Zhao Fei yang dijuluki Yang Mulia Petir Abadi, tewas ditikam murid kesayangannya sendiri setelah 10.000 tahun berkuasa di Alam Dewa.
Namun ternyata hukum karma memberinya kesempatan kedua. Rohnya dikirim ke dunia bawah, masuk ke tubuh seorang pemuda sampah dari keluarga miskin yang tidak punya bakat, tidak punya harga diri, dan tidak ada wanita yang mau menikahinya.
Kekuatan petirnya lenyap. Akar spiritualnya tertidur dan dirinya harus memulai semuanya dari nol.
Tapi dendam seorang dewa tidak pernah padam. Janji pada pemilik tubuh asli pun juga tidak akan diingkari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Salah Tangkap
Pintu besi sel penjara ditutup dengan benturan keras yang bergema di sepanjang koridor sempit, sebelum cahaya formasi segera menyala di sekeliling bingkai pintu, menandakan bahwa segel magis telah aktif sepenuhnya. Tidak ada satu orang pun yang dapat masuk atau keluar tanpa memiliki izin khusus dari otoritas tinggi sekte.
Sementara Zhao Fei telah menjelaskan seluruh rangkaian kronologi kejadian secara runtut sejak awal. Dia menceritakan perihal keberadaan domain mimpi, serangan mendadak dari wanita itu, hingga pertarungan sengit di alam bawah sadar miliknya. Namun, dua orang penjaga penjara pria yang memiliki wajah tanpa ekspresi itu terlihat tidak memedulikan penjelasan dirinya. Mereka hanya fokus menjalankan tugas yang diberikan untuk mengunci sel tahanan.
Wu Gang yang berdiri di luar jeruji besi pun justru memancarkan rona kelelahan saat menatap ke dalam ruangan gelap di mana Zhao Fei dikurung.
“Aku tahu kau tidak mungkin melakukan perbuatan sekeji itu, Zhao Fei,” katanya. “Tapi, semua bukti yang tertinggal di desa perbatasan kemarin malam terlalu nyata bagi tim penyelidik sekte. Bahkan Tetua Utama sendiri terpaksa membenarkan hasil pemeriksaan itu, dan apa yang disampaikan oleh Li Xun saat ini jauh lebih dipercaya oleh seisi faksi.”
Zhao Fei memilih untuk tidak melayangkan jawaban untuk menanggapi kepasrahan itu.
“Jaga dirimu baik-baik di dalam sini. Aku berharap kebenaran segera terungkap,” ucap Wu Gang lagi. Setelah menyelesaikan kalimatnya, dia segera berbalik pergi, meninggalkan Zhao Fei seorang diri di dalam ruangan yang gelap dan sepi.
Pada saat itulah Zhao Fei cuma bisa terduduk di atas dinginnya lantai sel. Sepasang matanya menatap kosong ke arah dinding batu di hadapannya, sementara fokus pikirannya melayang kembali ke memori malam kejadian di desa perbatasan itu.
Bagaimana dirinya mengingat dengan jelas bagaimana Li Xun berlari dengan penuh kepanikan mendekati wanita yang terkapar kaku. Pemuda nyentrik itu benar-benar pucat dengan sepasang mata yang memerah akibat luapan emosi yang membakar dadanya. Li Xun memeriksa sirkulasi nadi, memeriksa bekas luka, serta memeriksa setiap jengkal sirkulasi energi di tubuh wanita yang diharapkan bisa menjadi pendamping hidup dadakannya itu. Memang pada fase awal, Li Xun tidak langsung mengarahkan tuduhan kejamnya kepada Zhao Fei.
Namun, situasi berubah drastis setelah barisan tim khusus investigasi tiba dengan membawa seluruh peralatan forensik kultivasi standar sekte. Hasil pengujian yang mereka lakukan terpapar dengan sangat mutlak tanpa bisa diganggu gugat oleh pihak mana pun. Wanita itu terbukti hanyalah seorang warga sipil fana biasa yang tidak memiliki kapasitas kultivasi sedikit pun di dalam tubuhnya. Tidak ditemukan adanya jejak energi kegelapan, tidak ditemukan pula bukti konkret mengenai keberadaan dimensi mimpi yang dituduhkan oleh Zhao Fei. Satu-satunya bukti fisik yang nyata hanyalah sebuah luka tusukan fatal di bagian rongga dada, sebuah luka yang memiliki pola identik dengan pedang milik Zhao Fei.
Lalu pada detik itulah, sikap Li Xun berubah total. Dia menjelma menjadi orang yang paling vokal, paling keras, serta paling dipenuhi oleh amarah maut saat menatap wajah Zhao Fei. “Kau membunuhnya! Kau tega menghabisi nyawa wanita tidak bersalah yang tidak punya kekuatan apa-apa!” kata Li Xun malam itu. “Kau benar-benar mata-mata dari sekte asing! Seperti yang orang-orang katakan. Seharusnya aku menyadari itu sejak awal.”
Zhao Fei mengembuskan napas panjang di dalam selnya, meratapi kelicikan taktis dari pihak musuh yang berhasil menyusun skenario jebakan ini dengan sangat rapi.
Sekarang, Zhao Fei hanya bisa melewatkan durasi waktunya dengan terduduk di dalam sel isolasi bawah tanah milik Sekte Garuda Putih. Kedua pergelangan tangannya terborgol oleh sepasang papan kayu khusus yang memiliki fungsi murni untuk membatasi dan menekan sirkulasi aliran energi qi di dalam tubuhnya.
Sedangkan pedang Pemutus Awan miliknya telah disita secara paksa oleh pihak keamanan faksi, karena dia tidak sempat memindahkan senjata dewa itu ke dalam dimensi rahasianya saat penangkapan bergulir di lokasi kejadian. Alhasil dia hanya bisa menunggu dalam diam, membiarkan hari demi hari berlalu sampai durasi waktu penentuan sidang tiba, momen yang akan memutuskan apakah dirinya bersalah atau terbebas dari hukuman. Tuduhan mengenai tindakan pembunuhan terhadap warga sipil fana diakui memiliki bobot sanksi yang berat bagi kelangsungan hidup seorang murid sekte.
Hingga cahaya tipis muncul dari arah ujung koridor penjara bawah tanah yang gelap. Pintu besi bagian luar terdengar dibuka dengan keras, disusul oleh suara langkah kaki yang bergerak semakin mendekat ke arah sel isolasinya.
Seorang wanita akhirnya menghentikan pergerakannya tepat di depan jeruji besi kamar tahanannya, dan wanita itu adalah Liu Xue.
Zhao Fei tidak memperlihatkan keterkejutan, karena indra pendengarannya telah menangkap kabar mengenai kepulangan mendadak gadis itu menuju ke area pusat sekte sejak beberapa jam lalu.
“Kau sudah mendengar semua detail tentang berita penangkapanku?” tanya pemuda itu.
“Aku sudah tahu semuanya dari laporan Divisi Khusus Sekte,” jawab Liu Xue dengan serius.
“Dan semua hasil pembuktian forensik itu tidak bisa dibantah siapa pun?” tuntut Zhao Fei lagi.
“Begitulah, tidak ada celah buat membantahnya secara hukum sekte,” jawab Liu Xue dengan jujur.
Lantas Zhao Fei menyunggingkan senyuman getir. “Ternyata kau memiliki cara pandang yang sama saja dengan orang-orang di luar sana.”
“Benarkah?”Liu Xue memberikan tatapan mata yang teramat tajam mengarah lurus ke sepasang mata pemuda itu. “Aku rasa aku malah tidak memiliki cara pandang yang sama dengan mereka.”
Dari balik lipatan jubahnya, gadis itu mengeluarkan sebutir batu giok kecil berwarna hijau yang berfungsi sebagai kunci pengendali segel formasi sel. Dia menempelkan batu itu ke permukaan pintu besi, menyebabkan cahaya biru formasi pelindung seketika meredup hingga pintu besi itu terbuka lebar.
Liu Xue masuk ke dalam ruangan sel yang sempit, lalu berjongkok tepat di hadapan Zhao Fei, memposisikan wajahnya agar sejajar dengan pandangan pemuda itu.
“Aku percaya padamu,” kata Liu Xue. “Semua petaka malam itu pasti ulah jaringan Selendang Ungu milik Sekte Naga Hitam. Mereka licik sekali menyusun taktik adu domba di perbatasan kita.”
Zhao Fei menatap lekat-lekat wajah gadis di hadapannya. “Kalau kau memang percaya padaku, lalu kenapa kau tidak membebaskan aku dari sini? Bukankah dirimu bisa menjelaskan semua duduk perkara ini kepada Tetua Utama?”
Liu Xue perlahan bangkit berdiri dari posisi jongkoknya, lalu berjalan mendekati sebuah celah ventilasi udara kecil yang berada di dinding batu sel. Sinar bulan dari luar menerobos masuk, menerangi separuh dari bagian wajah cantiknya yang tampak dingin.
“Aku memang tidak mau membebaskanmu sekarang,” jawab Liu Xue dengan mantap.
Zhao Fei pun mengerutkan dahi dengan rapat, merasa heran dengan sikap rekan satu divisinya itu. “Apa alasanmu?”
Liu Xue tidak segera memberikan jawaban langsung atas pertanyaan itu, dan justru memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan menuju ke hal-hal ganjil lainnya yang berkaitan dengan eksistensi rahasia sang dewa petir selama ini.
“Wanita misterius yang berhasil kau jinakkan di dalam dimensi mimpi itu, lalu fenomena warga desa yang sembuh secara ajaib dari paparan racun mematikan, hingga hilangnya sisa racun di dalam tubuhku tanpa bekas. Semua itu ditambah lagi dengan kualitas teknik bela diri serta keahlian berpedang luar biasa yang kau perlihatkan, sejenis gerakan legendaris yang tidak pernah dikenal di sepanjang daratan fana ini.”
Gadis itu berbalik, kembali menatap lurus ke arah Zhao Fei yang masih terbelenggu papan kayu. “Kau saat ini telah memicu kecurigaan besar dari semua petinggi sekte, Zhao Fei. Masalah utama yang melanda dirimu saat ini bukan lagi sekadar misteri kematian wanita di desa itu.”
Zhao Fei tetap memberikan respons berupa posisi diamnya yang tenang. “Apa sebenarnya tujuan utamamu menyampaikan semua analisis ganjil ini?”
Liu Xue kembali melangkah mendekati posisi terduduk Zhao Fei, mengunci pandangan matanya tepat pada manik mata pemuda itu. “Zhao Fei... siapa kamu sebenarnya?”
“Kalau kau ingin mendapatkan kepercayaanku secara mutlak, kau juga harus bisa jadi orang yang bisa kupercaya sepenuhnya,” lanjut Liu Xue dengan penuh keseriusan. “Jadi, katakan padaku secara jujur, siapa dirimu sebenarnya?”
Gadis itu mengeluarkan selembar perkamen dari balik saku pakaiannya. Di atas permukaan kertas itu, telah terlukis sebuah lingkaran formasi mistis yang merupakan media untuk melakukan ritual kontrak darah.
“Aku bersumpah di atas aliran kontrak darah ini, aku tidak akan membocorkan rahasiamu kepada siapa pun di dunia ini,” tegas Liu Xue.
Adapun setelah mendengar itu, Zhao Fei malah tertunduk selama beberapa saat, menatap sepasang papan kayu khusus yang masih mengunci kedua belah telapak tangan dengan kokoh. Pikiran internalnya menimbang dengan cermat risiko taktis dari keputusan besar yang akan dia ambil detik ini.
“Pastikan tidak ada satu orang pun yang masuk ke dalam penjara ini selama sepuluh menit ke depan,” lirihnya.
“Aku jamin, dalam waktu satu jam ke depan, tidak akan ada satu orang pun yang berani menginjakkan kaki di tempat ini.”
Zhao Fei menelan saliva di dalam tenggorokannya, memikirkan sebuah rencana taktis yang belum pernah dia uji coba sebelumnya pada manusia lain di dunia bawah ini. Dia sempat menaruh keraguan kecil di dalam batinnya perihal tingkat keberhasilan dari ritual transportasi spasial massal ini.
“Pegang erat tangan kiriku,” pinta Zhao Fei sembari menyodorkan jari-jemari tangannya yang terikat papan kayu.
Liu Xue menatap gerakan tangan pemuda itu dengan heran. “Untuk apa?”
“Percaya saja padaku,” balas Zhao Fei tanpa memberikan rincian penjelasan.
Gadis itu sempat memperlihatkan keraguan selama beberapa detik, sebelum akhirnya perlahan menjulurkan tangan kanannya ke depan. Ujung-ujung jemari tangannya bergerak halus menyentuh kulit tangan kiri Zhao Fei, lalu menggenggamnya dengan sangat erat menembus sela-sela belenggu papan kayu.
Seketika itu juga, cincin kuno yang melingkar di jari manis Zhao Fei memancarkan gelombang energi hangat yang begitu pekat, menjalar cepat mengikat kesadaran spiritual kedua belah raga mereka.
“Pejamkan matamu sekarang,” bisik Zhao Fei.
Liu Xue memilih untuk mematuhi instruksi tersebut tanpa melayangkan pertanyaan lanjutan, menutup rapat kedua belah kelopak matanya dengan penuh kepasrahan penuh.
Zhao Fei pun segera menutup rapat sepasang matanya sendiri, memfokuskan seluruh kekuatan pikiran spiritualnya menuju ke satu koordinat spasial di dimensi atas. Dia membayangkan wujud dari kawasan padang rumput yang berada di sekitar gudang persembunyian rahasianya di Alam Dewa. Ini merupakan sebuah eksperimen spasial yang belum pernah dia lakukan bersama entitas hidup lain dari dunia fana, namun kondisi darurat saat ini tidak memberikan celah pilihan taktis lain baginya untuk membuktikan kebenaran.
Cincin kuno di jarinya memancarkan gelombang panas yang luar biasa ekstrem, sebelum akhirnya berubah menjadi hawa sejuk yang menyegarkan raga. Embusan angin kencang mendadak terasa menyapu seluruh permukaan kulit mereka secara nyata, menggantikan hawa lembab dari ruang bawah tanah fana.
Zhao Fei perlahan membuka kembali sepasang kelopak matanya dengan penuh rasa percaya diri.
Mereka kini telah berdiri di bagian tengah padang rumput yang luas dengan hamparan vegetasi berwarna-warni yang menawan, melambai lembut diterpa angin dimensi atas. Menyuguhkan bentangan luas kubah langit yang memancarkan perpaduan warna biru dan emas murni.
Liu Xue membuka sepasang kelopak matanya, dan seketika itu juga wajah cantiknya berubah menjadi sangat pucat dengan sepasang mata yang membulat penuh dengan keterkejutan yang luar biasa besar saat menatap kemegahan alam di sekeliling posisinya.
“Tempat ini... jelas tidak mungkin berada di wilayah Alam Bawah,” bisik gadis itu, gemetaran hebat karena terpaku menatap keagungan energi spiritual yang memenuhi atmosfer sekitar.
Zhao Fei tetap berdiri tegak di sampingnya, dengan tangan yang masih menggenggam erat telapak tangan Liu Xue demi menjaga kestabilan fasa jiwanya di dimensi atas itu agar tidak terhempas oleh tekanan energi dewa.
“Ini adalah dimensi Alam Dewa,” kata Zhao Fei “Dan orang-orang di sini, dulunya memanggilku Yang Mulia Petir Abadi.”