Punya rumah tangga bahagia adalah dambaan setiap orang. Apalagi bagi seorang wanita. Suami dan mertua yang baik adalah anugerah yang tak ternilai harganya.
Seperti itulah harapan Kyara Nawasena. Menikah dengan lelaki yang ia cintai dan mencintainya ternyata tidak menjamin rumah tangganya berjalan mulus.
"Mas, tidakkah kau punya sedikit pun rasa iba kepadaku? Aku ini istrimu, bukan seorang babu!"
"Kalau kau sudah tak mau menuruti semua perintahku, lebih baik kau keluar dari rumah ini! Aku capek dan muak setiap pulang kerja harus mendengar ocehanmu! Kau itu adalah istri yang menyusahkan dan pembangkang!" Doni menghardik Kyara seraya melemparkan bantal ke wajah istrinya.
Kyara tersenyum getir, "Jika aku istri pembangkang, berarti kau adalah suami yang tidak bertanggung jawab!"
"Kyaraaa!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Hujan turun tanpa ampun, seolah langit ikut murka atas nasib Kyara malam itu. Pintu rumah yang selama sepuluh tahun ini menelannya sebagai istri, kini tertutup rapat di belakangnya, seakan tak pernah ada tempat untuknya sejak awal.
Kyara berdiri terpaku di halaman, rambutnya basah kuyup menempel di wajah. Napasnya tersengal, dadanya sesak, tapi bukan karena dingin. Lebih pada luka yang baru saja diiris tanpa ampun.
"Keluar dari rumah ini sekarang juga! Dan jangan bawa apa pun!" Suara Doni masih menggema di kepalanya.
Petir menyambar, diikuti gemuruh guntur yang memekakkan telinga. Kyara tersentak, namun tak bergeming. Perlahan, kakinya melangkah meninggalkan rumah itu ... rumah yang dulu ia impikan menjadi tempatnya pulang. Air matanya bercampur hujan. Tak ada yang bisa membedakan mana luka, mana air langit.
Ia menyusuri jalan kompleks Perumahan Cempaka dengan langkah gontai. Lampu-lampu rumah tampak redup di balik tirai hujan. Beberapa jendela terbuka, bayangan orang-orang mengintip ... penasaran, menghakimi, tanpa benar-benar peduli.
Kyara memeluk dirinya sendiri, berusaha menahan dingin yang menusuk sampai ke tulang. "Erna ..." gumamnya lirih. "Aku harus pergi ke rumahnya dulu untuk mengambil uang dan perhiasan yang tadi siang kutitipkan."
Langkahnya mulai siap berbalik, namun belum sempat ia menjauh, suara keras menghentikannya. "Kyara!" Ia menoleh. Pak RT bersama beberapa bapak-bapak berdiri di bawah payung, wajah mereka kaku bukan iba, melainkan tegas penuh batas. "Maaf, ya. Ini sudah keputusan bersama," ujar Pak RT, nadanya dingin, nyaris tanpa empati. "Kamu tidak boleh lagi berkeliling di kompleks ini. Kami tidak sudi terkena azab karena ulahmu yang sudah berzina."
Kyara tertegun. "Pak ... tolong izinkan saya pergi ke rumah Erna. Saya mau mengambil barang. Cuma seben-"
"Tidak bisa." Salah satu bapak memotong tegas. "Kami tidak mau melihat wajahmu lagi. Sudah cukup kamu menjadi aib di kompleks ini!"
Ucapan itu seperti tamparan. Kyara menggeleng pelan, matanya memohon. "Saya mohon ... sebentar saj-"
"Sudah, Kyara!" suara Pak RT meninggi. Lebih baik kamu keluar sekarang juga dari kompleks ini." Tanpa menunggu persetujuannya, mereka mulai mendekat. Bukan dengan kasar, tapi cukup untuk membuat Kyara mundur, selangkah demi selangkah. Hatinya runtuh. Ia menoleh sekali lagi ke arah dalam kompleks, ke arah rumah Erna yang tak sempat ia tuju. "Mungkin besok ... aku akan kembali secara diam-diam," bisiknya dalam hati.
"Silakan keluar sekarang," ujar Pak RT, menunjuk ke arah pintu keluar yang kini tampak begitu jauh dan asing.
Kyara tak lagi melawan. Dengan tubuh gemetar, ia berjalan menuju gerbang perumahan. Setiap langkah terasa berat, seolah kakinya terikat oleh rasa sakit yang meremukan dadanya.
Saat akhirnya ia sampai di gerbang, hujan semakin deras mengguyur. Angin berembus kencang, membuat tubuhnya hampir limbung. Kyara berhenti. Menatap ke luar ... jalan gelap, kosong, tanpa arah. Air matanya jatuh semakin deras. "Sekarang ... aku harus pergi ke mana?" bisiknya patah.
Petir kembali menyambar, menerangi wajahnya yang hancur sesaat, sebelum kembali ditelan gelap. Dan Kyara melangkah keluar. Meninggalkan segalanya.
Kyara memaksa kakinya terus melangkah, meski arah tujuannya tak jelas. Aspal basah memantulkan cahaya lampu jalan yang temaram. Setiap langkah terasa berat, seolah dunia sengaja menariknya kembali ke masa lalu yang baru saja menghancurkannya.
Pikirannya sempat melayang ... pada satu nama yang dulu untuk mengadukan keadaannya saat ini. "Bapak ..." Langkahnya melambat. Dadanya menghangat sesaat, seakan ada secercah harapan yang mencoba menyelinap di antara luka.
Padang.
Rumah baru bapaknya.
Namun, secepat itu pula harapan itu ia tepis kasar. "Tidak," gumamnya lirih, suaranya bergetar. "Bapak sudah tak peduli padaku." Air matanya kembali jatuh, lebih deras dari sebelumnya. "Ia bahkan tidak pernah meneleponku," lanjutnya dengan napas tersendat. "Tidak pernah menanyakan kabarku. Ia sudah punya keluarga baru."
Kilatan petir menyambar, menerangi wajahnya yang penuh luka batin. "Dia sudah bahagia bersama keluarganya yang sekarang," bisiknya pahit.
Ingatannya terlempar ke beberapa bulan yang lalu. Ketika ia ingin bercerita tentang sikap Doni dan keluarganya kepada sang ayah.
Siang itu, saat suami, mertua dan adik iparnya sedang pergi berlibur ke pantai, Kyara menelepon bapaknya. Niatnya sudah menggebu-gebu ingin berkeluh kesah.
Panggilan itu sama sekali tidak diangkat, padahal ia sudah menghubungi nomor ayahnya sampai lima kali. Dan Kyara pun memutuskan menghubungi nomor ART di rumah ayahnya.
"Eh, Mbak Kya, ada apa? Tumben nelepon saya?"
"Bi, Bapak ada di rumah? Saya sudah lima kali menelepon nomornya, tapi tidak diangkat juga. Apakah Bapak, Ibu, dan kedua adik saya baik-baik saja?"
Di seberang sana, pembantu itu menyahut. "Bapak, Ibu, Den Rafa dan Mbak Rintan sedang pergi berlibur ke Bali, Mbak. Mereka baru berangkat kemarin sore."
"Ooh ..."
Kyara tertawa kecil mengingat semua itu, tapi tak ada kebahagiaan di sana ... hanya getir yang menyesakkan. Tangannya mengepal lemah di samping tubuh. "Pada akhirnya ... aku dibuang oleh orang-orang yang kusayangi," gumamnya lagi. "Apakah seperti inilah nasib orang tak punya?" Pertanyaan itu menguar begitu saja bersama angin yang kembali berembus.
Hujan semakin deras, membasahi tubuhnya tanpa sisa. Tapi Kyara tak lagi peduli. Ia terus berjalan. Tanpa tujuan. Tanpa tempat kembali.
Di tengah jalan yang panjang dan dingin, Kyara akhirnya berhenti sejenak. Bahunya bergetar, entah karena dingin atau karena hatinya yang benar-benar runtuh. "Ya Tuhan ..." suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam oleh suara hujan. "Lalu aku harus ke mana?" Tak ada jawaban. Hanya suara angin, hujan, dan sesekali guntur yang seakan mengejek kesendiriannya.
Kyara menunduk, membiarkan air matanya jatuh bebas. Lalu, dengan sisa tenaga yang ia punya, ia kembali melangkah semakin menjauh dari Perumahan Cempaka. Langkahnya terseok di bawah guyuran hujan yang kian menggila. Angin menerpa tanpa ampun, membuat tubuhnya menggigil hebat. Namun kedua tangannya tetap erat memeluk tas lusuh di dadanya, satu-satunya benda yang masih ia punya. Ia menunduk, melindungi tas itu dengan tubuhnya, seakan di dalamnya tersimpan sisa hidupnya yang tak boleh ikut hancur.
Langkah demi langkah terus ia ayun. Hingga tiba-tiba, sorot lampu mobil dari belakang memecah gelap. Cahaya itu begitu terang, menusuk mata Kyara hingga ia refleks menoleh sambil menyipit. Jantungnya berdegup kencang. Mobil itu melambat. Lalu berhenti tepat di belakangnya.
Suara mesin masih menyala, berpadu dengan deru hujan yang tak kunjung reda. Untuk sesaat, waktu terasa membeku. Kyara menelan ludah. Perlahan, ia mempercepat langkahnya, mencoba mengabaikan. Namun belum sempat ia menjauh, suara klakson terdengar memekakan telinga, disusul dengan pintu mobil terbuka.
Langkah kaki terdengar mantap, mendekat, satu per satu, menghantam genangan air.
Kyara berhenti. Tubuhnya menegang.
Dan saat ia menoleh, matanya membeliak.
hehehehe tertawa jahat 🤭🤭🤭