NovelToon NovelToon
BAYANG BAYANG MASA LALU

BAYANG BAYANG MASA LALU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dinarta Firdaus

Enam tahun membina rumah tangga, Kirana merasa pernikahannya dengan Aris adalah definisi kebahagiaan yang sempurna. Namun, semua hancur saat Kirana menemukan kenyataan bahwa Aris kembali menjalin hubungan rahasia dengan Sarah, mantan kekasihnya yang dulu gagal dinikahi karena terganjal restu. Alih-alih menangis dan meminta cerai begitu saja, Kirana memilih jalan yang lebih gelap: menghancurkan Aris dari dalam dengan mendekati Bimo, sahabat karib sekaligus rekan bisnis Aris. Sebuah permainan ego, pengkhianatan, dan cinta yang keliru pun dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinarta Firdaus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SURAT SURAT DARI JAKARTA

Gerimis tipis khas bulan April baru saja membasahi trotoar batu di kawasan Le Marais. Di salah satu sudut jalan yang tidak terlalu bising, aroma tanah basah bercampur dengan keharuman manis dari kelopak mawar Damask, ketajaman lavender kering, dan segarnya potongan batang eucalyptus. Di sanalah berdiri Lumina sebuah toko bunga kecil dengan fasad kayu berwarna hijau zaitun yang catnya mulai mengelupas secara artistik.

​Di balik kaca jendela yang sedikit berembun, Kirana sedang sibuk. Rambut hitamnya yang dulu selalu disanggul rapi ala wanita karier Jakarta, kini digelung asal-asalan dengan bantuan sebatang pensil kayu. Ia mengenakan celemek kain linen berwarna abu-abu yang dipenuhi noda getah tanaman dan tanah humus.

​Tangannya yang terampil bergerak cepat memotong duri-duri dari tangkai mawar putih menggunakan gunting khusus yang tajam. Klik. Klik. Klik. Bunyi ritmis itu seolah menjadi metronom bagi kehidupan barunya yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk Jakarta yang pernah menghancurkan hatinya hingga berkeping-keping.

​"Kirana, tu as reçu les pivoines hollandaises? (Kirana, apakah sisa tanaman pionis dari Belanda sudah datang?)" suara Chloé, asisten paruh waktunya yang merupakan gadis asli Paris berambut ikal, berseru dari ruang belakang yang merangkap sebagai gudang pendingin.

​"Oui, Chloé! Pas encore, mais le livreur m'a dit qu'il arriverait avant midi, (Ya, Chloé! Belum, tapi kurirnya bilang akan sampai sebelum tengah hari,)" jawab Kirana dengan aksen Prancis yang setahun terakhir ini ia pelajari dengan keras di sela-sela waktu tidurnya yang singkat.

​Paris pada awalnya adalah pelarian yang brutal bagi Kirana. Kota ini tidak selalu romantis seperti yang digambarkan di film-film komedi situasi; kota ini dingin, asing, dan pada bulan-bulan pertama, terasa sangat sepi. Namun, di antara kelopak bunga dan rutinitas merangkai bouquet untuk pernikahan, ulang tahun, atau sekadar hiasan meja makan para Parisian, Kirana menemukan kembali serpihan dirinya yang sempat hilang. Bunga tidak pernah berbohong. Mereka tumbuh, mekar, layu, dan mati dengan jujur. Tidak seperti janji-janji pernikahan yang pernah ia dengar di masa lalu.

​Saat jam dinding di tokonya menunjukkan pukul sebelas lewat lima belas menit, lonceng kecil di atas pintu penahan angin berdenting. Tring.

​Kirana tidak segera mendongak. "Bonjour! Bienvenue chez Lumina.." ucapnya otomatis sambil meletakkan seikat mawar.

​"Luar biasa. Logat Prancis-mu sudah hampir mengalahkan logat menteng-mu, Na."

​Suara bariton yang sangat akrab itu memecah keheningan toko. Kirana membeku. Jantungnya memberikan satu hentakan kecil yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia mendongak perlahan, menyeka tangannya yang basah ke celemek linennya.

​Di ambang pintu, berdiri seorang pria bertubuh tegap dengan mantel wol panjang berwarna hitam yang basah oleh sisa gerimis. Di lehernya tersampir syal abu-abu yang agak berantakan. Wajahnya yang lelah akibat penerbangan belasan jam dari Jakarta itu mengembang dalam sebuah senyuman hangat yang sangat familier.

"Kamu tidak pernah berubah, Bim. Selalu penuh kejutan yang hampir membuatku jantungan."

​"Jadi, apakah pemilik toko yang terhormat ini punya waktu setengah jam untuk segelas kopi hangat dengan seorang pengacara terlantar dari Jakarta?" Bimo menaikkan sebelah alisnya, menunjuk ke arah kedai kopi kecil berkursi rotan merah yang terletak tepat di sebelah toko bunga Kirana.

Kirana melirik ke arah Chloé yang sedang mengintip dari balik tirai dengan tatapan menggoda. Kirana tersenyum pada asistennya itu lalu melepas celemeknya. "Beri aku waktu dua menit untuk merapikan ini, Bim. Di sebelah, kopinya adalah yang terbaik di distrik ini."

1
Ara putri
mampir ya kak. Jika berkenan mampir juga keceritaku TUAN AYAZ, TOLONG BERHENTI!
Dinarta Firdaus: baik kakak terimakasih sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!