NovelToon NovelToon
BABY-NYA OM GALAK

BABY-NYA OM GALAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Sugar daddy / Cinta Seiring Waktu / Duda / Konflik etika
Popularitas:29.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Ketika gadis SMA memilih kerja sampingan sebagai seorang sugar baby.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berhenti

Bunga sedap malam baunya terlalu kuat untuk ruang terbuka.

Yuna selalu berpikir begitu setiap kali hadir di pemakaman, bahwa ada ketidaksesuaian antara wangi bunga yang terlalu hidup dan semua yang sedang terjadi di sekitarnya. Tapi orang-orang terus meletakkannya, karung demi karung, karangan demi karangan, seolah banyaknya bunga bisa mengisi sesuatu yang tidak bisa diisi oleh apa pun.

Pemakaman Lily sepi.

Bukan sepi yang mengejutkan, Yuna sudah mengantisipasinya sejak perjalanan ke sini tadi pagi. Lily tidak punya banyak orang yang benar-benar dekat. Teman-teman sekolah yang lain tidak diberitahu secara resmi, dan bahkan kalau diberitahu, Yuna tidak yakin banyak yang akan datang. Dunia remaja punya cara yang sangat efisien untuk melupakan seseorang begitu seseorang itu tidak hadir untuk mengingatkan mereka bahwa ia ada.

Jadi yang ada hanya mereka.

Yuna. Mega. Dan di sisi liang yang masih terbuka itu, dua orang yang dalam dua hari terakhir terlihat seperti telah menua sepuluh tahun sekaligus.

Bapak Santoso tidak banyak bergerak sepanjang prosesi.

Ia berdiri dengan tegak yang terasa dipaksakan tegak, seperti seseorang yang sadar kalau ia berhenti menjaga postur tubuhnya ia akan ambruk, dan ia tidak bisa mengizinkan dirinya ambruk di sini. Tidak sekarang, tidak di depan tanah yang sedang menelan satu-satunya anaknya. Tangannya di samping tubuh, terkepal rapat, dan matanya menatap ke satu titik di atas permukaan peti itu dengan cara yang Yuna tidak bisa memutuskan apakah itu karena ia terlalu fokus atau justru karena ia tidak lagi benar-benar melihat apa pun.

Ibu Santoso tidak mencoba menjaga komposurnya.

Ia menangis dari momen pertama mereka tiba, tangis yang sudah kehabisan suaranya, yang sesenggukan tanpa bunyi yang menyertainya karena tubuh perempuan itu sudah tidak punya cadangan untuk itu. Sesekali ia membungkuk seperti seseorang yang perutnya sakit, tangannya menekan dada, dan bapak Santoso akan meletakkan satu tangan di punggungnya... tidak berbicara, tidak menenangkan dengan kata-kata, hanya ada di sana.

Yuna dan Mega berdiri sedikit di belakang mereka.

Cukup dekat untuk hadir. Cukup jauh untuk memberikan ruang.

Yuna menatap peti itu yang perlahan-lahan turun.

Dua hari yang lalu Lily duduk di tepi kasur di kamar nomor tujuh dan mengangguk.

Janji.

Yuna menekan rahangnya rapat-rapat.

Di sebelahnya, Mega berdiri dengan kepala sedikit tertunduk dan tangan yang digenggam di depan tubuhnya. Ia tidak menangis, bukan karena tidak mau, tapi karena Yuna tahu Mega sudah menghabiskan semua yang bisa dikeluarkan dalam dua malam terakhir, dan yang tersisa sekarang adalah kekeringan yang datang setelah banjir.

Doa dibacakan.

Tanah ditimbunkan.

Dan semuanya selesai dengan cara yang terasa terlalu cepat untuk sesuatu yang tidak akan pernah bisa dibalik.

---

Setelahnya mereka berdiri di antara batu-batu nisan yang lain sementara langit di barat mulai memperlihatkan warna yang tidak menjanjikan...abu-abu yang terlalu gelap untuk sore yang baru melewati jam empat, dengan angin yang tiba-tiba punya dingin yang tidak ada sejam yang lalu.

Bapak Santoso yang bicara pertama.

Suaranya keluar dengan tekstur yang kasar, seperti sesuatu yang harus didorong keluar dengan paksa melalui tenggorokan yang tidak mau bekerja sama.

"Kami terlalu sibuk."

Tidak ditujukan ke siapa pun secara khusus. Atau mungkin ditujukan ke udara, ke tanah yang baru ditimbun itu, ke versi dirinya sendiri dua minggu lalu yang masih bisa melakukan sesuatu yang berbeda.

"Kami pikir..." Ia berhenti. Menelan. "Kami pikir kalau kami bekerja keras, kalau kami bisa berikan dia yang terbaik... sekolah yang baik, uang yang cukup...kami sudah jadi orangtua yang baik." Suaranya tidak bergetar. Justru itu yang membuatnya lebih menyakitkan untuk didengar. "Tapi ternyata yang dia butuhkan bukan itu."

Ibu Santoso mengangkat tangannya dan menutupi mulutnya.

"Kami tidak tahu dia kesepian." Kalimat itu keluar dari mulut ibu Santoso...serak, hampir tidak terdengar. "Kami tidak tahu dia mencari sesuatu yang tidak bisa kami berikan karena kami tidak ada. Kami tidak tahu..." Ia berhenti. Napasnya tidak teratur. "Kami tidak tahu sampai semuanya sudah terlambat."

Tidak ada yang menjawab.

Karena tidak ada jawaban yang benar untuk diucapkan di sini. Tidak ada kalimat yang cukup, tidak ada kata penghiburan yang tidak akan terdengar kosong atau terburu-buru atau tidak memadai. Yuna tahu itu. Mega tahu itu. Dan mungkin bapak dan ibu Santoso juga tahu itu, bahwa mereka tidak membutuhkan jawaban, hanya butuh seseorang yang mendengarkan tanpa menutup telinganya.

Jadi mereka mendengarkan.

Angin bergerak di antara batu-batu nisan, menggerakkan helai-helai bunga yang ditinggalkan di atas gundukan tanah yang masih baru.

Langit semakin gelap ketika bapak Santoso akhirnya menoleh ke arah mereka...ke Yuna dan Mega dengan tatapan yang pertama kalinya sejak tadi terasa langsung dan penuh.

"Kalian teman baik Lily," katanya. Bukan pertanyaan.

"Iya, Pak," jawab Mega pelan.

Pria itu mengangguk pelan. Matanya bergerak dari Mega ke Yuna, kemudian kembali, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.

"Kalian masih muda." Suaranya berubah sedikit, masih berat, masih kasar di tepinya, tapi ada sesuatu di dalamnya yang berbeda. Lebih langsung. "Masih banyak jalan di depan."

Yuna menunggu.

"Kami tidak tahu sepenuhnya kehidupan Lily yang sebenarnya..." Ibu Santoso yang melanjutkan, dengan suara yang sudah sedikit lebih stabil meski matanya masih merah. "Kami baru tahu semuanya dari rumah sakit itu. Dari dokter itu." Jeda panjang. "Kami tidak bisa bayangkan anak kami sampai di sana... sampai di titik itu tanpa kami tahu. Tanpa kami sadar."

Angin lagi. Lebih kuat kali ini.

"Apapun yang kalian jalani sekarang..." Bapak Santoso berbicara dengan hati-hati, dengan cara seseorang yang memilih kata-katanya bukan karena ingin terdengar bijak tapi karena kata-kata adalah satu-satunya yang tersisa yang bisa ia berikan. "Jangan sampai kalian mengikuti jalan yang salah. Jalan yang membawa kalian ke tempat yang tidak seharusnya." Matanya tidak melepaskan mereka. "Kami tidak mau ada orangtua lain yang berdiri di tempat kami berdiri hari ini."

Yuna mengangguk.

Mega juga mengangguk.

Keduanya mengucapkan iya dengan mulut yang bergerak dan suara yang keluar dengan benar dan ekspresi yang sepantasnya.

Tapi di dalam...di bagian yang tidak terlihat dari luar... sesuatu menekan. Sesuatu yang terasa seperti jari yang menunjuk langsung ke dada, ke bagian yang sudah tahu sejak lama tapi sudah lama juga memilih untuk tidak sepenuhnya mengakuinya.

"Jangan mengikuti jalan yang salah."

Yuna menatap gundukan tanah yang masih baru itu.

Dan berpikir tentang apartemen di lantai dua belas.

Mereka pamit ketika tetes pertama mulai jatuh... satu, dua, di lengan Yuna, di bahu Mega, di tanah di antara batu-batu nisan.

Jabat tangan. Pelukan singkat dari ibu Santoso yang tangannya menggenggam terlalu erat tapi tidak ada yang keberatan. Dan kemudian langkah-langkah menuju parkiran, meninggalkan dua orang yang masih berdiri di sana, yang tidak bergerak meski hujan mulai turun dengan lebih serius...berdiri di samping tanah yang menutupi satu-satunya anak mereka.

Yuna tidak menoleh lagi setelah belokan pertama.

Beberapa hal lebih baik dibawa pergi tanpa melihat ke belakang.

Hujan sudah turun sepenuhnya ketika mereka masuk ke mobil.

Mega duduk di sebelahnya dengan rambut yang sedikit basah di tepinya karena sempat terkena beberapa tetes sebelum masuk.

Satu menit berlalu tanpa kata-kata.

Dua menit.

Wiper bergerak kiri-kanan, kiri-kanan, membersihkan kaca untuk beberapa detik sebelum hujan menutupnya lagi.

Kemudian Mega bersuara.

"Aku mau berhenti."

Yuna menoleh.

Mega menatap ke depan, ke kaca yang mengabur, ke hujan yang tidak bisa ditembus pandangan lebih dari beberapa meter ke depan.

"Berhenti jadi sugar baby," Mega melanjutkan, dengan nada yang tidak dramatis, tidak bergetar, tidak seperti seseorang yang baru saja membuat keputusan besar secara impulsif. Tapi justru seperti seseorang yang sudah membawa keputusan ini cukup lama dan akhirnya menemukan momen yang tepat untuk mengeluarkannya. "Aku sudah pikirkan sejak semalam. Sejak..." Ia berhenti sebentar. "Sejak kita di rumah sakit itu."

Yuna tidak langsung menjawab.

"Aku akan bicara sama Om Trian," lanjut Mega. "Minggu ini. Aku tidak mau tunda-tunda lagi."

"Mega..."

"Aku tidak mau jadi Hasya." Kalimat itu keluar lebih tegas dari yang sebelumnya, dengan tepi yang tajam. "Aku tidak mau nama aku jadi bahan pembicaraan orang, jadi sesuatu yang orang-orang screenshot dan sebarkan dan komentarin sesuka hati mereka." Jeda. "Dan aku tidak mau jadi Lily."

Nama itu jatuh di antara mereka seperti sesuatu yang berat.

Yuna menatap setirnya.

"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah aku berhenti," kata Mega, lebih pelan sekarang. "Aku tidak tahu soal uang, soalsemua hal yang biasanya jadi alasannya. Tapi aku tahu aku tidak mau terus berjalan di jalan yang ujungnya sudah aku lihat tadi." Ia menoleh ke arah Yuna untuk pertama kalinya sejak bicara. "Aku sudah lihat ujungnya, Yu. Aku tidak mau ke sana."

Yuna menatap wajah sahabatnya.

Ada sesuatu di sana yang tidak biasa ia lihat di wajah Mega... bukan kesedihan, bukan ketakutan, tapi sesuatu yang lebih tenang dan lebih dalam dari keduanya. Sesuatu yang muncul di wajah seseorang yang sudah melewati titik kebimbangan dan menemukan tanah di sisi lain.

Keyakinan yang dibeli dengan harga yang sangat mahal.

"Kamu?" tanya Mega.

Yuna membuka mulutnya.

Lalu menutupnya lagi.

"Jangan mengikuti jalan yang salah."

"Aku masih..." Yuna mendengar suaranya sendiri, hati-hati, mengukur setiap kata. "Aku masih bingung."

Mega tidak menjawab langsung. Tidak memaksa, tidak menceramahi, tidak mengisi keheningan dengan argumen-argumen yang mungkin sudah ada di kepalanya.

Hanya mengangguk.

Pelan.

Seperti seseorang yang mengerti bahwa bingung bukan penolakan.. bahwa bingung adalah tempat yang seseorang harus tinggal dulu sebelum bisa bergerak ke mana pun.

"Aku mengerti," kata Mega akhirnya. "Tapi, Yu..." Ia menunggu sampai Yuna menatapnya. "Kita harus kembali ke jalan yang benar. Entah kapan, entah caranya bagaimana. Tapi kita harus."

Yuna menatapnya.

Mega menatap balik dengan mata yang masih menyimpan sisa kemerahan dari semua yang sudah menetes keluar dalam dua hari terakhir, tapi dengan sesuatu di baliknya yang tidak redup.

Di luar, hujan terus jatuh.

Di dalam, Yuna tidak menjawab.

Tapi ada sesuatu yang bergerak di tempat yang dalam.. bukan keputusan, belum keputusan, tapi sesuatu yang lebih kecil dari itu dan mungkin justru karena itu lebih jujur: sebuah pertanyaan yang sudah lama ada tapi baru hari ini tidak bisa lagi diabaikan dengan cara yang biasanya berhasil.

"Sampai kapan?"

Yuna memindahkan persneling.

Mobil bergerak keluar dari parkiran pemakaman, memasuki jalanan yang basah, meninggalkan di belakangnya gundukan tanah dan dua orang yang masih berdiri di bawah hujan dan sebuah pertanyaan yang akan terus ada sampai seseorang berani menjawabnya dengan jujur.

1
vita
suka sm ceritanya
Ufiyyyy
ahirnya bastian bnr2 mnyadari prasaanya..
Dew666
💜💜💜
Khodijah Ijah
iiih knapa sich harusbersambung
Ira Janah Zaenal
Alhamdulillah ... perjuangan om bastia. tidak sia-sia😍💪
Khodijah Ijah
knapa ngk minta tolonh sm bastian aja y
Rani Saraswaty
kalimat2 dr penulis menggambarkan keadaan hati...agak rumit smua😄
Hana Astuti
semoga cepet ketemu sma Yuna, jgn lama2 y Thor pisah nya 😄🥰👍💪💪, semangat up selanjutnya Thor 💪
Hana Astuti
duh thorr,,, apa y isi surat dari Yuna ?? ,,, 😄kepo aku
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
semoga aja Yuna bisa melahirkan anak nya dan melanjutkan hidupnya sendiri
Ira Janah Zaenal
semoga bahagia di tempat yang baru yuna😍semangat bersama tumbuh kembang calon baby💪
Ayesaalmira
ayo yuna,cari kata2 yg g bikin om bas ngerti
Ayesaalmira
ta smuanya berakhir baik..smga Hasya berubah ,STP pekerjaan pasti da resikonya..
Ayesaalmira
mulai ketergantungan ma yuna
Dew666
💃💃💃💃💃
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
makin jijik sama si Edo anak miskin...jadi males banget kalo ada dia 😌
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
kenapa sih gak ada yang gebuk itu si Edo ..manusia sampah miskin masih aja usaha ke Yuna
Aisyah Aisyah
cerita nya menarik
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
geli sih sama si Edo ...gak mau nabokin aja gitu kalo deketin kamu lagi Yuna ...

duh2 gimana ya kalo Bastian mau Nina ninu kan yuna lagi di rumah mama nya
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
seru juga cerita nya 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!