“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”
Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.
Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.
Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Susu 33
Malam semakin larut, berselimut sunyi yang lembut. Di sela-sela gemericik air hujan, napas panjang Nadya membelah kesunyian yang sempat menggantung di kamar berpedar lampu neon putih pucat. Tarikannya sudah lebih teratur, badan tak lagi bergetar hebat—lebih tenang dan hangat.
Gadis manis itu mendongak pelan, Alisnya mengerut dalam saat netranya menangkap wajah Rizal yang menunduk sambil mencium puncak kepala.
“Ngapa pula, Abang nyium kepala saya. Cari kesempatan dalam kesempitan, ya!” tuduh Nadya, begitu tersadar dengan posisi mereka berdua.
Rizal tersentak pelan, lalu mengurai pelukannya. “Enak aja cari kesempatan. Kamu itu bikin Abang takut, tau-tau bengong sambil teriak, Abang kira kesurupan, makanya Abang tiup ubun-ubunmu.”
“Dikira saya penari kuda lumping apa kesurupan!” sungut Nadya, tangannya menyapu lembut wajahnya, bibirnya dikulum sambil setengah terpejam.
“Nad,” tatapan Rizal teduh. “Maafin Abang, ya? Lain kali Abang nggak akan paksa kamu buat cerita.”
Nadya mendengus kecil, lalu meninju perut Rizal. “Berisik. Bikin mie rebus, yuk, laper saya.”
“Akhhh, sakit tau,” keluh Rizal di sertai kekehan. “Kamu ganti baju, gih Abang yang masak mie-nya.”
Mata sendu Nadya memicing, sudut bibirnya terangkat miring. “Emang bisa?”
“Ngeremehin kamu ini,” satu tangan Rizal mengacak gemas puncak kepala Nadya. “Kalo sampe nggak enak Abang turutin apapun yang kamu mau, tapi kalo enak, kamu harus turutin yang Abang mau.”
“Dih, modus berkedok mie rebus?!” Protes Nadya, dibalas gelak tawa Rizal yang sudah berjalan keluar kamar menuju dapur.
Wangi kuah mie yang masih mengepulkan uap panas menguar di meja makan berpenerangan remang, Rizal dengan penuh percaya diri menyuguhkan hasil masakannya ke depan Nadya yang sudah duduk sambil melipat kaki.
Nadya mengendus pelan aroma gurih bercampur pedas sengak dari potongan tomat dan rawit, lalu menyeruput kuah mie di mangkuknya. Lidah gadis itu seketika terjulur satu tangannya mengipas-ngipas di depan muka.
“Kenapa, kepedesan?” seru Rizal, buru-buru menuangkan air di gelas Nadya.
“Panassss,” suara Nadya sedikit tidak jelas.
Rizal tergelak kecil, memutar sedikit posisi kipas angin yang ada di sebelahnya. “Tunggu ilang dulu uap panasnya, main sruput aja, nggak sabar betul,” ocehnya, lalu mengaduk mie di mangkuk Nadya. “Makan pelan-pelan, kalo enak bilang enak, kalo nggak—”
“Namanya mie rebus mau dimasak model gimanapun, pasti enak lah. Apalagi makannya ujan-ujan begini,” sergah Nadya, mulai menyuapkan mie ke mulutnya.
Tawa ringan kembali menggema dari bibir Rizal, kepalanya menggeleng pelan, lalu mulai menyantap mie rebus buatannya. Senyumnya kian merekah saat Nadya sudah menghabiskan mie-nya hingga tandas tak bersisa disusul sendawa kecil dari bibir mungil gadis manis itu.
“Banghik?” tanya Rizal sambil mengangkat sebelah alisnya.
“Enak nggak enak, sudah dimasakin, ya kudu dihabisin daripada mubazir,” sahut Nadya seraya beranjak dari duduknya, membereskan mangkuk kosongnya ke dapur.
“Hei, nggak bisa gitu dong? Harus jujur, enak beneran nggak?” tekan Rizal, turut mengkuti langkah Nadya.
Nadya mencebik kecil, tak menjawab.
“Enak nggak?” tanya Rizal, sedikit memaksa.
“Enak, Bang … enak. Haus validasi banget sih jadi orang,” sungut Nadya.
“Berarti Abang menang dong?” tegas Rizal yang hanya dijawab gelengan kepala dan bibir yang mencebik dari Nadya. “Nad,” panggilnya, sambil menarik pergelangan tangan Ibu susu putranya itu.
Nadya menoleh malas. “Iya Abang yang menang, mau apa? Cium … di sayang … apa netek kaya Adam,” selorohnya kemudian.
Rizal maju satu langkah, memutar pergelangan Nadya, lalu mengusap tato yang tergambar tepat di urat nadi gadis itu, pelan. “Jangan pernah lakuin ini lagi, Nad.”
Nadya bergeming, tatapannya nanar ke goresan tipis di pergelangan tangannya, sorot mata gadis itu meredup, lalu dengan cepat menarik tangannya, namun tertahan oleh genggaman Rizal.
“Lepasin,” ucapnya datar.
“Janji dulu, Nad,” sela Rizal.
“Apaan sih, Bang,” protes Nadya.
“Janji dulu!” Tekan Rizal
“Iya … iya, janji. Udah lepasin, Adam nangis itu,” jawab Nadya, akhirnya.
Rizal menatap sayu punggung Nadya yang langsung berlari begitu tangannya terlepas, dalam hatinya bertanya pelan. ‘Seberapa berat trauma yang menimpamu, Nad?’
***
Sinar matahari perlahan menembus sela-sela dedaunan, jatuh dalam garis-garis tipis yang bergerak mengikuti angin. Burung-burung kecil bertengger ringan di kabel listrik yang menggantung di sepanjang jalan, berkicau merdu bak nyanyian alam yang menenangkan.
Di depan warung Yuli, beberapa Ibu-Ibu yang baru selesai berbelanja, berkumpul sambil bergosip—melanjutkan kabar yang bawa Nurjanah.
“Serius Rizal sampe ngomong begitu, Yul?” tanya Farida, begitu Yuli selesai melayani orang membeli bensin di pom mini-nya.
“Katanya Wak Nur, sih gitu. Dia sampe bawa-bawa tanah kuburan juga,” lanjut Yuli—mengcopy apa yang sempat dia dengar dari Nurjanah.
“Siapa?” tanya tetangga depan rumah Yuli.
“Bu Sartini, katanya tanah kuburan Sukma belum kering Bang Rizal sudah mikir kawin lagi.” Yuli kembali menyebar cerita yang didengarnya.
“Alahhh, ya itu karena yang dipilih Nadya, coba kalo si Dewi, mau tanah tebelah dua, tanah longsor, tanah sengketa, mana peduli dia,” sahut Zaenab yang muncul dari samping warung. “Kalian idak inget, jenazah Sukma belum di kubur aja dia nangis-nangis sambil ngomong ‘biar adikmu yang urus anakmu’ Rizal pula itu tujuannya, bukan anaknya.”
Yuli dan Farida juga satu tetangga depan rumah, manggut-manggut—mengiyakan.
“Heran pula, ngotot bener Rizal suruh nikahin si Dewi, bocah pemalas yang tau nya cuma jajan. Pikir-pikirlah, secara dia bos, kerjaannya ke kota. Apa nggak kalo cuma mau cari daun muda yang cantik gampang. Atau jangan-jangan Nadya itu simpe—”
Kata-kata tetangga depan rumah Yuli terhenti oleh tampolan Zaenab di pundaknya.
“Jangan sembarangan kamu kalo ngomong, ya Sarkem. Pantes kamu akrab betul sama si Sartini, isi otak kalian kembar ternyata,” sungutnya pada si tetangga yang bernama asli Sarikem.
“Cuma nebak aja, Wak. Galak betul lo, macam Wak Zaenab ini tau aja kaya mana dalem rumah mereka,” protes Sarkem.
“Lha, saya ini cenayang bisa tau kelakuan orang, termasuk, tu.” Zaenab memonyongkan bibir, menunjuk Hasna yang sedang menyapu di halaman. “Saking tergila-gilanya sama Rizal sampe ban motor nggak bocor aja di bikin bocor,” lanjutnya.
Sontak semua mata menoleh ke arah yang ditunjuk Zaenab, gosip pun kembali berlanjut.
“Kasian betul saking cintanya sama Rizal semua pria ditolaknya, sekarang … jadi perawan tua,” cibir Zaenab yang menaruh dendam karena lamaran sang keponakan, Yasir ditolak sampai tiga kali oleh Hasna.
“Ya gimana, seleranya bos, lha Si Yasir … cuma kuli angkat sawit. Dulu … sekarang jadi mandor, cewek-cewek yang lebih muda lah yang pada ngantri,” timpal Farida
Mereka pun terbahak bersama.
“Sombong sih jadi perempuan, seleranya tinggi tapi nggak sadar diri.” Zaenab melirik ke arah Hasna, lalu beralih ke arah Yessy yang datang sambil berdendang riang. “Tumben kamu, Yes, pagi-pagi udah sampe sini, biasanya jam delapan lebih baru muncul.”
“Saya ‘kan nginep, tadi malem pulangnya udah hampir tengah malem,” jawab Yessy, lalu nyelonong masuk ke dalam warung Yuli. “Mbak Yul, beli kerupuk yang warna putih,” teriaknya kemudian.
“Dari mana memangnya, Yes, semalem itu?” Farida mulai mengintrogasi bocah polos yang baru berusia 16 tahun itu.
“Dari rumah adiknya Ibu yang di Pesisir,” sahut Yessy.
“Lha, kata Bu Harmi hari minggu kesana nya, Bu Harmi, lo ada pesen pisang mau dibikin kue talam.” Farida yang sempat diajak ngobrol Bu Harmi berseru sambil menautkan alisnya.
Yessy mengangkat tangannya sebahu, sambil mencebik.
“Tak tau lah, saya juga diajaknya dadakan, berangkatnya, lo buru-buru karena Bang Rizal mau rapat di pabrik pusat. Saya aja nggak sempet ganti baju, terus dibeliin baju baru sama Yuk Nadya. Lima steel.” Tangan Yessy mengangkat lima hari, lalu berputar sambil mengibaskan rok yang dipakainya. “Baguskan, Wak? Nggak kaleng-kaleng ini belinya, di toko gede bukan toko tiga limaan.” Pamer Yessy.
Farida pun menampol kepala bocah ceria itu dengan ekspresi bercanda, disusul tawa renyah tetangga lainnya.
Sementara itu di samping warung, Hasna mengepalkan tangan, sapu lidi yang digenggamnya sampai bergemeretak. Raut wajahnya dipenuhi bara amarah.
“Sialan si Nadya! Jadi, bener gara-gara mukanya yang sewot itu Bang Rizal rela bohong. Awas aja, aku balas kamu,” gumamnya dengan gigi bergemeretak.
Bersambung
Nadya, cerita doang ke bang Rizal nya 😁😁😁
lanjut lagi cerita Thor 🙏🏻🙏🏻🙏🏻