Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Target
Begitu pintu Celeste Café tertutup dan langkah Rick Nolan menghilang dari jalan, hening di dalam kafe terasa berbeda.
Bukan hening kafe tutup.
Melainkan hening setelah duel, hening yang masih menyisakan energi tajam di udara.
Martina Celeste duduk di kursinya, pistolnya sudah kembali ke meja, matanya menatap titik kosong di lantai tempat Broom jatuh. Darah sudah mulai menggelap di permukaan, menodai rapi yang selama ini ia jaga.
Ia tidak bergerak lama.
Tidak karena sedih.
Martina bukan tipe yang bersedih untuk rekan kerja, apalagi rekan kerja yang mati dalam etika duel. Namun ada sesuatu yang mengganggu—bukan rasa kehilangan, melainkan rasa tidak cocok.
Broom itu Rank B. Bukan amatir. Bukan penjaga biasa. Broom seharusnya bisa menghabisi kurir “Rank C” dalam hitungan detik.
Tapi yang terjadi?
Kurir itu, Paper, atau Rick Nolan, atau siapapun dia, mengalahkannya dengan cepat. Bukan cepat “beruntung”. Cepat terlatih.
Martina mengangkat tangan, memijat pelipis, lalu tertawa kecil tanpa humor.
“Tidak ada data kalau Fred Tucker adalah assassin,” gumamnya, pelan. “Tidak ada.”
Di dunia mereka, data selalu ada. Kalau seseorang berbahaya, akan ada catatan. Akan ada riwayat. Akan ada jejak.
Rick Nolan, atau Fred Tucker, muncul seperti lubang di sistem.
Martina menyandarkan punggung, menatap meja yang tadi berisi foto Fred Tucker Rank S. Sekarang fotonya sudah hilang, ditarik oleh Rick. Itu juga membuat Martina kesal… dan penasaran. Meski di foto terlihat gempal namun garis muka tetap Fred Tucker. Tidak ada operasi plastik.
Martina tersenyum tipis.
“Fred Tucker,” katanya pelan, seolah menyebut nama dari legenda yang baru lahir. “Kau sangat menarik.”
Ia meraih kertas nomor telepon yang Rick tinggalkan, nomor burner, menatapnya sebentar. Lalu ia meremas kertas itu dengan jari, kesal, bukan pada Rick, melainkan pada dirinya sendiri.
“Aku bisa gagal sama Rank C…,” gumamnya, meski ia tahu Rick bukan Rank C. Seandainya saja dia tahu lebih awal kalau lawan Broom adalah Fred tucker maka tidak perlu mengadakan duel.
Martina menyalahkan dirinya karena meremehkan lawan yang di sangka lemah. Sekarang targetnya sudah hilang. Entah kapan bisa mendapatkan lagi.
Martina berdiri, melangkah melewati Broom tanpa menoleh lama.
“Aku berharap bisa bertemu denganmu lagi,” katanya, seolah bicara pada udara. “Tapi lain kali… aku yang memilih hasilnya.”
Di sudut langit-langit, CCTV tetap merekam, dingin, tanpa emosi.
Rick tidak langsung kembali ke apartemen.
Ia menahan diri untuk tidak berlari, tidak menoleh terlalu sering, tidak terlihat panik. Dada kirinya masih panas—goresan tadi tidak dalam, tapi cukup untuk mengingatkan bahwa pisau tidak perlu dalam untuk membuatmu lemah.
Ia berjalan beberapa blok, memutar rute, memastikan tidak ada yang mengikuti. Baru setelah itu, ia masuk ke toko 24 jam—toko kecil yang lampunya putih dan terang, menjual barang-barang yang bisa membuat hidup tampak normal.
Rick mengambil apa yang ia butuhkan tanpa banyak pikir: kasa, antiseptik, perban tekan, tape medis, dan sesuatu untuk menahan pendarahan. Ia membayar tunai, mengambil kantong, lalu keluar lagi.
Di apartemen, Rick mengunci pintu, menutup tirai, dan duduk di lantai.
Tidak ada dramatisasi.
Hanya prosedur.
Ia membuka kemejanya, melihat luka di dadanya, garis merah dengan pinggir yang mulai membengkak. Ia membersihkan dengan antiseptik, menahan napas saat perih menyengat, lalu memasang perban tekan. Tangannya tidak gemetar. Matanya fokus. Seperti dokter yang dulu ia ingin jadi, hanya saja pasiennya kini adalah dirinya sendiri, dan penyebabnya bukan kecelakaan, melainkan duel bisnis.
Setelah itu, ia membuka tas perlahan dan memeriksa perlengkapannya.
Rick menatap langit-langit apartemen.
Mercer selalu berkata: kalau kamu tidak punya tempat aman, ciptakan ruang kecil untuk menyembunyikan hal paling penting.
Rick mencari titik panel plafon yang longgar, membukanya pelan, lalu menyelipkan sebagian perlengkapan di sana, rapi, terbungkus, tidak terlihat.
Ia menutup kembali panel, memastikan tidak ada bekas.
Lalu ia duduk di tepi ranjang, menatap kosong.
Ini luka pertama dari dunia assassin yang benar-benar terasa “riil”, bukan latihan. Dan meski ia menang… ia sadar satu hal:
Ia menang karena pilihan yang sempit.
Sedikit lebih lambat, sedikit lebih ragu, dan Broom akan membuatnya jadi cerita pendek.
Tiga hari kemudian, Rick sudah kembali di London.
Mercer tidak menyuruhnya “sembunyi”. Mercer justru menyuruhnya datang.
“Kalau kamu hilang setelah tugas,” kata Mercer sebelumnya, “kamu terlihat seperti orang bersalah. Dan bersalah itu bau.”
Jadi Rick muncul di Mercer Café seperti biasa: rapi, tenang, dan tampak seolah hidupnya hanya kopi dan rutinitas.
Violet keluar dari pintu belakang dengan ekspresi yang lebih serius dari biasanya. Ia duduk di depan Rick.
Rick tidak membuang waktu.
“Aku gagal,” katanya datar.
Violet mengangkat alis. “Gagal?”
“Target Rank S,” Rick menambahkan. “Bukan C.”
Rick menceritakan singkat di Celeste Cafe dan berhadapan dengan Broom.
Mendengar nama 'Broom', Ada perubahan kecil di wajah Violet, bukan panik, Tapi Nama Broom cukup di kenal di kalangan dunia hitam meskipun tidak seterkenal Rank S.
Kesalahan data itu memalukan. Dan di jaringan ini, rasa malu bisa berarti kerugian uang.
Violet kembali masuk ke dalam dan sepuluh menit kembali dengan wajah yang berubah, wajah penyesalan.
Violet menarik napas, menahan emosi, lalu berkata pelan:
“Data kami… salah.”
Rick mengangguk. “Ya.”
Violet menatap Rick lebih lama. “Tapi kamu masih hidup.”
Itu bukan pujian. Itu evaluasi.
“Kalau kamu masih hidup setelah bertemu Rank S dan melawan Broom,” Violet melanjutkan, “maka kamu bukan ‘kurir Rank C’.”
Rick tetap diam.
Violet mengetuk map di meja pelan, lalu berkata sesuatu yang membuat Rick menegakkan badan.
“Kamu tetap dibayar.”
Rick menatapnya. “Meski gagal?”
Violet mengangguk kecil. “Kesalahan data dari kami. Kamu tidak dianggap gagal.”
Ia mencondongkan tubuh sedikit. “Dan kamu akan dapat bayaran penuh. Tapi nanti. Setelah laporan internal selesai.”
Rick menahan rasa lega agar tidak terlihat seperti pemula.
Lalu ia menanyakan hal yang ia harapkan sejak awal, pertanyaan yang terasa seperti kata “Fox” di tenggorokan.
“Siapa yang memesan?” tanya Rick pelan. “Fox?”
Violet berhenti.
Ia mengangkat tangan, menutup mulutnya sendiri sebentar, bukan karena terkejut, melainkan karena… aturan.
Matanya menatap Rick tajam.
“Kamu boleh bertanya,” kata Violet, “tapi aku tidak boleh menjawab.”
Rick mengernyit. “Bahkan Mercer.”
“Bahkan Mercer,” potong Violet tegas.
Rick terdiam.
Violet melanjutkan, suaranya lebih dingin, lebih broker daripada manusia.
“Ini menyangkut uang, kekuasaan, politik. Dan etika broker assassin. Pemesan tidak terlihat. Kurir tidak boleh melihat. Bahkan pemilik tempat pun tidak boleh tahu semuanya. Kalau aturan ini pecah… semua pecah.”
Rick menelan ludah.
Jadi benar: bahkan Mercer, dengan semua jaringnya, masih terikat pada struktur yang lebih besar.
Violet berdiri. “Kamu pulang. Istirahat. Tunggu jam lima.”
Rick mengangguk.
Dan untuk pertama kalinya, ia pulang dengan rasa buntu yang nyata: ia menang duel, tapi jawabannya masih kabur.
Di rumah, Rick mendorong kursi roda Maëlle ke taman seperti rutinitas mereka.
Maëlle mendengarkan, mata tajam, tubuh masih belum sepenuhnya pulih. Rick bercerita semuanya: toko jam, kafe penuh CCTV, pria bertopi bulat, foto Fred Tucker Rank S, duel dengan Broom, dan Martina yang mengaku dari Docem.
Maëlle tidak bicara, tapi jari-jarinya mengetuk morse pelan ketika Rick selesai.
Rick membaca:
“Jangan terburu-buru.”
Rick menghela napas. “Aku harus langsung ke Fox?”
Maëlle mengetuk lagi, lebih panjang.
Rick membaca, kata demi kata:
“Tunggu. Dapatkan kepercayaan. Naik sampai Rank S. Baru tusuk jantungnya.”
Rick menelan ludah.
Maëlle menatap Rick lama, lalu berkata perlahan... putus-putus.
“Kalau ... kamu buru-buru, ... kamu mati."
Kemudian Maëlle menggunakan ketukan morse seoalah masih belum kuat berbicara.
"Aku baru bangun. Jangan buat aku mengubur kamu.”
Rick tertawa kecil, getir. “Baik.”
Jam lima sore itu… telepon berdering.
Suara singkat, dingin.
Dan besoknya Rick kembali ke Mercer Café.
Violet menunggu. Kali ini tanpa senyum manis. Ia menyerahkan map baru dan berkata singkat:
“Jangan gagal.”
Rick menerima, keluar, lalu masuk ke mobilnya sendiri, mobil yang ia beli dan simpan dekat stasiun. Di dalam mobil, ia membuka map.
Tangannya berhenti.
Matanya membesar.
Rank: A
Bukan C. Bukan B.
A.
Apakah karena membunuh Broom? tidak ada jawaban.
Satu langkah lagi dari S.
Rick menahan napas, lalu tersenyum, senyum yang sulit ia tahan. Ini bukan sekadar pekerjaan baru. Ini pengakuan: jaringan mengangkatnya.
Di bawah rank itu, ada detail yang membuatnya makin sadar skalanya berubah:
Lokasi: Singapura
Target: Robert Ng
Rick menutup map perlahan.
“Keluar Eropa,” gumamnya. “Jadi ini…”
Mercer menunggu di rumah saat Rick kembali. Tanpa banyak kata, Mercer menyerahkan tiga paspor, tiga nama berbeda, tapi wajahnya tetap sama: wajah tampan “Fred Tucker” yang kini menjadi topeng terbaiknya.
“Ini jalur luar,” kata Mercer. “Kamu butuh opsi.”
Rick menatap paspor-paspor itu, lalu bertanya pelan, “Kita punya apartemen di Singapura?”
Mercer menoleh ke Maëlle.
Maëlle mengetuk morse tanpa menunggu.
Rick membaca:
“Ada.”
Maëlle mengetuk lagi, lebih panjang, seperti memberi daftar tip terakhir sebelum Rick masuk zona baru:
“Jangan percaya polisi. Jangan percaya taksi pertama. Jangan bawa sat-phone saat kerja. Cari kamera. Cari pintu belakang. Jangan ceroboh. Jangan tanpa perhitungan. Dan… jangan jadi pahlawan.”
Rick menelan ludah, mengangguk.
Maëlle menatap Rick dan berkata sesuatu seolah kata yang penting. Suara perlahan pendek terkesan di paksakan, tapi berat:
“Pulang hidup.”
Rick memberanikan memegang tangan gadis itu. “Aku akan pulang.”
Di dalam kepalanya, nama Robert Ng dan kata Rank A bergema seperti lonceng.
Singapura bukan Eropa.
Aturan bisa beda.
Musuh bisa beda.
Dan jika benar “Rank” menentukan lingkaran… maka Rank A berarti Rick semakin dekat pada pusat.
Semakin dekat pada Fox.
Semakin dekat pada jawaban kenapa Fred Tucker, mahasiswa kedokteran, bisa menjadi target internasional.