Freya Rodriguez seorang wanita cantik anggun dan dewasa dijodohkan oleh orang tuanya dengan pria misterius yang dingin bahkan tak seorangpun tau kehidupannya dengan jelas. Pria itu bernama Pablo Xander seorang pria yang hidup sendirian setelah kakeknya meninggal, kakeknya menjodohkan dia dengan freya yang mau tak mau harus menurut karena kakeknya adalah kesayanganya.
_
Tanpa disadari mereka berdua telah saling mencintai satu sama lain setelah pertemuan pertama. Freya yang menerima semua kekurangan Pablo begitupun sebaliknya membuat mereka berdua sangat bahagia dengan keluarga kecilnya bersama dengan anak Pablo yang selama ini di rahasiakan dari publik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sweet simple dinner
Malam di Manhattan biasanya identik dengan kebisingan sirine dan kerlap-kerlip lampu gedung pencakar langit yang tak pernah padam. Namun, di dalam ruang makan utama kediaman Xander, suasana terasa seperti sebuah oase yang terisolasi dari hiruk-pikuk dunia luar. Ruangan itu kini tak lagi terasa dingin dan kaku seperti galeri seni; Freya telah mengubahnya menjadi ruang yang hidup dengan pencahayaan warm amber dan aroma masakan rumah yang menggugah selera.
Malam ini adalah momen langka. Tidak ada gala amal, tidak ada rapat darurat dewan direksi, dan tidak ada gangguan dari musuh bisnis. Hanya ada sebuah meja kayu jati panjang, empat anggota keluarga, dan kehangatan yang tulus.
Di salah satu ujung meja, Alessia yang kini berusia sepuluh bulan duduk dengan megah di kursi tingginya (high chair). Kursi itu adalah pesanan khusus yang dirancang agar senada dengan furnitur klasik ruangan tersebut, namun tetap fungsional bagi seorang bayi. Alessia mengenakan celemek kain tipis dengan motif bunga kecil, tangannya yang mungil sibuk menepuk-nepuk permukaan meja dengan riang.
Pablo, yang biasanya duduk dengan postur tegak seorang pemimpin di ujung meja, kini tampak jauh lebih santai. Ia meletakkan serbet kainnya di pangkuan, namun matanya tidak lepas dari putri kecilnya.
"Dia tampak sangat bersemangat malam ini, Freya," ucap Pablo sambil tersenyum tipis.
"Apakah dia tahu kita sedang merayakan keberhasilan proyek barumu?"
Freya, yang duduk di samping kursi tinggi Alessia, tertawa kecil sambil mengaduk bubur tim organik yang ia siapkan sendiri. "Aku rasa dia hanya tahu bahwa ayahnya pulang lebih awal hari ini. Lihat bagaimana dia terus menatapmu."
Di sisi lain meja, Nael duduk dengan rapi. Di usianya yang kini menginjak tujuh tahun, ia mulai menunjukkan kemandirian yang luar biasa. Ia memotong daging panggangnya sendiri dengan sangat hati-hati, meniru cara Pablo memegang pisau dan garpu.
"Ayah, apakah Alessia sudah boleh makan daging panggang?" tanya Nael dengan nada serius, matanya beralih dari piringnya ke adiknya.
"Belum, Jagoan," jawab Pablo. "Giginya belum cukup kuat. Dia masih harus makan makanan yang lembut, seperti bubur buatan Mamamu."
Nael mengangguk paham. "Kalau begitu, aku harus makan lebih banyak agar cepat besar dan kuat. Jadi kalau Alessia sudah bisa makan daging, aku bisa memotongkannya untuk dia."
Mendengar itu, Freya mengusap rambut Nael dengan penuh kasih. "Kau benar-benar kakak yang luar biasa, Nael."
Freya mulai menyuapi Alessia. Namun, Alessia sedang dalam fase ingin mencoba segala hal sendiri. Saat sendok perak kecil itu mendekat ke mulutnya, Alessia justru menangkap tangan Freya dan mencoba memasukkan sendok itu sendiri ke mulutnya. Hasilnya bisa ditebak: bubur wortel yang berwarna jingga cerah mendarat di pipi tembamnya dan sedikit mengenai celemeknya.
"Oh, Alessia..." gumam Freya sambil mengambil tisu.
Bukannya marah karena meja mahoni mahalnya terkena tumpahan, Pablo justru tertawa lepas. Ia bangkit dari kursinya, mengambil tisu dari tangan Freya, dan dengan sangat telaten menyeka pipi putrinya.
"Dia punya tekad yang kuat," kata Pablo. "Dia tidak ingin disuapi. Dia ingin melakukannya sendiri. Itu sifat Xander yang murni."
"Atau mungkin sifat Rodriguez yang keras kepala," timpal Freya dengan nada bercanda, membuat suasana semakin cair.
Pablo kembali duduk, namun kali ini ia memindahkan kursinya lebih dekat ke kursi tinggi Alessia. Ia membiarkan tangan kecil Alessia yang kotor oleh bubur meraih jemarinya yang mengenakan jam tangan mewah.
Pablo sama sekali tidak keberatan; baginya, noda bubur di tangannya adalah tanda cinta yang jauh lebih berharga daripada kebersihan yang hampa.
...----------------...
Sambil menikmati hidangan utama—ikan kod panggang dengan saus lemon dan asparagus—pembicaraan beralih ke hal-hal yang lebih bermakna.
"Aku tadi berbicara dengan Kakek Alan," ucap Freya pelan. "Dia sangat senang melihat foto-foto Alessia saat mulai merangkak. Dia bilang, dia ingin Alessia dan Nael menghabiskan liburan musim panas depan di perkebunan utama."
Pablo mengangguk perlahan. "Kakekmu sedang memikirkan suksesi, Freya. Tapi aku ingin mereka memiliki masa kecil yang normal sebelum beban nama keluarga itu jatuh ke pundak mereka."
"Aku setuju," jawab Freya. "Itulah sebabnya aku ingin acara makan malam seperti ini menjadi ritual tetap kita. Tanpa ponsel, tanpa laporan keuangan. Hanya kita."
Nael mendengarkan dengan seksama. "Daddy, apakah aku harus menjadi bos seperti Daddy nanti?"
Pablo menatap putra sulungnya dengan pandangan yang dalam namun lembut. "Nael, kau boleh menjadi apa pun yang kau inginkan. Pelukis, astronot, atau pebisnis. Tugas Daddy dan Mama adalah memastikan kau punya landasan yang kuat untuk terbang. Tapi apa pun pilihanmu, jadilah pria yang memiliki integritas, seperti yang selalu kita bicarakan."
Nael tampak merenung, lalu mengangguk dengan mantap. "Aku ingin menjadi orang yang bisa menjaga Mama dan Alessia. Apapun pekerjaanku nanti."
Tiba-tiba, Alessia mengeluarkan suara cooing yang keras, menarik perhatian semua orang. Ia mengangkat kedua tangannya ke atas, lalu dengan suara yang masih cadel namun jelas, ia berucap: "Da... Da...!"
Suasana di meja makan seketika hening. Pablo mematung. Ini adalah pertama kalinya Alessia memanggilnya dengan jelas secara sadar di meja makan.
"Dia memanggilmu, Pablo!" seru Freya dengan mata berbinar.
Wajah Pablo yang biasanya tegas dan dingin kini melunak sepenuhnya. Ada kilatan haru di matanya yang biasanya tajam. Ia segera menggendong Alessia dari kursi tingginya, mendekap bayi itu di dadanya.
"Ya, Sayang. Ini Daddy," bisik Pablo di telinga Alessia.
Alessia tertawa geli, menarik kerah kemeja Pablo dengan tangan mungilnya yang masih sedikit lengket. Momen itu menjadi puncak dari malam yang sempurna. Nael ikut berdiri dan mendekat, mencoba mengajak adiknya bercanda.
Setelah makan malam selesai, mereka tidak langsung berpisah ke kamar masing-masing. Mereka pindah ke ruang tengah yang luas, di depan perapian yang menyala hangat. Alessia dibiarkan bermain di atas karpet tebal dengan mainan kayu edukatifnya, sementara Pablo dan Freya duduk bersandar di sofa, memperhatikan kedua anak mereka.
Nael sedang membacakan buku cerita bergambar untuk Alessia, meskipun adiknya lebih tertarik mencoba memakan sudut buku tersebut.
"Dua tahun lalu, ruangan ini hanya digunakan untuk menerima tamu penting," kata Freya sambil menyandarkan kepalanya di bahu Pablo. "Sekarang, ruangan ini penuh dengan suara tawa dan mainan yang berserakan. Aku lebih suka versi yang sekarang."
Pablo merangkul Freya, menariknya lebih dekat. "Aku juga. Terima kasih telah memberikan nyawa pada rumah ini, Freya. Dan terima kasih telah memberikan keluarga ini padaku."
Malam semakin larut. Alessia akhirnya mulai menunjukkan tanda-tanda mengantuk, matanya mulai redup dan gerakannya melambat. Pablo bangkit dan dengan perlahan menggendong putri kecilnya yang kini sudah terlelap di dadanya.
"Aku akan menidurkannya," ucap Pablo pelan.
Freya mengikuti dari belakang, sambil menggandeng tangan Nael yang juga mulai menguap. Mereka berjalan menaiki tangga marmer yang megah, bukan sebagai penguasa New York yang angkuh, melainkan sebagai orang tua yang penuh rasa syukur.
Makan malam itu sederhana, menunya mungkin akan terlupakan, namun perasaan saling memiliki yang tumbuh di meja makan itu akan menjadi fondasi yang tak tergoyahkan bagi masa depan mereka.
Di balik tembok mansion Xander yang kokoh, cinta telah menang, dan dinasti mereka kini memiliki arti yang jauh lebih dalam daripada sekadar angka di rekening bank—dinasti mereka adalah tentang rumah, harapan, dan pelukan hangat di penghujung hari.