Bagaimana perasaan mu jika kau terpaksa harus menikah muda? Terutama dengan orang yang usianya jauh lebih tua dari mu? Inilah yang terjadi dengan Clara Adeline Ferguson. Ia adalah putri tunggal keluarga Ferguson yang terkenal kaya. Papa nya juga adalah salah satu donatur terbesar sekolah SMA Citra Kirana di kota X.
Kenapa? Scandal apa yang telah dia lakukan sehingga ia harus menikah begitu dini? Ya. Jawaban nya adalah. Clara itu sangat nakal dan juga tidak pernah mendengarkan kedua orang tuanya,ia bahkan bisa di bilang anak manja dengan perilaku buruk, tidak jarang ia membuat onar di sekolah, ia bahkan selalu mendapat nilai merah di raport nya dan terancam tidak naik ke kelas tiga karena sering bolos sekolah.
Sementara itu Zidan, adalah seorang guru laki-laki termuda di sekolah SMA Citra Kirana yang katanya adalah keponakan kepala sekolah, namun identitas Zidan ini tidak lah akurat seperti sedikit tertutup dan tidak ada yang tau tentang keluarga nya kecuali sang paman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
"Ngak bisa, suara gemuruh nya itu kayak keluar dari tanah pak gak bisa," tolak Clara.
"Kalau begitu letakan kepala mu di sini," kata Zidan sambil menepuk-nepuk paha nya.
"Tapi ..." Lagi-lagi Clara ragu.
"Ayo cepat," ungkap Zidan.
Clara pun tak mau membantah lagi ia segera merebahkan tubuh nya dan menjadikan paha Zidan sebagai bantalan.
Tak butuh waktu lama Clara pun akhirnya tertidur lelap.
"Aku sudah seperti mengurus anak kecil berusia lima tahun saja," kata Zidan sambil menatap pangkuan nya yang penuh dengan Clara.
Ia menatap dan tersenyum saat melihat wajah cantik sang istri yang sangat lucu ketika sedang tertidur.
"Kau terlihat sangat manis, aku tidak bisa mengabaikan mu," kata Zidan memegang pipi Clara dan mengelus nya.
Namun tangan nya malah di pegang oleh Clara dan di peluk.
Hal ini malah membuat pipi Zidan merah sendiri, sepertinya serpihan-serpihan kecil dari sebuah kata cinta mulai bertebaran.
Malam itu Zidan hanya bisa tidur dalam keadaan duduk karena dia tidak bisa berbaring dengan kondisi kepala Clara yang ada di paha nya, dia juga tidak ingin Clara terjaga dan kembali takut.
Keesokan harinya ...
Setelah hujan semalaman cuaca pagi selalu lebih cerah dari yang biasanya, Clara membuka matanya dan melihat kalau Zidan tidur dengan keadaan bersandar, sementara dirinya tidur dengan nyenyak di pangkuan Zidan.
"Pak Zidan," lirih Clara yang kemudian pelan-pelan bangkit dari posisi nya.
Ia menatap wajah sang suami sambil tersenyum, sungguh laki-laki dingin ini punya seribu persen rasa peduli meskipun sedikit egois.
"Lain di mulut lain di hati," batin Clara masih memperhatikan Zidan yang sedang tertidur.
Clara pun pelan-pelan membaringkan Zidan dan meletakkan selimut untuk nya, ia ingin Zidan tidur lebih nyaman lagi.
Zidan yang sangat mengantuk bahkan tidak sadar kalau Clara sudah bangun dan meningalkan nya di tenda.
"Huaaaa, udara di sini bahkan lebih dingin dari sikap pak Zidan," kata Clara sambil tersenyum dan menikmati keindahan alam yang menyambut nya pagi ini.
Clara pun memutuskan untuk berjalan di sekitaran pantai sambil menunggu Zidan bangun dan mereka akan segera kembali ke villa.
Tiga puluh menit pun berlalu.
Zidan akhirnya terbangun dari tidurnya dan melihat kalau dirinya sendiri sudah dalam posisi yang berbeda dan tidak ia temukan Clara di sana.
"Clara?" Panggil nya yang kemudian bergegas keluar dari tenda.
Perasaan khawatir mulai menyelimuti hati Zidan, ia berlari-lari kecil ke sana ke sini sambil meneriaki nama sang istri.
"Clara! Kamu di mana?" ujar nya lagi.
Namun terlihat Clara yang sedang asik memunguti cangkang kerang di pantai.
"Astaga anak itu," Zidan pun bergegas turun dan menghampiri Clara.
"Clara!" teriak nya.
Clara pun menoleh dan kemudian berdiri dari posisi jongkok nya.
Tak lama kemudian Zidan tiba di hadapan nya dengan tatapan tajam.
"Bapak udah bangun," kata Clara seperti orang yang tak punya rasa bersalah.
"Saya kan sudah bilang jangan main di sini sendirian, kamu ini tuli ya? Di sini bahaya," umpat Zidan sambil sedikit ngos-ngosan.
"Tapi kan air nya lagi surut pak, gak apa-apa kali," kata Clara yang sudah kebal dengan amarah Zidan.
"Kamu itu ya, benar-benar tidak bisa di nasehati ayo sekarang pulang, dan buang semua kotoran itu," ucap Zidan yang menujuk ke arah cangkang kerang yang di pungut Clara.
"Gak mau, Clara gak mau pulang kalau gak bawa ini," bantah Clara.
"Astaga tuhaaan! Terserah kamu yang penting ayo pulang, saya tidak akan membawa kamu jalan-jalan lagi kalau gini sikap kamu," umpat Zidan tak bisa menghadapi tingkah bocil Clara.
"Biarin bleee!" kata Clara yang kemudian berlari mendahului Zidan.
Sungguh benar-benar istri Bocil yang menguji kesabaran Zidan.
Singkat cerita kini mereka pun telah kembali ke villa, dalam waktu tiga puluh menit mereka langsung tiba di villa.
"Pak nanti kita ke mana lagi?" ungkap Clara yang ketagihan jalan-jalan.
"Tidak ada, saya akan membantu kepala sekolah mengurus pesta beberapa hari lagi dan kamu, kamu di villa belanjar," kata Zidan.
Seketika mood Clara jadi berubah, ia kesal karena Zidan ternyata tidak berniat untuk jalan-jalan lagi dan malah memilih untuk membantu kepala sekolah menyiapkan pesta perpisahan anak kelas dua belas.
"Ngeselin banget, mana bisa gue belajar sendiri di villa huh,si tua bangka Zidan," umpat Clara yang kemudian masuk ke dalam kamar nya.
Zidan mendengar semua itu namun ia hanya diam dan geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Clara yang selalu seperti anak-anak.
Empat hari pun akhirnya berlalu begitu cepat, sudah empat hari juga Zidan selalu pergi pagi dan pulang larut malam.
Sudah empat hari juga Clara hanya berdiam diri di dalam villa, makan sendiri, belajar sendiri, mereka bahkan jarang berkomunikasi karena sibuk nya Zidan.
Ia bahkan tak lagi sarapan di rumah, atau makan malam di rumah karena sibuk nya itu.
Pagi ini adalah pagi terkahir libur sekolah, nanti malam akan ada acara pesta pelepasan di sekolah Clara.
"Mau ke sekolah lagi ya pak?" tanya Clara sambil menghadang Zidan yang saat itu sedang ingin keluar.
"Ya, nanti malam sudah akan acara, kau sudah menyiapkan pakaian mu kan?" tanya Zidan sambil fokus memasang jam tangan nya.
"Sini Clara bantu," ucap Clara yang kemudian mengambil jam dan pergelangan tangan Zidan lalu membantu nya mengenakan jam tangan.
Zidan menatap sang istri dengan tatapan berbeda, entah kenapa semakin hari semakin Zidan menghindar untuk menatap atau berkomunikasi dengan nya, semakin besar pula rasa rindu dan juga ketertarikan untuk melihat wajah Clara.
Dia yang sok sibuk beberapa hari ini gagal menghindari perasaan yang terus menyengsarakan dirinya.
"Udah," kata Clara yang kemudian merapikan lengan kemeja Zidan.
"Tumben kamu bangun sepagi ini, dan itu apa?" tanya Zidan sambil menujuk kotak makanan kecil yang di letakkan Clara sebelum ia membantu Zidan mengunakan jam.
"Itu bekal, bapak tidak sarapan kan? Bawa saja, saya sudah menyiapkan nya dari pagi," kata Clara lagi.
Seketika Zidan tercengang, tak tau istri nya kerasukan apa yang jelas melihat perubahan Clara ia merasa dada nya jadi berdebar-debar lagi bahkan lebih kencang dari yang biasanya.
"Kenapa diam pak? Ayo bawa," kata Clara.
"Ah iya, terim kasih, kalau begitu saya berangkat dulu, jangan lupa siap-siap saya akan menjemput mu pukul lima sore," kata Zidan mengingatkan Clara.
"Iya saya tau," ujar Clara lagi.
Zidan pun berangkat ke sekolah membawa makanan yang di buatkan oleh Clara, perasaan bahagia kembali memenuhi ruangan di hatinya.
Bersambung ....