NovelToon NovelToon
Jodoh Titipan

Jodoh Titipan

Status: tamat
Genre:Patahhati / Perjodohan / Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Romansa / Tamat
Popularitas:3.8M
Nilai: 5
Nama Author: Sept

Taqi Bassami, hanya karena ia seorang anak angkat, pria itu harus mengorbankan hidup selamanya. Taqi menukar kebebasannya demi membayar balas budi. Berkat sang ayah angkat, hidupnya yang terpuruk di jalan, kini menjadi sukses.
Bila balas budi bisa dibayar dengan uang, Taqi pasti melakukan hal itu. Tapi bagaimana, jika Taqi harus menikahi wanita pilihan keluarga angkatnya itu untuk membalas jasa. Belum lagi latar belakang Taqi yang perlahan mencuat ke permukaan. Siapa sebenarnya Taqi? Ketika banyak pihak mengincar nyawanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelukan

The Lost Mafia Boy Bagian 35

Oleh Sept

Taqi yang tertidur kembali, tiba-tiba kelopak matanya bergerak-gerak. Sinar matahari yang menerpa wajahnya yang tertidur pulas, membuatnya terbangun. Rupanya, ia tertidur lagi semalam.

Saat membuka mata, dilihatnya Naqiyyah yang juga terlelap di sebelahnya. Hanya dipisah bantal guling untuk pemisah. Lalu di mana istrinya?

Bibirnya menggembang mengulas senyum tak kala melihat Nada Nada masuk ke dalam kamar. Baru juga dicari, istrinya itu sudah muncul.

"Belum bangun?" tanya Nada pada suaminya, ia tatap Naqiyyah yang begitu nyenyak tidur di samping ayahnya.

"Belum, pules sekali tidurnya."

"Mas Taqi nggak bangun?" tanya Nada dengan ekspresi biasa. Padahal, jantungnya berdegup kencang.

Taqi yang semula rebahan, ia pun bangkit, merenggangkan tangan kemudian turun.

"Iya, ada sesuatu yang harus ku urus," ucap Taqi baru ingat. Pria itu kemudian mengambil handuk dan masuk kamar mandi.

Sedangkan Nada, ia menghela napas panjang. Tegang juga rasanya menghadapi suaminya itu pasca kejadian semalam. Nada mau berlagak lupa saja, dari pada pipinya semerah tomat karena menahan malu.

Beberapa saat kemudian.

Taqi keluar dari kamar mandi, hanya memakai handuk. Saat ia mau keluar, ia mengintip dulu. Sepertinya Nada sudah tidak ada. Pria itu pun bergegas keluar. Dan langsung menuju lemari.

Tidak tahunya, di atas ranjang yang sudah sangat rapi, sudah tergeletak baju bersih yang disiapkan Nada. Ranjang dan seprainya sudah sangat rapi, padahal semalam berantakan oleh ulahnya. Sekilas bibirnya langsung merekah. Kejadian semalam membuatnya tersenyum.

Enak juga ternyata menikah. Pagi-pagi pikiran fresh. Padahal semalam terasa lelah sekali. Apa karena efek olah raga malam, mungkin itu yang ada dalam benak Taqi Bassami saat ini. Bukannya lelah setelah bangun, ia malah merasa sangat segar bugar.

***

Ruang makan

Taqi sudah duduk bersama abah Yusuf dan ummi, sedangkan Nada masih di belakang. Ia mengambil makanan, membantu bibi.

Oek oek oek ...

Naqiyyah yang dibaringkan di ayunan bayi, tiba-tiba Menangis. Nada pun menghampiri. Sedangkan Taqi, mendengar bayi kecilnya menangis, ia juga meninggalkan meja makan. Menghampiri Naqi.

"Biar aku gendong, kamu sarapan dulu."

Nada hanya mendongak, kemudian melihat Naqiyyah yang sepertinya haus.

"Nanti saja, Mas. Sepertinya dia haus."

"Oh. Ya sudah!" Taqi pun berbalik, daripada menelan ludah dan pikirannya jadi kacau di pagi hari. Pria itu lantas kembali ke meja makan. Bergabung bersama abah dan ummi.

Ummi sendiri sejak tadi memperhatikan interaksi keduanya, sepertinya ada sesuatu antara Taqi dan Nada. Ummi merasakan kalau kecanggungan di antara keduanya sedikit melebur.

"Nanti sore antar Nada belanja bulanan ke supermarket ya. Kaki ummi agak linu. Nanti biar Naqiyyah di rumah sama ummi."

"Iya, Mi. Nanti Taqi usahain pulang cepet. Biar gak kesorean."

Taqi sepertinya mengerti maksud ummi. Ummi pasti merencanakan sesuatu. Padahal dulu biasanya yang belanja bulanan juga bibi. Lalu kenapa malah menyuruh Nada. Pasti ini modus si ummi. Tapi entah mengapa, Taqi malah senang.

***

Sesuai janji, sebelum pukul empat sore ternyata Taqi sudah sampai di rumah. Pria itu kemudian mandi dan ganti pakaian. Lalu menunggu Nada yang masih bersiap-siap.

"Nggak apa-apa Nada tinggal, Mi? Nanti nangis dan rewel?" tanya Nada yang baru mucul dengan pakaian rapi.

"Tidak apa-apa, latihan juga. Minggu depan kan sudah kamu tinggal kuliah. Stok ASI masih ada kan di kulkas?" tanya ummi.

"Ada, Mi. Ada banyak."

Telinga Taqi tiba-tiba geli mendengar obrolan keduanya.

Tidak mau kesorean, mereka pun pamit pada ummi dan meninggalkan Naqiyyah yang anteng dalam gendongan neneknya.

***

Di dalam mobil. Taqi sudah mulai mempunyai bahan untuk bicara dengan istrinya.

"Nanti sekalian beli perlengkapan untuk rumah baru kita. Kulihat tidak ada peralatan makan yang komplit. Karena juga jarang malah gak pernah masak di sana."

"Ehmm ... iya."

"Lusa ya, kita pindah. Semuanya sudah siap. Tinggal beberapa alat saja."

Nada langsung menoleh. Secepat itu Taqi memboyong mereka ke rumah Taqi sendiri.

"Lalu abah sama ummi bagaimana?"

"Ya nggak apa-apa. Ummi pasti mengerti. Dan lagi sudah punya rumah sendiri. Kalau rumah sendiri, mungkin lebih leluasa. Sayang juga kalau lama kosong."

Nada terdiam, mungkin memikirkan Naqiyyah nanti bagaimana kalau ia tinggal kuliah kalau di rumah ummi ada ummi. Lah kalau di rumah Taqi, nanti siapa yang jaga?

Seolah mengerti Nada yang terdiam sejak tadi. Taqi pun membahas masalah babysitter.

"Nanti aku sekalian ke agent, cari babysitter."

"Oh ... iya."

Suasana kembali sepi, saat mereka sudah tidak saling bicara. Karena memang tidak punya bahan lagi untuk dibicarakan. Mungkin masih butuh banyak waktu bagi keduanya agar lebih dekat dan merasa nyaman.

Tidak terasa mereka sudah tiba di sebuah gedung supermarket yang cukup besar di kota itu. Dan kali ini, Nada keluar setelah suaminya membuka pintu.

Nada sempat tersenyum dalam hati, tersenyum miris lebih tepatnya. Mendapat perlakuan manis dari Taqi, membuatnya ingat pada sosok Zain yang begitu perhatian padanya.

"Ayo."

"Hemm!"

Mereka pun masuk berdua, Taqi kemudian mengambil sebuah troli. Dan mereka mulai menyusuri lorong rak. Mencari barang-barang yang ingin dibeli.

Satu persatu mereka memenuhi keranjang belanjaan. Hingga akhirnya tinggal membeli buah dan ikan.

"Mas tunggu di sini dulu, Nada mau pilih ikan dan juga daging serta sayur."

Taqi mengangguk, kemudian bicara.

"Aku tunggu di sana, mau cari sesuatu. Nanti telpon saja kalau selesai."

"Hemm!"

Mereka pun berpisah karena mencari barang yang berbeda.

Sambil mendorong troli. Mata Taqi menyusuri rak, mencari barang yang ia cari.

'Ini dia!' batin Taqi sembari meraih benda yang ia cari.

Blukkkkk ....

Pria itu tercenggang ketika tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang. BERSAMBUNG

1
Jhon Kuni Wong
Luar biasa
Surati
bagus ceritanya👍🙏🏻 semangat thor 💪👍
Churin iin
Luar biasa
@bimaraZ
taqi salahjuga..meskipun cuma menena gkan g harus memeluk juga...
@bimaraZ
hhh tagi jadi ketagihan tuh...😍
@bimaraZ
anggap saja nisa dan taqi tidak berjodoh...
@bimaraZ
sampai g bisakomen bacanya ..g kebayang di posisi taqi
jawab iya salah jawab tidak juga berat
RL
Luar biasa
Zumi Zauhair
seruu
indah
😭😭😭😭😭😭
indah
Maa shaa Allaah Gemes ny 😍😍
indah
Hem Rumit nih
indah
Bawang Bombay
😭😭😭
Safitri Agus
jodoh othor yg menentukan 😁🤭
komalia komalia
ooh iya apa nada engga pakai hijab ya
komalia komalia
mas taqi mau bulan madu
komalia komalia
umii iis bukan nya diem bikin orang jadi malu aja
komalia komalia
umi kaya nya engga pernah bikin cap si abah
komalia komalia
udah baca
komalia komalia
itu lah kalau kita punya hutang budi bagai buah si malakama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!