laras mendadak gelisah.

"Bara... bentar ya, aku mau ke toilet," bisiknya.

Bara mengantarnya dan menunggu di lorong toilet, berdiri agak jauh agar tidak dikira mesum.

​Tiba-tiba, ketenangannya terusik oleh Erika dan dua dayangnya.

"Loh, Bara? Kamu ngapain di sini? Sama siapa?" tanya Erika dengan nada menyelidik.

​Bara hanya diam, teringat janji pada Laras untuk merahasiakan hubungan mereka. Erika yang merasa diabaikan justru semakin gencar.

"Beb... Bara kalau pakai baju kasual gini ganteng banget, ya? Kemejanya dibuka gitu, berantakan tapi makin hot," goda Erika pada teman-temannya sambil mencoba menyentuh kancing kemeja Bara yang terbuka.

​Tepat saat itu, Laras keluar dari toilet. Melihat Erika yang nyaris menyentuh kemeja Bara, rasa cemburu Laras meledak. Ia berjalan cepat dan langsung berdiri di samping Bara, menyelipkan lengannya di lengan pria itu.

​"Sudah selesai, Sayang. Yuk, pulang?" ucap Laras tegas.

​Erika tersentak, matanya membelalak.

"Sayang? Lho, kalian pacaran?" tanya Erika tak percaya.

​Laras mendongak menatap Erika dengan berani.

"Iya, aku pacarnya Bara. Jadi mulai sekarang kamu jangan godain Bara lagi," tegas Laras.

Bara tertegun sejenak, namun kemudian binar bangga terpancar jelas dari matanya. Tanpa berkata-kata, ia mempererat genggaman tangannya pada Laras, meninggalkan Erika yang mematung.

Begitu sampai di eskalator, Bara berbisik ke telinga Laras, "Katanya backstreet?"

Laras baru tersadar akan aksinya tadi. Pipinya memanas.

"Tadi itu... keren banget," bisik Bara lagi dengan senyum lebar. Laras menunduk menyembunyikan wajahnya yang semerah kepiting rebus.

​Perjalanan pulang di atas motor terasa lebih hangat. Laras menyandarkan pipinya di punggung pria itu saat motor membelah angin malam. Pipinya masih menyisakan rona hangat. Bukan lagi karena malu yang meledak, tapi karena rasa bahagia yang kini menetap di sana seiring dengan pelukannya yang semakin erat di pinggang Bara.

Sesampainya di minimarket area komplek rumah Laras, Bara menurunkan Laras. Ia merapikan rambut Laras yang berantakan terkena angin.

"Aku senang banget hari ini, Sayang"

"Aku juga" jawab Laras tersenyum dan memeluk boneka beruangnya.

"Tadi kamu cemburu ya?" goda Bara.

"Cemburu apa? Mana ada?" Laras menutupi wajahnya dengan boneka.

"Enggak apa-apa. Itu tandanya kamu sayang banget sama aku. Makasih ya kamu udah mau go public tadi. Itu membuktikan kalau aku memang punya kamu, dan kamu punya aku."

​Laras tersenyum, melambaikan tangan dengan manja saat Bara mulai melaju pergi. Ia berjalan menuju rumahnya yang berjarak tidak jauh dari minimarket.

Rona merah di pipinya belum juga pudar, bahkan terasa semakin hangat saat ia memeluk boneka beruang itu erat-erat. Namun, begitu jemarinya mendorong daun pintu, rona merah itu luruh seketika, berganti dengan pucat pasi saat melihat siapa yang berdiri di depannya.

1
Wawan
Sekuntum mawar merah buat story nya ✍️
Wawan
Mauuuu... 🤣
Wawan
Dua tangkai mawar merah buat Laras 😄
Wawan
Hadir
penavana: thingkiuuuu
total 1 replies
Carzenogenik
Hehehehehehehehehhe senyum2 sendiri dari tadi🌝
Carzenogenik
Bau2nya.... Tipuan yg gagal menipu😅
Carzenogenik
Jawab dengan singkat. "Gpp, sans"😶 Belom nyari buku juga, wkwk
Carzenogenik
Hmm... Segitunya kah? Bara lu baru aja guling2 di aspal?😭
Carzenogenik
CK. Iya2! Darah lo lebih kotor dari darah ayam! Cepet pakek dan jangan ngedumel!🙂
Carzenogenik
Hmm... Yahh, gw pun masih percaya sampe sekarang kalo bogem lebih manjur buat nunjukin berandalan dan sejenisnya. wkwk😌
Carzenogenik
Woooohh~😯
Carzenogenik
...Baru selangkah menuju kebebasan, tapi rasanya kebebasan itu makin jauh 🙂
Carzenogenik
Ugh... Tiba-tiba diriku cemas. Nggak akan ada apa-apa kan ini????😵‍💫
Carzenogenik
G-Gila... Apalah diriku yg suka bangun tengah malem dan bikin mie gegara keroncongan😅
Carzenogenik
Waah... Pasti nggak enak banget tuh bangun gragapan kek gini😅
Carzenogenik
Tiran... Eyangnya kayak TIRANN!! Ngeri banget! 😭😭
Carzenogenik
Se-Sebaiknya jangan gegabah 😵‍💫
Carzenogenik
Yah. Bagian ini mungkin dia juga salah. Kita nggak boleh ngediemin panggilan orang, apalagi ortu. Tapi... kalo tiap telpon isinya ngeselin, yaa...😶
Faeyza Al-Farizi
lah... bakul kunci kamu Den 🤣🤣🤣
Faeyza Al-Farizi
mana setuju pula, ketahuan gawat ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!